
"Helmi, undur keberangkatan kita ke Singapura-malaysia dan batalkan schedule seminggu ke depan. Ada hal yang lebih penting yang harus saya urus.
"Baik Pak," jawab Helmi sedikit heran. Ini baru planning bosnya yang kacau. Bukan sedikit kerja yang harus dibatalkannya selama seminggu. Harus lembur menyusun ulang dan menggeser ulang schedule yang telah tertata rapi.
"Jangan Khawatir, nanti saya beri bonus lembur yang fantastis buatmu," ucap tuan Nan memberikan semangat pada sekretaris setianya.
"Jeff, kamu ke kantor ya setelah mengantarkan Anitha pulang, ada yang harus aku bicarakan padamu!" Nada penuh perintah tidak bisa di tawar atau dibawa bercanda oleh Jeffy.
"Ok Nan!"
Seminggu setelah penundaan semuanya, kini mereka telah berada di Changi Airport. Mereka berjalan beriringan dengan santai. Tidak terlihat seperti seorang CEO walau diiringi tiga bodyguard pilihan, Jeffy dan dua rekannya.
"Tuan orang kaya pelit ya?" bisik Anitha saat sudah di mobil.
"Hahaha, maksudmu?"
"Di novel yang aku baca, CEO-CEO selalu naik jet pribadi," ucap Anitha penasaran.
"Kamu kira murah biaya naik jet pribadi?"
"Emang Tuan gak punya jet pribadi?"
"Kamu kebiasaan, ditanya malah balik tanya."
"Loh tadi aku duluan yang tanya pada Tuan. Punya tidak?" tanya Anitha terkesan mendesak.
"Kalau saya bilang punya bagaimana? Mau kamu menjadi istri saya?"
"Hmmm saya cuma tanya, kalau punya syukur tak punya juga tak apa, yang penting Tuan punya uang banyak!" kata Anitha dan Jeffy sangat mendengarnya. Jeffy tersenyum karena tuan Nansen kalah berdebat dengannya.
"Saya naik jet hanya saat perlu saja, itupun jika saya dikejar waktu untuk urusan mendadak. Namun saya selalu merencanakan jauh hari. Jadi hampir tidak ada yang meleset dari rencana. Intinya saya naik jet pribadi jika saya perlu saja dan saya hanya menyewa. Saya tidak ingin membuang uang sampai triliunan hanya untuk sebuah benda yang tidak menghasilkan dolar kembali ataupun rupiah. Belum lagi perawatan yang mahal. Jadi kamu pahami, novel yang kamu baca itu hanya membuat kamu menghayal ketinggian!"
"Biar saja, tak bisa nyata ... menghayal saja jadilah!" sanggah Anitha tak mau kalah.
"Kamu mau menjadi nyata?"
"Pertanyaan kurang berbobot ah Tuan ini," ucap Anitha yang membuat Jeffy terbatuk.
"Lihat Jeff, di negara orang dia berani, apalagi di negaranya. Betapa mengerikan dia sebagai wanita," olok Tuan Nansen yang di balas Jeffy dengan anggukan.
"Siapa yang tak ingin mencoba naik jet pribadi Tuan. Saya juga manusia yang punya keinginan."
__ADS_1
"Oh, oke. Jika saya ada kunjungan ke Swedia, kita akan menggunakan jet pribadi. Untuk keamanan memang aman naik jet pribadi. Namun saya bukan pebisnis culas. Jadi saya tidak perlu was-was jika hanya naik pesawat umum.
"Ke Swedia Tuan?"
"Ya saya akan ada kunjungan ke sana. Saya lebih suka menyewa jet ke sana, supaya perjalanan nyaman. Saya akan membawa serta kamu nanti." Anitha tak memberi respon.
"Kenapa hanya diam? Apa ada yang mengganjal hatimu?" Begitu perhatian tuan Nan pada Anitha. Namun hati Anitha seakan membatu.
