Upik Abu Jadi CEO

Upik Abu Jadi CEO
Apa Kabar Sayang?


__ADS_3

Bandara yang sama namun suasana hati berbeda. Inilah yang dirasa oleh Anitha saat menginjakkan kaki kembali setelah hampir setengah tahun meninggalkan Jakarta.


"Semangat Anitha, Jakarta ini luas. Tak ada faktor kebetulan dalam hidup selain takdir sudah mengatur jika harus bertemu," gumamnya sambil tersenyum percaya diri.


Sejak memutuskan lari dari tuan Nan, Anitha kembali menata hatinya agar tidak rapuh. Anitha tidak mungkin harus bergantung pada orang lain, sekalipun itu tuan Nan.


Anitha ingin mampir ke rumah bapak angkatnya. Namun waktu yang dia punya tidak banyak. Diapun tak ingin meninggalkan jejak untuk tuan Nan.


Anitha mencari hotel terdekat dari pabrik industri yang akan di kunjunginya. Dia mengganti pakaiannya. Anitha kini semakin modis dan rambut yang diwarnai tidak begitu mencolok. Kecantikan Anitha bertambah sejak beban hatinya semakin ringan. Setengah tahun membuat Anitha semakin bersinar. Tidak hanya dari penampilan, juga dari segi kariernya.


Dengan langkah penuh percaya diri dia menemui relasi perusahaannya. Perusahaan meminta supaya bisa berkolaborasi untuk bahan industri dasar agar bisa meningkatkan layanannya demi bertumbuhnya perusahaannya.


Kini di ruangan ini dia duduk membahas dengan pimpinan produksi pabrik. Namun beliau tidak bisa memutuskan karena permintaan perusahaan Anitha yang terlalu besar dianggap olehnya. Pimpinannya pabrik meminta langsung membahas di kantor pusatnya, karena hanya kantor pusat yang bisa memutuskan bersedia atau tidak.


"Baiklah kalau begitu Pak, saya mohon diri. Biar saya langsung ke kantor pusat."


Anitha pamit dan langsung ke kantor pusat. Setiba di sana Anitha melapor pada bagian resepsionis yang terdapat di lantai dasar perusahaan. Membawa rekom pimpinan dari pabrik.


Anitha di minta menunggu dan di persilahkan duduk di kursi yang tersedia. Anitha mengambil handponenya. Satu pesan whatsapp masuk mengabari jika Sahrul akan sampai sore nanti. Anitha menyeringai lebar. Anitha sudah menunggu moment pertemuannya dengan Sahrul tanpa takut dibayang-bayangi masa lalunya.


Jika Anitha sedang asyik, menunggu dan memainkan ponselnya. Seorang pria kini telah berada di ruangan bos besarnya.


"Ada apa Mi? Bukankah hari ini kita tak ada rapat. Kita hanya menunggu utusan perusahaan dari Batam, seperti yang dikatakan pimpinan pabrik kita? Apa dia sudah datang?"


"Maaf Pak, ini bukan urusan kantor. Maaf kalau saya lancang ikut campur urusan Bapak." Helmi berkata lalu sedikit membungkukkan badannya memberi hormat.


"Katakan, apa itu?"


"Saya melihat Nona Anitha di depan meja resepsionis," jawab Hellmi hati-hati.


"Kamu yakin?"


"Yakin Pak, awalnya saya kira hanya mirip karena penampilannya semakin berubah Pak. Namun saat dia tersenyum melihat handphonenya saya menjadi yakin."


Telfon paralel di ruangan tuan Nan berbunyi. Angkat telfon kantor Mi, saya mencoba menghubungi Jeffy.


Ternyata resepsionis langsung menghubungi ruang CEO, setelah memastikan keabsahan rekom dari pabrik industri mereka.


"Ya minta menunggu sebentar lagi. Nanti saya yang akan ke bawah." Helmi mengambil keputusan untuk mengulur waktu melihat bosnya berbicara dengan Jeffy.


"Jeff kau cepat ke kantor."


"Aku tidak bisa ke kantor Nan, aku menunggu Sahrul di bandara. Hari ini aku mendapat kabar dia akan mendarat sore ini di Jakarta.

