
Cahaya matahari pagi telah menembus tirai jendela yang telah dibuka Anitha dari jam 5 pagi. Anitha selalu membuka jendela kamarnya setelah shalat subuh. Mengganti udara segar untuk ruang kamarnya.
Pagi ini jadwal terapi tuan Nan. Anitha seperti biasa, dengan ikhlas dan sabar memperhatikan tuan Nan. Awalnya ibu tuan Nan ingin mengajak anaknya untuk berobat ke luar negri, namun tuan Nan menolak. Alasan tuan Nan hanya tinggal terapi saja, tidak ada harus tindak lanjut yang lebih serius.
Dokter juga mengatakan kelumpuhan itu tidak bersifat permanen, oleh sebab itu tuan Nan menolak.
Anitha sedang mengenakan baju kemeja tuan Nan, jari lentiknya dengan lincah memasangkan kancing kemeja suaminya.
Tuan Nan menahan tangan Anitha yang menempel di dadanya. "Sayang, kanda tidak mau terapi."
"Kenapa?" tanya Anitha lembut.
"Kanda tidak ingin kaki kanda menjadi lebih sakit," jawab tuan Nan bermanja diri pada Anitha.
"Jangan manja sayang."
"Tetapi ada hikmahnya keadaan kanda begini," ucap tuan Nan menggoda Anitha.
"Ada hikmah ya ada hikmah. Namun Kanda harus sembuh." Omelan khas istri mulai mewarnai ruangan kamar mereka.
"Dinda bawel ...."
"Kalau tidak bawel bukan wanita namanya dan bukan istri dari seseorang," lanjut Anitha. Tangannya telah menyelesaikan tugasnya.
"Ayo kita sarapan. Lalu kita latih kaki ini agar jadi pria pemimpin," goda istrinya.
"Jangan mancing-mancing ya, pagi hari masih." Anitha mendelik tajam pada tuan Nan dan mendapat kekehan tuan Nan.
"Sejak dengan Dinda, kanda jadi seperti orang gila...."
"Jika begitu, bagaimana kalau kita ke rumah sakit jiwa saja?" olok Anitha.
"Mau asal Dinda yang rawat," sahut tuan Nan.
"Malas, nanti Dinda jadi bulan-bulanan teman baru Kanda," ucap Anitha membuat tawa berderai tuan Nan mengisi kamar.
Anitha mulai memapah tuan Nan dengan bantuan tongkat. "Dinda, bagaimana kalau kaki kanda tidak bisa sembuh?"
"Jangan berputus asa, sabar dan tawakal. Kita usaha dan doa saja. Jadi jangan bilang tidak mau terapi, dinda akan benar mengurung kanda sampai mati di kamar!" ucap Anitha serius.
"Kenapa harus dalam kamar?" senyum tuan Nan.
"Jadi mau di mana? Dalam gudang bawah tanah?" kata Anitha mulai menuruni tangga menuju ruang makan.
__ADS_1
"Dinda kejam sekali."
"Jika tidak nurut, dinda bisa kejam dua kali!" Anitha masih serius dengan ancamannya. Namun tuan Nan terus mempermainkan istrinya. Wajah tuan Nan terlihat begitu hangat. Dia sangat menyukai saat-saat Anitha marah karena sikap putus asa yang dibuat-buat tuan Nan demi mengganggu istrinya.
"Kenapa wajah anak cantik Daddy seperti jeruk keriput yang berkerut-kerut?" tanya ayah tuan Nan pada menantunya.
"Masa iya Dad?" ucap Anitha sambil meraba-raba mukanya dengan lucu. Mereka tersenyum simpul.
Anitha tidak ingin membuka keluhan tuan Nan. Mereka telah duduk di kursi masing-masing.
"Nan ...."
"Iya Dad, ada apa?"
"Besok Daddy dan mommymu berencana pulang. Apa kau tidak apa kami tinggal? Daddy ada urusan di kantor."
"Ohh tak apa Dad, Mom. Tenang saja ada ibu dan anaknya yang pemarah ini memperhatikan aku."
"Hahaha, walau pemarah, dia suster paling cantik dan berdedikasi bagimu," bela ayah tuan Nan melihat menantunya pasang wajah cemberut.
"Tak apa ya An, Mom balik dulu menemani Daddymu?"
"Tak apa Mom. Tenang saja, aku akan menjaga putra kesayangan Mom dengan sepenuh jiwa. Asal Mom mengizinkan aku memarahinya jika tidak patuh dalam berobat."
"Mom mendengarnya?" tanya tuan Nan.
"Kau pikir mommy tak punya telinga apa?"
Mereka tertawa bahagia. Lalu tuan Nan bangkit dibantu oleh Jeffy. Harry telah memarkirkan mobil di halaman depan.
"Kami pergi ya Mom, Ibu." Pamit Anitha pada ke dua ibunya.
Di rumah sakit ....
