Upik Abu Jadi CEO

Upik Abu Jadi CEO
Bersatu dan Saling Menerima


__ADS_3

Seakan tak puas hanya dengan makan siang biasa, tuan Nan mengajak makan malam bersama di luar nanti malam, di restaurants mahal.


"Bagaimana kalau kita nanti malam, makan di luar?" saran tuan Nan. Dia ingin Anitha bisa sedikit melupakan kesedihan dengan ramai-ramai bersama berkumpul.


Ajeng dengan takut-takut berkata, "Saya boleh ikut tidak Pak?"


"Hmmm boleh tidaknya tanya sama temanmu ini."


Sejak tuan Nan melihat ketulusan Ajeng pada Anitha di saat Anitha tenggelam dalam duka nestapanya, tuan Nan mulai bersikap ramah pada Ajeng bahkan pada Sahrul dan keluarganya.


Baginya, orang-orang yang menyayangi istrinya adalah orang yang akan dia anggap juga.


"Boleh ya An?" kata dia dengan nada memelasnya. Dia tahu Anitha akan mengizinkannya.


"Boleh, tetapi tidak boleh bawa suamimu."


"Teganya kau An, kau akan bermesraan dengan suamimu, aku hanya bisa menonton bersama dua pria tampan ini?"


Ajeng dan dua orang kepercayaan tuan Nan telah dekat dan bertambah dekat sejak sebulan yang lalu.


"Iya boleh. Asal kau jaga suamimu tidak membuat suamiku cemburu," gurau Anitha.


"Makanya aku bilang kalian pasangan sakit!" Jeffy kembali menyerang Anitha dan tuan Nan.


"Pasangan sakit?" tanya Ajeng. Dia memang belum tahu apa maksud Jeffy.


"Iya, dia dan mantan istri Nansen berbaikan bahkan menganggap kakak pada mantan istri Nan. Sementara Nansen berbaikan pada suamimu yang jelas mantan suami Anitha. Berarti kau juga Jeng. Kau masuk daftar pada pasangan sakit jiwa." Olok Jeffy puas.


"Enak saja kau Pak. Aku mana ada sakit jiwa." Ajeng protes.


"Sebentar lagi bertambah Harri yang menjadi bagian keluarga dari pasangan sakit!" ucap Jeffy dengan tertawa lepas.


"Senang benar kau kelihatannya Jeff?" sindir tuan Nan.


"Aku memang sangat senang."


"Kau masih punya hutang penjelasan padaku dan yang lain!" kata tuan Nan tegas. Tuan Nan merasa sedikit kesal pada Jeffy yang begitu lihai menutupi statusnya.


"Iya, nanti malam aku cerita. Sekarang aku pamit. Aku ada urusan."


"Apa kau tidak perlu bantuan Jeff?" tanya tuan Nan.


"Tidak, kau tahukan, jika aku memang memerlukannya, aku tak sungkan padamu Nan."


"Baiklah, malam kau harus ada. Karena kau harus menjaga kami!" kata Anitha memaksa.


"Aku tahu tugasku Nona manja, jangan kau ragukan tugasku!" Jeffy membalas Anitha. Anitha hanya memberi cengirannya. Jeffy pamit begitu juga dengan yang lain.


"Dinda tidak ada pekerjaan lagikan siang ini?"


"Tidak."


"Bagaimana kalau kita cari pakaian untuk makan malam nanti. Kanda ingin Dinda terlihat lebih fresh dengan pakaian baru."


"Hmm boleh, ide bagus Kanda."


"Suka sayang?"


"Sangat suka." Binar bahagia terpancar di bola mata Anitha. Tuan Nan sangat bersyukur.


Anitha dengan cepat merapikan mejanya. "Ayo Kanda, kita pergi."


"Mari sayang." Tuan Nan meraih pinggang istrinya. Kecupan lembut juga mendarat di bibir istrinya yang bagaikan kuncup bunga baru merekah.


