Upik Abu Jadi CEO

Upik Abu Jadi CEO
Kabar Terbaru Sahrul


__ADS_3

SELAMAT HARI RAYA, MOHON MAAF LAHIR BATHIN. Aku ucapi duluan buat semua pembaca terkasih tercintaku. πŸ’•


Aku pamit duluan. My Mom minta buati kue lebaran. Jadi aku fokus buat kue dulu.


Ini Aku kasih dua part panjang-panjang buat THR semua, TETAPI BERI JUGA AKU THR BERUPA LIKE, KOMEN, VOTE DAN BERI BINTANG LIMA YA 😘😍


TERIMA KASIH BUAT SEMUA, KITA JUMPA LAGI SIAP LEBARAN YA. πŸ™πŸ™ Jangan tinggalkan aku ya 😘


LOVE U πŸ’πŸ’–β€ I MISS U β€πŸ’–πŸ’


_🌻🌻🌻🌺🌺🌺🌻🌻🌻_


Pagi ini Tuan Nan telah duduk di kursi kepresidenannya. Dia belum menyentuh satu berkas laporan yang diantar Helmi. Helmi hanya memandang dalam bosnya. Begitu tersirat pandangan jauh bosnya. Entah apa yang dipikirkannya.


Sejak Harri di minta tuan Nan menjadi supir dan bodyguard Anitha, Helmi kini sering merangkap jadi supir pribadi tuan Nan jika meeting di luar kantor.


Terlihat tuan Nan mengangkat ponselnya dan menghubungi seseorang. "Bagaimana Pak?" tanya Nansen pada direktur pemasaran di perusahaan Anitha. Tuan Nan berkerja sama dengan direktur pemasaran dalam lamaran palsu.


"Benar dugaan Bapak. Kepala HRD melaporkan dia membuang berkas bu Anitha dan menganggap seakan tidak ada.


"Terima kasih Pak, atas infonya." Tuan Nan memutuskan sambungan telfonnya.


Ketika Tuan Nan berada di kantor perusahaannya. Anitha dan Farrendra sedang bernegosiasi dengan relasi bisnisnya di sebuah hotel di kawasan Jakarta Pusat. Anitha ditemani Jeffy dan Harri.


"Bagaimana Bu?" tanya perwakilan dari relasi bisnisnya.


"Maaf, apa Mbak baru berkecimpung dan menjadi mediator di bidang ini?" tanya Anitha tanpa ada niat merendahkan.


"Benar Bu, apa ada kesalahan?"


"Hmm benar. Tetapi saya bisa maklumi, itu soal biasa. Saya beri tips, untuk ke depannya, proposal dan sampel barang harus di bawa langsung." Anitha memberikan senyum hangatnya.


"Ohh, terima kasih Bu. Maaf."


"Oke, kita atur jadwal lagi sampai proposal selesai dibuat."


"Baik Bu."


Anitha berdiri dan menjabat tangan relasinya. "Saya permisi."


Mereka keluar dari lobi hotel dan menuju parkiran. Di mobil Anitha menerima telfon dari direktur utama perusahaan Singapura.


"Oke Pak, siang ini saya akan berangkat dan kita langsung saja meeting jam berapapun saya tiba." Anitha menutup telfonnya.


"Kenapa Tha?" tanya Jeffy.


"Kita ke negara patung menyembur itu siang ini Jeff."


"Ada masalah lagi?"


"Biasalah Jeff, tanpa masalah dunia ini sepi," ucap Anitha mendongkol. Terbayang olehnya berpisah sesaat dengan suami romantisnya.


"Kau bisa tidak jawabnya jangan pakai alasan," Jeffy ikutan mendongkol mendengar Anitha sulit sekali menjawab satu kata 'YA'.


"YA." Anitha menjawab dengan nada iseng. Baginya menjahili Jeffy ataupun tuan Nan pengisi waktu jenuhnya.


Di kantor, tuan Nan memikirkan cara menyingkirkan Ajeng dari perusahaan Anitha. Tuan tidak nyaman membayangkan Ajeng berada didekat Anitha.


Kesibukan mulai melanda suami istri ini, di tengah perusahaan yang baru betul dirintis Anitha. Walau tidak sebesar yang dibangun tuan Nan di Singapura. Perusahaan AP Pte. Ltd masih sedang membutuhkan perhatian ekstra setelah kekacauan beberapa bulan terakhir.


Anitha setelah menyelesaikan negosiasi, memutuskan langsung berangkat ke Singapura bersama bodyguard kepercayaan tuan Nan. Tuan Nan tidak bisa menemani. Ketika urusan pekerjaan tidak ada sikap manja pada Anitha.


