Upik Abu Jadi CEO

Upik Abu Jadi CEO
Anitha Memanggil Ajeng


__ADS_3

Tuan Nan telah berhasil menyusul dibantu Jeffy dan Harri. Dia bisa melihat dan mendengar apa yang dikatakan Anitha. Rasa sesal dan senang berpadu di hatinya melihat tangis dan sikap Anitha.


Dengan perlahan dia duduk di samping Anitha dengan dibantu Jeffy. Anitha menoleh menyadari ada seseorang di sampingnya.


Namun melihat suaminya, dia kembali membuang muka dengan kembali menunduk. Hatinya kesal.


"Siapa yang bodoh hmm?"


"Kanda!" ucapnya kesal. Tuan Nan tersenyum dan merengkuh Anitha. Anitha tak ingin menolak. Dia merasa sangat nyaman dengan pelukan suaminya.


"Jangan menangis lagi. Maafi kanda sudah mengerjai Dinda. Kanda hanya ingin tahu apa sikap cemburu dan posesif Dinda masih ada," ujar tuan Nan. Jeffy dan Harri mendengar jelas. Mereka berjaga hanya satu langkah di belakang tuan Nan dan Anitha dengan sikap waspada.


Bagaimanapun mereka terlalu berada di ruang terbuka. Jeffy tak ingin ada kejadian tragis lagi bagi pasangan yang sudah seperti saudaranya sendiri.


"Maksud Kanda?" Anitha menegakkan kepalanya dan memandang dalam pada suaminya.


Sesuatu perasaan hangat selalu berputar di perut tuan Nan jika melihat Anitha memandang dalam. Jika di kamar atau ruangan tertutup ingin tuan Nan menerkam dan memangsa Anitha.


"Sejak pertama kecemburuan yang Dinda perlihatkan, entah kenapa kanda sangat menyukainya dan membuat semangat sendiri dalam hidup kanda yang saat itu diperkirakan lumpuh untuk waktu tak ditentukan."


"Serius?"


"Iya serius," jawab tuan Nan. Dulu kala dia sangat kesal jika Anitha bertanya serius.


"Tetapi walau begitu, dinda tidak mau wanita lain menyentuh Kanda!" tegasnya kembali.


"Iya, oke kita minta yang lain ya."


"ehhhm baiklah."


Anitha ingin menghapus sisa air matanya, tetapi suami romantisnya telah duluan menyeka dengan ibu jarinya. Anitha tersenyum malu.


"Malukan menangis sendiri?" goda tuan Nan.


"Iya," jawab Anitha jujur. Membuat Jeffy dan Harri ikut tersenyum hangat.


"Ayo kita ke dalam, tadi kanda sudah minta carikan ganti."


Saat tuan Nan sedang terapi, Anitha duduk berdampingan dengan Jeffy.


"Tha, kau yakin mau membawa Ajeng bicara empat mata?" tanya Jeffy pelan, dengan tetap fokus memperhatikan ke tuan Nan.


"Iya Jeff, jika tidak berhasil juga, akan aku singkirkan dia selamanya dari hidupku."


"Tetap tanpa setahu Nansen?"


"Iya. Aku tak ingin manja tanpa alasan. Cukup dia fokus dengan kesehatannya. Urusan lain kau saja tolong bantu aku jika melenceng dari yang aku rencanakan."


"Oke lah Tha."


"Ada kabar terbaru tentang Sahrul," Jeffy menekankan suaranya.


"Aku sebenarnya tidak ingin tahu lagi. Akan tetapi mengingat dia sudah menunjukkan itikad baik untuk berubah, aku tak bisa mengabaikan dia begitu saja. Aku rasa suamiku juga paham. Hanya saja aku tak bisa katakan sekarang karena keadaan hatinya sekarang kurang baik."


"Ya kau benar, kita tak boleh menghukum seseorang karena satu kesalahannya. Korupsi yang dilakukannya berbeda dengan perasaannya merubah kesalahan dalam mencintaimu."


"Itulah yang aku pikirkan Jeff."

__ADS_1


"Dia sekarang terbaring di rumah sakit tahanan. Ada seseorang tahanan yang sakit hati karena dia banyak diam jika diajak berbicara."


"Ohhh," hanya itu ucapan Anitha. Hati kecilnya menjadi iba mendengarnya.


"Kenapa? Kau iba?"


"Iya, Sahrul yang aku kenal tidak seperti itu. Apa yang dipikirkannya ya."


"Apa karena ibunya?"


Belum sempat Anitha bertanya lanjut, terlihat tuan Nan dipapah ke arah mereka. Anitha menormalkan pandangan dan wajahnya.


"Sudah siap Kanda?" sambutnya dengan handuk kecil, dia mengusap dahi dan leher suaminya yang terdapat titik-titik peluh.


"Masih saja Anitha yang pandai menyimpan perasaan dan berakting seakan tidak apa-apa," batin Jeffy.


Mereka kembali ke mobil dan melesat pulang.


Di kamar ....


Anitha memberi teh jahe hangat yang dia seduh sendiri.


"Mau mandi? Biar segar?"


"Boleh, terima kasih ya sayang."


"Iya, sama-sama Kanda."


Setelah selesai mandi, Anitha meminta ART mengambilkan makan siang dan mengantarkan ke kamar. Dia kasihan melihat suaminya lelah. Anitha dengan telaten menyuapkan makan demi memanjakan suaminya.


"Dinda tak makan?"


"Siang-siang begini? Apa Dinda tidak lelah?"


