Upik Abu Jadi CEO

Upik Abu Jadi CEO
Kehilangan Jejak Anitha


__ADS_3

Waktu berlalu tidak begitu saja. Kini dua bulan sudah Tuan Nan kehilangan jejak Anitha. Anitha seperti raib di telan bumi.


Tok ... tok ... tok ....


"Ya sebentar ... ceklek ...."Seorang ibu separuh baya membukakan pintu dan sedikit terkejut melihat seorang lelaki berjaket hitam.


"Cari siapa?" tanya ibu tersebut yang tak lain adalah ibunya Anitha.


"Maaf Bu, apa benar ini rumah Anitha?" tanya pria itu yang tak lain adalah Jeffy.


"Benar, silakan masuk," ucap ibunya Anitha mempersilakan masuk.


"Terima kasih Bu," ucap Jeffy sopan. Jeffy masuk ke ruang tamu dan duduk di sebuah kursi rotan setelah dipersilahkan.


"Anda polisi? Apa sudah mendapat kabar tentang anakku?" tanya ibu Anitha dengan raut muka sedih. Ternyata bakat akting Anitha menurun dari ibunya.


Jeffy yang mlihat muka sedih ibu tersebut hanya bisa terdiam beberapa saat. Jeffy terperdaya dengan akting ibu Anitha. Jeffy menjadi yakin jika Anitha juga tidak menghubungi beliau.


"Apa ada kabar menghilangnya anak saya?" tanyanya lagi ketika mendapati Keterdiaman Jeffy.


"Eheem, maaf Bu. Saya bukan dari pihak kepolisian ...." Jeffy tidak melanjutkan omongannya. Dia ingin melihat reaksi ibu Anitha lebih lanjut.


"Ohhh syukurlah, jadi anda siapa dan ada perlu apa pada anakku?" tanya ibu tersebut dengan nada sedikit lega. Nada lega penyempurnaan dari aktingnya.


"Saya orang tuan Nan dan Nyonya Allea, majikan tempat Anitha berkerja. Anitha melarikan diri tanpa alasan saat kami akan ke Malaysia." Jeffy menjelaskan sedikit siapa dia.


"Apa tuan dan nyonyanya tidak baik pada anakku?" tanya ibu Anitha kembali dengan nada sedih. Seolah-olah anaknya sedang teraniaya di tangan tuannya.


"Tidak Bu, tuan dan nyonyanya sangat baik. Saya sampai ke sini juga atas permintaan tuan. Ibu tahu dari mana jika Anitha menghilang?"


"Dia tak ada kabar, saya menelfonnya juga tidak bisa. Saya menghubungi Melly. Melly mengatakan Anitha menghilang di bandara Singapura."


Jeffy tidak berlama-lama di sana. Dia berjanji akan mencari Anitha dan mengabari secepatnya. Jeffy melihat luka di mata ibu Anitha karena kehilangan anaknya. Jeffy pamit.


"Ufff dasar kamu nak, ibu terpaksa penuh tipu daya dan berbohong ulah perbuatanmu," batin ibunya.


@@@

__ADS_1


Jakarta....


Jeffy kini ada di dalam kantor pusat tuan Nan. Jeffy bergegas ke kantor tuan Nan begitu menginjakkan kaki di bandara.


"Bagaimana Jeff?" tanya tuan Nan sambil duduk tipis di tepi meja kerjanya.


"Tak ada kabar. Bahkan karena sudah dua bulan anaknya belum ada kabar, ibunya sendiri sering menelfon mencari kabar melalui Melly, dan Melly mengatakan benar adanya," ucap Jeffy dengan khawatir. Sudah hampir seminggu ini emosi tuan Nan menjadi tidak terkontrol.


Apa yang di khawatirkan Jeffy terjadi. Tak disadari oleh Jeffy. Tiba-tiba, "Praang ... pyiiaar," terdengar kaca pecah susul-menyusul. Tuan Nan melemparkan gelas minumannya ke dinding kaca pembatas di dalam kantornya.


Jeffy hanya diam. Percuma berbicara dengan orang yang lagi kalap.


"Sial! Kemana dia pergi!! Tuan Nan menyugar rambutnya dengan frustasi. Tuan Nan tak menyangka Anitha akan sulit di lacak. Jeffy pernah menawarkan melapor pada polisi. Namun tuan Nan menolak. Dia yakin Anitha baik-baik saja dan bersembunyi entah dari apa dan dari siapa. Tuan Nan tidak ingin merusak nama Anitha.


Jeffy masih setia dengan diamnya. Jika dia berbicarapun, tuan Nan tak akan terima. Ingin Jeffy memaki tuan Nan. Anitha lari bisa jadi karena rencana tuan Nan sendiri.


Jeffy dan Anitha main kucing-kucingan. Setelah dua hari di Batam, tiba-tiba Anitha teringat dirinya bisa di lacak lewat Paspornya. Apa yang tidak mungkin di lakukan oleh tuan Nan yang berharta.


