Upik Abu Jadi CEO

Upik Abu Jadi CEO
Kesempurnaan Bukan Milik Kita


__ADS_3

Matahari mulai lengser ke tepi bumi sebelah barat. Cahayanya sudah tidak seterik tadi siang. Seakan ingin membakar manusia yang berjalan di bawahnya.


Namun tidak semua merasakan sengatan cahaya panasnya. Ada segelintir orang yang mungkin bisa dikatakan beruntung untuk satu sudut pandang tertentu.


Keberuntungan itu juga ada di keluarga kecil Tuan Nan. Fasilitas yang dia punya bisa meredam panasnya muka bumi karena garangnya pancaran sinar matahari.


Sore hari, mereka berada di dalam kamar sejuk. Bantuan air conditioning tersebut bisa menyejukkan ruangan. Mereka tidak perlu takut susah untuk memikirkan biaya tagihan listrik ataupun lonjakan biaya listrik.


Jika listrik padampun, mereka tidak perlu mengamuk setinggi langit dan memberi sumpah sarapah untuk perusahaan listriknya beserta jajaran karyawan yang bertugas. Generator Set (Genset) akan mengambil alih memberikan dayanya.


Siang malam jika kamar itu berpenghuni, hampir tidak pernah mematikan penyejuk ruangannya. Kecuali membiarkan udara pagi menyelusup mengganti udara kamar.


"Sayang, ayo kita mandikan bayi tampan kita ini." Tuan Nan ingin merasakan ikut memandikan bayinya bersama Anitha. Biasanya pekerjaan ini selalu baby sitter yang melakukan. Dulu, ketika ada ibu tuan Nan, maka si mommy yang memandikan.


Tuan Nan tidak pernah tahu jika istrinya bukanlah makhluk sempurna yang serba bisa. Kesempurnaan itu bukan milik Anitha, tuan Nan ataupun makhluk Tuhan lainnya. (Termasuk yang menulis cerita ini).


"Ayo," ajak tuan Nan kembali ketika Anitha hanya menatap suaminya dengan tatapan sulit diartikan.


"Hmm ... dinda belum pernah memandikan Hannan, Kanda. Mommy dan kakak pengasuhnya yang memandikannya," ucap Anitha gelagapan. Dia merasa takut suaminya marah padanya karena tidak becus menjadi ibu.


Sekali lagi seakan petasan susul menyusul mengisi telinga tuan Nan.


"Begitu lalaikah aku sekarang pada keluarga kecilku? Pada istriku?"


Tuan Nan juga menatap Anitha dengan tatapan sulit diartikan. Membuat kesalahpahaman di otak Anitha yang sedang bermasalah.


"Kanda marah?" tanyanya takut-takut.


Booom! Tuan Nan mendapat ledakan dinamit. Dia tak menyangka istrinya begitu pesimis. Hilang sudah Anitha yang penuh pesona.


Tuan Nan kembali meletakkan Hannan di atas ranjang. Dia menghampiri Anitha yang semakin terlihat takut suaminya marah. Padahal tuan Nan hampir tak pernah memarahinya selain kasus hujan dulu kala.


"Sayang, kanda tak marah!" katanya tegas. Dia cepat memberikan Anitha pelukan hangat. Dia merasa badan istrinya dingin.


"Setakut itukah kau padaku sayang!"


"Kanda tak marah? Aku ternyata tidak becus menjadi ibu. Aku hanya bisa berkarier dan menjadi istri, namun aku gagal menjadi ibu. Aku takut bayiku jatuh ke air." Anitha menekan rasa bersalahnya.


"Hahahah, sayang ... kau masih saja istri yang unik." Tuan Nan tidak bisa menahan semburan tawanya. Mendengar kalimat Anitha mengatakan bayinya takut jatuh, sungguh mengelitik hati tuan Nan.


"Kanda tidak marah?" Anitha merasa rileks mendengar tawa lepas suaminya.


Tuan Nan gemas, dia melepaskan pelukannya. Kedua tangan besar kokohnya menangkup kedua sisi kepala Anitha. Dia berkata, "Dengar sayang ... hilangkan kata marah di pikiranmu. Bagaimana bisa kanda marah pada wanita yang telah memberi kanda cinta sebesar ini."


Anitha menatap lama suaminya.

__ADS_1


"Hmmm," ucap tuan Nan hanya dengan gumaman.


Anitha menepiskan tangan suaminya. Dia masuk kedalam pelukan tuan Nan.


"Ayo kita mandikan bayi kita." Tuan Nan tidak melepaskan pelukannya. Anitha yang melepaskan duluan.


"Kanda bisa?"


"Tidak, tapi berdua denganmu pasti bisa." Tuan Nan begitu bersemangat. Menularkan pada Anitha.


"Ayo." Anitha jadi ceria. Karena tekanan batinnya sendiri, dia tak pernah mencari tahu apapun tentang cara mengurus bayi. Dia hanya tahu memberikan ASI dan mengajak bayinya berbicara. Berbicara melantur seolah ibunya masih ada.


"Tunggu, kita lihat di YouTube sebentar saja." Tuan Nan memberikan Hannan ke pangkuan Anitha. Dia mengambil ponselnya dan mencari cara memandikan bayi baru lahir.


