
"Apa Kanda mengikuti sakit hati? Atau karena ada pertimbangan lain. Dinda tak ingin Kanda mengikuti sakit hati. Dinda sudah melupakan semua kejadian pahit sejak menerima begitu banyak cinta dari Kanda."
"Kalau begitu, coba kita perhatikan saja dulu."
"Begitu sepertinya lebih baik. Akan tetapi aku penasaran Kanda pada satu hal ...."
"Tentang apa?" kata tuan Nan menyentuh ujung hidung Anitha.
"Apa dia masih bekerja sebagai wanita malam?"
"Coba kita suruh Jeffy cari info ya."
Tuan Nan tak membuang waktu banyak. Dia menghubungi Jeffy.
"Oke, kita tinggal tunggu hasilnya. Sekarang apa Dinda masih banyak kerja?"
"Hmmm ada sedikit lagi."
"Kira-kira sampai satu jam?" tanya tuan Nan.
"Tidak juga, paling lama setengah jam. Ada apa Kanda?"
"Kanda tunggu, kerjakanlah dulu. Kita pulang dan istirahat. Pekerjaan kanda telah beres. Kanda malas duduk manis di kantor. Kanda lebih suka tidur manis bersamamu."
"Ya, oke. Tunggu di sini ya. Dinda siapkan sebentar.
Tuan Nan hanya memperhatikan Anitha yang serius. Dia tersenyum simpul, melihat Anitha begitu berbeda jika sedang duduk bekerja dibalik mejanya. Anitha menjelma seperti wanita lain jika sedang dalam balutan pakaian kerjanya.
Tak sampai setengah jam, Anitha sudah menyelesaikan pekerjaannya. Dia merapikan mejanya dan meminta Farrendra ke ruangan.
"Pak," sapa Farrendra pada tuan Nan.
Tuan Nan hanya mengangguk kecil dengan senyum tipis. Farrendra mengambil berkas dan pamit pada sepasang suami-istri ini.
"Ayo Kanda," ajak Anitha.
"Tunggu Dinda, tiba-tiba Kanda punya ide."
"Tentang apa?"
"Bagaimana kalau Dinda berpura melamar kerja pada staff HRD. Kanda akan atur dia yang menerima Dinda."
"Kanda ingin lihat sejauh apa tanggapannya pada Dinda?" tebak Anitha.
"Tepat sekali."
"Boleh juga. Besok saja ya? Sekarang Dinda lelah."
"Iya besok. Hmm jangan mengada-ada bilang lelah ya. Takut kanda tagihkan?"
"Enak saja, macam Dinda punya hutang saja."
Mereka kembali bercengkerama dan memang menganggap peghuni lain hanya menumpang di bumi ini.
***
Besok harinya Anitha datang dengan stelan khas melamar kerja. Tak ada penampilan mewah. Tuan Nan dan kepala HRD telah meminta penambahan di divisi pemasaran.
Anitha yang memakai hijab cream bermotif bunga. Kemeja lengan panjang dipadu dengan blezer biasa. Anitha memakai celana panjang hitam yang tidak begitu ketat di body, namun tidak mengurangi performanya dalam berpenampilan.
Anitha mengetuk pintu ruangan HRD. Walau ada beberapa pasang mata yang heran melihat Anitha dalam berpenampilan hari ini.
Ajeng telah mendapatkan intruksi untuk mencari pegawai baru yang akan ditempatkan di bagian pemasaran.
Ajeng jelas terperangah begitu juga dengan Anitha yang menyempurnakan aktingnya.
"Ajeng ...." ucap Anitha dengan memegang berkas lamarannya.
"Apa kau tidak bosan mengganggu hidupku?" sentak Ajeng melupakan profesionalismenya.
"Apa maksudmu, aku hanya mau melamar pekerjaan karena aku mendapat info," ucap Anitha tanpa merasa berdosa.
"Ohhh, mana berkasnya. Nanti aku berikan pada kepala HRD."
"Kita saling kenal, apa tidak bisa kau membantuku?" sindir Anitha.
"Bisa, nanti aku bantu," kata Ajeng mulai bersikap normal.
__ADS_1
"Ohh ya kenapa kau menghilang begitu saja dari rumahku?" tanya Ajeng menutupi dosanya.
"Karena aku mendengar, aku ingin dijual oleh teman baikku sendiri!" Anitha berkata terus terang. Anitha melihat ketenangan Ajeng. Begitu pintar dia menutupi kebusukan hatinya.
"Kau mendengar percakapanku? Sayangnya kau salah paham."
"Ohh ya? Aku merasa kau membicarakan aku malam itu."
"Bukan. Kau salah paham."
"Ohhh syukurlah. Aku pikir Jakarta ini kejam."