Di depan kantor Harri sudah stanbay. Mereka melesat ke sebuah butik kelas atas. Anitha mendapatkan apa yang diperlukannya. Setelah dapat apa yang dicari, Anitha meminta pulang.


"Kanda, tidak ada yang mau dicari lagi?"


"Tidak, kenapa?"


"Kita pulang ya. Aku merasa sedikit lelah."


"Ok. Apa yang tidak buat Dinda," kata tuan Nan dengan penuh godaan. Dia mengusap pelan bibir Anitha. Tuan Nan tidak peduli jika dilihat orang. Namun Anitha perduli.


"Ihh, malu kalau ada yang lihat," ucap Anitha mengkerucutkan bibirnya.


Setiba di rumah, "Nov, mommy ke mana?"


"Di kamar Bu."


"Ohh ok. Terima kasih."


Anitha menyusul ke kamar tamu. Anitha mengetuk pintu. Terdengar mommy meminta masuk.


"Sudah pulang sayang?"


"Iya Mom." Anitha memeluk mertuanya. Dulu dia juga selalu memeluk ibunya setiap pulang dari mana saja jika ibunya tidak lagi pulang kampung. Dia merasa bahagia ketika mommy-nya memutuskan tidak langsung kembali ke negara daddy-nya.


"Mom, nanti malam kanda Nansen mengajak kita makan malam di luar. Mommy maukan?"


"Bukan Mommy menolak Nak. Namun bagusnya kalian anak muda saja. Kamu tahukan, mommy orangnya seriusan. Mommy tidak akan bisa masuk jika kalian telah berkumpul."


Anitha paham pembawaan mommy-nya. "Jadi tidak apa Mommy kami tinggal?"


"Tak apa sayang. Mommy hanya ingin kau tidak banyak menangis lagi."


"Iya Mom. Insya Allah aku kuat. Ibu juga tidak akan suka aku bersedih terlalu dalam."


"Ya sudah istirahat sana. Nansen juga sudah pulang?"


"Iya Mom. Kanda tidak jadi ke kantornya. Kanda malah jadi cctv di kantorku." Mommy tersenyum hangat.


"Mommy sudah makan?"


"Sudah, jangan khawatir."


"Kapan daddy ke sini Mom?"


"Akhir pekan ini."


"Maaf untuk apa sayang?"


"Karena aku Mom dan daddy jadi susah. Mom terpaksa pisah-pisah sama daddy." Anitha merasa bersalah.


"Dengar baik-baik, bagi Mom semenjak kau masuk dalam keluarga Mom, kau sama dengan Narllye. Sudah biasa seorang anak menyusahkan ibunya."


"Aku menyesal, telah membalas Mom dengan mengerjai Mom dulu." Anitha memeluk manja mertuanya.


Ini juga yang dirasa berbeda dari Narllye oleh mommynya. Narllye kaku seperti dirinya dan Nansen. Kedua anak itu hampir tak pernah memeluk ibunya. Padahal semakin berumur, mommy-nya menginginkan pelukan. Itu juga alasan salah satu beliau ingin mempunyai cucu. Sementara Narllye sampai detik ini masih menolak untuk menikah.


"Mom malah tidak menyesal. Mengingat itu ada cerita tersendiri di hati Mom."


"Terima kasih kalau begitu Mom. Semoga aku bisa cepat memberi Mom seorang cucu."


"Iya, nanti jika hatimu sudah mantap. Coba saja program bayi tabung sesuai rencana kalian kemaren."


"Baiklah Mom. Aku kembali ke kamar dulu ya."


Anitha menuju ke kamarnya. Dia membasuh mukanya dan mengganti pakaiannya. Anitha mendekati tuan Nan yang bersantai di sofa. Anitha berbaring di pangkuan tuan Nan.


"Kanda ...."


"Hmm, ada apa?" jawab tuan Nan. Dia merapikan anak rambut Anitha. Menyelipkan satu tangannya ke sisi pinggang Anitha.


"Dinda ingin kita meneruskan program bayi tabung itu Kanda."


"Dinda sudah mantap?"


"Iya, memang kemaren teringat ibu jika akan meneruskan. Namun hidup harus berjalan Kanda."


"Baiklah kalau Dinda sudah siap. Kapan kita ke sana?"


"Coba besok Kanda telfon pihak rumah sakitnya. Minta jadwal ulang."

__ADS_1


"Baik sayang."


"Kalau bisa dalam minggu depan. Dinda tak ingin lagi membuang waktu."


"Oke, sekarang tidur dulu. Tadi bilangnya lelah."


"Kanda tak tidur?"


"Tidak. Ayo kita berbaring diranjang saja, biar badan Dinda tidak sakit-sakit." Anitha menurut.


Tak butuh waktu lama, dia jatuh tertidur. Tuan Nan menyelimuti sebatas pinggang saja. Perlahan dia turun dari tempat tidur. Dia menyusul mommy-nya.


"Mom, ada yang ingin aku bicarakan," kata tuan Nan di kamar mommy-nya.


"Tentang apa?"


"Daddy akhir pekan ke sini, Mom tahukan?"


"Iya."


"Daddy menelfonku. Menanyakan keadaan Anitha, apa telah baik-baik saja. Aku rasa daddy ingin membawa Mommy pulang kembali ke Swedia."


"Iya, daddy mengatakan pada mom. Tetapi mom belum tega meninggalkan Anitha."


"Coba mom tanya saja padanya. Tadi dia ingin melanjutkan bayi tabung itu. Aku rasa itu kesempatan Mom untuk kembali. Nanti kami kabari saja apa hasilnya. Bagaimana?"


"Coba besok mom cari waktu tepat. Mom memang kasihan lihat daddy-mu jika tak ada mom. Namun Anitha lebih butuh mom."


"Terima kasih Mom, sudah begitu sayang pada wanita yang aku cintai." Mommy tuan Nan mengangguk.


"Iyalah Mom, aku ke kamar ya. Ohh ya malam kami mau makan di luar. Kata Anitha Mom tak mau ikut."


"Anitha sudah katakan apa alasan mom?"


"Sudah."


"Pergilah, hibur dia. Dengan begitu kerinduan dia bisa sedikit terlupakan."


"Ok Mom."


Malam hari ... Anitha telah tampil cantik, dia dan tuan Nan pamit pada mommy mereka. Harri dan Jeffy telah menanti di mobil.


"Aku ingin tahu siapa istrimu?" tanya tuan Nan.


"Hahaha, kau begitu penasaran Nan."


"Bagus kau cerita di sini dari pada di desak istriku di tengah kakak ipar Harri." Anitha tertawa mendengar tuan Nan pandai menyindir Harri.


"Ya aku sudah menikah dua tahun lalu, saat kau masih sibuk mengejar si manja menyebalkan ini."


"Selama itu? Apa alasan kau tutupi?"


"Kau tahu, pekerjaan aku apa. Aku tak ingin mempunyai kelemahan dan menekanku. Apalagi istriku hanya wanita biasa dan sangat polos."


"Di mana kau mengenalnya?"


"Saat kau minta mengawasi Allea, aku tak sengaja menyenggol dia di parkiran bandara. Aku meminta maaf dan pandangan aku terpaku begitu saja. Aku bertanya dia dari mana mau ke mana."


"Lalu?"


"Aku terkejut dia mengatakan hanya ingin mengadu nasib ke ibu kota dan lari dari ayah tirinya."


"Lantas kau langsung nikahi?" tanya tuan Nan tak sabaran.


"Aku menjadikannya asisten rumah tanggaku."


Mereka mulai paham dan tidak bertanya lebih lanjut bagaimana mereka bisa menikah.


"Jadi kau sudah punya anak?" tanya Anitha.


