
Anitha dan tuan Nan naik ke lantai paling atas dan kamar mewah yang telah dihias dengan lilin beraroma terapi. Terlihat bunga mawar dan bunga lili di buket bunga.
Anitha memang tak mau menghiasi kasurnya dengan kelopak mawar. Anitha mau kasurnya bersih. Cukup dia dan tuan Nan yang akan menghias tempat tidur tersebut dengan kemesraan mereka.
Ceklek, pintu kamar telah dibuka oleh tuan Nan. Anitha didorong lembut untuk masuk terlebih dahulu. Baru tuan Nan menyusul.
Anitha memilih duduk di tepi ranjangnya. Hatinya begitu berbunga-bunga. Menikah dengan tuan Nan yang setengah bule membuat dia merasakan keromantisan.
"Kanda, badanku terasa gerah dan begitu lengket. Bisakah Kanda menolongku membukakan resleting gaun ini." Pinta Anitha manja dan hormat, tanpa ada nada perintah pada suaminya.
"Jangankan resleting sayang, gaun inipun bisa kanda tolongi," ujar tuan Nan menggoda istrinya.
"Kanda, aku sangat lelah. Bisakah aku meminta izinmu untuk cuti malam ini?" pintanya memelas.
"Iya sayang, kanda hanya bercanda. Dinda kanda temani saja mandi ya, kanda hanya trauma di kamar hotel."
"Dinda dulu ya, Kanda nanti saja," ucap Anitha.
"Kenapa, malu?" goda tuan Nan pada istrinya.
Anitha hanya tersenyum. Dia hanya merasa tak nyaman untuk mandi berdua. Dulu selama tiga tahun pernikahan pertamanya, Anitha tidak pernah sekalipun mandi berdua. Kini tuan Nan mengajak rutinitas membersihkan diri berdua.
"Kita sekarang sudah suami istri, kenapa malu?" tanya tuan Nan, tangannya telah bebas tugas dari menanggalkan pernak-pernik di gaun Anitha.
"Hanya merasa sedikit tak nyaman Kanda." Anitha berkata terus terang.
"Nanti kalau kita biasakan juga jadi nyaman. Kita pasti sama-sama sibuk nantinya. Kanda ingin, ada momen-momen kita untuk menggantikan kesibukan kita," kata tuan Nan dengan sabar.
Dia paham Anitha yang jadi istri, saat hanya sebagai ibu rumah tangga dan kini sebagai wanita karier pasti jauh berbeda. Tuan Nan tak ingin terabaikan begitu saja.
"Iya Kanda, dinda paham. Tapi janji ya tidak membuat dinda jadi berdosa karena menolak Kanda."
"Iya janji, ayo. Siap itu walau tidak tidur, setidaknya kita bisa istirahat meluruskan pinggang."
"Makasih Kanda, aku bersyukur mengenalmu."
Tuan Nan dengan penuh sayang mengecup puncak kepala Anitha. Kini Anitha telah membuka hijabnya dan tuan Nan membantu membuka gaun Anitha.
Mereka masuk ke kamar mandi. Murni hanya ingin melakukan aktivitas membersihkan diri. "Hati-hati, jika ada perasaan capek katakan. Kanda takut membayangkan kau berdarah-darah sayang." Masih sangat membekas oleh tuan Nan bagaimana keadaan Anitha dulu.
"Iya," jawab Anitha menenangkan diri. Anitha merasa ribuan kupu-kupu berada di hatinya. Seakan kupu-kupu itu ingin mendobrak hatinya agar bisa terbang dengan indahnya.
Anitha masuk ke dalam bathub yang telah dipersiapkan.
"Masuklah sayang, biar kanda shampokan rambutmu sambil kamu berendam diri." Tuan Nan begitu baik memperlakukan Anitha. Anitha berharap ini tak berubah.
"Kanda?" tanya Anitha penuh pengertian.
"Kanda memang lelah, tetapi tubuh kanda jauh kuat dibanding dengan tubuhmu."
