
"Kamu sudah makan malam sayang?"
"Belum Uda."
"Mau di belikan apa? Uda ada cerita menarik untuk kamu."
"Belikan aku nasi padang saja Uda. Lauknya ikan nila bakar. Belikan aku susu coklat bubuk ya Uda. Nanti aku buat di sini saja."
"Oke, tunggu Uda carikan pesananmu ya."
"Terima kasih Uda."
"Iya, sama-sama sayang."
Anitha berbaring dan menonton televisi. Akhirnya yang ada televisi yang menonton Anitha tertidur. Di tengah rasa kantuk yang mendera. Anitha mendengar ponselnya bergetar.
"Haloo," jawabnya dengan suara serak khas orang mengantuk.
"Buka pintunya, uda di depan pintu kamar."
"Ohh ya ya Uda, tunggu sebentar."
Anitha berjalan gontai karena masih mengantuk. Dia membukakan pintu, dan berbalik kembali ke tempat tidur.
"Ayo makan dulu."
"Iya sebentar lagi, aku ngantuk." Anitha kembali memejamkan matanya. Sahrul hanya menggeleng melihat Anitha kembali tidur. Sahrul lalu memanaskan air di ceret listrik. Dia membuatkan Anitha susu coklat hangat.
Sahrul meletakan di meja kamar hotel. Dia bergerak dan duduk di tepi ranjang.
"An, bangun. Minum susu coklatnya, sudah uda buatkan." Sahrul merapikan rambut Anitha yang berantakan.
"Hmmm, tapi aku ngantuk sekali." Anitha menjawab masih dengan memejamkan matanya.
Sahrul menghela napasnya. Dia bergerak mengambil susu coklat dan kembali ke dekat Anitha.
"An, minum dulu. Kau nanti sakit tidak mengisi perut sedikitpun." Sahrul memencet lembut hidung Anitha. Anitha akhirnya membuka matanya karena kesulitan bernapas.
Anitha duduk, dan menerima susu coklatnya. Matanya menjadi terang karena hawa panas yang mengalir dari kerongkongannya. Dadanya sedikit terasa hangat. Anitha tersenyum.
"Makan dulu, nanti nasinya keburu dingin." Anitha turun dari tempat tidurnya. Dia mencuci tangannya.
"Uda sudah makan?"
"Sudah," jawabnya dan menyusul duduk di samping Anitha. Anitha hanya duduk di lantai. Dia membuka bungkusan nasinya. Dia mulai menyuap perlahan nasinya. Dia mendengarkan cerita Sahrul bagaimana bertemu dan apa saja yang di bahas.
Apa yang didengar Anitha tak jauh beda dengan rekaman yang dikirim tuan Nan. Anitha hanya tersenyum. Diapun telah menyelesaikan makannya.
"Kau senang mendengarnya?"
"Iya."
"Apa kau tidak cemburu?"
__ADS_1
"Tidak."
"Kau benar masih mencintai uda?"
"Aku tidak cemburu karena aku percaya sama Uda. Aku yakin Uda tidak akan mengkhianati aku lagi."
"Uda besok harus kembali dulu sayang, tapi besok kita usahakan bertemu di Batam saja ya. Uda pikir lagi, kenapa kita harus lari dari tuan Nan. Kau masih istri sah Uda. Uda yang berhak atas dirimu bukan dia."
Benar yang dipikirkan Anitha. Sahrul mulai merasa tak nyaman dan dia merasa Anitha masih dan akan tetap miliknya.
"Iya Uda benar. Aku setuju Uda ke sana," ucap Anitha mendukung.
Sahrul memperhatikan Anitha dan berkata, "Uda sangka, kau akan menolak." Anitha menggeleng.
"Kau berapa lama di sini?"
"Tiga hari lagi paling lama, dan aku akan langsung dipekerjakan di Batam."
"Lalu bagaimana cara Uda memenuhi permintaan aku, jika Uda sibuk terus. Aku tak ingin lama-lama berpisah dengan Uda."
"Ya kasih uda waktu, secepatnya akan uda bereskan."
"Okelah, aku tunggu hasilnya saja. Prosesnya terserah Uda." Sahrul mengangguk dan mengacak sayang rambut Anitha. Ketika cinta mulai menyapanya, wanitanya hanya musang berbulu domba.
@@@
Bos Anitha telah mendarat pagi ini dan langsung ke kantor tuan Nan. Anitha telah menanti di ruang Nan. Siapa lagi kalau bukan akal-akalan tuan Nan meminta dia ke kantor jauh sebelum bosnya Anitha datang. Sahrul telah berangkat ke Singapura walau dengan berat hati.
