
Kita boleh merencanakan, namun kita tak bisa memutuskan begitu saja. Siapa sangka di usia dua bulan pernikahannya terjadi tragedi tak di sangka di sebuah pabrik yang ditinjau tuan Nan.
Pabrik tersebut terjadi kerusuhan. Karyawan pabrik demo merasa diperlakukan tidak adil. Bertepatan dengan kunjungan tuan Nan. Pimpinan pabrik niatnya menutupi hanya untuk sementara waktu.
Tuan Nan yang baru tiba dan turun dari mobilnya melihat karyawan telah ramai di depan bangunan pabrik.
Harri dan Helmi niatnya menghindari kerumunan tersebut, namun tuan Nan ingin mengetahui langsung.
Tuan Nan melangkah dengan dijaga Harri dan Helmi. Sayangnya, jiwa-jiwa yang sedang panas membara tidak bisa diajak berpikir jernih. Jiwa-jiwa haus akan ego itu hanya bisa menuruti hawa nafsunya.
Entah timah panas siapa yang merencanakan dan entah untuk siapa niatnya. Kini timah panas itu bersarang di tubuh tuan Nan. Tuan Nan terkapar bersimbah darah. Teriakan karyawan wanita terdengar histeris. Begitu juga beberapa karyawan yang mengenal tuan Nan. Mereka terlihat panik.
***
Rumah sakit ....
Anitha telah sampai di depan ruang operasi. Begitu mendapat kabar, Anitha meninggalkan pekerjaannya begitu saja. Kini di depan ruang operasi ini dia berada ditemani Jeffy.
Jika dulu tuan Nan yang hampir putus asa. Kini Anitha yang hilang semangat di depan kamar operasi suaminya.
Tak ada ketabahan lagi, Anitha merasa dunianya suram. "Tidak Kanda, jangan lakukan ini padaku. Aku mohon, bertahanlah. Bertahanlah Kanda."
Tangisnya yang dari mendapat kabar telah pecah. Kini air mata dan isak tangisnya masih menemani wajah sedihnya.
"Sabar Tha. Banyak doa."
"Aku tidak bisa Jeff. Aku tidak paham dengan semua ini. Apa aku tidak berhak untuk bahagia. Apa salah dan dosaku Jeff. Kenapa aku dihukum begini berat." Anitha mengeluh, hilang sudah kendali diri. Tak ada lagi iman di dada.
Jeffy tidak ingin menasehati Anitha untuk saat ini. Berapa banyakpun nasehat, tak akan mampu mengobati hati yang lagi kecewa.
"Tha, bawa istirahat."
"Aku lebih baik istirahat selamanya Jeff ... aku tak siap Jeff mendapat kabar buruk dari dalam. Aku takut Jeff...." tangisnya semakin dalam. Dia duduk. Tubuhnya sedikit membungkuk, kedua siku tertopang di kedua lututnya, telapak tangan menutup mukanya.
"Maaf kami sudah berusaha tetapi Allah berkehendak lain...."
"Tidak, tidak aku tak siap untuk menerima kalimat ini...."
Anitha tak bisa menerima semua ini. Terbayang semua yang di lakukan suaminya, mulai dari sikap datar sampai sikap romantisnya. Anitha merasa gila dibuatnya. Begitu ingin dia berbakti pada suami yang telah banyak berkorban dan berusaha demi dia.
Akan tetapi, kini suaminya hanya terbaring tak ada daya. Anitha merasa kesedihan terdalam hidupnya. Benar kata orang, berat kehilangan ayah yang dicintai, lain pula beratnya kehilangan suami yang dicintai.
"Aku harus bagaimana kanda, aku takut. Aku tak siap kehilangan kau begitu saja. Tolong jangan lakukan ini padaku kanda. Aku bahkan belum bisa membahagiakan kau ...."
__ADS_1
Semakin lama, kepalanya semakin sakit dan berat. Pandangannya kabur dan merasa berputar. Lalu hanya gelap yang dilihatnya. Anitha jatuh tak sadarkan diri. Anitha terhempas ke lantai rumah sakit, tanpa sempat Jeffy sadari.
"Anitha!" teriak Jeffy mengejar dan berusaha menyadarkan.
Harri langsung berinisiatif memanggil tenaga medis.
Kedua ibu mereka telah mendapat kabar dari Jeffy. Sehari semalam waktu yang cukup bagi mereka untuk datang ke rumah sakit ini. Tak ada lagi isak tangis Anitha. Tak ada lagi wajah sedihnya. Hanya wajah pucat seperti mayat hidup.
Ibu Anitha yang pertama tiba di rumah sakit, besok harinya ibu tuan Nan dan ayahnya.
Jika kemarin Anitha yang penuh sedu sedan, kini kedua ibu mereka yang terisak di ruang ICU tersebut. Tuan Nan telah selesai dioperasi saat kedua ibunya datang dan kini tuan Nan sedang dalam masa kritis. Di samping tuan Nan, istri tercintanya juga dalam kritis.
Keduanya terbaring bersampingan dengan selang infus yang menguasai tubuh mereka. Alat-alat medis yang lain juga setia menemani.
Anitha yang telah di angkat ke UGD karena pingsan dan terjatuh, tidak membuka mata lagi. Sehingga dokter harus memindahkan ke ruang ICU dan mengobservasi lanjut apa penyebabnya.