"Tak ada," jawab Anitha datar. Tiba-tiba kabut hitam seakan melingkupi diri Anitha. Anitha memandang jauh ke luar. Entah apa yang dia pikirkan. Tuan Nansen juga hanya bisa termenung melihat Anitha tiba-tiba seakan jauh untuk digapai. Tuan Nan yang kaya raya tak berdaya menggapai Anitha.
Mereka hanya berdiam diri, begitu juga Jeffy. Hingga mobil yang menjemput-antar mereka mulai memasuki sebuah hotel mewah di Singapura.
Anitha turun dan hanya diam membisu. Membuat tuan Nan dan Jeffy hanya diam membisu juga. Anitha terus mengikuti langkah tuan Nan yang sengaja di perpendek oleh tuan Nan agar Anitha tak kesulitan menyeimbangkan langkahnya.
Mereka telah sampai di lobi hotel. Walau tuan Nan berpenampilan pada umumnya. Beberapa pegawai hotel telah mengenal tuan Nan. Namun mereka tidak tahu siapa tuan Nan sebenarnya. Mereka hanya tahu tuan Nan tamu tetap di hotel mereka.
Jikapun ada yang membuat mereka sedikit heran adalah wanita yang berjalan di samping tuan Nan. Mereka tidak pernah melihat ada wanita di samping tamu vip-nya ini. Kini wanita cantik dengan wajah datar mengiringi langkahnya. Anitha tiba-tiba kehilangan semangat dan wajah cerianya menjadi datar.
Mereka terus berjalan menuju lift dan terus menuju kamar masing-masing. Jika dua Bodyguard dan Jeffy telah di kamarnya, tidak dengan tuan Nan. Tuan Nan mengikuti Anitha ke kamar.
"Apa kita sekamar Tuan?" tanya Anitha tanpa semangat.
"Tidak," jawab tuan Nan tanpa ada niat bercanda. Tuan Nan sangat tak nyaman melihat wajah Anitha yang tak bersemangat dan datar saja.
"Ada yang ingin saya bicarakan padamu. Apa kamu lelah?"
"Tidak juga Tuan."
"Apa kamu lapar?"
"Tidak Tuan, makanan yang diberikan di pesawat sudah membuat perut saya kenyang."
Anitha duduk di tepi ranjang. Tuan Nan masih berdiri dihadapan Anitha sambil memasukan kedua tangan di saku celananya. Lama dia menatap Anitha yang hanya menunduk. Tuan Nan mengembuskan napas. Lalu ikut duduk di tepi ranjang Anitha.
"Ada apa? Katakan saja!" tanya dan perintah tuan Nan tegas.
Anitha tiba-tiba tersentak. Dia sempat melamun hingga tak menyadari tuan Nan sudah ikut duduk di sampingnya.
"Ada apa!" Desak tuan Nan karena tak kunjung mendapat jawaban.
"Tak ada Tuan," elak Anitha berbohong dan tuan Nan sangat bisa melihatnya.
__ADS_1
"Jangan bohong, saya tak suka wanita pembohong!" ucap tuan Nan dingin. Anitha sadar itu peringatan baginya.
"Apa yang ingin tuan ketahui?" tanya Anitha yang cukup membuat tuan Nan melatih kesabaran.
"Ada apa kamu tidak semangat dan hanya memasang muka datar!" nada terucap masih sama tegas seperti sebelumnya.
"Jujur Tuan, aku tiba-tiba merasa tidak enak ketika di pesawat tadi. Hatiku berdebar tak menentu. Aku tiba-tiba gelisah." Anitha memutuskan jujur, berharap bisa membuat hati tenang dan menghindari kemarahan tuan Nansen.
"Oh, hanya itu?" tanya tuan Nan serius dan nadanya sedikit melunak.
"Iya hanya itu Tuan," kata Anitha jujur.
"Jika hanya itu, tenangkan hatimu. Jangan takut dan jangan risau. Apapun yang terjadi saya akan ada membantumu," jawab tuan Nan tulus. Anitha tiba-tiba merasa ada yang ingin pecah di dalam hatinya. Anitha menahan sekuat hatinya.