"Tidak, ada urusan sedikit di kantor. Boleh?"


"Boleh asal tidak memaksakan keadaan dan tubuhmu."


"Tidak, sudah minum vitamin juga."


"Oke, tetapi usahakan jangan sampai magrib ya."


"Iya."


Anitha telah selesai menyuap suaminya. Diapun makan di dekat suaminya. Lalu istirahat sebentar di samping suaminya. Ketika jam menunjukkan pukul 2 siang, Anitha pamit pada tuan Nan.


Anitha juga pamit pada ibunya. Dia pergi dengan Jeffy yang telah menantinya di ruang tamu.


"Ayo Jeff."


"Kami berangkat ya Bu." Jeffy pamit pada ibu Anitha yang mengantar sampai pintu depan.


"Iya hati-hati."


Di mobil, mereka menyambung percakapan yang terputus di rumah sakit tadi. "Tadi kau mengatakan 'apa karena ibunya'. Ada apa dengan ibunya Jeff?"


"Ibunya sakit. Dia begitu ingin ketemu anaknya. Itu info yang aku tangkap."

__ADS_1


"Lalu, apa masalahnya sampai tidak bisa bertemu?"


"Sejak anaknya masuk penjara, keluarga tidak ada yang mau tahu lagi. Bahkan acuh tak acuh. Adiknya tidak bekerja. Mereka hidup dari belas kasihan tetangga."


"Ohhh, begitu pahit hidupnya dariku dulu."


"Aku bersyukur kau sudah berubah Tha. Tidak memupuk dendam. Jika masih penuh dendam kau pasti tertawa sekarang."


"Pastinya Jeff. Aku bisa saja membantu dengan keuanganku sendiri, tetapi aku tak ingin mengkhianati kepercayaan Nansen."


"Tak sia-sia Nansen memilihmu Tha."


"Terima kasih Jeff, tetapi aku juga manusia biasa. Punya kelemahan dan kesalahan."


Mereka terdiam dan Jeffy masih menyetir menuju perusahaan Anitha.


"Apa kau tidak cerita saja pada Nansen, jika kau merasa ingin membantu ibunya Sahrul."


"Aku memang pasti akan cerita Jeff, tetapi tunggu saat suamiku sedikit membaik dari krisis kepercayaan dirinya. Tetapi lihat nanti, jika ada waktu tepat aku akan bicarakan, sebelum terlambat dan aku menyesal tidak berbuat apa-apa."


"Bagusnya begitu Tha."


Anitha telah sampai, tujuan keperusahaan kali ini dia ingin menyelesaikan masalah pribadi dengan Ajeng. Dia tidak nyaman bekerja dengan sahabat yang masih saja menyimpan sakit hati padamu.


Anitha langsung menuju ruangan HRD. Dia mengetuk pintu dan masuk. Dia melihat Ajeng sedang fokus bekerja. Ada perasaan hangat di hatinya melihat Ajeng tetap serius dan fokus pada pekerjaannya.


"Maaf, bisa kita berbicara empat mata di ruangan saya Bu Ajeng?" Anitha sengaja menggunakan kalimat formal untuk meminta Ajeng mau mengikuti permintaannya.


"Baik Bu, saya secepatnya menyusul setelah membereskan ini," tunjuk Ajeng pada berkas-berkas di mejanya.


"Baik, saya tunggu di ruangan." Anitha memutar badan dan menutup pintu lalu menuju ruangannya.


"Ayo Jeff, atau kau ingin ketempat lain. Tidak usah cemaskan aku bersama Ajeng. Aku pemegang sabuk hitam sementara dia tidak sekalipun ada ilmu di sana. Jadi tenang saja, jangan mempersingkat hidupmu dengan beban fikiran."


"Mulutmu masih saja tajam, walau kau cengeng terakhir ini," balas Jeffy.


"Kau jangan memancing aku emosi ya Jeff," ancam Anitha.


"Kalau begitu aku tunggu kau di ruangan Nansen. Aku mau tidur sejenak."


"Baik begitu lebih bagus."


Anitha masuk ke ruangannya. Jeffy membuka pintu ruangan tuan Nan. Anitha duduk di kursinya. Dia menyandarkan punggung dan kepalanya di kursi eksekutifnya.


Anitha memejamkan matanya. Berapa kalipun dia mencoba mengabaikan cerita tentang ibunya Sahrul, hatinya tetap mencelos mengingat keadaan ibu mantan suaminya yang diberi makan dari belas kasihan tetangga. Hati kecilnya tak bisa terima.


"Maafkan aku ibu, aku sempat jahat dan membalas kejahatan kalian semua. Kini aku menyesal."


Anitha larut dalam lamunannya. Dia tidak sadar dan tidak mendengar Ajeng mengetuk pintu dan meminta izin masuk. Ajeng akhirnya membuka perlahan pintu ruangan Anitha. Ajeng melihat Anitha yang menyandar dan dengan mata terpejam.


"Apa yang dipikirkan wanita ini?"


"Permisi Bu."


Anitha dengan perlahan membuka mata yang terpejam namun bukan karena tidur. "Masuk." Dia menegakkan posisi badannya menjadi lurus.


"Silahkan duduk," kata Anitha dengan wibawa seorang pemilik perusahaan. Cukup membuat Ajeng merasa terperangkap dalam suasana canggung di hatinya sendiri.

__ADS_1


Ajeng menarik kursi dihadapan meja kerja Anitha. Dia bertanya, "Ada apa Ibu memanggil saya?"


***/


__ADS_2