
Sahrul tergagap, "U_u_uda ... uda ...."
Melihat Sahrul yang gelagapan, Anitha cukup tahu ada hubungan apa antara mereka. Anitha tidak tahu sejauh apa.
"Kalian selingkuh?" tanya Anitha tajam. Sahrul tak bisa menutupi kegusarannya.
"Jujurlah padaku!" Anitha memaksa.
"Iya uda akan jujur." Sahrul mengambil kedua tangan Anitha dan Anitha tak menepiskannya.
"Uda dan Ajeng duluan saling mengenal, sebelum uda mengenalmu," kata Sahrul pelan.
"Apaaa!!" Anitha tidak bisa tidak berteriak. Jika bertemu tuan Nan kembali dia merasa ada gempa berkekuatan tinggi. Kini dia merasa dihempas tsunami.
"Apa ... apa maksud semua ini Uda?" tanya Anitha tak kuasa menahan emosi. Dia menyentakkan tangannya dan berdiri dari sofa tersebut.
Anitha membelakangi Sahrul. Dia mengacak rambutnya dengan emosi ditahan. Anitha berulang kali menarik napas memberikan pasokan oksigen yang berkurang ke paru-parunya. Sahrul hanya terdiam. Baginya sifat Anitha yang ini tak pernah dia lihat sepanjang dia mengenal Anitha. Baginya Anitha telah jauh berubah.
Anitha membalikkan badan. "Apa yang terjadi, ceritakan semuanya padaku!" ucap Anitha tegas. Dia hanya berdiri dihadapan Sahrul. Sahrul menceritakan tanpa ada yang di tutupinya. Termasuk aib saat dia bersama Ajeng yang harusnya dia simpan rapat. Sahrul hanya tak ingin lagi berbohong pada Anitha dan ketika Anitha tahu dia akan berbalik menjadi mata pedang dalam hubungannya nanti.
Padahal mata pedang itu sudah bermata dua, yang manapun Sahrul gunakan akan melukai dirinya dan Anitha.
"Uda harus tahu, karena perbuatan Uda, aku hampir berakhir ditempat pela*uran!!! Sahrul terpana. Anitha mendekati Sahrul.
"Aku yang tidak tahu mau kemana saat kau usir, hanya mengingat Ajeng tempat meminta tolong. Dia menyuruhku menyusulnya hanya untuk menjual diriiikuuu!! Anitha berteriak dan memukul-mukul dada Sahrul. Sahrul hanya bisa membisu seribu bahasa.
Anitha seakan tidak puas, dia mendorong Sahrul sehingga jatuh ke sofa. "Kau menciptakan neraka dunia untukku Uda. Aku sungguh menyesal mengenalmu dan jatuh cinta padamu. Aku menyesal mau jadi istrimu!! AKU MENYESAL UDA!
Tak ada tangisan lagi yang ada teriak penyesalan penuh kemarahan. Anitha menarik napasnya lalu berkata, "Ceraikan aku! Aku tak ingin hidup denganmu!"
"Tidak, jangan lakukan itu ketika uda sudah menyesali dan sudah berjanji berubah dari setengah tahun lalu!" Sahrul berdiri dan mengejar Anitha yang hendak mengambil blazernya. Sahrul mendekap Anitha dari belakang. Langkah Anitha tertahan.
"Jangan, jangan lakukan. Beri tahu, apa yang harus uda lakukan untuk menebus semua ini?" Sahrul benar-benar memohon pada Anitha. Mendengar itu seringai jahat berganti dengan senyum iblis.
"Aku kini benar tidak bisa memaafkan apapun tentang Uda. Apalagi kejahatan Ajeng padaku. Jika tuan Nan tidak menyelamatkan aku, aku akan jadi wanita penghibur kini. Bisa Uda bayangkan mau jadi apa nasibku?" Suaranya terdengar dingin, membuat tengkuk Sahrul seperti ada makhluk lain yang meniupnya.
"Apa yang kau inginkan?"
"Aku tidak bisa hidup tenang, sebelum Uda membalaskan dendam aku padanya. Aku ingin Uda menghancurkan Ajeng dan juga rumah tangga adik Uda!! Sahrul yang masih mendekap Anitha terkejut dan menegang, menyebabkan pelukannya semakin erat.
__ADS_1
"Jika tidak setuju, ceraikan aku secara agama dan juga secara hukum!" kata Anitha semakin dingin dan senyum iblisnya semakin lebar.
Sahrul masih dilema, soal adiknya. Bagaimana mungkin dia menghancurkan rumah tangga adiknya sendiri. Dipikir-pikir lagi, adik yang sudah dia bantu banyak, sanggup menghancurkan hati dan rumah tangganya. Sahrul berpikir adiknya juga kelewat batas.
"Jika tidak bisa mengambil keputusan, lepaskan pelukan uda, aku bisa mencari tuan Nan untuk membalas mereka dan akan hidup bersamanya."
Mendengar nama tuan Nan disebut membuat egonya meledak. "TIDAK! Uda yang akan mengurusnya! Baik, jika ini kemauanmu. Akan uda penuhi keinginanmu. Setialah, saat uda sudah menyelesaikan semuanya."
"Jika hanya setia, sampai kinipun aku masih setia pada Uda. Jika aku tak setia aku mungkin sudah memilih Nansen jauh hari." Anitha sengaja menyebut nama tuan Nan untuk membakar api cemburu Sahrul yang pada dasarnya suka cemburu.
Anitha memegang tangan Sahrul dan memintanya melepaskan dekapannya yang lebih seperti ikatan tali pada tubuh Anitha.
