
"Halo Mbak sayang," sapa Anitha melalui sambungan internasional.
"Halo sayang."
"Mbak punya banyak waktu tidak, untuk aku repotkan?" tanya Anitha merayu.
"Hahaha, kau sibuk ya sayang. Sedangkan pernikahanmu hanya hitungan minggu lagi."
"Hmmm pasti mbak Allea yang jadi informan?" Anitha bercerita ketika menjumpai Allea.
"Apa yang bisa mbak bantu?"
"Mbak, tolong aku carikan wedding organizer untuk resepsi. Mbak yang atur ya. Aku sama Nansen harus menghabiskan waktu lebih lama. Tidak mungkin aku menyusahkan ibu dan mertuaku Mbak."
"Jadi, kau lebih memilih aku yang tidak punya hubungan apa-apa?" kata Melly.
"Jangan begitulah Mbak. Kau orang baik kedua yang aku jumpai di Jakarta, setelah ayah-ibu angkat aku. Kau sudah dianggap kakak keduaku," Anitha menyuarakan rasa memelas yang dalam. Membuat Melly terkekeh.
"Jadi mantan madumu itu kau anggap kakak pertamamu?" gurau Melly.
"Maafkan aku Mbak, aku tak bisa menggeser dia jadi yang ke dua." Lagi-lagi guyonan konyol Anitha menuai tawa bagi Melly.
"Iya Mbak bantu, tapi kau harus bayar mahal untuk gaun yang harus dipercepat dari waktunya." Melly menjadikan lahan basah bagi bisnisnya.
"Aman untuk Mbak. Aku akan bayar mahal Mbak. Asal Mbak fokus pada acara aku. Jangan ada kesalahan sekecil apapun. Aku bisa malu sama relasi bisnis Nansen dan ayah mertuaku," pinta Anitha sungguh-sungguh.
Bagi Anitha, hanya Melly wanita yang dia percaya yang bisa membantunya.
"Oke, Mbak akan fokus pada acaramu. Kau tinggal pulang sehari mau pernikahan juga akan aman." Melly memberi janjinya.
"Makasih banyak ya Mbak. Kapan Mbak menikah dengan pak yudhis, aku akan menanggung separuh biaya pernikahan Mbak, itupun jika aku tambah kaya ya, hahaha." Anitha menjanjikan dengan manis dan pakai tanda kutip.
"Aku doakan."
"Ok, aku tutup telepon ya Mbak, terima kasih banyak. Aku sayang Mbak."
"Mbak tak sayang kamu," kata Melly.
"Teganya." Anitha memutuskan sambungan telepon dan melirik ketika mendengar langkah kaki mendekati meja kantornya. Siapa lagi kalau bukan Nansen yang telah setia menantinya di sofa.
__ADS_1
"Aman sayang?"
"Aman, apa yang tidak buat Anitha Putri."
"Sombong," jawab tuan Nan.
"Siapa gurunya?" Anitha menatap memuja pada tuan Nan.
"Ahhh hatiku meleleh melihat tatapan matanya." batinnya senang Senyum manisnya dia persembahkan buat wanita bonekanya.
Mereka akhirnya menghabiskan waktu lebih lama untuk mengurus dan membenah manajemen yang kacau.
Mereka juga telah merekrut staf teknologi yang baru juga mengganti direktur atas rekomendasi Liam Lee. Mereka memperbaiki sistem dan mengembangkan dengan bantuan informasi teknologi bayangan dari teman Anitha.
Anitha bukan melupakan jasa temannya. Dia menawarkan dengan gaji lebih tinggi, tetapi temannya tak ingin di kenal publik. Dia hanya mau dibalik layar. Anitha merekrut diam-diam untuk memantau perusahaan dia bahkan perusahaan tuan Nan.
Anitha sangat mengerti, jika temannya hanya hobi di dunia dia sendiri. Tuan Nan tidak lagi mencemburui siapa sosok teman Anitha. Dia percaya pada perasaan Anitha, yang punya segudang gelar dia beri. Mulai dari wanita boneka sampai wanita es. Satu yang nyata, Anitha adalah wanita tuan Nansen Adreyan.
***
Kini hari paling sakral telah sampai. Anitha telah di balut gaun yang cantik. Tuan Nan memang tidak memakai baju adat ibunya. Dia lebih suka melihat Anitha bergaun.
Ada yang berubah pada Anitha, Anitha memakai hijab. Suatu perubahan yang sangat besar yang akan dilihat oleh banyak orang yang mengenalnya. Ibunya juga sangat bersyukur, Anitha sehari akan menikah mengatakan pada ibunya akan mulai berubah.
Tuan Nan telah berhadapan dengan abang ayah Anitha sebagai wali nikah. Dua orang saksi dan penghulu.
Anitha di temani Melly dan Allea. Melly dan Allea memuji Anitha jauh tambah cantik dan berwibawa dalam hijab yang dikenakannya, walau bukan hijab syar'i.
Terdengar tuan Nan mengucapkan ijab kabul dan para yang hadir menjawab 'SAH'. Air mata haru hadir di pelupuk mata Anitha. Melly cepat mengusap pelan dengan tisu.
"Makasih Mbak, aku tak akan lupa dengan Mbak." Rasa haru menular pada Melly dan Allea. Mereka ingat bagaimana dulu Anitha hampir mengalami nasib tragis.
"Asal kamu gak amnesia, ya mana mungkin lupa sama kami," jawab Melly penuh canda mengurangi keharuan Anitha. Melly merasa Anitha sedikit gemetar. Anitha tersenyum simpul.
Melly dan Allea sambil membawa turun Anitha. Baby boy Allea bersama ayahnya.
Mereka mendudukkan Anitha di samping tuan Nan. Setelah semua proses dilalui mulai dari membaca sighat taklik sampai mencium tangan tuan Nan yang telah sah sebagai suami. Anitha dan tuan Nan saling sungkem pada ke dua ibu dan ayahnya.
"Semoga kau mendapatkan bahagia dunia akhirat ya Nak," ucap ibu Anitha saat memeluk anaknya.
__ADS_1
"Semoga kau menjadi suami dan ayah yang baik ya Nak. Mommy bersyukur kau bisa mendapatkan cinta sejatimu," ucap ibu tuan Nan saat memeluk anaknya.
"Terima kasih Mom." Tuan Nan sungkem ke ayahnya, dan mendapat pelukan hangat dan tepukan lembut di bahu.
Kini posisi itu bertukar. "Selamat ya Nak, semoga kau bisa berbahagia bersama putra mommy," ucap ibu tuan Nan memeluk erat menantunya.
"Terima kasih Mom, mau menerima aku sepenuh hati. Aku akan berbakti pada putra Mom."
Anitha lalu sungkem pada ayah tuan Nan. Ayah tuan Nan juga memeluk erat menantunya yang kini telah jadi mahramnya. "Semoga bahagia Nak, dan daddy berdoa, hanya maut yang memisahkan kalian.
"Thanks Daddy. Aku sayang Daddy seperti sayang pada ayahku yang telah kembali kepangkuan Ilahi. Terima kasih menerima aku apa adanya Dad." Anitha lama berada dalam pelukan sang daddy dalam derai air mata. Seakan dia ingin melepaskan semua penderitaan selama ini dipelukan seorang ayah.
Lalu berlanjut ke keluarga inti. Betapa syahdu prosesi sungkeman ini. Tidak hanya tuan Nan dan Anitha yang menitikkan air mata. Banyak keluarga dua belah pihak yang ikut menitikkan air mata dengan pikiran yang berbeda namun perasaan yang sama. