Upik Abu Jadi CEO

Upik Abu Jadi CEO
Pengalaman Pertama


__ADS_3

Malam, ketika gelap mulai mendominasi alam. Hanya bintang berkedip dan cahaya lampu yang tidak seberapa memberi penerangan. Mobil tuan Nan baru hendak menembus jalanan kota yang mulai tidak begitu ramai.


Namun kota metropolitan tercipta dari mata-mata orang yang banyak mengejar dunia. Entah itu dengan dia mengabaikan akhiratnya atau ada yang menyeimbangkan keduanya. Akhirat dipersiapkan dunia juga dikejar. Itu semua menjadi tanggung jawab individu masing-masing.


Begitu juga dengan tuan Nan yang merupakan salah satu pengisi dunia, penghuni kota metropolitan. Sesampainya dari Singapura, tuan Nan dan Jeffy kembali ke kantor. Banyak hal yang masih harus dia kerjakan di tengah urusan pribadi. Walau hari ini dia mendahulukan kepentingan pribadi.


Hari sudah menunjukan jam 01.00 dini hari. Mobilnya mulai terdengar memasuki pekarangan. Anitha tersentak dan merasa dipanggil paksa untuk bangun ketika dia asyik berlayar di pulau kapuk. Dia duduk sebentar di pinggir ranjang.


Anitha menjangkau dan mengambil pita rambut kecil. Dia mengikat rambut yang hampir melewati bahu. Anitha tak ingin dikatakan hantu gentayangan oleh tuannya.


Tuan Nan telah mengunci mobil dan mulai menapaki kaki di teras depan. Tuan Nan sudah membuka jas dan menenteng indah di bahu kokohnya. Tuan Nan mulai merogoh saku tas. Dia mengambil dan memasukkan anak kunci dan mulai memutar. Dia mendorong pintu rumah.


"Kamuu!!" teriak tuan Nan dengan terkejut saat pintu yang terbuka melihat Anitha. Jas hitam mahal sudah jatuh merosot dari bahu dan teronggok di lantai.


Anitha terpingkal melihat raut terkejut tuannya. Saat dia mendengar tuannya lebih dulu memasuki anak kunci, dia mundur dan membuka rambut. Dia menggerai dan menjuntaikan rambut menutupi muka. Dia tegak dengan posisi badan yang tidak kokoh. Persis seperti hantu wanita di film horor.


Anitha adalah pengalaman pertama dikerjai oleh wanita, dan wanita ini sudah berulang kali mengerjainya. Biasa, hanya Jeffy yang mempunyai nyali mengerjai tuan Nansen.


"Maaf aku Tuan sayang, tiba-tiba terbersit dipikiran untuk menakuti Tuan sayang," ucap Anitha masih menahan ketawa.


"Kamu begitu yakin jika aku akan memaafkan," desis tuan Nan dengan mata tajam memandang Anitha. Dia melangkah dengan pasti menuju Anitha.


Jika tuan Nan memajukan langkah dengan teratur, Anitha mulai memundurkan langkah dengan teratur. Bukan karena takut, hanya untuk menghindar. Anitha mundur karena tak ingin terperangkap oleh tuannya.


Anitha hendak berbalik dan melarikan diri dari tangkapan tangan kuat pria tampan tersebut. Tangan kokoh itu telah menahan pergelangan tangan Anitha.


"Mau lari ke mana kamu, setelah membuat saya terkejut?" tanya tuan Nan penuh tekanan. Dia menyentak dengan lembut dan mau tidak mau membuat tubuh Anitha tertarik dan terhempas lembut ke dada bidang tuannya.


Anitha mencoba mendorong tubuh tuannya yang kini menahan dan memeluk tubuhnya. Jika tuan Nan merasakan sensasi yang menggelitik sensor sarafnya, tidak dengan Anitha. Dia hanya ingin melepaskan diri tanpa getar apapun di hati.

__ADS_1


"Ini hukuman yang sudah mengejutkan aku di malam buta," bisik tuan Nan. Dia melepaskan sedikit beban kerjanya dengan memeluk dan merasakan kehangatan suhu tubuh Anitha.


"Jangan ambil kesempatan Tuan. Lepaskan aku atau kau akan menyesal jika aku menggunakan kekerasan," ancam Anitha.


"Apa yang bisa kau lakukan sayang? Tubuhmu begitu rapuh serapuh hatimu!" ejek tuan Nan. Dengan masih memeluk Anitha dia mulai berniat membalas perlakuan Anitha, dengan cara mengerjai Anitha.


"Kamu yakin Tuan? Tidak menyesal dan tidak akan membunuhku di tempat?" tanya Anitha dengan lembut. Nada yang lembut tidak menutupi aura misteri dari ucapannya.


Tuan Nan merasa penasaran dengan apa yang dipikirkan dan direncanakan lagi oleh Anitha. "Lakukan jika kamu bisa dan kamu bisa lepas dariku!" tantang tuannya.


Anitha mendongak sedikit dengan gaya setengah merayu dari pandangan mata saja. Tuan Nan terkesima dengan pandangan mata Anitha. Pelukan menjadi sedikit melonggar. Kepala yang tadi mendongak berlagak manja yang dibuat-buat tanpa ada niat bagi si empunya untuk menutupi, kini beralih ke lengan tuannya. Anitha bersandar di lengan tuannya.


Tuan Nan menyangka Anitha ingin bermanja untuk menaklukkan hatinya. Namun tuannya keliru. Dia merasakan lengannya mulai sakit dan berdenyut. Anitha menggigit lengan tuannya.


