
Rumah tuan Nan yang memang untuk mereka berdua pada akhirnya, kini menjadi rumah Anitha. Bukan Anitha yang meminta, tetapi tuan Nan. Tuan Nan meminta Anitha pindah dari kontrakan mungilnya. Tuan Nan memilih menyewa apartemen untuk sementara waktu.
Tuan Nan memikirkan untuk acara lamaran harusnya di rumah perempuan. Tuan Nan tidak ingin keluarga ayah-ibunya datang ke rumah kontrakan mungil Anitha.
Betapa Anitha terharu, ketika tuan Nan menyampaikan alasan itu. Tuan Nan mendapat pelukan sayang dan dihujani kecupan manis di pipi.
Rumah besar berlantai dua itu, terdiri dari 5 kamar tidur di lantai bawah dan hanya tiga kamar tidur di lantai atas. Kamar atas hanya untuk Anitha dan tuan Nan nantinya dan direncanakan untuk dua anak mereka.
Ibu Anitha memilih kamar tidur utama dilantai bawah, karena ibu merasa tidak sanggup bolak balik ke lantai atas. Di atas juga terdapat satu kamar kerja tuan Nan dan Anitha. Kamar yang sempat mereka debatkan karena Anitha ingin ruang kerja sendiri. Namun tuan Nan menolak tegas. Pasangan yang suka adu mulut ini sempat saling diam.
Anitha yang tepatnya mendiamkan tuan Nan. Anitha menimbang ucapan tuan Nan. Tuan Nan menginginkan ruang kerja yang sama karena dia tak ingin terlalu banyak memangkas waktu bersama mereka. Walau mereka sepakat sabtu-minggu adalah hari untuk keluarga yang tidak bisa di ganggu urusan pekerjaan, kecuali darurat.
Anitha akhirnya menyetujui setelah memikirkan ada benarnya perkataan tuan Nan. Apa guna kekayaan berlimpah, jika rumah tangga menjadi taruhannya. Tuan Nan yang dari dulu tidak mau diatur oleh waktu, tetapi dialah yang me-manage waktu. Dia mengelolah sebaik mungkin perencanaannya.
Minggu depan acara lamaran Anitha, semua sudah dipersiapkan sebaik mungkin oleh orang tua tuan Nan. Walau Anitha berkeras menikah setelah perusahaannya rampung.
Orang tua tuan Nan akan tiba dalam tiga hari. Kini Anitha punya waktu tiga hari untuk menunggu kedatangan calon mertuanya. Anitha menikmati dengan membawa ibunya ke salon kecantikan dan ke butik ternama di kota ini.
Anitha jahil sedang sibuk merilekskan pikiran dan tubuhnya, sementara tuan Nan sibuk mengurus perusahaan.
Keluar dari salon Anitha pergi ke butik lalu membawa ibunya makan. Anitha yang dulunya upik abu kini menjelma menjadi wanita berkelas. Anitha Sekali-sekali terlihat menyuapi ibunya. Air mata merembes ke pipi ibunya.
Anitha dengan tenang menyapu air mata ibunya, Anitha bertanya, "Apa ini air mata bahagia Bu? Atau aku ada salah menyakiti hati Ibu?"
"Kau tidak pernah menyakiti ibu Nak. Ibu hanya tidak menyangka, kau jauh bisa sukses seperti sekarang."
"Selain karena kegigihanku, semua berkat doa Ibu. Doa Ibu sanggup menembus pintu langit. Dari aku mulai mengerti apa yang ibu ucapkan, Ibu tidak pernah berkata buruk padaku. Tentunya ini juga tak lepas dari ketentuan yang di Atas Bu."
"Iya Nak, coba jika ayahmu masih ada. Beliau pasti akan senang melihat putri tunggalnya bisa sukses."
"Stttt, tak baik berkata begitu Ibu. Itu sama saja Ibu menyesali takdir Tuhan," ucap Anitha dengan lembut tanpa ada berniat menggurui ibunya.
"Nak ...." Ibu Anitha memanggil dan terlihat ragu-ragu.
"Ada apa Ibu?" Anitha lebih merapatkan tubuh pada ibunya. Mereka memang memilih duduk berdampingan di kafe mewah tersebut.
"Apa kau tidak malu mengenalkan aku pada orang banyak?" kata ibunya dengan terbata-bata.
"Pertanyaan tipe apa ini Ibu?" tanya Anitha dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
"Ibu tidak bisa mengikutimu. Ibu tidak bisa belajar menjadi bagian kelas atas Nak. Otak ibu tidak bisa lagi menyerap banyak. Ibu hanya ingin banyak mendekati diri pada Tuhan. Hanya itu sekarang yang bisa ibu lakukan.
"Ibu, dengar pintaku baik-baik. Aku berusaha keras untuk memanjat kelas, semua untuk Ibu. Aku ingin orang yang dulu menghina ayah-ibu, bisa melihat, anak seperti apa yang ibu lahirkan. Ibu tetap jadilah diri Ibu. Aku akan tetap bangga memperkenalkan pada siapa saja, bahwa wanita tua yang cantik ini ada ratu hatiku. Walau ratu hatiku ini kampungan, makan tidak bisa pakai pisau dan garpu. Hahaha." Anitha tertawa renyah mencium pipi ibunya.
"Kamu ya, selalu saja penuh olokkan. Kamu juga selalu menjahili Nansen."
"Ibu ... dia itu, jika tidak dijahili, wajahnya suka datar. Hanya ketika aku menjahili aku bisa melihat banyak ekspresi di wajah tampannya." Anitha mengedipkan kelopak mata.
"Walau datar dia hangat, dia juga sabar dengan sikapmu bahkan dia hampir selalu mengalah denganmu."