Mereka menonton sebentar dan setelah tahu mematikan. Lalu mulai saling mentertawakan. Mereka tidak menyangka sangat minim pengetahuan tentang cara mengurus bayi.


"Kita menyedihkan ya Kanda."


"Iya, mandikan bayi saja tak tahu. Padahal mandikan Dinda tanpa YouTube kanda bisa." Anitha terkekeh. Membuat darah tuan Nan mengalir tenang.


Setelah bertanya pada si YouTube, baik Anitha maupun tuan Nan baru mengetahui jika memandikan bayi lebih baik memakai air yang bertemperatur hangat.


Mereka mulai mengisi baskom si bayi yang berwarna hijau muda dengan keran air hangat dan mereka campur dengan sedikit air dingin. Mereka mulai mengikuti insting merasakan apakah air itu layak untuk kulit Hannan.


Ritual mandi Hannan berlanjut, Anitha membasahi lalu menyiram tubuh mungil Hannan, dengan meraup air mandi Hannan. Hannan seperti kedua orang tuanya yang suka mandi. Dia tidak menangis hanya menggeliat-geliat di tangan kokoh papanya.


Anitha menyabuni dan memberi shampo khusus bayi. Lalu membilas lembut tubuh bayinya. Dia mengeringkan tubuh basah Hannan dengan handuk lembut yang dia bentang di pangkuannya.


Tuan Nan menggelumunkan didalam handuk tersebut, tinggal muka gembul Hannan yang terlihat. Tuan Nan mengambil kembali Hannan dari pangkuan Anitha.


Mereka lalu kembali ke kamar dan Anitha memakaikan baju.


"Biar kanda yang bedungkan." Anitha membiarkan. Anitha tahu tuan Nan bisa.


Anitha memberikan ASI ketika tuan Nan meletakan bayinya kepangkuan mamanya. Lalu Anitha meletakan Hannan yang tertidur pulas.


"Nah sekarang ayo Dinda yang kanda mandikan," ajak tuan Nan.


"No. Dinda mau mandi sendiri saja. Sampai aman." Anitha langsung menuju kamar mandi dan menutup cepat. Tuan Nan hanya tersenyum. Anitha juga tersenyum dibalik pintu kamar mandi. Hatinya terasa lebih ringan.


Anitha masih enggan untuk turun. Tuan Nan meminta makan malam dibawa ke kamar. Ini juga hal yang membuat para ART heran. Sejak pulang dari rumah sakit setelah melahirkan, Anitha tidak pernah turun bahkan saat melepaskan ayah dan ibu tuan Nan.


Tetapi mereka tidak berani bertanya lebih jauh. Apalagi ketika mengantarkan makanan, para ART selalu menemukan wajah datar Anitha. Bahkan tak ada pembicaraan apapun. Mereka seolah melihat Anitha yang pertama kali mereka kenal.


Lalu setelah kejadian siang tadi, mereka baru mengetahui jika Anitha lagi bermasalah. Semua merasa sedih, bukan malah menghina atau mentertawakan Anitha. Bagi mereka Anitha sangat baik sebagai majikan.

__ADS_1


Saat Anitha dan buah hatinya terlelap, tuan Nan memandang dalam wajah Anitha yang tanpa waspada, tanpa beban dan tanpa topeng kuatnya.


"Aku akan meluangkan waktu untukmu. Aku sempat terlena dengan pekerjaan. Jelas-jelas dulu justru aku tidak pernah diatur waktu."


Tuan Nan melangkah ke balkon. Dia duduk berselonjor dan merebahkan badannya di kursi balkon.


"Hel, seminggu kedepan kosongkan agendaku. Hendle seperti biasa. Jika urgent sekali, baru telfon aku."


Tuan Nan menutup telfonnya, dia menelfon Jeffy.


"Bagaimana?" tanya tuan Nan.


"Aku sudah menemukan Psikolog klinis dewasa untuk dia. Tinggal kapan kalian mau buat janji."


"Ok, nantilah aku kabari, aku belum sempat berbicara dengannya."


"Kenapa? Ada maaalah?" tanya Jeffy was-was.


"Tidak, justru dia bahagia hari ini. Aku tahu salahku di mana."


"Baguslah jika kau tahu. Dia hanya sebatang kara kini. Hanya kau tempat dia berbagi."


"Ok. Besok jika aku sudah dengar apa pendapatnya. Aku minta kau mendaftarkan."


"Kau di rumah besok?" tanya Jeffy kemudian.


"Iya, aku mengosongkan agendaku seminggu ke depan."


"Baiknya begitu."


"Aku tutup telfon ya. Aku ingin menyusul istriku tidur."


"Kau pikir, kau saja punya istri."Jeffy sedikit kesal dengan nada olokan tuan Nan.


"Ohh ya lupa aku, kau sudah membagi hatimu untuk wanita." Tuan Nan memutuskan sambungan telfonnya dan menonaktifkan ponselnya. Dia tersenyum geli membayangkan betapa kesal wajah Jeffy.


"Ahhh sayang, aku semakin ketularan jahilmu. Cepatlah kembali jahil. Agar rumah ini kembali semarak."


***/


Hannan bayi bobok cantik setelah di esekusi papa mamanya 😍



by pinterest

__ADS_1


__ADS_2