
Anitha mencoba untuk tidur dan memejamkan mata. Bukannya tidur, Anitha malah seakan terlempar ke masa lalu. Masa lalu yang awalnya begitu bahagia.
Hari ini hari sabtu, Anitha libur dari jadwal kampusnya. Anitha menjelajahi toko-toko bahan pakaian di pasar tradisional. Anitha dua kali mondar-mandir melihat sepintas saja bahan-bahan pakaian jadi yang dipajang di patung manekin. Lalu akhirnya Anitha masuk ke sebuah toko yang menurutnya nyaman.
"Hai, lagi cari apa? sapa satu suara ramah ketika Anitha sedang melihat-lihat di toko tekstil tersebut. Anitha ingin mencari bahan baju gamis.
"Uda karyawan di sini?" telisik Anitha melihat penampilannya yang berbeda dari yang lain.
"Tidak, kenapa?" katanya sambil melihat Anitha heran.
"Pantas, penampilan Uda terlalu mencolok sebagai karyawan," ucap Anitha tanpa memikirkan karyawan toko mendengarnya. Ternyata mulut Anitha memang tidak bisa di filter dari dulu.
"Sama seperti penampilan Adik yang mencolok di toko ini," ucap pria itu dengan nada gurauan.
"Ohhh ...." hanya itu yang di ucap Anitha dengan senyum manis. Senyum yang langsung memikat sang kumbang yang tak lain adalah Sahrul.
"Cari apa Dik, bisa uda bantu?" katanya tetap bercanda.
"Cari saja keperluan Uda. Jangan ganggu diriku," ucap Anitha tetap dengan manis. Sahrul tertawa.
"Uda, saya cari bahan baju yang lembut, tidak panas kalau dipakai. Namun bahannya jangan mencetak bentuk tubuh," Anitha bertanya pada karyawan toko. Anitha mendeskripsikan keinginannya. Anitha mengabaikan pria yang bernama Sahrul itu.
Anitha memang tidak paham dasar-dasar bahan baju. Baginya cukup enak dan nyaman dipakai. Keadaan finansial yang tidak terlalu kuat, juga harus membuat Anitha hidup hemat. Sudah bisa kuliah saja dia telah sangat bersyukur.
Sang karyawan toko memberikan bahan baju yang diinginkan Anitha. Anitha memegang dan merasakan bahan tersebut lembut.
"Ini permeter berapa Uda?" tanya Anitha.
"Biasanya 60ribu, namun hari ini Uda diskon jadi 40rb," ucap karyawan toko. Sahrul yang berdiri di samping Anitha sadar dia tiba-tiba penasaran terhadap Anitha.
"Jika Uda tidak merasa merugi dalam berdagang, saya mau yang ini," kata Anitha dengan manis.
"Boleh uda tahu namamu? Jika uda tahu, akan uda mintakan diskon separuh lagi untukmu," Sahrul berkata dan mulai melancarkan jurusnya.
Anitha pada dasarnya tidak suka di gombal, ia malah melancarkan serangannya secara halus. Ia berniat mengerjai pria tersebut. "Jika saya meminta Uda yang membayar semua untuk menukar sebuah nama saya bagaimana?" tantang Anitha iseng-iseng berhadiah. Dalam pemikiran dia hanya sebuah nama apa salahnya. Anitha juga bukan orang penting hanya rakyat biasa.
"Begitu juga boleh. Saya anggap begitu berharga nama yang ingin saya tahu," kata Sahrul sungguh-sungguh.
"Boleh, tapi jangan katakan kalau saya memanfaatkan keadaan. Ini kemauan Uda ya?" kata Anitha lembut. Siapa yang menolak diberi hanya untuk mengetahui sebuah nama. Apalagi orang yang ingin mengetahui namanya termasuk rupawan. Hanya gadis jual mahal yang akan menolak.
"Iya ini kemauan uda," jawab pria tersebut.
Lalu Anitha mengeluarkan dompet. Sahrul dan karyawan yang tak jauh dari Anitha memperhatikan apa yang diinginkan gadis tersebut mengeluarkan dompet. Anitha terlihat mengambil sebuah kartu yang ternyata tanda pengenal. Dia menunjukkan. Sahrul bisa melihat di sana sebuah nama 'Anitha Putri'.
__ADS_1
"Oke Uda, kini saya tidak berbohong soal nama saya bagaimana dengan Uda? Apakah jadi memberi bahan itu secara cuma-cuma pada saya?" tanya Anitha masih berniat iseng saja.
Sahrul semakin penasaran dengan gadis itu. Selain cantik, tata bahasanya teratur, sehingga memukau hati Sahrul. "Kenalkan nama uda, Sahrul."
Anitha menyambut dengan hangat jabat tangan Sahrul. Anitha gadis yang hangat. Dalam berteman dekat dia pemilih. Dia memilih yang satu pemikiran. Hal itu membuat dia hampir tak punya teman dekat.
"Berapa meter yang Anitha perlukan?" kata Sahrul dengan manis. Dia mulai melafazkan nama Anitha bukan beradik lagi.
"4 meter Uda, karena aku ingin membuat gamis."
