Upik Abu Jadi CEO

Upik Abu Jadi CEO
Prinsip


__ADS_3

Tak ada masalah yang tak punya solusi jika mau berkomunikasi, tak ada kerikil tajam yang menusuk kaki jika waspada. Tak ada hari yang sulit dengan sebuah pengertian di dalamnya.


Begitu juga dengan Anitha dan tuan Nan. Ketika dengan hati-hati tuan Nan mengutarakannya niat hatinya untuk membawa istrinya konseling, Anitha ternyata menolak dan mengatakan, dia baik-baik saja.


"Tidak usah Kanda, aku tidak pernah menyakiti diriku dengan anakku. Aku yakin semua stres sesaat dengan beban pikiranku sendiri." Anitha duduk menggenggam tangan kokoh tuan Nan dengan kedua tangannya.


"Tetapi ...." Tuan Nan terlihat ragu untuk meneruskannya.


Anitha yang telah kembali rasa percaya dirinya karena sikap dan kata-kata tuan Nan kemarin lalu menjawab, " Maksud Kanda tentang aku melihat ibu?"


"Iya ... maaf sayang."


"Tak apa, tetapi percayalah, aku tidak sakit jiwa Kanda. Aku hanya terguncang sesaat dengan merasa kau akan mengabaikan aku setelah mendapat keturunan. Aku merasa tak punya teman, selain ibuku. Otakku mulai menggambarkan sosok ibuku ada. Itu yang membuat aku berhalusinasi."


"Dinda yakin?"


"Yakin. Ada kalanya ketika dinda sendiri saat Kanda terlalu tiba-tiba sibuk bekerja, dinda sadar itu salah. Namun karena tak punya teman cerita, dinda kembali larut menghayalkan ibu ada."


"Sekarang?"


"Dinda kembali percaya diri, ada Kanda yang tidak berubah." Anitha memberikan senyum hangat yang hilang di minggu-minggu belakang ini.


"Dinda punya banyak teman, bahkan Ajeng, Allea dan Melly yang sangat menyayangi. Kenapa tidak menelfon mereka?"


"Kanda juga tahukan? Dinda dari dulu tak suka berbagi masalah tentang rumah tangga pada orang lain, jangankan orang lain, sama ibu saja dulu juga tidak. Dinda terbiasa menyelesaikan sendiri dan dengan suami saja. Dinda tak ingin kelemahan rumah tangga kita diketahui orang lain dan menjadi kesempatan masuk untuk orang ketiga atau pelakor kata gaul sekarang."


Betapa tuan Nan salut mendengar perkataan istrinya. Dia tak menyangka Anitha sekeras itu memegang prinsip dalam berumah tangga. Hingga dia kesulitan mencari jalan keluarnya sendiri.


"Maafkan Kanda. Dulu selalu ada waktu tetapi ketika ada sikecil pula masa sibuk-sibuknya, sehingga Dinda jadi salah paham."


"Iya Kanda, tenang saja besok aku akan kembali seperti Anitha yang membuat Kanda jatuh ke dalam pesonaku." Ucapan yang begitu percaya diri kembali meluncur indah dari bibir indah Anitha. Membuat tuan Nan tersenyum hangat.


"Okelah, kalau begitu besok tidak apa kanda tinggal bekerja ya," goda tuan Nan. Dia telah berjanji seminggu ini tidak terlalu fokus untuk di kantor.


"Jangankan besok, malam ini juga Kanda mau pergi kerja silahkan," gurau Anitha.


"Kalau malam ini kerja yang lain enaknya Dinda."


"Tidak bisa, dinda mau cuti selama tiga bulan seperti di kantor." Merekapun tergelak bersama. Membuat sibayi ganteng mereka terusik dan ingin ikut menyenangkan hati papa-mamanya.


Seminggu lamanya tuan Nan meluangkan waktu hanya untuk keluarga kecilnya. Jika ada harus diurus tentang pekerjaan, Helmi datang ke rumah membawa berkas. Setelah itu semua kembali kerutinitas masing-masing. Anitha masih tetap di rumah.


***


"Jeff, Harri meminta izin beberapa hari."


"Ya aku tahu, kau minta aku jadi supirmu kan?" kata Jeffy diujung telfon.


"Hahaha, kau juga lagi non job jadi informan."


"Kau memang kejam, harusnya aku bisa bersantai ketika non job. Tetapi kau seperti iri melihat aku bersantai." Jelas Jeffy bersungut, hanya di mulut saja.


Lalu pagi ini Jeffy datang menjemput tuan Nan, dengan iseng dia menekan klakson panjang. Tuan Nan keluar dengan pandangan tajam, Anitha malah berkata tajam. "Kau ingin mengolokku Jeff, karena aku kembali bisa jahat padamu! Tuan Nan dan Jeffy tertawa lebar.

__ADS_1


"Baguslah kau bisa jahat. Hidup kami sepi tanpa sikap jahat kau!"


"Kanda pergi sayang, jangan dengarkan dia." Jeffy tersenyum miring.


Di mobil ....


"Aman Nan?"


"Aman, dia hanya bingung sesaat."


"Kalau begitu kau tidak lagi pusingkan jika aku pusingkan?" tanya Jeffy sambil fokus menyetir.


"Ada masalah?" tanya tuan Nan dari bangku belakang sambil memandang kaca spion.


