Upik Abu Jadi CEO

Upik Abu Jadi CEO
Penyesalan Terdalam


__ADS_3

Anitha sekali lagi harus berakhir di rumah sakit ketika dia sedang berada di luar negri. Anitha telah di tangani oleh tim medis profesional. Tak bisa dielakkan, kepala yang terbentur keras ke sisi dinding menimbulkan retak tulang tengkorak pada Anitha. Anitha mengalami fraktur terbuka, dimana kondisi cedera tulang tengkorak yang diikuti rusaknya kulit di tempat yang terbentur dan terjadinya retakan.


Anitha dinyatakan koma oleh dokter. Tuan Nan yang berdiri kokoh, langsung tersandar lemas ke dinding. Tuan Nan meremas rambutnya melepaskan semua emosinya. Jeffy memintanya duduk. Namun tuan Nan menepiskan tangan Jeffy.


Inilah penyesalan terdalam dalam hidupnya. Entah itu menyesal karena penolakan ibunya pada Anitha, atau kelemahannya yang mengikuti mau Anitha. Namun penyesalan terdalam tuan Nan adalah membawa Anitha ke negara ini.


Tak ada yang bisa dilakukan oleh para bodyguard dan Jeffy yang mendampingi tuan Nan di lorong rumah sakit. Mereka tak menyangka tuan Nan akan terpuruk begini.


Terdengar langkah yang berderap cepat dari langkah-langkah kaki. Akan tetapi bukan langkah tapak kaki orang-orang tuan Nan, juga bukan langkah kaki para dokter yang mengejar ruang ICU tempat Anitha di rawat. Langkah tersebut langkah dari orang Mommy dan Daddynya yang mengawal Mommy dan Daddynya.


Orang-orangnya Tuan Nan menunduk hormat. Tuan Nan sendiri tak mengetahui, dia tak memperdulikan sekelilingnya. Jeffy saja belum bisa mengajak tuan Nan berbicara. Dia akan menolak dan memaki siapa saja yang menyentuh dirinya atau memanggil namanya.


Dia hanya bisa menunduk sambil meremas rambutnya. Hatinya terus memanggil nama Anitha, meminta untuk bertahan dan kembali sadar.


"Nan .... sapa satu suara yang bergetar. Dia Mengenal sebagai ibunya. Namun suara itu semakin membuat dadanya sakit. Dia tak merespon panggilan ibunya.


Betapa hancur hati ibunya. Beliau tak pernah melihat anaknya dalam kondisi begitu terpuruk dan di bawah.


Ibunya memegang bahu anaknya dengan tangan yang sama bergetar seperti suaranya, "Nan ...."


"Jangan sentuh aku Mom. Hatiku semakin sakit dan ingin membenci dirimu." Begitu putus asa suara sang CEO besar. Nadanya juga terdengar dingin. Tuan Nan begitu ingin membenci ibunya.


Ayah tuan Nan, akhirnya membisikkan pada istrinya, "Biarkan dia dulu. Kita tak bisa menjangkaunya. Kita berdoa agar Anitha bisa sadar. Jika tidak, kau harus bersiap yang terburuk terjadi pada anakmu."


Ayah tuan Nan, melihat betapa hancur anaknya. Sebagai ayah, dia juga tidak bisa melakukan apa-apa untuk mengobati hati anaknya. Hanya ada dua kemungkinan, Anitha bangun dari komanya atau ketabahan anaknya sendiri yang bisa mengobati hatinya.


Ibunya ingin melihat Anitha, tetapi tuan Nan kembali menegahkan, "Tak perlu Mom melihat dia yang kini diantara hidup dan mati! Tak ada guna lagi bagi dia ataupun aku!" kata tuan Nan semakin dingin.


Ibunya berbalik badan dan menutup mukanya. Tangispun lolos dari wajah yang tak tampak keriput di usia yang mulai senja.