"Jadi di mana kau selama ini?" tanya Ajeng. Anitha dan tuan Nan memang tidak aktif di dunia medsos. Saat resepsi pernikahanpun. Tuan Nan melarang ada liputan apapun. Tuan Nan tak ingin publik mengkonsumsi beritanya. Sehingga dia dan Anitha memang tak dikenal di medsos.
Nama mereka hanya terkenal antara pebisnis saja. Terutama tuan Nan yang dari dulu memang tidak suka ada liputan apapun.
"Aku mengontrak di sebuah perumahan kecil di salah satu sudut Jakarta ini."
"Selama ini kau kerja di mana?"
"Aku hanya jadi pegawai kafe dan terakhir sebagai pegawai butik."
"Lalu dari mana kau tahu ada lowongan di sini, kami bahkan belum menerbitkan pengumumannya."
"Bosku di butik yang memberi tahu, karena dia kenal dengan salah satu direktur di sini." Anitha sengaja tidak mengatakan direktur utama.
"Ohhh. Baiklah. Besok aku kabari kalau sudah ada keputusan dari kepala HRD. Hari ini dia tidak masuk." Ajeng memberi senyum manisnya.
"Kau kira aku akan benar menolong Anitha putri. Kau memang gadis cerdas di kampus dulu akan tetapi kau masih saja wanita naif."
"Oke, makasih." Anitha berjabat tangan dan pamit.
Sepeninggalan Anitha ....
"Dasar rubah betina! Bisa-bisanya dia muncul disaat aku baru meniti karierku kembali!" terlihat Ajeng begitu kesal. Dia telah mencampakkan berkas lamaran Anitha tanpa takut bahwa Anitha mengetahui lowongan ini dari salah satu direktur di perusahan ini.
Ajeng telah menyiapkan jawaban jika direktur yang dimaksud teman Anitha menanyakan.
Anitha langsung pulang dan sengaja tidak ke ruangannya. Tuan Nan juga sedang tidak di perusahaan Anitha. Anitha di jemput antar dengan Harri. Harri telah berubah jadi bodyguard Anitha. Tuan Nan lebih sering menyetir sendiri jika Anitha keluar atau bersama Jeffy.
Iseng-iseng Anitha mampir ke butik Melly setelah meminta izin pada suaminya. Anitha datang tanpa pemberitahuan.
"Iya Bu," jawab Harri penuh hormat.
"Nanti aku kabari ya Har, itu mobil mbak Melly ada. Berarti dia lagi di butiknya." Anitha meminta Harri tidak menunggu dirinya. Anitha meminta Harri meninggalkannya dan menjemput nanti saat di telfon.
Anitha menapak dan memasuki butik lalu bertanya pada karyawan Melly. Anitha terus ke lantai atas dan menuju ruangan Melly.
Anitha mengetuk pintu, dan mendengar Melly meminta masuk.
"Hallo Mm __" perkataan Anitha terputus karena melihat ada orang lain di ruangan Melly.
"Sini masuk, belum lupakan sama pria ini?"
"Pak Yudhis?"
"Hai apa kabar."
"Kabar baik Pak."
"Tunggu, kenapa penampilanmu jadi aneh?" tanya Melly yang melihat Anitha tidak seperti biasa.
"Ada misi tadi Mbak, kata Anitha sambil duduk di samping pak Yudhis."
"Mending kau ganti ke bawah dulu penampilanmu. Mataku sakit melihatnya." Tak ada nada sombong dari Melly.
"Ihhh apalah Mbak ini. Tak boleh sombong."
"Bukan masalah sombong, tetapi aku jadi aneh saja melihatnya. Sana ambil baju lain di bawah. Baru kita ngobrol."
"Mbak yang paksa ya, berati gratis." Anitha berkata dengan manja. Dia juga selalu manja dengan Melly dan Allea. Yudhis baru melihat sikap manja Anitha. Dulu dia hanya mengenal Anitha berwajah datar bahkan dingin. Kini wajah itu sehangat sinar mentari pagi. Cerah dan berkilau.
Anitha pergi memilih sendiri ke lantai bawah.
"Jauh berubah dia ya Mell," ujar Yudhis.
"Hmmm ingat istri orang," kata Melly tanpa cemburu.
__ADS_1
"Akukan cuma bilang dia berubah. Jangan bilang kau cemburu Mell."
"Kau yang tahu aku cemburu apa tidak," ujar Melly cuek.
"Aku kadang heran Mell, kenapa aku harus jatuh cinta dengan perempuan acuh sepertimu. Ubah-ubah sedikit Mell. Aku bisa menderita batin besok kalau kita menikah." Melly hanya memandang Yudhis penuh olokkan.
Mereka pasangan unik kedua, tak ada kata cinta dari sang perempuan namun sang lelaki begitu sabar mengajak wanita menikah.