"Bukan masalah terlalu serius juga." Jeffy masih ragu-ragu.


"Kau mengganggap aku orang lain Jeff? Aku banyak hal melibatkan kau dalam hidupku ... dalam rumah tanggaku. Apa kau masih seenggan itu untuk bercerita?"


"Aku pusing lihat istriku ...."


"Teruskan."


"Kau tahukan, istriku orang biasa. Wanita desa biasa."


"Istriku juga, apa bedanya?"


"Istrimu berpendidikan tinggi. Istriku tidak dan terlalu polos ...."


"Istrimu hanya monster polos. Aku mau cerita, kau selalu menyela."


"Iya, teruskan. Aku janji serius."


"Aku kadang geram sendiri. Aku selalu menahan hati. Dia seperti robot mengerjakan apa yang aku pinta."


"Hmmm, maaf Jeff. Bukan aku ada maksud lain. Apa kelebihan wanita itu? Kau bisa mendapatkan wanita seperti istriku jika mau."


"Seperti kata kau dulu, kalau sudah cinta logika tak jalan. Aku awalnya hanya ingin membantunya mencarikan kerja. Namun menjelang aku mencarikan kerja yang cocok untukknya yang tamat SMA, dia selalu merapikan apartemenku, memasak untukku bahkan dia mencucikan bajuku."


"Ohhh."


"Ketika aku bertanya, kenapa dia lakukan semua itu, dia berkata, hanya itu yang bisa dia balas untuk pertolongan aku. Dia tak punya siapa dan apapun."


"Lalu apa hubungannya kau jadikan istri?"


"Aku tak ingin dia hidup di luar sana dengan sifat polosnya itu. Aku juga tak mungkin hidup satu atap hanya berdua terus. Aku takut khilaf dan menyakiti dia lebih dalam. Aku mengajaknya menikah."


"Hmmm."


"Aku tahu dia tak punya teman di apartemen itu. Dia bahkan tidak suka bersosial media. Aku juga tak izinkan sekarang. Biarlah keluarganya mengganggap dia hilang atau mati, toh dia juga tidak diharap lagi oleh keluarganya."


"Dia kenapa?"


"Dia ingin dinikahkan dengan orang kaya di desanya, tetapi dia lelaki beristri. Demi status sosial ibunya."

__ADS_1


"Gila!"


"Namun, lama-lama aku tidak sanggup juga jika dia hanya monoton begitu, A aku kata maka A, B aku kata maka B. Monoton Allea, jauh monoton dia."


Tuan Nan terdiam sebentar. Ini kali pertama Jeffy mengeluh padanya. Jeffy terlihat membelokan kemudi masuk ke parkiran gedung utama PT. NAS.


"Ikut aku setelah memarkirkan mobil." Tuan Nan turun dan di sambut dengan dua security yang memberi hormat. Tuan Nan mengangguk datar.


Jeffy dengan cepat menyusul tuan Nan ke lift khusus petinggi. Mereka beriringan ke lantai ruangan tuan Nan.


"Pagi Pak," sapa Helmi.


"Pagi. Ke ruangan saya saja, jika ada yang dilaporkan," kata tuan Nan santai pada Helmi.


"Baik Pak."


Tuan Nan masuk ke ruangannya, disusul oleh Jeffy dan tuan Nan telah duduk di kursi komisarisnya ketika Helmi menyusul masuk.


Helmi meletakan tumpukan berkas lumayan banyak. "Ini Pak."


"Hmmm, buah seminggu untuk kekasih hati dan buah hatiku," ucap tuan Nan tersenyum kecil. Helmi hanya mengangguk kecil.


"Ada jadwal pagi ini, Hel?"


"Kosong Pak. Jadwal Bapak hanya memeriksa ulang dan menandatangani tumpukan laporan itu Pak."


"Hahaha, baiklah. Sambil memberi konseling saya akan memeriksa ini." Jeffy mendelik sewot disindir tuan Nan.


"Sepertinya, sifat Anitha menular seluruhnya padamu Nan."


"Makanya aku ingin cepat mengatasi istri polosmu, sebelum sifat polosnya menular padamu," ujar tuan Nan tertawa lepas. Dia puas mengenakan Jeffy di awal harinya.


"Puas Nan?"


"Puas. Sudah lama aku tidak membuatmu kesal."


"Itukan perasaanmu." Jeffy kini tertawa lepas melihat wajah kesal tuan Nan.


"Kau mau dengar saran aku?" tuan Nan mengentikan candaannya.


"Apa Nan, kini aku yang buntu."


"Kita sudah seperti keluarga. Bahkan jika aku tidak mengerti siapa dirimu, aku akan cemburu akan rasa sayangmu pada Anitha."


"Kau tahu aku menganggap dia adik kandungku!" tegas Jeffy tak ingin tuan Nan salah paham.


"Kau sensi macam wanita lagi mendapat siklus bulanan." Tuan Nan kembali tertawa kecil.


"Lalu bagaimana jalan keluarnya?" tanya Jeffy tak melanjutkan serangan balik atas olokan tuan Nan barusan.


"Menurutku cara terbaik, sering dekatkan dia dengan Anitha. Hanya kami keluargamu, begitu juga dengan istrimu. Hanya kau dan kami yang ada kini untuknya.


***/

__ADS_1


__ADS_2