"Terima kasih Tuan," jawabnya tulus.
"Jika tak ada istirahatlah dulu, besok kita sudah mulai bekerja. Saya ingin kamu mulai belajar mengaplikasikan ilmu-ilmu semasa kamu kuliah."
"Baik Tuan," jawab Anitha.
"Saya tinggal," kata tuan Nan dan melangkah keluar dari kamar Anitha. Anitha hanya masih diam di tepi ranjangnya. Tanpa memandang tuan Nan. Anitha tidak ingin mengunci pintu dari dalam kamarnya. Hanya akan membiarkan tertutup otomatis jika tuan Nan menarik gagang pintu dari luar.
" Begitu tuan Nan keluar, Anitha menumpahkan keresahan di dadanya. Anitha menangis sambil memukul dada. Anitha merasa ada batu yang menghimpit dadanya. Sesak, itulah dia rasa. Anitha turun dari ranjang dan meluruh jatuh duduk bersimpuh di lantai.
"Aku sebenarnya kenapa? Apakah aku mulai tidak sehat, apa aku sakit ya Tuhan!! Aku hanya ingin menangis tanpa tahu apa yang aku tangisi Tuhan, aku kenapa??" katanya sambil terus menangis. Dadanya semakin sakit. Oksigen serasa semakin menipis di dalam rongga dada. Anitha ingin berteriak melampiaskan hati yang berdebar tak enak.
"Ibuuuu, tolong aku ibuuuu. Tolong anakmu ibu. Aku serasa mau gila ibu. Dadaku sakit ibu. Rasanya ada yang meremas jantung hatiku." Anitha bersimpuh di lantai dan terus memukul-mukul dada. raungan tangisnya tidak akan terdengar keluar kamar jika saja tuan Nan benar sudah menutup rapat pintu.
Anitha tak menyadari jika tuan Nan belum merapatkan pintu. Tuan Nan yang merasa tidak tenang melihat Anitha tak menjawab saat dia akan pamit keluar, memilih masih memegang gagang pintu dari luar tanpa merapatkan.
Tuan Nan mendengar semuanya begitu juga Jeffy yang tiba-tiba keluar saat tuan Nan keluar dari kamar dan menahan pintu tidak tertutup rapat. Tuan Nan langsung memberi kode Jeffy untuk diam dengan meletakkan jari telunjuk ke bibir. Tuan Nan juga melambaikan tangan memanggil Jeffy mendekat. Tuan Nan memberikan kode untuk mendengar apa yang terjadi di dalam kamar.
"Ayaaahhh, kenapa ayah begitu cepat meninggalkan aku dan ibu. Ayaaahh aku tidak kuat lagi menanggung beban ini. Jauh dari ibu membuat aku terpuruk Ayaaaahh. Ayaaahhh kembalilah padaku," jerit Anitha seperti kesetanan.
Jerit pilu Anitha yang kesetanan membuat tangan tuan Nan membeku di gagang pintu kamar hotel mewah tersebut. Tuan Nan mencengkram gagang pintu tersebut dengan begitu kuat. Tuan Nan dilema. Jeffy juga tak kalah terkejutnya dengan apa yang di dengarnya. Tidak disangkanya dibalik keceriaan dan sifat usil Anitha, memendam kesakitan begitu dalam.
Dua lelaki rupawan itu hanya bertahan di balik pintu. Mendengar raungan Anitha di kamar mewah itu. Hati tuan Nan begitu sakit mendengar tangisan Anitha. Tuan Nan tidak ingin salah langkah dan membuat Anitha semakin membangun dinding pembatas dengannya. Tuan Nan belum paham bagaimana Anitha sesungguhnya.
Suara Anitha yang meracau dalam tangisan tiba-tiba menghilang. Tuan Nan dan Jeffy saling bertukar pandang.
***
__ADS_1
Ayooo siapa yang tahu ke mana Anitha? 🧐