
Anitha sudah di dokter Spesialis Obstetri & Ginekologi (dokter SpOG).
"Apa kabar Nan?" sapa dokter Via. Terlihat tuan Nan mengernyitkan alis. Dia merasa tak mengenal dokter tersebut.
"Lupa ya?" tanyanya kembali.
"Bisa jadi. Bisa jadi tak kenal," kata tuan Nan datar.
Dokter Via tersenyum simpul, dia sudah sangat paham dengan sikap dingin tuan Nan. Dokter Via teman satu SMA. Anitha mulai memasang mode siaga.
"Kita satu SMA, memang kita tidak pernah sekelas. Aku kira kau mengenalku karena aku sempat menjabat wakil ketua osis. Dokter Via dengan santai menjelaskan.
"Hmmm aneh, masa dari SMA sampai sekarang tidak lupa wajah suamiku, padahal lama tak pernah bertemu."
"Oh ya kenalkan, "Via Rayona."
"Anitha Putri." Anitha menyambut jabat tangan Via. Dia berusaha tenang. Dia tak mau orang mengambil kesempatan jika melihat ada cela. Walau belum tentu orang berniat salah.
"Apa ada keluhan Bu?" sapa dokter Via ramah.
"Panggil Anitha saja Dok. Saya jadi merasa tua dipanggil ibu." Tuan Nan tersenyum. Dokter Via tidak menyangka tuan Nan bisa begitu hangat pada istrinya.
"Oke An, apa ada kendala?"
"Saya tidak ada merasa keluhan apapun. Saya hanya ingin tahu, apa saya sehat-sehat saja seperti yang saya rasa. Tetapi sebelum itu saya ingin bertanya, kenapa Dokter Via masih mengingat Nansen? Bukannya tidak pernah bertemu?" Anitha berkata santai menutupi rasa herannya.
"Jujur apa berbohong?"
"Mungkin lebih baik berbohong!"
"Heheh, baiklah saya akan berbohong. Saya tidak pernah menyukainya. Jadi saya tidak pernah mengingatnya."
"Hahaha, oke masuk akal. Saya suka jawaban anda Dok. Kini apa masih menginginkannya?" Anitha menyukai keterusterangan dokter Via.
"Saya jujur, tidak lagi. Saya sudah punya suami dan anak."
"Oke, kita kembali ke pokok masalah." Anitha tidak jadi cemburu buta menilik sikap dokter Via. Bagi Anitha itu hanya cinta anak remaja saja.
Dokter Via tersenyum ringan. "Baik. Sudah menikah berapa lama?"
"Empat bulan kurang."
"Coba kita periksa. Tetapi tak usah banyak pikir," ucap dokter Via ramah.
Anitha naik ke ranjang berlapis kulit hitam, berukuran 190cm x 65cm x 70 cm. Anitha berbaring lalu perawat membantu mengoleskan semacam gel, ke perut bagian bawah sebelum dokter Via memeriksa dengan metode ultrasonografi (usg).
Setelah sekian menit ... "Ok An, tidak ada masalah."
__ADS_1
Dokter Via beranjak ke kursinya ketika perawat masih membersihkan sisa gel di perut Anitha. Lalu Anitha menyusul kembali ke samping tuan Nan.
"Bagaimana?" tanya tuan Nan datar pada dokter Via.
"Tak ada masalah. Anitha bekerja?"
"Iya saya bekerja."
"Kurangi tingkat stres. Saya akan resepkan vitamin saja."
"Terima kasih dokter Via." Tuan Nan sengaja memakai kata dokter di depan temannya. Dia memberi batas secara langsung. Tuan Nan tidak ingin menanamkan benih cemburu pada istrinya yang lagi suka memasang mode cemburu.
"Kami permisi," ujar Anitha.
Tuan Nan merengkuh bahu Anitha. "Ayo sayang, kita berusaha lebih giat," ucapnya begitu sensual dan memanjakan. Membuat meleleh hati insan lain dalam ruangan itu.
"Dasar tak tahu malu." Ucapan Anitha lebih menyerupai bisikan.
Anitha melirik sekilas dengan dokter Via. Bukan karena cemburu atau ingin memastikan kecemburuan dokter Via. Anitha hanya merasa malu dengan sikap mesra tuan Nan. Dokter Via tersenyum dan geleng kepala. Anitha melemparkan senyum persahabatan pada dokter Via.
Tuan Nan masih tetap merengkuh bahu istrinya. Mereka berjalan sambil bercanda keluar dari rumah sakit tersebut.
"Mukanya kenapa masih merona? Hayo, bayangi aneh-aneh ya?"