Setelah dokter syaraf melakukan pemeriksaan singkat, tuan Nan dibawa ke dalam ruang terapi diikuti oleh Jeffy dan Harri yang membantu tuan Nan.
Mereka di sambut oleh dua ahli terapi dengan berlainan jenis. Tiba-tiba sifat posesif Anitha kumat melihat asisten ahli terapi yang ber-gender perempuan.
"Tunggu, apa kau tak punya asisten laki-laki?" Anitha tak nyaman melihat cara pandang asisten terapi.
Jeffy dan Harri mengernyitkan kening. Mereka melihat Anitha semakin aneh jika telah berhubungan dengan wanita lain, ada didekat tuan Nan. Namun tidak dengan tuan Nan. Dia tersenyum penuh arti.
"Kenapa sayang?" pancing tuan Nan.
__ADS_1
"Aku tidak nyaman kanda dibantu oleh dia!" jawab Anitha frontal.
"Tetapi dia hanya bekerja secara profesionalisme," kata tuan Nan seakan membela.
"Terserah apapun alasannya. Aku tidak terima!"
"Atau kanda tidak usah saja terapi?"
"Itu jauh lebih baik, jika rumah sakit ini tidak bisa mencari gantinya!" nada Anitha masih saja ketus dengan sikap terang-terangan menolak.
Mereka tidak ada yang tahu, jika ini kembali dari sebuah rencana tuan Nan. Tuan Nan ingin mengetahui apa sifat Anitha masih posesif. Tuan Nan juga penasaran ada apa dengan istrinya setelah sadar dari komanya.
Tuan Nan telah menghubungi dokter yang menangani mereka saat koma. Dokter tersebut mengatakan, ada banyak kasus terjadi perubahan pada pasien saat sadar dari koma, mulai dari lupa ingatan masa lalu sampai dengan perubahan kepribadian seperti yang terjadi pada Anitha.
Dokter mengatakan hanya ada dua hal dengan perubahan sifat Anitha, bisa jadi karena hormon kehamilan atau memang karena komanya kemarin.
Tuan Nan sudah memastikan pada Anitha bahwa Anitha tidak sedang dalam masa hamil. Walau dia menolak tes kehamilan atau periksa ke dokter. Anitha menjawab dengan yakin dia tidak dalam masa hamil. Tuan Nan meminta satu tenaga wanita saat terapi. Kini terjawab sudah, sifat itu belum hilang.
"Baiklah kalau itu kemauan Dinda, mari kita pulang," ajak tuan Nan.
"Apa sebegitu kerasnya hati Kanda ingin dia yang mendampingi? Sehingga Kanda lebih memilih pulang?" Walau pertanyaan itu dilontarkan dengan nada lembut, namun tidak ada wajah bersahabat pada tuan Nan. Jeffy dan Harri hanya bisa memperhatikan apa yang diinginkan oleh tuan Nan pada istrinya.
"Bukan karena itu, tetapi kanda tak habis pikir dengan sikapmu yang cemburuan."
"Ya, aku tidak tahu apa yang terjadi pada perasaan hatiku, tetapi aku memang tidak bisa terima jika ada wanita lain yang menyentuh tubuhmu, walau itu karena alasan kesehatan."
Hati Anitha mulai sesak, jika tadi karena rasa cemburu pada wanita tersebut kini karena rasa panas hati melihat suaminya tak peduli dengan perasaannya. Namun dia memilih mengalah demi kesehatan suaminya.
"Baiklah jika Kanda ingin didampingi dia. Aku setuju." Ada perasaan kecewa di hati tuan Nan melihat sifat istrinya yang tiba-tiba mengalah. Tetapi hanya sebentar. Anitha kembali berkata, "Tetapi biar Jeffy yang menemani, aku ingin di luar saja menunggu."
Tanpa aba-aba Anitha telah berlari keluar. Dia malu jika perawat cantik itu melihat dia menangisi kecemburuan tak beralasannya.
Anitha berlari dan memilih duduk di bangku taman rumah sakit yang terlihat sepi. Sebuah pohon berdaun rimbun menaungi bangku tersebut dan tidak menjadi panas bagi yang duduk di bangku tersebut andai hari panas sekalipun.
Namun kini, hari masih pagi. Udara segar dan bau rumput segar masih tercium. Akan tetapi tidak bisa menyegarkan pikiran Anitha. Air matanya telah mengucur dengan deras.
Anitha duduk dengan posisi duduk membungkuk dan menutup mukanya.
"Ada apa denganku. Mengapa aku selalu kehilangan kontrol diri dan dilanda cemburu tak jelas."
"Bodoh ... bodoh ... kenapa kau mempermalukan dirimu sendiri Anitha!" Dia berulang kali mengetuk-ngetuk kepalanya. Air mata masih setia menemani. Dia ingin membuang semua rasa kesal, cemburu dan panas hatinya melalui buliran bening yang tercipta di kedua bola mata indahnya.
***/
__ADS_1