Dia tidak mendorong Anitha namun malah menekan kepala Anitha lebih kuat ke lengannya. Anitha yang kesulitan bernapas karena tekanan yang kuat melepaskan gigitan. Baru setelah tuan Nan merasa gigitan Anitha tidak melekat lagi di lengan, dia mendorong lembut Anitha dan melepaskan.


Tuan Nan meringis menahan sakit. "Uhh lumayan juga gigitan wanita ini," batin tuan Nan.


Wajah puas Anitha tertera jelas, tuan Nan tersentak melihat reaksi dari perempuan yang katanya makhluk perasa dan cengeng, tidak ada sedikitpun di wajah cantiknya.


"Mau aku buati kopi Tuan? Agar Tuan bisa tidur lebih lama sedikit lagi. Sepertinya luka lengan Tuan harus diobati!" ucap Anitha tanpa beban. Tuan Nan lagi-lagi tertegun mendengar nada tanpa dosanya.


"Buatkan aku segelas susu hangat dan antar ke kamarku. Kau harus bertanggung jawab mengobati lenganku!" ucap tuan Nan dengan nada memerintah.


"Baik Tuan," ucap Anitha hormat dan dia langsung meninggalkan tuannya. Tuan Nansen melangkah ke tangga yang memang terhubung di ruang tamu untuk ke tingkat kamarnya.


Tuan Nan membuka kancing demi kancing kemejanya. Dia melepaskan kancing di lengan kemejanya. Dia merasa perih saat baju kemejanya bergesekan dengan kulit lengannya. Dia melihat jejak gigi Anitha yang kecil-kecil menghias kulitnya yang termasuk putih untuk ukuran pria.


"Uhhh benar-benar wanita ini. Apa tak ada jalan lain baginya selain menyakitkan kulitku," gumamnya.

__ADS_1


Tak lama terdengar pintu diketuk. Siapa lagi kalau bukan Anitha. "Masuklah!"


Anitha masuk. Dia melihat tuannya telah bertelanjang dada. Anitha juga melihat bekas giginya yang membekas di kulit tuannya. Anitha tetap tidak merasa bersalah.


"Lihat buah dari perbuatanmu," sungut tuan Nan.


"Bukannya itu kemauan anda Tuan?" pungkas Anitha tak mau kalah.


"Taruh di nakas gelas susu itu. Ke sini cepat bersihkan luka gigitanmu. Aku takut terjangkit virus kelelawar," goda tuan Nan.


"Kalau aku tidak bersedia?" tantang Anitha kembali.


"Aku juga bisa membuat kau menyesal. Bahkan seumur hidupmu!" ucap tuan Nan serius. Namun di dalam hatinya dia hanya ingin menakuti wanita itu.


"Aku tidak takut apapun ancaman Tuan! Tak ada penyesalan apapun lagi padaku selain aku melabuhkan hatiku pada pria yang aku anggap baik dan percaya pada teman yang aku anggap sahabat terbaik. Semuanya kini sirna. Aku juga sudah menyesal meninggalkan dan pergi dari ibuku tanpa pamit. Kini mau menyesal apa lagi!" Nadanya begitu terdengar dalam. Mengalahkan dalamnya samudera yang bisa diukur. Ekspresi datar dan nada dingin.


Tuan Nan tercekat. Dia merasa dingin sikapnya dan wajahnya tidak pernah rasanya sedingin wanita dihadapannya ini. Tuan Nan tidak bisa menyimpulkan apakah Anitha putus asa atau dia lagi mendendam pada keadaan yang telah terjadi.


Di tengah sikap tuan Nan yang membeku karena tertegun dengan ucapan Anitha. Tuan Nan tersentak dengan rasa perih pada bekas luka hasil karya Anitha. Dia sudah mengompres dengan sebuah Alkohol yang dibawanya dan beberapa potong kapas kosmetik yang dikantonginya di piyama tidurnya.


"Hatimu ternyata bukan dari batu!" sindiran tuan Nan, yang tak digubris oleh Anitha. Dengan telaten dia mengompres dan memberi cream penghilang bekas luka. Anitha memang menggigit dengan sepuas hati. Seakan beban yang terasa di dadanya dilampiaskan ke lengan tuannya.


Namun karena rasa yang besar tuan Nan tak sedikit pun kesal. Rasa memang selalu mengalahkan logika. Termasuk logika tuan Nan sekalipun. Dia hanya tak habis pikir dengan sikap Anitha yang bukan terbilang gadis kecil lagi. Bisanya dia memikirkan untuk menggigit dirinya setelah memberikan tatapan manja tak berdaya.


"Oke selesai Tuan. Ini ke atas tuan jangan pernah mengancam saya lagi. Saya tidak takut pada apapun ancaman Tuan!" kini malah Anitha yang terdengar mengancam tuannya.


Anitha tanpa pamit hendak meninggalkan tuannya. Baru hendak berdiri, tuannya menahannya dengan lembut. "Tunggulah sebentar ada yang ingin aku bicarakan."


***

__ADS_1


👀Ayoo mau bicara apa Tuan? aku dulu yang bicara ya Tuan. Aku mau menyapa para pembacaku yang telah setia sejauh ini ... "TERIMA KASIH BANYAK YAAA ATAS DUKUNGAN PARA PEMBACA TERKASIH.😍 🙏🙏 Bolehlah ya tinggalkan jejak vote rate dan komen like.


😂😂 banyaknya permintaan daku lagi 😍


__ADS_2