Anitha masuk tetap mengetuk pintu. Namun dia langsung membuka pintu tanpa menunggu jawaban.
"Tarraaa ... bagaimana Mbak?" tanya Anitha.
"Itu baru seperti kamu yang sekarang."
Yudhis melihat Anitha. Benar kata Melly, Anitha jauh berubah dengan penampilan tadi.
"Pak, kapan kita makan-makan merayakan pernikahan Bapak," tanya Anitha tanpa peduli pelototan tajam Melly.
"Tunggu wanita cantik satu ini siap Tha. Tetapi entah kapan."
"Mbak, cepatlah selagi aku ingat dengan janjiku. Nanti lama-lama aku lupa loh," goda Anitha.
Pintu kembali di ketuk, dan seraut wajah tampan yang mengisi hari-hari Anitha hadir.
"Kandaa, kenapa menyusul?" kata Anitha berdiri dan menyambut suaminya dengan manja. Semua tak luput dari pandangan Melly dan Yudhis. Jika melly sudah biasa, tidak dengan Yudhis. Ada perasaan lain di hati Yudhis. Bagaimanapun sikap ini yang dia inginkan dari Melly. Namun itu tidak mungkin, Melly memang tenang dari dulu.
"Apa kabar Pak Nansen?" sambut Yudhis bangkit dari duduknya. Dia menyambut tuan Nan dengan jabat tangan.
"Baik, Lama tak Jumpa, apa kami akan menghadiri pernikahan?" tanya tuan Nan yang disambut gelak tawa Yudhis.
"Mell, jangan lama-lama. Nanti kamu nangis darah loh dilangkahi yang lain." Tuan Nan mengguraukan Melly.
"Sepertinya ilmu Anitha telah ditransfer dengan sempurna ya Mas," sindir Melly.
"Kebetulan aku mau makan siang. Bagaimana kalau Pak Yudhis aku undang makan siang bersama kamu Mell."
"Ide bagus Kanda, aku baru dikasih baju gratis oleh mbak Melly. Kata mbak Melly, matanya sakit lihat penampilan aku dalam misiku."
"Mata kandapun sebenarnya sakit tadi pagi melihatnya."
"Ihhh apalah ini. Kanda juga punya ide." Anitha cemberut manja disindir suaminya. Melly dan Yudhis memandang penuh arti.
"Ayo Mbak, kita makan siang bersama."
"Ayo," kata Melly berdiri dan merapikan bajunya.
Di sebuah restaurants italia ....
Mereka tidak berbicara bisnis. Hanya topik ringan soal pribadi. Melly yang penasaran melihat penampilan Anitha tadi akhirnya bertanya, "Misi apa An, sehingga kau macam anak magang atau orang mau melamar kerja gitu."
Anitha menceritakan. "Jadi kalian masih menerima dia?"
"Kami lihat dulu Mbak. Mana tahu sudah berubah. Kita juga harus memberi kesempatan pada seseorang jika dia berubah."
"Iya kalau berubah, kalau tidak? Apa tidak akan menimbulkan konflik saja nanti?" tanya Melly was-was. Melly juga masih ingat bagaimana awal dia berjumpa Anitha. Wajah lelah dan tangis penyesalan menemaninya dulu.
"Mbak jangan khawatir, ada mas Nansen sekarang bersamaku. Priaku tidak akan membiarkan aku terluka."
Melly membenarkan ucapan Anitha. Dia yakin tuan Nan tidak akan membiarkan ratu hatinya terluka.
"Iya, hati-hati saja. Sama kalian memelihara anak ular dalam rumah." Masih terdengar nada keberatan Melly.
"Ohh so sweet, katanya selalu bilang tidak sayang aku." Anitha kumat menjahili Melly.
"Mbak tidak tega lihat tangis penyesalanmu dulu. Andai pria kaku ini dulu melihat, entah bagaimana reaksinya," ujar Melly serius.
"Menangis?" tanya tuan Nan.
"Iya, Mas tak lihatkan dulu. Dia menangis menyesal meninggalkan ibunya. Tetapi aku yakin kini dia lebih menyesal andai tak meninggalkan ibunya!" ejek Melly.
"Mbak tahu saja. Jika dulu aku tak lari begitu saja dari ibu, aku tidak bisa memiliki pria kaya dan tampan ini," ucap Anitha dengan binar di matanya.
Yudhis hanya bisa menyimak, dan merangkai sedikit-sedikit perjalanan hidup Anitha.
"Soal lari dan kabur-kaburan dia jagonya Mell. Kalau tidak gara kabur dariku dulu, mana mungkin dia kenal dengan calonmu Mel."
Melly tersenyum. Ada rahasia yang dia tutupi dari tuan Nan dan Anitha. Jika tuan Nan tahu, dia pasti akan sangat posesif tentang Yudhis.
__ADS_1
***/