"Maafkan Mommy__"

__ADS_1


"Pergilah dari sini Mom, sebelum aku menjadi durhaka padamu! Jangan tambah kesengsaraan aku!" tuan Nan tak bisa menerima maaf ibunya.


Akhirnya ayah tuan Nan, membawa istrinya meninggalkan tempat itu dan pergi dari rumah sakit.


***


Di mobil, ayah tuan Nan bertanya, "Apa yang membuat kau tidak menerima dia dalam keluarga kita?" istrinya belum menjawab dan hanya bisa menangis penuh penyesalan.


"Apa kau lupa, aku yang keturunan bangsawan saja bisa menerima dia. Nansen anak lelaki, dia tak kehilangan kebangsawanan jika menikah dengan wanita biasa. Berbeda dengan anak perempuan kita. Narllye tak bisa." Suaminya dengan tenang meneruskan omongannya.


Dia tetap berbicara saat istrinya hanya menangis penuh penyesalan. "Apalagi wanita yang dibawanya tak terlihat sedikitpun dari kelas biasa. Kita sama tahu apa yang dia lakukan demi bisa sejajar dengan Nansen. Jika dibilang kecewa padamu, aku kecewa. Aku tak bisa mempermalukanmu dengan berkeras padamu saat menolak dia."


"Maafkan aku, aku masih kecewa Nansen menceraikan Allea. Kini Allea telah punya anak."


"Tak bisa kita mengaturnya. Lima tahun mereka hidup bersama. Hanya setahun Allea bisa mendapatkan. Berarti jodoh mereka tak mentakdirkan mereka bersatu lama."


Sekarang ibu tuan Nan hendak menyesalpun tak ada guna, Anitha kini berada antara hidup dan mati. Tuan Nan pun telah kehilangan gairah hidupnya.


Dua minggu sudah berlalu, dia hanya pulang ke hotel untuk mandi dan berganti baju. Selebihnya dia selalu menunggui Anitha. Dia terus menyapa dan memanggil Anitha. Seperti saat sore ini.


Ibu Anitha yang mendengarnya tak bisa membendung air matanya, setiap tuan Nan memanggil anaknya dengan berlinang air mata. Hancur hatinya melihat anaknya koma, lebih hancur tuan Nan dirasanya.


Beliau memang kini telah berada di negara ini. Sehari setelah Anitha dinyatakan koma, Jeffy meminta Harri menjemput ibunya. Jeffy tak ingin disesali terlalu dalam jika terjadi yang tak diinginkan. Jeffy juga tak bisa meninggalkan tuan Nan.


Awal kedatangan Harri menjemput beliau, Harri bercerita dengan hati-hati apa yang menimpa Anitha. Ibunya tidak terlalu terkejut. Ibunya telah mendapatkan firasat saat Anitha tak bisa dihubungi, sampai ke tuan Nan maupun Jeffy. Ibunya juga mendapatkan mimpi Anitha datang dengan tawa ceria meminta mengikutinya.


Ibunya termasuk wanita yang luar biasa tabah. Berat saat kehilangan suaminya, memang lebih berat membayangkan anaknya pergi selamanya. Namun dia bisa bertakwa dan bersabar, jika itu terjadi maka sudah jadi ketetapan yang di Atas. Tanpa dia mau menyalahkan siapapun.


Betapa terharu ibunya tuan Nansen ketika mendengar ibunya Anitha menasehati tuan Nan agar tidak menyalahkan diri sendiri maupun dirinya yang telah menolak Anitha.


Ibunya tuan Nansen telah meminta maaf dengan tulus pada ibu Anitha. Lagi-lagi wanita desa itu berlapang hati saat mendapatkan cerita lengkap. Tak sedikitpun beliau menyalahkan.

__ADS_1


Ibunya tuan Nan ikhlas dan sabar, kini tuan Nan tak mau menyapa sedikitpun. Hanya omongan ibu Anitha yang mau didengarnya. Ibu Anitha telah berulang kali dengan lembut mengatakan tidak baik memperlakukan ibu sendiri seperti sekarang. Namun tuan Nan masih menolak. Hatinya belum bisa menerima semua ini.


