
Pagi ini Anitha sudah tidak memakai selang infus. Dia justru jauh lebih sehat kini dari tuan Nan. Tuan Nan masih harus dipantau perihal kaki kirinya yang lumpuh.
Anitha bersuka hati merawat suaminya.
"Dinda benar sudah tidak apa?" tanya suaminya dengan lembut.
"Tidak apa. Ada kanda, hati ini jadi sehat," katanya dengan haru. Membuat tuan Nan tersenyum hangat.
"Thanks ya Dinda. Dinda benar-benar berarti dalam hidup kanda."
"Jangan katakan itu Kanda. Justru ada Kanda aku bisa melupakan kekejaman isi dunia ini." Anitha memeluk suaminya tepat saat perawat masuk.
Anitha makin posesif memeluk tuan Nan. Tuan Nan merasa heran, namun tak dia pungkiri ada rasa nyaman dan tentram di hatinya. Tuan Nan sebenarnya merasa sedikit rendah diri saat dokter mengatakan satu kakinya tidak berfungsi. Melihat kelakuan Anitha yang posesif membuat semangatnya tumbuh. Dia merasa Anitha begitu ingin menguasai dirinya.
"Permisi ya Bu," kami mau memeriksa keadaan bapak." Sapa perawat yang dari awal membuat Anitha tak nyaman.
"Iya periksa saja. Apa dengan memeluk ayah jabang bayiku membuat anda terganggu?" tanya Anitha tanpa ada sikap bersahabat. Dia semakin kuat memeluk suaminya.
"Ehemm, tidak Bu," jawab temannya.
"Ya sudah, periksa saja.Semoga kami bisa cepat pulang. Jadi suami tercinta aku ini tidak dilirik banyak orang." Anitha seolah menyindir.
Dengan tetap memeluk lengan suaminya, perawat menyelesaikan tugasnya dan undur diri.
"Kamu hamil sayang?" tanya tuan Nan. Dia sangat jelas istrinya menyebutkan 'jabang bayi'.
"Tidak."
"Lalu apa maksud kata Dinda tadi?" tuan Nan memandang istrinya yang masih menempel erat seperti lintah pada inangnya.
"Supaya dia tidak mengganggu milikku!" kata Anitha tegas. Aura kecemburuan kembali menguar.
"Kamu kenapa jadi aneh Nak?" tanya ibunya,pertanyaan itu juga ingin tuan Nan tanyakan. Namun tidak mungkin rasanya, dia bisa rasakan akan salah paham bagi Anitha. Baginya sifat Anitha sekarang sangat dia perlukan mengobati hati lemahnya.
Ibu Anitha memang tidak pernah meninggalkan mereka, begitu juga ibu tuan Nan. Hanya ayah tuan Nan yang bolak-balik karena urusan perusahaan tuan Nan.
"Aneh kenapa Bu?" Anitha memang tidak merasa ada yang salah dengan dirinya. Kini dia melepaskan diri dan mengambil sarapan yang disediakan pihak rumah sakit. Anitha duduk manis dan menyuapkan suaminya sarapan.
"Iya Nak, kamu seperti cemburuan. Tidak seperti sifatmu biasanya." Ibu tuan Nan menimpali. Terlihat ibunya mengangguk. Anitha melihat suaminya meminta pendapat suaminya. Suaminya kembali tersenyum hangat.
"Masa sih Mom? Bu?"
"Entahlah mungkin perasaan kami saja." Elak ibunya halus.
__ADS_1
Namun perasaan mereka semakin terbukti, Anitha selalu semakin posesif jika ada perawat yang masuk. Entah itu cantik atau biasa saja, dia selalu menunjukkan kepemilikannya.
Tidak hanya ibu mereka yang melihat jelas. Ayah tuan Nan dan Jeffy juga melihat dan merasa keheranan. Anitha seperti gadis kecil yang ego, mempertahankan miliknya. Walau begitu dia sangat telaten merawat dan mengurus tuan Nan. Membuat ibu tuan Nan sangat bersyukur, ditengah musibah menimpa anaknya dan kelumpuhan anaknya, Anitha tetap mencintai anaknya bahkan lebih.
Seminggu di ruang rawat inap, dokter sudah memperbolehkan mereka pulang. Tuan Nan akan rawat jalan dan melakukan terapi untuk memulihkan kakinya.
Anitha bisa merasa bernafas lega. Dalam diam dan sifat posesifnya, dia begitu resah setiap perawat masuk mengontrol secara berkala kesehatan suaminya. Hati kecilnya selalu tidak terima jika para perawat menyentuh kulit suaminya.
Di rumah dan di dalam kamar mereka ... hari pukul 11 siang saat mereka pulang dari rumah sakit.
Anitha duduk manja di samping tuan Nan. Tangannya memeluk pinggang suaminya yang sedang duduk bersandar di kepala ranjang.
"Rasanya dinda baru bisa menarik nafas lega," ucapnya pelan.
"Bisa ya begitu?" tanya tuan Nan.
"Bisa. Dinda sangat menderita setiap kulit kanda disentuh-sentuh sama perawat yang memuja ketampanan Kanda." Anitha merajuk seperti anak kecil.
Tuan Nan sangat gemas dan ingin terbahak. Terapi dia tak mau melakukan, tuan Nan takut istrinya salah paham dan tambah merajuk.