Anitha telah pamit dan meminta menunda mengurus Ajeng. Ketika tuan Nan menyampaikan semua kebenaran cerita dibalik lamaran pekerjaan palsu.


Anitha mendarat kembali di Changi Airport. Terlihat Jeffy dan Harri yang menemani.


"Sepi ya Jeff," ujar Anitha saat di dalam mobil. Mereka langsung menuju ke kantor."

__ADS_1


"Kau merindu Nan?" tanya Jeffy serius. Tak ada niat mengganggu Anitha.


"Hmmm, begitulah."


"Kenapa tidak mundur saja dan menemani Nansen?"


"Jika Nansen membangun perusahaan dengan daun, aku akan mundur Jeff. Sayangnya dia membangun dengan uang keringatnya. Aku tidak akan mundur selagi aku kuat dan tidak mengganggu jalannya rumah tanggaku." Anitha penuh tekad yang membuat salut dua lelaki kepercayaan suaminya.


***


Anitha disambut oleh jajaran direksi dan direktur utama yang baru. Rapat internal dilakukan. Anitha harus memutuskan kerja sama pada suatu perusahaan. Perusahaan tersebut terbukti tidak menjalankan tujuan dan salah satu prinsip etika bisnis. Prinsip Jujur. Mereka malah melakukan kecurangan.


Setelah semua bukti dilaporkan dan Anitha menganalisis dengan cepat, Anitha sepakat dengan dewan direksi dan direktur utama untuk membatalkan kerja sama dan meminta perusahaan tersebut mengganti rugi. Jika keberatan perusahaan AP Pte. Ltd akan menuntut melalui jalur hukum.


Anitha ke hotel setelah langit mulai menunjukkan bias merah orange-nya. Anitha sempat menyaksikan sunset yang begitu indah karena tertimpa kaca-kaca gedung pencakar langit.


Anitha melihat tidak ada panggilan dari Suaminya. Dia tahu, suaminya tak ingin mengganggu kesibukannya.


Anitha melakukan video call.


"Hallo sayang, sudah di hotel?" tanya suaminya penuh rindu. Anitha juga sangat merindukan suaminya. Ini malam pertama dia berpisah setelah menikah. Anitha yakin tuan Nan memantau aktivitasnya melalui Jeffy.


"Baru saja Kanda. Aku melihat sunset yang begitu indah, tetapi tidak bisa mengalahkan indahnya suami tampanku." Tuan Nan tertawa lebar.


"Sudah mandi?"


"Belum. Dinda telfon Kanda dulu. Takutnya Kanda ternanti-nanti." Kata-kata Anitha sukses sekali lagi buat tuan Nan tertawa. Anitha sangat lucu baginya dalam berbahasa ketika merayu.


"Mandi dulu sebelum maghrib. Ganti saja video callnya ke sambungan telfon biasa. Taruh ponselnya di kamar mandi." Titah tuan Nan tak bisa di bantah. Nada cemas sangat lekat di dalamnya.


"Kanda takut?" tanya Anitha tersenyum lembut.


"Ya, kanda sangat takut. Kalau ada apa-apa mau tidak mau Jeffy harus turun tangan." Tuan Nan begitu mencemaskan istrinya. Dia tidak mungkin melakukan vc saat istrinya mandi. Dia tak ingin terjadi kejahatan elektronika.


"Siap Bos sayang. Dengarkan gemericik air yang mengalir membasahi tubuh letihku. Aku sangat ingin dipelukanmu Kanda," kata Anitha serius. Rasa rindu begitu menggerogoti hati Anitha, menimbulkan nyeri karena menahannya.


"Iya Kanda. Dinda kuat, hanya tak kuat menanggung rindu padamu."


Anitha teringat betapa keras dia berjuang untuk memiliki semua ini. Walau akhirnya dukungan tuan Nan tak pernah hilang darinya. Jika tuan Nan begitu bersusah payah mendapatkan semuanya, nasib Anitha jauh lebih baik soal mendapatkan keinginannya. Hanya jalan hidup tuan Nan tidak sesulit jalan hidup Anitha.


"Iya, semangat merindukan kanda," satu senyum menentramkan jiwa hadir di bibir suaminya.


"Iya Kanda. Aku akan tetap semangat. Aku hanya begitu merindui dirimu."


"Kanda juga sayang. Mandilah, nanti kita sambung setelah Dinda menunaikan kewajiban pada sang pencipta."


"Kanda tidak menunaikan?"


"Lupa ya sayang, Dinda lagi di mana kanda di mana?"


"Ohhh iya ya, waktu di sini satu jam lebih cepat."


Anitha mengangguk dan mengganti ke sambungan telfon biasa. Anitha membersihkan diri tidak terlalu lama.


Setelah selesai dan sudah memakai mukenanya, dia mengganti kembali ke sambungan video call.