Jeffy tak bisa menyalahkan tuan Nan yang belum bisa menerima keadaan. Jeffy masih ingat bagaimana tuan Nan berubah saat Anitha lari. Enam bulan tuan Nan dirundung penyesalan atas sikapnya dan langkahnya yang salah dengan mempertemukan Anitha dan Sahrul. Hidupnya mulai tak teratur dan banyak pola kebiasaan berubah. Apalagi kini, Anitha berada dalam musibah besar, dan semua terjadi di depan matanya.


***


"Nan, makanlah dulu. Biar ibu yang menggantikan menunggui Anitha." Sapa ibunya Anitha siang hari ini.


"Tidak Bu, aku tidak lapar." Tuan Nan menolak halus.


"Dengarkan ibu Nak, ibu tahu kamu sedih. Akan tetapi pernahkah kau berpikir, jika Anitha melihat kau sakit, betapa dia akan sedih."


Tuan Nan memandang calon mertuanya. Tatapan lembut dan memelas, membuat hatinya tenang.


"Baiklah Bu, aku akan makan dulu." Tuan Nan pun pamit dan pergi keluar. Namun dia hanya duduk di luar kamar. Tanpa ada niat makan.


"Ibu sudah hampir lima hari di sini Nak. Kamu di mana. Apa kamu tidak rindu pada ibu? Pada Nan?" panggil ibunya. Ibunya yakin jika orang sedang koma, rohnya sedang keluar dan entah berada di mana. Bisa jadi sedang tersesat.


Ibu Anitha menyentuh wajah cantik anaknya yang pucat seperti mayat. Dia terus merapikan rambut Anitha yang pada dasarnya tidak berantakan. Tuan Nan paling rajin merapikan rambut Anitha sambil meminta bangun.


"Sayang, apa kamu tidak kasihan melihat Nan. Calon suamimu sudah seperti mayat hidup Nak. Ibu tak tega melihat dia menangisi kamu tiap hari. Begitu besar cintanya padamu Nak." Ibunya mencium pipi anaknya.


"Selama ini, kamu meminta ibu mendengarkan semua pintamu. Kini sekali ini saja, ibu minta sayang dengarkan ibu. Bangunlah Nak. Ibu tahu kau anak ibu yang baik. Apa kau tega sayang, seorang ibu dibenci anaknya karena dikira anaknya, dialah yang menyakitimu. Kau pasti tak suka jika itu terjadikan sayang. Kau kesayangan ibu, kesayangan ayah." Ibu Anitha terus mengajak Anitha bicara.


Tiba-tiba ibunya melihat satu bulir air mata jatuh dari pipi anaknya. Dia mengusap, dia kembali mengecup pipi anaknya. "Coba ibu lihat Nan dulu ya sayang. Ibu ingin memberi dia kabar."


Ibu Anitha melangkah keluar dari ruang ICU, mereka hanya di perbolehkan masuk satu demi satu. Walau kadang ada mereka masuk berdua dengan meminta pengertian dokter untuk memberi stimulus pada Anitha. Masih dengan mengikuti prosedur rumah sakit.


Ibu Anitha melihat tuan Nan dan ibunya di depan kamar ICU anaknya. Beliau mengatakan, "Nan,bawa ibumu menjumpai Anitha. Mungkin Anitha ingin mendengar suara ibumu. Anitha merespon melalui air matanya."


Tuan Nan yang berdiri di dekat pintu, memandang ibunya. Ingin hatinya berontak, namun dia tak ingin mengecewakan ibunya Anitha.

__ADS_1


"Ayo Mom, ibu wanita yang kau sakiti meminta kehadiranmu." Nadanya masih sangat dingin. Setidaknya dia telah mau menyapa.


***/


__ADS_2