"Apa yang mau mereka puja sayang, kini kanda hanya pria lumpuh. Siapa yang mau dengan pria lumpuh selain istri tercinta ini." Anitha tersenyum.
Dia berkata, "Ohh jadi kalau Kanda tidak lumpuh mau dengan mereka?" Jika tadi tersenyum kini dia malah jadi cemberut.
"Benarkah Kanda? Kanda tidak akan tergoda dengan gadis muda dan cantik diluar sana?"
"Tidak sayang. Sampai mati hanya Dinda di hati kanda. Percayalah.
"Terima kasih Kanda," ucapnya. Air mata mengalir di pelupuk matanya, jatuh membasahi pipi putihnya yang masih sedikit pucat.
"Kenapa menangis?"
"Tidak tahu Kanda. Rasanya terharu saja. Hati ini rasa ingin menangis saja." Anitha jujur pada suaminya.
Tuan Nan merengkuh Anitha. Memeluk erat dan mengecup ubun-ubunnya. Dia berkata, "Kanda juga lagi heran dengan sikapmu yang jauh sensitif sayang. Tidak seperti dirimu dulu. Namun apapun percayalah pada kanda, kita akan tetap bersama dan hanya maut yang memisahkan."
Anitha mengangguk dan air matanya kembali menemani. Tuan Nan yang merasakan dadanya basah, menengadahkan kepala Anitha dengan satu tangannya. Dia menghapus air mata istrinya. Dia mengecup lembut bibir istrinya. Semakin lama semakin dalam, menuangkan semua rasa rindu dan menunjukkan betapa cintanya dia pada istrinya.
Anitha bisa merasakan cinta suaminya dari hasrat yang disalurkan tuan Nan dalam kecupan dalamnya, Anitha merasa aman. Anitha juga merasa ada yang berbeda dalam dirinya. Sejak ibunya mengatakan dia aneh, dia mulai menyelami hatinya sendiri. Dia bisa merasakan dia lebih suka terbawa perasaan kini.
Tuan Nan masih tak melepaskan kecupan, tidak ada gairah panas selain rasa saling menunjukkan perasaan masing-masing dan saling menentramkan hati bahwa apapun keadaan mereka berdua, mereka bisa saling menerima kekurangan.
"Hmmm, Kanda sudah. Dinda bisa mati lemas kekurangan pasokan oksigen," katanya lucu. Membuat tuan Nan tergelak. Bagi tuan Nan hidupnya yang penuh keseriusan berubah karena wanita yang usianya terpaut hampir 14 tahun di bawahnya.
__ADS_1
"Makanya jangan menangis lagi, jika menangis artinya Dinda minta kanda kecup lama," ucap tuan Nan ikutan melucu.
"Uhh alasan saja, Kanda memang suka mengambil kesempatan dalam kesempatan."
"Bukan dalam kesempitan?"
"Bukan, Dinda tidak merasa ada kesempitan bersama Kanda. Hanya ada kesempatan, kesempatan dan kesempatan." Tuan Nan kembali merengkuh istrinya.
"Dinda ...." panggil tuan Nan serius.
"Hemm." Anitha melepaskan diri dan duduk berhadapan dengan tuan Nan.
"Ada yang ingin Kanda omongi?"
"Apa?" tanya Anitha penuh perhatian.
"Jika kanda tidak bisa berjalan normal, apa Dinda tetap mencintai kanda?"
"Tidak!" kata Anitha tegas membuat tuan Nan tersurut hati.
"Tidak salah lagi maksud dinda. Apapun itu, asal sikap Kanda yang tidak berubah, dinda akan tetap melabuhkan hati dan hidup ini untuk berbakti pada Kanda." Anitha lalu merangsek masuk ke dalam pelukan tuan Nan.
Anitha kembali dengan manjanya memasukan dua tangannya ke dua sisi pinggang suaminya. Dia menyandarkan kepalanya ke dada kokoh tuan Nan.
Tuan Nan menyambut pelukan istrinya dan memeluk erat. "Jika ada yang Dinda tidak suka katakan saja. Jika ada yang mengganjal terus terang saja. Jangan jadikan konflik karena kita kurang atau bahkan tidak ada berkomunikasi."
"Iya Kanda. Tidak sifat dinda menahan hati lalu membuat konflik karena memendam rasa."
"Bagus, kanda suka seperti itu. Karena terkadang kami pria ini tidak peka dengan bahasa tubuh kalian kaum wanita. Bahasa verbal lebih mudah kami cerna."
"Siap Tuan. Aku akan layani Tuan dengan bahasa verbal. Ayo dinda mandikan Kanda, menghilangkan sentuhan tangan-tangan perawat itu. Setelah itu kita makan siang. Kanda mau makan di bawah atau di sini saja."
"Makan di bawah?" tanya tuan Nan menggoda.
"Jangan aneh-aneh berpikir Tuan. Anda belum sehat benar." Anitha sengaja memakai kata tuan. Dia rindu pada saat suaminya masih suka menutupi hatinya, sehingga sikap dan katanya sering tidak singkron.
"Hahaha, kanda juga rindu masa dinda memanggil begitu."
"Aku juga rindu Tuan, walau aku sakit hati Tuan panggil wanita boneka."
"Ayo sayang Sekali-sekali kita kembali pada masa itu," ajak tuan Nan konyol dan yang lebih konyol istrinya yang menyetujui.
***/
__ADS_1