"Belum."


***/


Seakan tak puas hanya dengan makan siang biasa, tuan Nan mengajak makan malam bersama di luar nanti malam, di restaurants mahal.


"Bagaimana kalau kita nanti malam, makan di luar?" saran tuan Nan. Dia ingin Anitha bisa sedikit melupakan kesedihan dengan ramai-ramai bersama berkumpul.


Ajeng dengan takut-takut berkata, "Saya boleh ikut tidak Pak?"


"Hmmm boleh tidaknya tanya sama temanmu ini."


Sejak tuan Nan melihat ketulusan Ajeng pada Anitha di saat Anitha tenggelam dalam duka nestapanya, tuan Nan mulai bersikap ramah pada Ajeng bahkan pada Sahrul dan keluarganya.


Baginya, orang-orang yang menyayangi istrinya adalah orang yang akan dia anggap juga.


"Boleh ya An?" kata dia dengan nada memelasnya. Dia tahu Anitha akan mengizinkannya.


"Boleh, tetapi tidak boleh bawa suamimu."


"Teganya kau An, kau akan bermesraan dengan suamimu, aku hanya bisa menonton bersama dua pria tampan ini?"


Ajeng dan dua orang kepercayaan tuan Nan telah dekat dan bertambah dekat sejak sebulan yang lalu.


"Iya boleh. Asal kau jaga suamimu tidak membuat suamiku cemburu," gurau Anitha.


"Makanya aku bilang kalian pasangan sakit!" Jeffy kembali menyerang Anitha dan tuan Nan.


"Pasangan sakit?" tanya Ajeng. Dia memang belum tahu apa maksud Jeffy.


"Iya, dia dan mantan istri Nansen berbaikan bahkan menganggap kakak pada mantan istri Nan. Sementara Nansen berbaikan pada suamimu yang jelas mantan suami Anitha. Berarti kau juga Jeng. Kau masuk daftar pada pasangan sakit jiwa." Olok Jeffy puas.


"Enak saja kau Pak. Aku mana ada sakit jiwa." Ajeng protes.


"Sebentar lagi bertambah Harri yang menjadi bagian keluarga dari pasangan sakit!" ucap Jeffy dengan tertawa lepas.


"Senang benar kau kelihatannya Jeff?" sindir tuan Nan.


"Aku memang sangat senang."


"Kau masih punya hutang penjelasan padaku dan yang lain!" kata tuan Nan tegas. Tuan Nan merasa sedikit kesal pada Jeffy yang begitu lihai menutupi statusnya.


"Iya, nanti malam aku cerita. Sekarang aku pamit. Aku ada urusan."


"Apa kau tidak perlu bantuan Jeff?" tanya tuan Nan.


"Tidak, kau tahukan, jika aku memang memerlukannya, aku tak sungkan padamu Nan."


"Baiklah, malam kau harus ada. Karena kau harus menjaga kami!" kata Anitha memaksa.


"Aku tahu tugasku Nona manja, jangan kau ragukan tugasku!" Jeffy membalas Anitha. Anitha hanya memberi cengirannya. Jeffy pamit begitu juga dengan yang lain.


"Dinda tidak ada pekerjaan lagikan siang ini?"


"Tidak."


"Bagaimana kalau kita cari pakaian untuk makan malam nanti. Kanda ingin Dinda terlihat lebih fresh dengan pakaian baru."


"Hmm boleh, ide bagus Kanda."


"Suka sayang?"


"Sangat suka." Binar bahagia terpancar di bola mata Anitha. Tuan Nan sangat bersyukur.


Anitha dengan cepat merapikan mejanya. "Ayo Kanda, kita pergi."


"Mari sayang." Tuan Nan meraih pinggang istrinya. Kecupan lembut juga mendarat di bibir istrinya yang bagaikan kuncup bunga baru merekah.