"Ihhh siapa juga. Kanda kali itu yang suka bayangi aneh."
Muka Anitha semakin merah. Tuan Nan akhir-akhir ini sangat menikmati wajah Anitha yang suka berwarna merah muda.
"Genit."
"Bukan genit sayang, magnit. Maunya lengket terus," bisiknya.
"Sakit sayang," kata tuan Nan lagi. Apalagi yang dilakukan Anitha jika tuan Nan berkata begitu. Anitha mencubit kecil pinggang suaminya.
"Siapa suruh usil."
"Bagaimana kalau kita berpesiar sayang? Kanda janji padamu. Jangan-jangan rahimmu menantikan janji itu." Tuan Nan menyampaikan niat hatinya.
"Hahaha, lucu sekali kata-katamu Tuan. Aku malah mencium bau modus di sini." Anitha terkikik geli melihat muka cemberut tuan Nan. Anitha sengaja menuduh tuan Nan. Dia ingin membalas suaminya.
Mereka sudah sampai di samping mobil. Jeffy membantu membukakan pintu buat tuan Nan setelah tuan Nan membukakan pintu untuk Anitha.
"Kenapa wajahmu ada kerutnya Nan? Apa kau semakin tua punya istri seperti anak kecil?" Jeffy mengenakan keduanya sekaligus.
"Aku hanya mengganggu si posesif ini. Kejamnya dia malah menuduhku hanya modus mengajak berpesiar." Tuan Nan menowel pipi Anitha.
"Posesif? Yakin Kanda tidak?" tantang Anitha. Jeffy sambil fokus menyetir memberikan tawa olokkannya untuk tuan Nan.
__ADS_1
"Kau mau aku tambah tugas Jeff."
"Hahaha, aku selalu bersedia demi pasangan sakit seperti kalian," olok Jeffy kembali.
"Ih sembarangan saja kau bilang aku sakit. Ini Tuan Nansen yang sakit." Anitha tetap mengenakan suaminya.
"Iyalah, kanda akui sakit. Sakit memendam rasa padamu."
"Rasa apa hasrat hmm?" bisik pelan Anitha takut terdengar oleh Jeffy.
"Keduanya sayang," balas tuan Nan hanya setengah berbisik.
"Kalian ini majikan tak tahu malu!" sungut Jeffy. Dia melirik ke kaca spion tengah mobilnya ketika tak mendengar suara Anitha dan tuan Nan. Ternyata mereka hanya berbisik-bisik.
"Kau juga selalu ingin tahu Jeff, makanya kau salah paham," ejek tuan Nan. Posisi berbisik tadi telah membuat Jeffy seakan melihat Anitha mencium pipi tuan Nan.
"Bagaimana sayang?" tanya tuan Nan kemudian.
"Bagaimana apa?" Anitha tak tahu ke mana pembicaraan tuan Nan.
"Bagaimana kalau kita mecoba kapal pesiar?" ajak tuan Nan. Anitha tak menjawab.
Ingin tuan Nan tertawa terbahak-bahak. Dia melihat wajah jengah istrinya. Tuan Nan tahu Anitha mempersepsikan lain ucapan tuan Nan. Tuan Nan sangat bersyukur istrinya yang dulunya begitu dingin, kini sangat peka dan sangat bersemangat diajak memadu kasih.
"Kanda rasa sangat menggoda kalau di kapal pesiar sayang?" tanya tuan Nan akhirnya berniat menggoda Anitha lebih jauh.
Otak Anitha mengembara dengan cepat. Dia memandang tuan Nan dengan senyum malu-malunya. Tuan Nan tahu istrinya setuju.
"Diam tanda setuju."
"Jeff, kami ingin berpesiar, dulu aku janji saat Anitha koma."
"Iya bagus juga. Aku rasa itu baik buat otak kalian yang stres."
"Kau dan Harri ikut ya. Aku ingin mengajak ibu dari ratu hatiku ini."
"Ide bagus. Bahagiakan orang tua selagi sempat. Jangan seperti aku yang tak punya kesempatan." Jeffy tiba-tiba merasa sedih.
Dia merasa rengkuhan tangan besar tuan Nan di bahunya.
"Aku tak apa Nan. Ada kalian dan keluargamu serta ibu Anitha kini dalam hidupku."
"Iya, kau sudah aku anggap kakak sejak kau mau melenyapkanku," ucap Anitha tetap menyindir Jeffy.
"Kau anggap aku kakak, tapi kau tak pernah sopan padaku."
"Iya deh Kak, maaf." Anitha memasang wajah tampang bodohnya. Membuat Jeffy tersenyum dan tuan Nan mengusap lembut lengan istrinya.
__ADS_1
***/