Upik Abu Jadi CEO

Upik Abu Jadi CEO
Aku Akan Membantu


__ADS_3

"Tuan, maaf. Bolehkah aku tidak kembali ke meja. Badanku letih." Anitha mengirim pesan dan menunggu balasan tuan Nan. Anitha sungguh tak punya energi untuk kembali. Anitha merasa tiba-tiba stres tingkat tinggi melandanya.


Anitha yang masih bersandar merasa kepalanya begitu sakit dan terasa berat. Anitha mencoba mengerjapkan kelopak mata. Anitha merasa pandangan semakin memburam. Dia mencoba untuk mencari tempat duduk. Namun belum sempat melangkah kesadarannya telah hilang.


Jeffy yang memang sudah ada didekat Anitha tanpa Anitha ketahui, melompat dan berlari mengejar Anitha sebelum terbanting ke lantai. Jeffy mengangkat Anitha ke mobil sewaan tanpa memperdulikan beberapa pasang mata yang melihat heran.


Jeffy memanggil dan menepuk lembut pipi Anitha untuk menyadarkannya. "Anitha ...." Jeffy memanggil berulang kali.


Tak lama. "Jeff?"


"Kamu tidak apa-apa Tha?"


"Aku tak apa Jeff."


"Kamu kenapa sering pingsan? Apa ada yang sakit?" ujar Jeffy penuh perhatian. Jeffy tahu bagaimana pergolakan batin Anitha. Kadang Jeffy menyesali cara tuan Nan yang terlalu keras mencari tahu masa lalu Anitha. Namun Jeffy tahu, tak bisa ikut campur terlalu jauh.


"Tak ada Jeff, hanya aku kecapekan dan kepalaku sedikit sakit," jawab Anitha pelan.


"Tuan bagaimana Jeff?"


"Kamu masih sempat memikirkan Nan?" selidik Jeffy.


"Tuan sudah sangat baik akhir-akhir ini padaku. Aku tak bisa mengabaikan tuan begitu saja Jeff."


"Aku sudah meneleponnya. Aku diminta mengantarkan kamu duluan ke hotel. Nanti Nan menyusul."


"Terima kasih Jeff, kalian akhir-akhir ini sangat baik padaku. Aku merasa tidak sendiri lagi," ucap Anitha sambil mengalirkan butir bening dari matanya. Perlahan pertahanannya runtuh.


Jeffy tahu wanita itu menangis. Walau Anitha menoleh keluar jendela mobil, suaranya sangat terdengar sendu dan bergetar.


"Jangan bersedih. Apapun yang ingin kau raih aku pribadi akan membantumu. Jangan merasa sendiri lagi," ucap Jeffy serius.


"Ya Jeff, aku jadi tak ingin menyerah kini. Aku akan terus berjuang apapun yang terjadi. Akan aku buktikan aku bukan wanita yang lemah dan tak berguna seperti yang dituduhkan mantan suamiku." Tekanan yang begitu kuat di batin, membuat Anitha membuka sedikit cerita hidup pada Jeffy.


"Ya, hapus air matamu. Nanti kau diolok tuan Nan. Apa kau mau?" gurau Jeffy. Jeffy tak mau bertanya soal apa yang dikatakan mantan suami Anitha. Walau Anitha menyebutkan tentang ucapan mantan suaminya.


"Wow kau sudah bisa jadi cenayang Jeff. Padahal aku tak melihat padamu," canda Anitha sambil menghapus air mata. Anitha menoleh pada Jeffy dengan menampilkan senyum tanpa ada luka di mata.


"Itu karena aku menuntut ilmu padamu," jawab Jeffy ikut bercanda.


Jeffy merasa sedikit merinding melihatnya. Wanita yang tadi terpuruk kini bisa senyum tanpa ada beban. "Kau memang wanita yang mengerikan Anita. Pantas Nan keras kepadamu," batin Jeffy.


"Apa aku bisa seperti tuan Nan Jeff?" tanya Anitha setengah nelangsa.


"Maksudmu?" Jeffy tidak paham seperti apa yang diinginkan Anitha dari tuan Nan.

__ADS_1


"Apa aku bisa memiliki kekuasaan seperti tuan Nan walau tidak sebesar tuan Nan." Anitha menjawab penuh kepastian apa yang dia inginkan.


"Ohhh ...."


"Kenapa? Apa aku tidak pantas menurutmu menginginkan itu?"


"Bukan, bukan itu maksudku berkata ohhh Tha. Aku tahu kau bisa, aku bisa menilai siapa kau kini. Kau coba bicarakan pada tuan Nan."


"Aku tak ingin dipandang rendah oleh tuan Nan. Aku tak ingin dia menganggap aku wanita penuh tipu daya. Aku masih memikirkan harga diriku jika dia menolak keinginanku Jeff."


"Apa kau begitu butuh kekuasaan Tha?"


"Aku butuh Jeff!"


"Untuk apa Tha?" tanya Jeffy menyelidiki lebih jauh.


"Aku tak bisa katakan sekarang padamu Jeff. Maaf."


"Tak usah minta maaf. Ingat saja jika kau butuh bantuan aku akan membantu!" ucap Jeffy tegas. Anitha membalas dengan senyum cantiknya.


Sesampai di kamar hotel, "Kau tak apa di kamar sendiri? Aku masih harus pergi ada yang harus aku urus."


"Ya, tak apa.Pergilah."


"Halo Ibu, sibuk?" Anitha menulis pesan Chat pada nyonya Allea.


Tak memerlukan waktu lama, nyonya Allea lalu meneleponnya. "Ada apa An? Apa kau ingin melaporkan kalau kau sudah berhasil?" Nyonya Allea melanjutkan mengolok Anitha yang sempat terputus tadi.


