Upik Abu Jadi CEO

Upik Abu Jadi CEO
Berlarut dan Berhalusinasi.


__ADS_3

Sehari dua hari suasana hati Anitha tak kunjung membaik. Bahkan mertua dan iparnya telah kembali. Rasa bahagia karena kehadiran yang bernama Hannan Adreyan, membuat mereka tak ada yang berpikir jauh dengan sikap Anitha yang menjadi lebih pendiam.


Anitha dibantu baby sitter ketika tuan Nan sibuk mengurus bisnisnya. Tak ada yang peka akan keadaan Anitha yang makin memburuk. Walau untuk buah hati masih diberinya ASI. Anitha yang biasanya digelar si ratu lapar oleh Jeffy, kini dia selalu kesulitan untuk makan.


Bi Ratih ataupun Nova selalu memaksa makan. Bi Ratih tak ingin pasokan ASI untuk Hannan berkurang. Hannan termasuk kuat dalam menyesap ASI.


Lima minggu lebih sudah Hannan lahir ke dunia ini. Tuan Nan selalu berpesan untuk memperhatikan Anitha pada Bi Ratih yang di tuakan diantara para ART tuan Nan ketika hendak pergi ke kantor.


"Nov, kamu antar makanan bu Anitha ya. Kalau perlu kamu tunggui ibu makan, itu pesan tuan." Bi Ratih mengingatkan Nova. Anitha sering tak menyentuh makanannya ketika hanya ditinggal di kamarnya.


"Baik Mbok." Nova menjawab hormat pada wanita paruh baya tersebut.


Nova mengetuk pintu, tak ada jawaban. Nova merapatkan telinga ke daun pintu kamar Anitha. Dia mendengar suara Anitha berkata samar-samar. Nova menajamkan pendengarannya.


"Ibu lihatlah, dia tampan bukan? Matanya sangat bulat sepertiku. Namun pupil matanya hampir seperti papanya."


Nova penasaran, dengan siapa majikan perempuannya berbicara. Tanpa memikirkan dikatakan kurang etika. Nova membuka pelan pintu kamar Anitha.


"Prraang ... Ibuuuu!!" Bunyi pecahan piring dari hasil nampan yang di lemparkan begitu saja di susul teriakan lantang Nova membuat bi Ratih dan Marta menyusul dengan berlari sebisanya.


"Oeeek ... oeeeekkk ...." tangis Hannan pun terdengar. Baby sitter yang tadinya telah menidurkan Hannan terkejut.


Baru 10 menit lalu Hannan ditinggal di kamar Anitha. Tuan Nan tidak mengizinkan bayinya tidur terpisah menjelang satu tahun usianya. Dia meletakan box bayi di kamarnya dan jika tidur malam akan diletakan diantara mereka.


Mereka terpana untuk beberapa saat, penampilan Anitha yang biasanya rapi terlihat berantakan. Akan tetapi yang lebih membuat mereka histeris keadaan bayi yang terletak di lantai kamarnya, walau memakai karpet.


Baby sitter cepat berlari mengambil Hannan dan membawa keluar kamar Anitha. Bi Ratih memeluk Anitha sambil menenangkan Anitha. Bi Ratih semakin yakin jika Anitha bermasalah. Tetapi dia tidak paham apa nama permasalahan yang di alami Anitha.


"Tenang Nak, tenang. Ada apa?" Bi Ratih yang memang diminta Anitha dari awal memanggilnya nama saja.

__ADS_1


Anitha telah bercucuran air mata. Dia berkata, "Ibuku hanya ingin mengendong cucunya Bik, tetapi tidak ada yang memberinya izin. Bahkan suamiku lebih percaya pada wanita muda itu untuk mengurusnya! Coba bibi lihat ... wanita muda itu bahkan melarikan anakku sendiri!"


"Lihat ibuku Bik, beliau kini menangis!" tunjuk Anitha ke arah tempat bayi tadi terletak.


Dhuaaaarrr .... seperti ada ledakan bom atom meledak di sekitar tuan Nan yang berdiri membeku di pintu kamarnya yang terbuka lebar.


Tuan Nan tadi turun dari mobilnya dengan gesit dan menapak ke dalam pintu rumahnya bersama Jeffy. Ketika akan memasuki gerbang dia melihat ponselnya bergetar dan melihat id pemanggil dari rumahnya.


Dia mengangkat, Nova dengan singkat memintanya pulang dan mengatakan Anitha dalam keadaan tidak baik-baik saja. Tuan Nan langsung berlari ke arah kamarnya tanpa memperdulikan bayinya yang terdengar menangis. Pikirannya fokus ke Anitha karena ucapan Nova tadi.


Dia melihat penampilan Anitha yang berantakan, melihat tangisan dan mata sembab istrinya. Namun yang membuat dia merasa kedua kakinya terpaku ke lantai bangunan rumahnya adalah kalimat Anitha yang di dengarnya dengan jelas begitu juga dengan Jeffy yang mengikuti tuan Nan atas permintaan tuan Nan di mobil tadi.


