Upik Abu Jadi CEO

Upik Abu Jadi CEO
Kau Ada Ide?


__ADS_3

Jeff dan tuan Nan sedang duduk di sebuah kafe. Hobi baru tuan Nan saat malam hari adalah nongkrong manis, walau hanya dengan Jeff. Sejak Anitha pergi darinya, tuan Nan mulai mengenal kata jenuh dalam hidupnya. Dia selalu mengajak Jeffy duduk-duduk di luar.


"Apa info terbaru?" tanya Jeffy.


"Benar katamu, rencanaku tak sepenuhnya tepat. Anitha lari karena ingin mengembangkan sayapnya saat bertemu dia."


"Kau keras hati sendiri. Kini apalagi mau dikata."


"Kau ada ide?" Tuan Nan bertanya sambil mengusap tengkuknya.


"Tentang apa?"


"Anitha ingin membalas mereka yang telah menyakitinya."


"Mereka?" Jeffy tidak paham siapa saja yang dimaksud dengan mereka.


"Ya Anitha mengatakan orang-orang. Berati bukan satu orang."


"Kau tidak tanya?"


"Tidak, aku tak ingin terlalu terlihat ikut campur."


Mereka terdiam dan meneguk secangkir kopi yang telah diantar pramusaji. Lama mereka terdiam dan pandangan tuan Nan terkunci pada satu pria yang dia kenal. Sahrul. Namun tuan Nan tidak mengenal wanitanya. Berbeda dengan Jeffy yang diminta saat mengurus Anitha lepas dari Ajeng.


Posisi duduk tuan Nan dan tempatnya yang juga aman, membuat mereka leluasa untuk melihat interaksi pasangan tersebut.


"Jeff, mereka tidak mengenalmu bukan?"


"Tidak, aku akan duduk di belakang," jawab Jeffy langsung paham ke mana arah tuan Nan bertanya."


"Aku tunggu di sini. Aku tak mungkin melangkah keluar. Sahrul pasti akan melihatku."


Jeffy dengan perlahan duduk dan mengambil posisi di belakang Sahrul.


"Pesan apa?" tanya Sahrul datar.


Terdengar Ajeng menyebutkan pesanannya. Lalu dia bertanya, "Tumben abang menghubungi aku, setelah sekian lama tak ada berita."


"Aku mau minta maaf, mungkin sumpahmu benar adanya. Aku tak bisa punya keturunan dengan Anitha." Ajeng terlihat menegang, Sahrul cukup bisa melihat jelas. Tidak dengan Jeffy yang hanya bisa mendengar suara saja.


"Lalu apa hubungannya dengan aku? Apa Abang mau menyalahkan aku?"


"Tak ada guna lagi menyalahkanmu, aku juga salah. Sudah semena-mena dulu denganmu. Aku menidurimu berulang kali malah menikahi temanmu. Maafkan aku," kata Sahrul terdengar penuh penyesalan.


Jeffy harus bisa menahan hatinya yang terkejut mendengar perkataan Sahrul. Dia hanya menunjukkan pesanan dengan memberi kode pada pramusaji yang menghampiri mejanya. Jeffy tidak tahu minuman apa yang ditunjuknya. Cukup baginya ada minuman di atas mejanya.


Ajeng bukan Anitha yang berpikiran jauh. Tak ada rasa curiga baginya saat tiba-tiba Sahrul mengkontaknya. Walau dia kerja ganda di dunia malam, namun jiwanya lebih polos dari Anitha. Apalagi jika menyangkut Sahrul yang belum bisa digeser oleh siapapun dari hatinya. Logikanya tidak berjalan dengan sempurna.


"Apa Abang masih hidup dengannya? Setelah aku melihatkan bukti perselingkuhan Anitha?" tanya Ajeng pura-pura tidak tahu nasib rumah tangga mereka.


"Masih. Namun setengah tahun lalu sudah tidak lagi."


"Ohh ya, kenapa?" Sahrul bisa melihat kesenangan di mata Ajeng. Sahrul tahu Ajeng masih menyimpan cinta untuknya.


"Dia meminta cerai kira-kira tujuh bulan lalu." Sahrul berbohong, niatnya bukan untuk memburukkan Anitha, namun untuk memenuhi permintaan Anitha.