Di depan kantor Harri sudah stanbay. Mereka melesat ke sebuah butik kelas atas. Anitha mendapatkan apa yang diperlukannya. Setelah dapat apa yang dicari, Anitha meminta pulang.


"Kanda, tidak ada yang mau dicari lagi?"


"Tidak, kenapa?"

__ADS_1


"Kita pulang ya. Aku merasa sedikit lelah."


"Ok. Apa yang tidak buat Dinda," kata tuan Nan dengan penuh godaan. Dia mengusap pelan bibir Anitha. Tuan Nan tidak peduli jika dilihat orang. Namun Anitha perduli.


"Ihh, malu kalau ada yang lihat," ucap Anitha mengkerucutkan bibirnya.


Setiba di rumah, "Nov, mommy ke mana?"


"Di kamar Bu."


"Ohh ok. Terima kasih."


Anitha menyusul ke kamar tamu. Anitha mengetuk pintu. Terdengar mommy meminta masuk.


"Sudah pulang sayang?"


"Iya Mom." Anitha memeluk mertuanya. Dulu dia juga selalu memeluk ibunya setiap pulang dari mana saja jika ibunya tidak lagi pulang kampung. Dia merasa bahagia ketika mommy-nya memutuskan tidak langsung kembali ke negara daddy-nya.


"Mom, nanti malam kanda Nansen mengajak kita makan malam di luar. Mommy maukan?"


"Bukan Mommy menolak Nak. Namun bagusnya kalian anak muda saja. Kamu tahukan, mommy orangnya seriusan. Mommy tidak akan bisa masuk jika kalian telah berkumpul."


Anitha paham pembawaan mommy-nya. "Jadi tidak apa Mommy kami tinggal?"


"Tak apa sayang. Mommy hanya ingin kau tidak banyak menangis lagi."


"Iya Mom. Insya Allah aku kuat. Ibu juga tidak akan suka aku bersedih terlalu dalam."


"Ya sudah istirahat sana. Nansen juga sudah pulang?"


"Iya Mom. Kanda tidak jadi ke kantornya. Kanda malah jadi cctv di kantorku." Mommy tersenyum hangat.


"Mommy sudah makan?"


"Sudah, jangan khawatir."


"Kapan daddy ke sini Mom?"


"Akhir pekan ini."


"Maaf untuk apa sayang?"


"Karena aku Mom dan daddy jadi susah. Mom terpaksa pisah-pisah sama daddy." Anitha merasa bersalah.


"Dengar baik-baik, bagi Mom semenjak kau masuk dalam keluarga Mom, kau sama dengan Narllye. Sudah biasa seorang anak menyusahkan ibunya."


"Aku menyesal, telah membalas Mom dengan mengerjai Mom dulu." Anitha memeluk manja mertuanya.


Ini juga yang dirasa berbeda dari Narllye oleh mommynya. Narllye kaku seperti dirinya dan Nansen. Kedua anak itu hampir tak pernah memeluk ibunya. Padahal semakin berumur, mommy-nya menginginkan pelukan. Itu juga alasan salah satu beliau ingin mempunyai cucu. Sementara Narllye sampai detik ini masih menolak untuk menikah.


"Mom malah tidak menyesal. Mengingat itu ada cerita tersendiri di hati Mom."


"Terima kasih kalau begitu Mom. Semoga aku bisa cepat memberi Mom seorang cucu."


"Iya, nanti jika hatimu sudah mantap. Coba saja program bayi tabung sesuai rencana kalian kemaren."


"Baiklah Mom. Aku kembali ke kamar dulu ya."


Anitha menuju ke kamarnya. Dia membasuh mukanya dan mengganti pakaiannya. Anitha mendekati tuan Nan yang bersantai di sofa. Anitha berbaring di pangkuan tuan Nan.


"Kanda ...."


"Hmm, ada apa?" jawab tuan Nan. Dia merapikan anak rambut Anitha. Menyelipkan satu tangannya ke sisi pinggang Anitha.