"Ibu, tidak bisakah kita bertemu? Aku merindukan dirimu," ujar Anitha bergurau.


"Lebih baik kau belajar merindukan tuan Nan, Anitha," ucap nyonya Allea tertawa.


"Ibu wanita yang tidak berperasaan. Bisanya dengan santai Ibu menyuruh aku merindukan suami Ibu," ucap Anitha tak tahu jika urusan perceraian antara tuan Nan dan Nyonya Allea sudah mulai diajukan.


"Karena aku ingin suami baru, An."


"Bu, kapan kita bisa bertemu?" pinta Anitha. Saat ini Anitha serius. Anitha ingin berbagi cerita pada seseorang tentang kehadiran Sahrul.


"Apa kau sudah gila An? Jika kita bertemu di sini apa kau yakin tuan Nan tidak tahu? Sama saja menggagalkan misi kita!" tegas nyonya Allea mengingatkan Anitha. Allea belum meminta izin pada Nan untuk bertemu Anitha.


"Iya ya Bu, aku mana bisa bebas di sini. Aku macam burung yang terkurung di sangkar besi berkarat," ucap Anitha tertawa kecil.


"Ada-ada saja kamu, ada juga sangkar emas. Apalagi tuan Nan sangat kaya."


"Aku bingung Bu, bagaimana cara aku harus menaklukkan hatinya. Walau kini dia sudah baik padaku."

__ADS_1


"Oya? Benarkah?" tanya nyonya Allea pura terkejut. Padahal dia sangat tahu Nansen Adreyan sudah melabuhkan hatinya. Untung dia sudah mencintai Liam Lee. Jika tidak nyonya Allea bisa kebakaran rambut dan berteriak 'DASAAAR PELAKOOR'. Duhh pelakor lagi yang salah. Padahal pelakor hadir karena tidak kokohnya pondasi dalam rumah tangga.


"Apa Nyonya Allea menyesal? Aku masih bersedia mundur Nyonya, asal Nyonya tetap menyerahkan seperempat aset yang Nyonya janjikan," kata Anitha menggunakan sebutan nyonya. Anitha memang berniat mundur jika nyonya Allea ingin membatalkan. Namun Anitha juga serius meminta seperempat aset yang setidaknya berupa pinjaman untuk modal usaha.


"Apa kamu menyerah An?" tanya nyonya Allea ingin tahu.


"Aku tidak akan menyerah Bu. Jika ibu tetap ingin lanjut. Ada yang aku butuhkan dari suami Ibu yang belum jadi mantan suami."


"Aku yakin uang bukan cinta bukan?"


"Pasti begitu Bu, aku tak percaya lagi pada cinta dan pada persahabatan."


"Itu karena ___"


Tok ... tok ... tok ...."


"Nanti kita sambung Bu, ada yang datang," ucap Anitha pelan dan langsung mematikan panggilan ponsel.


Anitha berjalan ke pintu. Anitha melihat dari lubang pintu siapa yang datang. Terlihat tuan Nan. Anitha cepat membukakan pintu.


Tuan Nan tanpa dipersilahkan masuk langsung masuk dan berkata, "Makanlah dulu." Dia meletakan makan siang Anitha yang dipesannya melalui Jeffy.


Anitha tanpa bantahan mengambil dan membuka bungkusan yang dibawa tuan Nan. Anitha melihat wajah tuan Nan yang sedikit tidak ramah. Tuan Nan terlihat menahan marah. Anitha makan tak ingin menambah kemarahan tuannya. Anitha merasa tuan Nan marah karena dia meninggalkan tuan Nan makan dengan relasinya.


Padahal bukan itu yang membuat tuan Nan menahan marahnya. Tuan Nan sudah melihat video yang diambil oleh Jeffy dan dia sudah melihat memar yang mulai hilang di pergelangan tangan Anitha. Tuan Nan tidak ingin bertanya karena dia yakin Anitha akan kesulitan menjawab.


Anitha makan sambil melirik tuan Nan yang duduk di tepi ranjang. "Kenapa kau melirikku? Apa kau merasa bersalah padaku?" jawab tuan Nan masih dengan nada datar. Dia berusaha mengontrol emosi hingga tak mengacaukan rencananya. Dia harus tahan, karena ini jalan yang tuan Nan pilih sendiri.


"Aku tahu aku salah! tetapi aku tak ingin minta maaf padamu terus-terusan TUAN!" kata Anitha berani. Dia tak ingin terus ditindas oleh siapapun walau itu tuan Nan yang dia butuhkan sekalipun.


Tuan Nan yang mendengar nada konfrontasi kental dari Anitha justru tersenyum. Hilang sudah aura tak ramahnya melihat Anitha kembali tegar dan berani memancing pertikaian dengannya.


"Aku juga tidak butuh kata maafmu NONA!" olok tuan Nan. Ada rasa lega terselip di hati Anitha melihat tuan Nan kembali mengoloknya. Entah detik berapa Anitha tidak menyukai lagi raut tak bersahabat tuan Nan padanya. Anitha lebih suka raut tuan Nan yang bersahabat padanya. Raut tuan Nan yang lembut padanya.


"Lalu Tuan butuh apa?" tanya Anitha iseng-iseng.


"Aku butuh hatimu!"


"Matilah aku Tuan kalau kau butuh hatiku. Hatiku cuma satu," ejek Anitha tak menggubris ucapan tuan Nan yang serius.


***


Ayooo hati-hati Nona Anitha ... hati-hati nanti minta hati tuan Nan kamu Lohh 😭


Tapi bolehlah ya aku minta pada Readers Terlove-love untuk tinggalkan jejak like and komen, karena karya ini tidak diajukan kontrak ke pihak NT/MT 😉😉🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2