__ADS_1


"Apaa?? Ohh ... jadi mereka berjanji akan bertemu di Jakarta!!" Wajah tuan Nan terlihat langsung merah padam.


"Maksudmu?" Jeffy sempat tak paham.


"Kau tahu Jeff, Anitha kini di lobi kantor kita!"


"Apaaa!!" Kini gantian Jeffy yang terkejut.


"Hahahaaa, berani sekali dia mempermainkan aku Jeff!" sentak tuan Nan mengendalikan emosinya.


"Nan, coba kau tenang dulu. Jangan gegabah lagi jika kau benar mencintai dia dan ingin mendapatkan dia! Kita tidak tahu apa alasan dia dibalik semua ini!"


"Apa rencanamu Jeff, aku tak bisa berpikir normal. Ingin aku mengejarnya ke lobi dan menyeret paksa dirinya!"


"Lakukan, jika kau ingin dia semakin memberontak dan pergi jauh darimu!" bukannya melarang Jeffy malah mendukung.


"Aku akan sabar Jeff, apa yang akan kita lakukan?"


Sekretarisnya merasa tak enak dan ingin keluar ruangan tuan Nan.


"Kau di sini saja. Kau juga bukan orang luar bagiku," ucap tuan Nan melarang langkahnya. Pernyataan tuan Nan membuat Helmi merasa kesetiaannya dihargai. Hatinya semakin mantap untuk mendedikasikan dirinya pada tuan Nan.


Jeffy memberikan pandangan dan intruksi singkat. Tuan Nan menjawab, "Baiklah persoalan ini aku akan mengikuti arahanmu Jeff." Tuan Nan diminta Jeffy untuk profesional. Memilah urusan pribadi dan kantor. Anitha kini datang sebagai relasi bisnis.


"Baik Pak."


Tok ... tok ... tok ....


"Masuklah." Tuan Nan sengaja menekan dalam suaranya agar tidak diketahui Anitha.


"Silahkan Bu, saya pamit." Resepsionis hanya mengantarkan Anitha sampai pintu sang CEO.


"Permisi Pak," salam Anitha hormat. Walau sang bos besar masih duduk di kursi kepresidenannya dengan membelakangi Anitha.


"Hemm," gumamnya kecil.


Anitha hanya diam karena belum ada tanda-tanda tuan Nan membalikan badannya. Anitha hanya menunduk untuk menarik nafasnya dan membuangnya pelan mengusir rasa emosinya yang di acuhkan oleh pimpinan perusahaan. Jika tak diingat ini kariernya ingin dia memaki dan mencak-mencak pada orang sombong di depannya. Anitha masih mengulangi menarik napas dan tetap menunduk, tanpa dia tahu tuan Nan telah berbalik dan melihat kelakuannya.


Tuan Nan tersenyum tipis. Amarah akibat percikan api cemburu yang menyala langsung sirna, melihat sikap lucu Anitha. Tuan Nan tahu Anitha memendam emosinya karena sikap tak sopannya. Tuan Nan masih diam menikmati pemandangan indah di depannya. Benar kata Helmi, penampilannya jauh berubah. Rambut yang diwarnai dengan warna merah maron yang tidak begitu jelas jika sedang tidak terpapar cahaya lampu atau sinar matahari. Penampilan yang lebih modis, karena badannya yang lebih kurus dari biasanya.


Dengan perlahan dia menopang sikunya ke meja kantornya dan menopang dagunya dengan jari-jari tangan yang saling ditautkan. Dia asyik memandang Anitha yang masih mengatur napasnya yang memburu.


Akhirnya tuan Nan tidak sabar ingin mengganggu wanita yang membuat hari-harinya setengah tahun ini penuh cerita.

__ADS_1


"Apa kabar sayang? Akhirnya kau memilih datang sendiri kehadapanku!" Tuan Nan sengaja memasang nada dingin dan wajah datarnya. Pandangan matanya juga tak kalah tajam.


Anitha merasa gempa berskala tinggi menghantam bangunan tempat dia berdiri. Anitha terlonjak dan mundur dua langkah karena seakan bangunan itu di depannya akan runtuh. Dia cepat menguasai diri.