Jeffy tersadar lebih dahulu dari tuan Nan. "Nan atasi istrimu. Biar aku menelfon memanggil dokter pribadi kita," ucap Jeffy meremas bahu tuan Nan, menyalurkan kekuatan.


"Ingat, sabar. Kau telah berjanji mencintai dia apapun keadaannya dan tidak menyakiti hatinya!" ucap Jeffy lembut namun penuh ketegasan.


Tuan Nan tersadar dengan kata Jeffy, dia memang hampir naik darah mendengar kata-kata Anitha yang seperti orang sakit jiwa. Padahal besar kemungkinan istrinya memang hampir jatuh ke sakit jiwa. Kini istrinya semakin berlarut bahkan mulai berhalusinasi.


Tak ... takk ... tak .... Terdengar langkah kaki bersepatu mendekat ke arah Anitha dan Bi Ratih.


Melihat tuan Nan mendekat, Anitha merasa ketakutan. Tubuhnya gemetar di dalam pelukan bi Ratih. Bi Ratih tadinya berniat undur diri. Cekalan kuat Anitha di pinggangnya menahan gerakannya.


Anitha menyembunyikan mukanya ke dada wanita paruh baya tersebut. Badannya semakin gemetar.


Tuan Nan jongkok dengan menumpuhkan satu lututnya di karpet tebal tersebut. Jeffy telah menyusul ke kamar dan berdiri di belakang tuan Nan. Jeffy takut tuan Nan khilaf di selimuti panik dan kemarahan.


"Sayang ... lihat ke sini." Tuan Nan menyapa dengan hati-hati. Tangan besarnya mencoba menyentuh bahu Anitha yang masih di dalam peluakan Bi Ratih.


Tuan Nan kembali seakan ada bongkahan batu besar yang dihimpitkan ke dadanya, ketika merasakan penolakan dari rasa ketakutan istrinya. Terasa tubuh Anitha menegang dan bi Ratih lebih merasakan karena pelukan Anitha mengetat di pinggangnya.

__ADS_1


Tuan Nan melepaskan tangannya mengurangi rasa takut istrinya. Dia tertunduk sambil membuang napas pelan.


"Ufff, jadi ini jawaban dari sikap anehnya setelah melahirkan. Aku terlalu larut dengan bahagiaku tanpa aku menganalisis sikap aneh istriku."


"Sayang, dengar kanda ... kanda tak marah. Jika ada yang harus marah ... Dinda orang yang berhak marah. Kanda egois, tidak memikirkan perasaanmu." Terlihat mata tuan Nan berkaca-kaca. Walau dia belum tahu pastinya apa yang terjadi pada Anitha.


Namun perasaan tiba-tiba sakit melihat tangan dan badan istrinya yang jauh berkurang dari biasanya. Padahal tidak harus sedrastis itu penurunan berat badannya ketika siap melahirkan, dan itu terlewati oleh tuan Nan lima minggu ini.


Anitha mendengar suara bergetar dan lembut suaminya, mengangkat wajahnya dan mengintip takut-takut dari lengan bi Ratih. Sungguh hati tuan Nan teriris pedih, begitu juga dengan Jeffy yang tak habis pikir.


Tuan Nan mengulurkan kedua tangannya, persis seperti orang dewasa yang hendak membujuk anak kecil agar mau di peluk.


"Ke sini dekat kanda. Kanda rindu memelukmu. Bukankah semenjak bayi kita lahir kanda hampir tidak pernah memelukmu? Maafkan kanda yang mengabaikan hatimu."


Tuan Nan tak bisa menahan air matanya. Ini entah kali ke berapa dia menitikkan air mata untuk wanita yang berarti dalam hidupnya. Bagaimanapun hebatnya tuan Nan, dia juga hanya manusia biasa. Ada khilaf dan salah dalam bersikap.


Anitha semakin memperhatikan suaminya. Kepalanya semakin menyembul dari lengan bi Ratih. Anitha melihat air mata suaminya. Anitha merasa ketakutannya berkurang. Dia menoleh ke arah tempat dia mengatakan ibunya ada di sana.


Dalam penglihatan Anitha ibunya mengangguk. Tuan Nan dan Jeffy serta bi Ratih merasa miris melihat Anitha seakan melihat ada orang lain di sana.


Anitha melepaskan pelukannya dari bi Ratih. Seperti bayi yang baru pandai merangkak. Anitha merangkak menuju tuan Nan yang hanya dua kali rangkakan telah sampai dipelukan suaminya.


Tuan Nan cepat meraih Anitha dan merengkuh dengan erat dalam pelukannya. Air mata tuan Nan jatuh berderai dari bola mata abu-abunya. Mata yang biasa penuh makna dalam tatapan kini hanya ada tatapan terluka melihat istrinya.


***/


Ini tatapan kanda Anitha tidak penuh luka ya say 😂😍


Tatapan penuh luka aku gak punya 😂😂

__ADS_1



by pinterest.


__ADS_2