Anitha masuk dan mulai memposisikan tubuhnya dengan nyaman. Aroma sabun yang harum membuat indra penciuman senang. Tuan Nan dengan hati-hati mengguyur rambut Anitha. Dia memberikan shampo pada rambut panjang Anitha dan memijat pelan.
Anitha merasa dunia ini hanya miliknya. Rasa bahagia yang dirasa tidak bisa dideskripsikannya. Hanya hatinya yang tahu.
"Kanda ...." Anitha memanggil suaminya dengan Suara mendayu. Matanya masih terpejam menikmati sentuhan tangan tuan Nan yang kokoh namun penuh kelembutan.
"Hmmm ...." jawab tuan Nan mesra.
__ADS_1
"Semoga Kanda tidak pernah berubah," ucap Anitha serius.
Namun kini tuan Nan yang menjahili Anitha. "Kanda bukan vampir yang awet muda sayang." Sambil berkata begitu terdengar kekehan lucunya.
Anitha mengambil tangan suaminya yang masih memijat kulit kepalanya. Dia membawa ke mulutnya dengan cepat dan menggigitnya. Tidak peduli rasa shampo di tangan tuan Nan ikut terasa dalam mulutnya.
"Sakit sayang ...." keluh tuan Nan pelan.
"Rasain, siapa suruh bercanda ketika orang serius."
"Dinda juga suka begitu, siapa ngajari coba?"
"Iya, jawablah Kanda."
"Nantilah kanda jawab. Tak baik lama-lama di kamar mandi, dingin."
Tuan Nan bergegas membilas rambut Anitha. Lalu setelah Anitha siap membersihkan diri, tuan Nan meminta Anitha keluar duluan. Kulit tubuh Anitha terasa dingin. Tuan Nan membersihkan diri di bawah guyuran shower. Tak lama menyusul Anitha yang sudah selesai mengenakan piamanya.
"Minumlah Kanda, dinda sudah buati teh hangat saja." Anitha dengan manja menarik duduk suaminya ke sofa. Anitha menyodorkan teh hangat.
Jika tadi Anitha yang merasa sangat bahagia, kini tuan Nan. Tak pernah dulu dia merasakan perasaan begitu hangat ke dalam hatinya. Tuan Nan menyesap teh hangatnya.
Anitha mengambil dan menaruh kembali gelas tehnya. Dia naik ke sofa dan mengambil posisi di belakang bahu tuan Nan. Anitha memijat bahu tuan Nan. Anitha juga ingin memberi rasa rileks pada suaminya.
Dengan masih memijit dia berkata, "Kanda belum jawab yang tadi."
"Hati tidak ada yang tahu sayang, tetapi kanda yakin semua tergantung pandai kita mengaturnya. Jika kita saling isi, tidak ada ruang untuk orang lain dalam hubungan kita."
"Ohhh, iya dinda mengerti."
"Jangan terlalu sibuk berkarier," pungkas Anitha singkat. Tuan Nan tertawa. Anitha terkadang suka mengambil jalan pintas untuk menyelesaikan urusannya bahkan dalam menyimpulkan.
"Kenapa malah tertawa?" rajuknya manja.
"Karena Dinda selalu membuat kanda rileks."
"Ihhh apa hubungannya."
Tuan Nan mengecup tangan istrinya. "Ayo kita berbaring," Ajak tuan Nan.
"Habiskan tehnya dulu, mubazir."
Tuan Nan menghabiskan tehnya setelah meminta Anitha minum beberapa teguk.
Anitha berbaring dengan berbantalkan lengan kokoh suaminya. "Apa nanti Kanda tidak pegal?"
"Tidak," jawab tuan Nan yakin.
"Kita jadi honeymoon ya Kanda," pinta Anitha.
Mereka memang belum sempat membahasnya. Kesibukan mendadak dan pesta pernikahan yang dipercepat membuat mereka belum ada planning.
"Mau ke mana?" tanya tuan Nan. Satu tangannya yang tidak di timpah Anitha, dia jadikan ganjal kepala.