"Hmmm, yang bela calon menantu." Anitha mengucapkan dengan senyum manis. Anitha kembali menyuapkan ibunya dengan potongan steak daging panggang yang telah diirisnya.
Drttt ... drtttt ... handphone Anitha bergetar ketika mereka sedang asyik makan dan bercanda.
"Di mana sayang?" tanya tuan Nan dan Anitha menyebutkan posisinya.
"Tunggu di sana ya," kata tuan Nan cepat.
Anitha mendesah sedikit kesal. Lalu ibunya bertanya, "Kenapa seperti kesal begitu?"
"Aku heran lihatnya Bu, dia itu bukan anak remaja kemarin sore lagi. Namun mabuk cintanya tak lebih dari anak remaja." Anitha menyampaikan uneg-unegnya.
"Hmmm."
"Kaunya saja Nak yang kaku. Kau bilang mukanya datar. Andai pembawaan kau tidak jahil dan manja, kau jauh lebih kaku darinya. Kaku hati maksud ibu."
"Ibuuu ..."
"Apa dulu kau juga kaku hati begini dengan mantan suamimu? Maaf kalau ibu ingin tahu Nak."
"Tak apa Bu. Aku tidak ada beban lagi soal itu. Aku dulu tidak begitu Bu."
"Lalu kenapa dengan Nansen kau tidak bisa membuka hati sepenuhnya?" Ibunya mengambil momen ini untuk memuaskan rasa ingin tahu yang dipendam.
"Aku tidak ingin lagi mencintai siapapun dengan sepenuh hati Bu. Cukup aku cinta pada Ibu. Hanya ibu yang tidak akan menyakitiku kini."
Mendengar itu seperti ada serpihan kaca yang menyayat hati ibunya. Beliau tidak menyangka dibalik sikap manja dan jahil Anitha, dia membuat tirai tipis tak kasat mata di hati.
"Apakah kau yakin Nansen bisa menyakitimu, setelah semua yang dilakukannya?"
__ADS_1
"Aku tak tahu Bu, aku hanya menjaga hatiku agar tidak terluka kembali. Dulu Sahrul juga melakukan banyak hal untukku, nyatanya setelah dia mendapatkan aku, dia menorehkan luka selama 3 tahun," ucap Anitha menekan nyeri sesaatnya.
Walau akhirnya Anitha tahu apa alasan Sahrul berubah, namun tidak bisa menghilangkan bekas lukanya.
"Ibu tidak bisa memaksakan Nak. Kamu yang jalani dan kamu yang rasakan, namun cobalah menerima Nansen sepenuhnya.
Tuan Nansen membeku, dia sudah berada di belakang mereka di menit-menit pembahasan hati Anitha. Tuan Nansen tidak menyangka luka Anitha ternyata belum pulih. Bagi tuan Nansen, Anitha begitu mahir menyembunyikan luka hatinya dibalik sikap jahilnya.
Tuan Nan tidak ada niat mundur, dia justru bertekad dua kali lipat. Dia akan menaklukkan wanita berhati es ini. Tuan Nan akan membuat Anitha membakar tirai pembatas yang dia buat.
Tuan Nan tidak mungkin menyapa mereka dalam kondisi begini. Dengan perlahan dia memutar badan dan melangkah dengan tenang. Tuan Nan menjauh dari kafe tersebut. Tuan Nan kembali ke mobilnya.
"Mana mereka?" tanya Jeffy yang dijadikan supir pribadi oleh tuan Nan. Tuan Nan masuk dan bercerita pada Jeffy. Tuan nan tidak mungkin menutupi. Tuan Nan tak ingin Jeffy salah bicara. Dia meminta Jeffy seakan mereka baru datang.
"Kanda sudah di parkiran, mau di susul apa Dinda yang ke mobil bersama Ibu." Tuan Nan memutuskan menelfon.
"Emangnya Kanda tidak makan?"
"Tidak, kanda sudah makan siang di kantor bersama Jeffy."
"Oke, aku bayar dan keluar ya. Tunggu." Nada Anitha tak ada terlihat yang ganjil. Andai tuan Nan tidak sengaja mencuri dengar, tuan Nan tidak pernah tahu isi hati Anitha.
Tak lama terlihat Anitha berjalan keluar dengan menggandeng tangan ibunya. Melihat itu hati tuan Nan terenyuh. Dia hanya melihat sosok anak yang manja pada ibunya. Tak ada kesan arrogant, tak ada kesan terluka.
"Wanitamu hanya seperti gadis manja tanpa topeng kuatnya," bisik Jeffy. Jeffy juga menyadari.
"Aku akan terus memcintainya Jeff." Setelah berkata begitu, tuan Nan keluar dan menyambut ibu-anak tersebut.
Tuan Nan membukakan pintu depan. Ibu Anitha paham, beliau masuk dan duduk di samping Jeffy.
Anitha ikut masuk dan duduk di belakang berdua dengan tuan Nan. Tuan Nan dengan penuh perhatian juga membukakan pintu mobil untuk Anitha. Lalu dia memutari mobil dan ikut menghempaskan bokongnya di samping Anitha.
"Lihat Ibu, betapa tinggi dan berharganya Ibu di mata kami. Sehingga CEO besar yang turun tangan membukakan pintu mobil untuk ibu ratu. Ratu hatiku," ucap Anitha kembali membesarkan hati ibunya. Ibunya tersenyum penuh makna.
"Ada apa sayang?"
***/
Makasih doa-doanya ya. Maaf kalau terbitnya jadi tak teratur. Hati ini tetap ingin menulis 😍 tapi sementara tetap tak bisa up tiap hari sepertinya 🙏🙏😥
__ADS_1