Anitha kembali masuk ke Singapura. Lalu dia nekat memilih masuk secara ilegal menggunakan boat melewati pelabuhan tikus. Dengan begitu dia masih terdaftar berada di Singapore. Baginya kini setiap masalah ada jalan keluar.


Seperti pemikiran Anitha, Jeffy memang mengandalkan koneksi untuk melacak Anitha dari pasportnya, seminggu setelah tak mengetahui di mana Anitha. Jeffy mengetahui Anitha telah masuk kembali ke negara Singapura. Tanpa Jeffy tahu Anitha nekat kembali tanpa menggunakan identitasnya untuk keluar dari Singapura.


"Aku tak yakin."


"Wanitamu tak masuk akal. Dia nekat tak keluar, sementara pihak terkait sedang mencarinya karena dia tak punya visa menetap." Jeffy tak habis pikir dengan jalan pikiran Anitha.


"Dia pandai memanfaatkan keadaan. Dia yakin aku tak akan membiarkan jika dia tertangkap atau bermasalah." Tuan Nan berkata kebenarannya.


"Aku yakin dia masih di sana," Jeffy mengatakan yakin namun hanya di mulut. Di hatinya tidak.


"Tak mungkin. Dia tidak mungkin bisa bertahan hanya dengan 20 juta dari nilai uang kita." Nansen sangat tidak yakin uang segitu cukup untuk bertahan selama dua bulan tanpa tempat tinggal yang pasti.


"Dia memang tidak ada menggunakan kartu black card itu?" Jeffy menerima gelengan tuan Nan.


"Siapa yang membiayai dia jika di sana?" tanya tuan Nan.


"Hanya ada dua orang yang dia kenal, Sahrul dan Allea. Sayangnya mereka berdua tidak terlibat." Jeffy menjelaskan dengan yakin untuk masalah ini.

__ADS_1


Tuan Nan melipat tangan di dadanya. "Kau memang sudah mengawasi Sahrul dengan benar?"


"Sudah, bahkan aku mengikuti saat dia pulang ke Jakarta."


"Lalu ke mana dia jika pulang?"


"Dia hanya menemui orang kantor pusatnya, dan kembali ke Singapura." Kembali Jeffy melaporkan dengan yakin.


Tuan Nan melangkah, terdengar bunyi berderak saat sepatu mahalnya menginjak pecahan kaca,dia berdiri di depan jendela kantornya yang berdinding kaca tebal. Sehingga pandangannya bisa melihat gedung-gedung pencakar langit yang seakan saling memamerkan ketinggiannya. Walau masih kalah dengan tingginya gedung perusahaan tuan Nan.


Kedua tangannya dia sembunyikan di dalam saku celananya. Bola mata tajamnya masih fokus memandang keluar. Walau pikirannya entah ke mana. "Hmmm, luar biasa. Apa yang dia pikirkan sehingga lari dariku?" gumamnya yang terdengar oleh Jeffy karena mengikuti langkahnya.


"Aku tak tahu. Kau tahu jalan pikirannya susah ditebak. Dia suka berubah arah sesuka hatinya."


"Itulah satu yang aku suka darinya, hidupku selalu penuh kejutan olehnya."


"Kau ingin mengatakan ini kejutan terbesar darinya?"


"Kau benar, aku tak pernah menduga dia akan kabur begitu saja dariku pada saat dia mulai terbiasa aku dekati."


Setelah dilihatnya tuan Nan jauh lebih tenang, Jeffy bertanya, "Apa kau tetap mengejarnya Nan?" Jeffy telah berdiri sejajar dengan tuan Nan dan memandang tuan Nan meminta penjelasan.


"Menurutmu?" Tuan Nan balik bertanya. Jeffy paham apa artinya.


"Apa kelebihan dia di matamu Nan?"


"Jika mau dibilang cantiknya, banyak yang lebih cantik darinya. Selain karena hatiku yang sudah jatuh cinta padanya, semua tentangnya kupandang jadi indah." Tuan Nansen tersenyum.


"Ya, indah. Seindah pelariannya yang tidak seperti Allea lari darimu!" Jeffy mulai berani menyindir tuan Nan. Tuan Nan tidak merespon sindiran Jeffy.


"Cari sampai dapat Jeff, tidak mungkin dia tidak bisa ditemukan." Tuan Nan begitu yakin akan bisa mendapatkan Anitha.


Malam hari di kediaman Nansen Adreyan ....


Tuan Nan kini sedang berjalan di ruang tamu. Langkah kokohnya terhenti ketika terlintas bagaimana Anitha saat baru datang, saat dengan rambut acak-acaknya di tengah malam dan menakutkannya. Tuan Nan begitu merindui kejahilan Anitha.


Tuan Nan melanjutkan langkahnya hendak ke dapur, dia ingin membuat segelas susu hangat. Dia tegak di antara ambang ruangan tengah dan dapur. Kenangannya kembali berputar saat Anitha kebingungan mencari apa yang di perintahkan. Semua berputar pada bayangan Anitha.

__ADS_1


"Aku bisa gila rasanya." Batinnya.


@@@


__ADS_2