"Mau ke Sumatera Barat," jawab Anitha yakin.
"Haaa, Dinda serius?" tanya tuan Nan. Dia setengah bangkit dan menoleh pada Anitha.
__ADS_1
Melihat itu, Anitha tertawa. "Kenapa Kanda macam lihat hantu saja?"
"Kanda pikir kamu minta ke luar negeri."
"Aku wanita kampung Kanda. Aku rindu pada kampungku. Aku juga ingin memamerkan Kanda dengan orang di kampungku, dengan pemandangan alam di kampungku." Anitha masih menjawab dengan pasti.
"Dengan pemandangan alam?" tanya tuan Nan dengan kening berkerut.
"Iya, aku ingin memamerkan, betapa Kanda lebih indah dari pemandangan alam indah di kampungku," ujar Anitha tanpa ada niat menggombal. Tuan Nan bisa menangkap nada bangga dan bahagia dari Anitha.
Namun tuan Nan tidak bisa menahan senyumnya, bagaimana bisa istrinya sampai memikirkan ke sana. Memamerkan suaminya pada pemandangan alam. Aneh-aneh saja.
"Ke sana bisa kapan saja jika kita mau."
"Sama, keluar negeri dengan kondisi keuangan Kanda sekarang, juga bisa kapan saja. Belum lagi nanti perjalanan bisnis. Namun ke kampungku mau perjalanan bisnis apa kita ke sana?"
"Ohhh gitu, iya benar juga."
"Makanya, bulan madunya ke kampung dinda saja. Kita juga bisa nemani ibu pulang kampung dan dinda ingin ziarah. Kalau ke tempat mommy, bisa saat kanda perjalanan bisniskan?" Anitha mengungkapkan alasannya dengan jelas.
"Iya iya, kanda setuju."
"Gitu donk, baru suami ideal namanya," ucap Anitha sambil memberi tanda sayang di pipi suaminya.
"Sekaya ini kanda ... jadi tidak ideal di matamu, jika tidak menuruti kemauanmu yang tidak menguras banyak isi kantong kanda?" tanya tuan Nan heran.
"Iya, karena materi bukan satu-satunya jaminan dinda bahagia Kanda. Dinda butuh teman setia di samping dinda."
"Jika kanda miskinpun dinda setia?"
"Gak tahu juga ya Kanda, bagaimana mau setia kalau perut kita lapar." Anitha menjawab ragu-ragu.
Tuan Nan gemas melihat istrinya yang selalu tak berasak dari kata 'lapar'.
"Dinda sekarang lapar?" tanya tuan Nan melepaskan lengannya dari leher Anitha. Tuan Nan duduk menyamping memandang istrinya.
"Iya, dinda lapar, pakai banget."
"Hahaha dasar hantu lapar. Makan banyak, gendut gak juga," ucap tuan Nan mengacak rambut istrinya. Dia menambahkan gelar baru untuk istrinya. 'Hantu Lapar'.
"Gak capek lagi?" tanya tuan Nan kemudian.
"Gak, kalau kita jalan-jalan cari makan."
"Hmmm tadi mau kanda mintai capek, kalau jalan kok gak capek hmm?"
"Habis Kanda mintanya pas lapar, coba nanti kalau gak lapar, pasti dinda semangat." Anitha menggoda mesra suaminya.
"Oke, kanda jadi semangat dengarnya. Ayo ganti baju. Kanda telfon Harri dulu." Tuan Nan telah melompat dari Anitha dengan menyempatkan mengecup bibir Anitha.
"Ayoo, siapa takut," jawab Anitha tak kalah semangat. Setelah membersihkan diri tadi, Anitha sudah jauh lebih segar.
Anitha dengan gesit mengganti baju. Wajahnya di biarkan polos tanpa make-up. Dia tetap memakai jilbab segi empatnya. Dia tidak mau memakai jilbab instannya.
"Ayo Kanda, lets go ...."
***/
__ADS_1