"Dinda ingin kita meneruskan program bayi tabung itu Kanda."


"Dinda sudah mantap?"


"Iya, memang kemaren teringat ibu jika akan meneruskan. Namun hidup harus berjalan Kanda."


"Baiklah kalau Dinda sudah siap. Kapan kita ke sana?"


"Coba besok Kanda telfon pihak rumah sakitnya. Minta jadwal ulang."


"Baik sayang."


"Kalau bisa dalam minggu depan. Dinda tak ingin lagi membuang waktu."


"Oke, sekarang tidur dulu. Tadi bilangnya lelah."


"Kanda tak tidur?"


"Tidak. Ayo kita berbaring diranjang saja, biar badan Dinda tidak sakit-sakit." Anitha menurut.


Tak butuh waktu lama, dia jatuh tertidur. Tuan Nan menyelimuti sebatas pinggang saja. Perlahan dia turun dari tempat tidur. Dia menyusul mommy-nya.


"Mom, ada yang ingin aku bicarakan," kata tuan Nan di kamar mommy-nya.


"Tentang apa?"


"Daddy akhir pekan ke sini, Mom tahukan?"


"Iya."


"Daddy menelfonku. Menanyakan keadaan Anitha, apa telah baik-baik saja. Aku rasa daddy ingin membawa Mommy pulang kembali ke Swedia."


"Iya, daddy mengatakan pada mom. Tetapi mom belum tega meninggalkan Anitha."


"Coba mom tanya saja padanya. Tadi dia ingin melanjutkan bayi tabung itu. Aku rasa itu kesempatan Mom untuk kembali. Nanti kami kabari saja apa hasilnya. Bagaimana?"


"Coba besok mom cari waktu tepat. Mom memang kasihan lihat daddy-mu jika tak ada mom. Namun Anitha lebih butuh mom."


"Terima kasih Mom, sudah begitu sayang pada wanita yang aku cintai." Mommy tuan Nan mengangguk.


"Iyalah Mom, aku ke kamar ya. Ohh ya malam kami mau makan di luar. Kata Anitha Mom tak mau ikut."


"Anitha sudah katakan apa alasan mom?"


"Sudah."


"Pergilah, hibur dia. Dengan begitu kerinduan dia bisa sedikit terlupakan."


"Ok Mom."


Malam hari ... Anitha telah tampil cantik, dia dan tuan Nan pamit pada mommy mereka. Harri dan Jeffy telah menanti di mobil.


"Aku ingin tahu siapa istrimu?" tanya tuan Nan.


"Hahaha, kau begitu penasaran Nan."


"Bagus kau cerita di sini dari pada di desak istriku di tengah kakak ipar Harri." Anitha tertawa mendengar tuan Nan pandai menyindir Harri.


"Ya aku sudah menikah dua tahun lalu, saat kau masih sibuk mengejar si manja menyebalkan ini."


"Selama itu? Apa alasan kau tutupi?"


"Kau tahu, pekerjaan aku apa. Aku tak ingin mempunyai kelemahan dan menekanku. Apalagi istriku hanya wanita biasa dan sangat polos."


"Di mana kau mengenalnya?"


"Saat kau minta mengawasi Allea, aku tak sengaja menyenggol dia di parkiran bandara. Aku meminta maaf dan pandangan aku terpaku begitu saja. Aku bertanya dia dari mana mau ke mana."


"Lalu?"


"Aku terkejut dia mengatakan hanya ingin mengadu nasib ke ibu kota dan lari dari ayah tirinya."


"Lantas kau langsung nikahi?" tanya tuan Nan tak sabaran.


"Aku menjadikannya asisten rumah tanggaku."


Mereka mulai paham dan tidak bertanya lebih lanjut bagaimana mereka bisa menikah.


"Jadi kau sudah punya anak?" tanya Anitha.

__ADS_1


"Belum."


***/


__ADS_2