"Duhh cantiknya kekasih Hati kanda." Tuan Nan masih sempat melihat rona merah menjalar di pipi istrinya.


"Makasih Kanda. Dinda shalat dulu ya. Tolong hubungi Jeffy, Kanda. Belikan aku makan malam. Aku malas keluar," begitu manja pintanya.


"Oke, Kanda tutup ya. Nanti Kanda telfon lagi."


"Terima kasih ya Allah. Semua kepahitan dulu berbuah manis. Tidak hanya mendapatkan perhatian lebih, tetapi aku juga mendapat titipan lebih." Doanya di penghujung shalatnya.


Anitha memakai jilbab instannya, ketika pintu kamarnya di ketuk. Anitha berdiri dan melangkah membukakan pintu.


"Ini pesananmu. Kau tidak apa-apa?" tanya Jeffy.

__ADS_1


"Tak apa, aku hanya lelah," sahut Anitha.


"Makanlah setelah itu istirahat."


"Makasih ya Jeff."


Anitha membolak-balik tubuhnya di ranjang. Dia ingat perkataan suaminya tentang Ajeng yang membuang lamarannya.


Anitha sempat sakit hati dan ingin menghukum Ajeng. Akan tetapi seseorang meminta Anitha berbuat baik dan memberi Ajeng kesempatan bertobat.


Sejak mengetahui cerita Ajeng dan Sahrul, Anitha bisa sedikit untuk lebih mengerti sakit hati Ajeng. Apalagi Anitha telah membalas dengan lebih keji. Satu sudut hati Anitha merasa menyesal menghancurkan karier Ajeng begitu saja.


"Ahhh nantilah sampai di dekat kanda aku pikirkan. Kepalaku jadi sakit."


***


Tiga hari Anitha dan tuan Nan berjauhan badan. Hati tetap dekat. Mereka selalu bertukar kabar ketika jam istirahat dan malam hari. Walau rindu tetap hadir menyiksa jiwa. Tidak hanya rindu yang meronta jiwa pasangan anak manusia ini. Hasrat yang membara juga meronta di malam hari, ketika rutinitas pekerjaan lepas dari mereka.


Hidup tetaplah sebuah pilihan. Ada konsekuensi yang harus ditanggung dibalik pilihan itu.


Sama seperti Sahrul yang menerima konsekuensi dari pilihannya.


Anitha sedang berbaring di ranjang hotel. ini malam ketiga dia berpisah. Anitha kembali menerima telfon setelah memutuskan sambungan dari suaminya.


"Hallo Ibu, kapan ibu kembali ke Jakarta?" Anitha melayangkan pertanyaan itu ketika melihat ibunya sehat walafiat.


"Nanti ya Nak, ibu lagi asyik berkebun dengan mak wo."


"Ohh pantas melupakan anak cantiknya."


"Masa iya lupa sama anak cantik ibu. Kamu juga sibuk, coba lihat sekarang saja kamu masih di negara orang."


"Iya Bu. Aku berencana akan membangun ulang rumah ibu dan ayah jika ibu izinkan."


"Kenapa tiba-tiba? "


"Tidak tiba-tiba Bu. Dulu kita kan tidak berniat kembali lagi ke sana. Tetapi melihat Ibu tidak pulang dan betah di kampung, membuat aku mempunyai ide itu."


"Ibu terserah saja. Namun benar katamu, ibu lebih bahagia di sini. Malam hari saja ibu teringat padamu," gurau ibunya.


"Ibuuu, teganya pada putri semata wayang ini." Mereka tertawa.


"Oke, jika Ibu sudah setuju. Nanti aku akan bicarakan dengan menantu kesayangan Ibu itu."


"Iya Nak."


"Ibu menelfon untuk urusan lain."


"Tentang apa Bu?"


"Kau tidak pernah mendengar kabar Sahrul?"


"Tidak Bu. Sejak dia menyerahkan aku secara tidak langsung pada suamiku, aku tidak mendengar kabarnya dan aku juga tak ingin tahu lagi Bu."


"Apa kau masih membenci dia?"


"Tidak juga Bu. Sejak kami kembali bertemu dan menyelesaikan akar masalah, aku tidak membencinya lagi Bu. Namun aku memang tidak bisa mencintai dia lagi."


"Ohhh syukurlah, ibu takut kau larut dalam kebencian dan merusak hatimu."


"Tidak Bu. Ada apa Ibu tiba-tiba menanyakan dia? Dia memang masih anak Ibu secara agama tapi tak ada hubungannya lagi denganku."


"Iya ibu tahu, ibu mau kasih kabar. Ibu dapat kabar dia di penjara di Padang."


"Apaa Bu?"


***/

__ADS_1


__ADS_2