__ADS_1


"Ohh ya? Apa dia akhirnya memilih lelaki yang aku fotokan itu?"


"Mungkin, aku tak tahu dan tak ingin mencari tahu," jawab Sahrul dengan kesal.


Sahrul menahan emosinya. Masih begitu dalam niat Ajeng menghancurkan Anitha. Sekuat apapun Sahrul menyadari dia bersalah pada Ajeng, hati kecilnya tidak terima Ajeng membalasnya ke Anitha bahkan dengan niat hendak menjual Anitha menjadi wanita malam. Sahrul menarik napas meredakan emosinya. Ajeng yang melihat, mengira Sahrul menderita karena foto itu.


"Kamu kenapa belum menikah?" Sahrul mengalihkan rasa emosinya.


"Belum ada ketemu jodohnya."


"Atau nunggui aku?" goda Sahrul memulai langkahnya.


"Tidak ahh, nanti hanya jadi ban serap lagi. Sakit," jawab Ajeng. Hati kecilnya bergetar saat mendengar rayuan Sahrul. Ajeng tak ingin terperdaya lagi.


"Hmmm, aku menyesal. Jika aku tahu Anitha bukan gadis yang polos seperti tingkah dan wajahnya, tak akan aku mengkhianatimu bahkan menghinamu. Padahal kau memberikan semua karena cintamu. Namun aku tergoda oleh si polos itu." Kata-kata Sahrul begitu penuh penyesalan.


"Sudahlah Bang, nasi sudah jadi bubur. Apa Abang tidak mencari Anitha?" tanya Ajeng ingin tahu.


"Untuk apa?"


"Mana tahu. Ohh ya, Abang masih kerja di perusahaan lama?"


"Masih, tapi sekarang lagi di Singapura."


"Ohh ya?"


"Iya, di tugaskan saja ke sana. Mau ikut?" Sahrul mengajak penuh rayuan, membuat Jeffy yang mendengar semakin salah sangka.


"Aku kerja."


Sahrul tidak ingin terlalu terburu-buru. Dia mengajak Ajeng bertemu seakan hanya ingin curhat dan ingin bertemu saja.


Lalu mereka meninggalkan kafe setelah berbasa-basi dan Sahrul merayu Ajeng untuk bisa bertemu kembali.


Jeffy meninggalkan mejanya dan kembali ke meja tuan Nan.


"Bagaimana?"


"Sebaiknya kita ke mobil mendengar rekaman ini. Aku takut kau mengamuk di sini dan membuat masalah."


Tuan Nan menuju ke mobil dan menunggu Jeffy menyelesaikan tagihan pesanannya.


Tuan Nan tak bisa membendung emosinya. Jeffy juga tak bisa menyabarkan tuan Nan. Jeffy sendiri juga dirundung kesal. Mereka berdua sama salah paham pada ucapan Sahrul.


"Apa aku kirim saja rekaman ini ke Anitha, Jeff? Aku tak ingin ikut campur seperti pintanya dan janjiku.


"Aku rasa bagus begitu saja, terserah dia keputusannya."


Jeffy melajukan kendaraannya menuju rumah tuan Nan. Tuan mencoba menghubungi Anitha.


"Halo Tuan, apakah kau merindukanku?" ucap Anitha tanpa ada niat bercanda.


"TIDAK! KAU MASIH ISTRI ORANG!" jawab tuan Nan penuh penekanan. Dia ingin melampiaskan sedikit emosinya ke Anitha.


"Ohhh, kata-katamu menghancurkan perasaanku Tuan." Anitha hanya terawa menanggapinya.

__ADS_1


"Aku ingin tahu, apa kau masih bisa tertawa begitu cerah, setelah aku kirimkan sesuatu yang menarik. Aku tidak sengaja menemukannya." Tuan Nan masih menimbang apakah Anitha tidak akan marah padanya dan malah menuduh ikut campur.


"Tentang apa?"


"Aku tidak ingin ikut campur, aku hanya melihat dan penasaran dengan apa yang mereka bicarakan."


"Jangan berbelit Tuan, katakan saja. Aku tak akan menuduhmu!" pinta Anitha tegas.