"Satu lagi, jika Uda memang berniat mencintaiku dengan tulus. Jangan minta hakmu sebagai suami di atas ranjang sampai hatiku pulih, setidaknya sampai Uda sudah membuktikan jika Uda akan membuat hidup mereka berdua seperti hari-hari yang aku jalani. Sungguh kini aku tak sanggup, masih terbayang diingatanku bagaimana Uda melampiaskan kekecewaan Uda melalui hubungan suami-istri. Mengingat itu badanku masih terasa perih apalagi hatiku." Anitha memainkan dialog akhir dari babak sandiwaranya. Dulu iya dia merasa begitu. Namun sejak dia memutuskan membalas dengan tangannya sendiri, Anitha mengobati luka hatinya melalui Sahrul sendiri.
"Baik, tapi biarkan uda memelukmu. Uda sangat rindu. Nanti Uda akan mengontak Ajeng terlebih dahulu. Soal adik uda tidak payah, mereka hampir uda yang mendukung finansialnya. Tega dia buat begini padaku." Nadanya terdengar getir dan kecewa.
"Buktinya surat perceraiannya, dan aku yang akan mengambil dan memberikan pada adikmu."
"Iya, apapun akan uda turuti untuk menebus penderitaanmu karena mereka."
"Karenamu juga Uda. Kau memperlakukan Ajeng macam wanita tak berharga."
"Baiklah, aku ingin Ajeng dipecat dari kantornya. Aku ingin dia merasa kesulitan ketika tidak ada pekerjaan dan aku ingin dia dijual di sarang pela*ran," kata Anitha tanpa dia tahu Ajeng berprofesi ganda.
@@@
"Hahahaa sejak kapan kredibilitasmu menurun Jeff?" ejek tuan Nan. Mereka memutar ulang rekaman video saat mengintai Sahrul. Jeffy tidak bisa mengenali Sahrul.
"Memang yang mana dia?" tanya Jeffy.
"Hahahaha, aku tak sangka wanita itu benar Anitha yang jahil dulu. Kini dia benar penuh trik, penuh tipu daya." Tuan Nan masih setia dengan tawa berderainya. Lama sudah Jeffy tak lihat. Tepatnya sejak Anitha pergi.
"Kau senang karena sudah bertemu dan tahu dia di mana!"
"Pastinya itu Jeff, tapi aku lebih senang dia bisa menipu orang se profesional kau," kata tuan Nan kembali dengan tawa berderai.
Jeffy mulai panas, melihat tuan Nan hanya mengetawainya. "Tunjukkan padaku, apa memang ada di antara kerumunan itu.
Tuan Nan memutar ulang di mana saat dia melihat Anitha menghampiri Sahrul. Tuan Nan juga tak akan tahu jika tadi dia tidak melihat penampilan Anitha dan baju yang dipakainya yang membuat tuan Nan langsung menyadari.
__ADS_1
Tuan menekan tombol pause, "Apa kau masih mengenalinya?" Jeffy menelisik dan tak menyangka jika itu Anitha.
"Tenang saja. Kita sudah tahu dia di mana," tuan Nan berkata santai.
"Kau yakin dia tidak akan kabur lagi?"
"Aku yakin. Aku sudah mencari tahu barusan, karier dan gajinya bagus di perusahaan itu. Aku sangat yakin dia tak mungkin mengorbankan kariernya asal dia tidak merasa terancam olehku.
"Dulu kau juga yakin, nyatanya kau salah langkah," sindir Jeffy.
"Kita tidak tahu ada hikmah apa dibalik semua ini. Setidaknya dia jadi mandiri kembali. Dia juga tambah cantik, tambah modis. Walau aku sedikit tidak setuju dengan tubuhnya yang sedikit kurus." Tuan Nan menjabarkan isi hatinya.
"Haa? Sampai berat tubuhnya yang berkurangpun kau tahu?"
"Aku tak perlu menjawab pertanyaan konyol kau. Kini biarkan dia menyelesaikan urusannya yang tertunda. Aku akan melanjutkan rencana awalku, bukan mencari tahu masa lalunya lagi, tapi apa yang akan dia lakukan ke depannya. Kita pantau saja, dan bantu jika dia harus dibantu."
Jeffy tak habis pikir melihat sifat keras hati tuan Nan yang masih membiarkan Sahrul berkeliaran di dekat Anitha. "Kenapa kau yakin akan masa lalunya? Apa karena dia sudah bisa mendekati suaminya?"
"Kalau kau yakin, untuk apa kau tanya Jeff!"
"Kau sama seperti Anitha, untuk langsung menjawab tanpa bantahan saja susahnya minta ampun! Jeffy kesal, tuan Nan kembali tergelak.
"Aku ingin tahu Jeff, apa yang di rencanakan wanita boneka itu? Boneka berby yang cantik, " kata tuan Nan kembali tersenyum puas.
"Dia bukan boneka berby tapi Anabelle yang menyeramkan." Jeffy masih kesal mengingat dia pernah dimanfaatkan dan dilupakan begitu saja oleh Anitha.
"Hilangkan kesal hatimu, ayo kita cari dia," ajak tuan Nan gembira.
"Kau sudah mendapatkan nomor ponselnya?"
"Belum, karena aku besok setelah rapat baru akan meminta pada orang kantornya."
"Lalu bagaimana caranya? Tak ada petunjuk apapun!" Rutuk Jeffy.
"Makanya aku katakan, hilangkan panas hatimu. Biar pikiranmu jernih. Jika kau hanya orang biasa sudah aku pecat dirimu," ejek tuan Nan.
"Terus saja kau mengolokku."
"Lacak GPS ponsel Sahrul!" Perintah tuan Nan yang membuat Jeffy hanya memiringkan bibirnya. Otaknya beku gara-gara kesal yang menggebu.
__ADS_1
@@@