Sehari menjadi dua hari dan berlanjut menjadi seminggu. Seminggu berganti menjadi dua minggu bahkan menjadi sebulan.
Pasangan suami istri ini tidak ada yang menunjukkan perubahan. Anitha koma bukan karena tulang tengkorak yang retak dulu kembali terhempas. Perasaan sedih mendalam membuat fungsi otaknya menolak untuk bangun.
Jika tuan Nan masih mempunyai semangat hidup, tidak dengan Anitha. Semangat hidup Anitha sangat lemah. Ibu Anitha hanya bisa pasrah. Hanya doa yang menjadi jembatan kepasrahannya.
Beliau tidak menyesali dengan sikap lemah anaknya dalam menyikapi masalah ini. Baginya anaknya telah berusaha banyak berjuang dalam hidupnya sedari dia mulai menginjakkan bangku sekolah dasar hingga terakhir mendapatkan kabar suaminya masuk rumah sakit.
"Nan, bangunlah Nak. Istrimu tidak sanggup tanpamu. Tidakkah kau iba melihat dia terkurung ditempat tanpa cahaya?" panggil ibu tuan Nan, mencoba berkomunikasi dengan anaknya.
Ibu tuan Nan selalu mencoba memanggil anaknya dan melibatkan Anitha.
Di hari lain ..."Apakah kau tidak merindukan Anitha Nak? Lihatlah istrimu begitu setia menemanimu dan ikut terbaring bersamamu. Begitu besar cintanya padamu Nak. Sehingga dia takut membuka matanya mendapat kabar kamu akan tidak baik-baik saja."
Tidak hanya air mata ibu tuan Nan, air mata ibu Anitha juga menemani anak-menantunya. Kedua wanita ini selalu masuk bersamaan saat jam besuk. Mereka berdua tak putus asa untuk memberikan semangat pada anak-menantunya. Walau lebih fokus ke tuan Nan. Menurut mereka Tuan Nan fokus utama kesadaran Anitha.
Mereka berharap dengan tuan Nan sadar, maka suara tuan Nan bisa membangunkan mimpi buruk Anitha.
Hingga suatu malam, dokter mengabarkan tuan Nan membuka matanya dan sadar. Betapa bersyukur kedua ibu mereka.
"Mom, Bu ...." panggil tuan Nan saat dilihatnya wajah wanita yang berjasa dan berharga dalam hidupnya.
"Iya Nak." Mereka menjawab berbarengan.
"Anitha mana Bu?" itu pertanyaan pertamanya.
Kedua wanita itu saling pandang. Dokter sudah mengatakan, menghindari shock pertama dari reaksi tuan Nan melihat istrinya, dokter memutuskan menutup tirai pembatas Anitha yang berbaring di ranjang sebelah.
__ADS_1
"Ada apa Mom?" tuan Nan beralih bertanya pada ibunya.
"Anitha sedang istirahat dirumah. Kamu sudah hampir sebulan lebih tidak sadar." Jelas ibu tuan Nan.
"Selama itu Mom?"
"Iya."
Malam itu mereka berdua sepakat menutupi sampai keadaan tuan Nan lebih stabil. Namun seperti tali nyawa mereka bersatu, tuan Nan merasa resah.
"Apa Mom dan ibu tidak berbohong padaku? Apa istriku baik-baik saja?" tanya tuan Nan dengan nada tenang, walau perasaannya begitu tidak tenang.
Ingin rasanya kedua wanita ingin menangis melihat hati dan hidup mereka begitu menyatu. Menandakan begitu besar cinta diantara mereka berdua.
Mereka begitu sedih Anitha hanya berjarak tiga langkah dari tuan Nan dan hanya dibatasi tirai.
"Istrimu baik-baik saja Nak. Dia pulang berganti pakaian. Dia berjanji pagi-pagi akan kemari. Kau istirahatlah dulu." Ibu Anitha yang berusaha menenangkan.
Kedua wanita paruh bayah ini berharap besok pagi tuan Nan sudah jauh lebih baik dan bisa diajak bicara lebih jauh.
"Baiklah Bu, kalau begitu. Tetapi istriku apa selalu menemani aku Bu?" tanya tuan Nan.
"Istrimu begitu setia Nak. Dia selalu menemanimu siang-malam. Hanya malam ini yang tidak karena kami memutuskan menyuruh istirahat." Ibu tuan Nan yang kembali menjelaskan.
Terlihat senyum bahagia dan luka sekaligus pada anaknya. Ibu tuan Nan bertanya, "Ada apa Nak?"
"Aku senang dia menemaniku Siang-malam Mom. Namun aku juga terluka membayangkan betapa dia sedih melihat aku begini."
"Itu pasti Nak. Istrimu wanita istimewa. Menantu kesayangan mommy. Sekarang kau istirahat. Kami akan menunggu di luar."
Kedua wanita itu mengusap rambut anaknya. Ibu Anitha terpaksa menahan hati tidak menoleh ke ranjang Anitha. Menantunya begitu jeli dan sensitif.
"Bu," tahan tuan Nan saat mereka hendak melangkah.
"Ada apa?" kedua wanita paruh baya tersebut menoleh dan ibu Anitha yang bertanya.
"Apa tidak bisa malam ini dia dijemput? Aku sangat merindukannya."
"Apa kau tidak kasihan padanya Nak, demi hanya rindumu?" jawab ibu tuan Nan.
"Mommy benar. Baiklah. Aku akan sabar sampai besok pagi."
***/
__ADS_1