"Baik, ingat satu hal. Jika kau patah hati setelah ini. Ada aku berstatus duda mau mengobati hatimu yang berdarah-darah." Tuan Nan tertawa penuh ejekkan. Tuan Nan mematikan telfon dan mengirim tanpa ragu.


Lalu terdengar Jeffy bersuara, "Kau yakin Nan, membiarkan mereka berdua?"


"Yakin bagaimana?"


"Apa tidak sebaiknya kau saja yang mengurus apa yang diinginkan Anitha. Membiarkan mereka sering berdua aku rasa bukan jalan yang tepat."


"Aku tak paham Jeff."


"Kau apa yang paham selain urusan bisnis. Soal begini otakmu seperti saluran mampet!"


"Jika aku tidak membutuhkanmu, sudah aku kubur kau diam-diam Jeff."


"Bagusnya kau yang selalu ada untuknya, ada di sampingnya. Bukankah ada pepatah yang mengatakan 'cinta hadir karena sering bersama'. Coba kau pikir lagi tenang-tenang, atau kau putuskan hatimu untuk mundur. Aku takut kau tidak bisa memendam kecewamu jika ekspetasimu tidak berjalan mulus."


Tuan Nan tak membantah. Dia menyimak dengan serius apa yang disampaikan oleh Jeff. Lalu satu panggilan masuk ke ponselnya. Tuan Nan mengangkat telapak tanganya dan memberi kode stop berbicara pada Jeffy.


"Bagaimana? Apa kau patah hati dan ingin aku jemput pulang ke rumah?" Nadanya terus penuh ejekkan.


"Hikshikssshiksss hhuuuuaaa ...." terdengar tangis Anitha di seberang telfon. Tuan Nan sengaja meloudspekerkan agar Jeffy mendengar. Mendengar tangis Anitha, timbul penyesalan tuan Nan.


"Aku jemput?" ucap tuan Nan tak tahan mendengar tangis Anitha.


"Hahhahaa, tidak perlu Tuan. Aku bahagia kau menyenangkan hatiku dengan mengirim rekaman itu." Tangis yang terdengar berganti tawa.


"KAU__"


Anitha langsung meng-cut perkataan tuan Nan. "Aku rindu ingin menjahilimu Tuanku tersayang, Muaaach." Anitha langsung mematikan ponselnya. Tak lama masuk emot ke wa tuan Nan dengan emot menjulurkan lidah mulai dari mata terpejam satu sampai memeletkan lidah ke samping.


"Aaarrrgghhh, awas kau Anitha!" teriak tuan Nan penuh kekesalan. Bisa-bisanya dia kebablasan dikerjai kembali. Tuan Nan langsung melihat Jeffy yang masih menepikan mobilnya ketika mendengar tangisan Anitha.


"Kenapa kau Jeff! Kau mau mengolok aku?" Tatapan tajam tuan Nan menikam mata Jeffy.


"Bagaimana mau mengolokmu, jika aku saja juga kesal padanya! Gara mendengar tangisan palsunya, aku terpaksa menepikan mobilku dengan mendadak. Kalau ada yang menyalip, habis kita tadi!" Jeffy juga ikut merutuk kesal.


Entah siapa yang memulai mereka yang tadinya kesal menjadi tertawa, walau tawa sumbang menahan kekesalan masing-masing.


"Itu yang kau katakan wanita kau boneka berby. Wanita kau aktris yang mengerihkan." Jeffy mengumpat Anitha. Dia melanjutkan mengemudikan mobilnya.


Lalu masuk satu pesan lagi, "Aku benar berterima kasih. Aku tidak akan menangis untuknya Tuan. Lebih baik jika aku menangis aku menangis karenamu." Senyum manis dia berikan dengan emot di whatsappnya.


"Percayakan padaku," pesannya lagi.


@@@


Sudilah kiranya saudara/i memberikan like , supaya aku tak menangis melihat ceritaku tenggelam diantara ribuan novel yang bagus-bagus 😭😭😭, dan aku semangat dalam memikirkan ide membuat pembacaku penuh emosi 😱 😋 😍

__ADS_1


__ADS_2