Di sela menanti bos Anitha yang sudah mendarat, tuan Nan asyik berbincang dengan Anitha.
"Owww, jangan katakan tuan mulai cemburu?"
"Jika aku katakan iya, apa tanggapanmu!"
"Aku tak tahu, aku tak punya tanggapan apapun untuk masalah hati Tuan."
"Dasar wanita boneka, tak punya hati!" ucap tuan Nan kesal.
Anitha hanya diam. Tak ada keinginannya untuk berdebat dengan tuan Nan. Anitha memandang tuan Nan.
"Apa Tuan benar mencintaiku?" Anitha memutuskan memuaskan rasa ingin tahunya.
Tuan Nan yang tak menyangka Anitha bertanya seperti itu, menutupi hatinya. Tak mungkin dia mengatakan cinta untuk saat ini.
"Nilai sendiri olehmu!" Tuan Nan mengelak secara halus. Anitha tak berniat memperpanjang.
Anitha merubah topikmya. "Aku akan ikut balik dengan bosku."
"Apa urusanmu sudah selesai dengan suamimu?"
"Aku menyerahkan padanya, aku hanya memerlukan hasil akhirnya."
"Ohhh begitu." Tuan Nan kehilangan minatnya untuk membahas masalah Sahrul.
__ADS_1
"Apa kau tidak ingin bekerja di perusahaanku? Aku rasa kau mempunyai potensi untuk kerja di perusahaanku."
"Tidak Tuan, kau telat menawarkannya. Kini aku ingin merintis sendiri karierku."
"Ok kalau begitu."
Pembicaraan mereka terhenti karena Helmi mengetuk pintu dan mengatakan bos Anitha sudah sampai.
Setelah berbasa-basi, mereka melanjutkan negosiasi. Tuan Nan setuju dan melanjutkan tanda-tangan kontrak.
Tuan Nan mengajak tamunya untuk makan siang. Didampingi dua bodyguardnya, mereka makan siang. Tak ada pembicaraan bisnis. Hanya mengobrol di luar bisnis.
"Terima kasih Pak, atas persetujuan Bapak menerima propsal kami." Bos Anitha menyampaikan rasa terima kasihnya. Persetujuan perusahaan tuan Nan bisa mengembangkan perusahaannya.
"Jika ingin berterima kasih, terima kasih sama staff business Development anda yang gigih." Tuan Nan secara halus merekomendasikan kemampuan Anitha.
"Ohh ya Pak, dia memang termasuk karyawan terbaik kami." Bos Anitha tersenyum penuh makna pada Anitha. Tuan Nan yang melihatnya merasa api cemburu mulai membakarnya. Tuan Nan sudah mencari tahu status bos Anitha. Dia adalah pria lajang yang belum menikah di usianya yang hampir 37 tahun.
"Kalau begitu kami permisi Pak, kami mengundang Bapak untuk acara kantor kami, atas peluncuran produk terbaru kami."
"Saya tunggu undangan anda," ucap tuan Nan ramah.
Mereka lalu berpisah, Anitha dan bosnya langsung menuju bandara dengan diantar oleh Harri. Tuan Nan sendiri dijemput oleh Jeffy sesuai dengan pesan singkatnya.
Tuan Nan hanya banyak diam di dalam mobil menuju ke kantornya. Jeffy yang tahu kondisi hati tuan Nan yang lagi tidak baik hanya fokus menyetir.
"Apa aku saja yang menyelesaikan masalahnya Jeff?" Tiba-tiba tuan Nan melayangkan pertanyaan.
"Ada apa?"
"Aku tiba-tiba merasa tak nyaman dan tak rela Anitha terlalu dekat dengan suaminya."
"Kau tak bisa mengelak dari rasa cemburu?"
"Sedikit, namun itu tak terlalu penting bagiku."
"Terus apa yang penting?" Jeffy bertanya dengan tetap fokus menyetir.
"Jika dia kembali karena cinta, aku bisa ikhlas melepaskannya. Namun dia kembali karena dendam, aku takut akan ada masalah yang di nantinya."
"Bantu atau biarkan. Hanya itu pilihannya.
"Mana bos Anitha lajang dan juga mapan lagi," gerutu tuan Nan.
"Nasibmu jika Anitha memilih yang lajang."
"Kau dipihak siapa sekarang?"
"Aku tidak mau dipihak kalian berdua Kepalaku sakit melihat kelakuan kalian berdua. Mau bersatu saja harus pula pakai jalan berliku."
"Aku lagi berpikir kebahagiaan aku duluan atau Anitha."
"Terserah kaulah Nan, aku ikut saja." Putus Jeffy lelah dengan urusan percintaan tuan Nan.
__ADS_1
@@@