"Tuan, ini perusahaan Anda?" tanyanya dengan bodoh.


"Menurutmu apa ini bukan perusahaan saya?" katanya. Tangannya masih bertopang dagu.


Anitha kehilangan kata-katanya untuk beberapa saat. Namun dengan lihai dia membalikan keadaan.


"Saya ingin bertemu dengan pimpinan perusahaan ini. Jika Bapak orangnya bisakah anda mempersilah tamu anda untuk duduk." Anitha telah pulih dari keterkejutannya. Tuan Nan ingin rasanya tertawa terbahak mendengar ucapan Anitha yang tetap berani disela rasa terkejutnya.


"Ohh silahkan duduk," katanya serius. Jauh di lubuk hatinya dia ingin memeluk Anitha.


"Terima kasih, Pak." Anitha menarik kursi dan duduk dengan hati-hati.


"Ehemm," kata Anitha berdehem mengembalikan suaranya yang sedikit canggung.


"Ada apa?" katanya acuh.


Anitha ingin menjitak kepala tuan Nan yang berpura tidak tahu apa maksud kedatangannya. Mustahil jika dia tidak diberi tahu ketika Anitha hendak menjumpainya.


"Begini Pak ...." Anitha menjelaskan dengan cermat dan detail. Cara berbicara dia juga jauh beda saat dia di rumah tuan Nan. Anitha benar-benar berkembang pesat. Ada satu sisi hati tuan Nan yang senang melihatnya. Namun satu sisi lagi tidak, karena sisi itu telah mencari dan menunggu kabar dari Anitha. Kini sisi hati itu diselubungi rasa cemburu menyangka Anitha terus berhubungan dengan Sahrul.


"Ohhh, coba saya lihat." Tuan Nan memang memperhatikan dengan detail. Dia bersikap profesional seperti yang diminta Jeffy. Dia alihkan rasa penasarannya yang setengah tahun ini. Anitha yang melihat tuan Nan begitu serius dan fokus tiba-tiba merasakan sesuatu menggelitik hatinya. Dia sungguh suka melihat lelaki tampan ini begitu serius.


Setelah dia melihat dengan teliti, tuan Nan berkata," Beri kami waktu satu atau dua hari ini paling lambat untuk membahas di rapat internal kami. Apa yang perusahaan anda minta lumayan bernilai besar," ucap tuan Nan serius.


"Baiklah Pak, saya akan mengabari kantor saya." jawab Anitha serius.


"Kalau begitu saya permisi dulu." Anitha pamit dan memandang penuh arti tuan Nan. Anitha ingin tahu, apa tuan Nan benar tidak peduli lagi dengan dirinya dan urusannya, atau tuan Nan hanya berpura untuk menyusun rencana dan memerangkapnya kembali.


"Jika kau lihat untuk mencari tahu saya peduli atau tidak. Saya jelaskan, saya tidak tertarik lagi mengetahuinya. Adapun dulu memang saya mencari karena saya kira terjadi apa-apa padamu. Namun dua bulan tak kunjung ada kabar, saya tidak ambil pusing, karena kamu juga bukan siapa-siapa saya lagi." Nada sinis begitu terasa oleh Anitha.


Anitha tahu dia salah. "Aku paham Pak, maaf."


Anitha mengeluarkan dompetnya dan mengambil kartu kredit tuan Nan. "Maaf terlalu lama saya memegangnya. Soal pinjaman 20 juta itu, karena saya tidak menyangka akan bertemu, maka kasih saya sampai besok untuk mengembalikan pada Bapak."Anitha menaruh perlahan kartu kredit tersebut di atas meja tuan Nan.


"Saya permisi, semoga masalah pribadi saya ini tidak mengganggu kerja sama antar dua perusahaan Pak."Anitha berkata datar dan berlalu tanpa izin tuan Nan.


"Uhhh gadis arogant, sudah dia yang salah. Dia pula pasang muka datar," gumam tuan Nan tersenyum manis. "Tunggulah sayang, akan aku beri kau hukuman terindah. Kini akan aku ikuti apa permainanmu," ucap tuan Nan penuh kebahagiaan.


@@@

__ADS_1


__ADS_2