"Ohh 4 meter ...."
"Kenapa dengan 4 meter Uda? Apa Uda menyesali mengetahui namaku?" sindir Anitha.
Sahrul pun tertawa. Tak menyangka dibalik sikap lembut, ternyata Anitha bermulut tajam. Kemudian Sahrul berkata, "Jangankan 4 meter, seluruh isi toko ini rela uda kasih, jika Anitha mau jadi istri uda."
"Maaf Uda, aku tak perlu. Aku hanya perlu kain 4 meter ini saja. Aku masih muda. Masih banyak yang aku cita-citakan selain hanya menjadi istri yang manis. Anitha menolak dengan bermain kata yang begitu manis di mata Sahrul yang semakin penasaran.
"Dek tolong kasih adik ini bahan kain 4 meter," pinta Sahrul pada karyawan toko tersebut.
"Boleh uda minta nomor ponselmu?" kata Sahrul akhirnya meminta lebih.
"Nomor ponsel bisa lebih mahal nilai hadiahnya Uda," jawab Anitha bercanda. Anitha pun memberikan nomor ponselnya tanpa meminta yang sama seperti Sahrul.
Sahrul hanya terpaku melihat Anitha yang mulai menjauh dari toko. Ya, Sahrul belum mencarikan pesanan ibunya.
Malam hari seakan tak ingin perburuannya lepas, Sahrul mulai dengan menelpon Anitha.
"Halo ...." jawab Anitha saat hanya melihat nomor tanpa id pemanggil. Terdengar suara bariton seorang pria yang tadi siang meminta nomor ponselnya. Anitha masih ingat suara itu.
"Halo Anitha, ini uda Sahrul."
"Ohhh Uda, ada apa?" ucap Anitha santai. Namun jauh di dasar hati dia sangat senang. Dia berguling-guling di kasur masih dengan ponsel di telinganya.
"Tak ada, uda hanya ingin kenal Anitha saja jika boleh," katanya tanpa ada memaksa.
"Ohh kirai mau meminta hadiahnya kembali," gurau Anitha.
"Hahaha ... tidaklah, uda hanya mau kenal. Anitha hadiah terindah bagi uda untuk bisa mengenal tadi siang. Boleh uda kenal Anitha?" tanyanya terdengar begitu gentle di indra pendengaran Anitha.
"Boleh Uda, tak ada undang-undang yang melarang," gurau Anitha lagi mampu membuat Sahrul terus terkekeh.
"Lagi apa?" tanya Sahrul ingin tahu.
__ADS_1
"Lagi terima telepon Uda," jawab Anitha bercanda. Sahrul kembali tertawa.
"Kamu bisa tidak serius jawabnya Tha," ucap Sahrul tanpa ada nada kesal.
"Lagi baring saja Uda," jawab Anitha akhirnya.
"Kamu apa kegiatan sekarang Tha?" nada yang santai terdengar akrab. Seakan keakraban itu telah terjalin sangat lama.
"Aku kuliah, Uda."
"Selain kuliah?"
"Aku menghajar anak tetangga."
"Menghajar? Mengajar maksud kamu?"
"Iya itu maksudnya. Tak mungkin aku menghajar anak tetangga Uda."
"Kamu ini ya, selalu jawabnya ngasal kalau ditanyai," jawab Sahrul lembut. Entahlah kalau diseberang sana wajahnya kesal. Anitha tidak ambil pusing.
"Uda marah?"
"Rugi uda marah sama wanita cantik, nanti gak jadi dapat kalau uda kejar," kalimat Sahrul mulai terdengar merayu.
Anitha yang tidak berpengalaman tentang pacaran, mulai merasa melayang dirayu Sahrul. Namun dia masih menjawab asal, "makanya lari yang kencang biar dapat."
"Boleh uda mengejar kamu, Tha? Ada yang marah tidak jika uda ingin mendapatkan?" kata Sahrul to the point. Sahrul seakan takut dia kalah selangkah dengan pria lain.
Hati Anitha jadi dag ... dig ... dug. Ini pengalaman pertamanya ditembak oleh pria yang lebih dewasa darinya. Selama ini yang mengucapkan suka hanya kawan sebayanya. Anitha selalu menolak dengan tegas dan mengatakan dia ingin prianya lebih dewasa darinya.
Kini dia menemukan pria itu. Pria yang sesuai dengan impiannya. Gayung Sahrul bersambut walau Anitha tidak melihatkan antusiasnya didekati Sahrul. Lama Anitha diam.
"Boleh tidak?" tanya Sahrul karena tak kunjung dapat jawaban.
"Boleh saja, masa niat orang dilarang," ucap Anitha memberi lampu hijau.
"Ok, beri uda kesempatan, besok boleh uda bertemu denganmu?"
"Ok, besok Anitha kabari ya."
"Okelah, terima kasih. Uda tunggu kabar besok ya ....
"Iya, kalau gitu boleh Anitha tutup telepon. Anitha mau tidur. Katanya beralasan. Padahal dia mulai menutup suaranya yang bergetar karena debar manis di hatinya.
__ADS_1
***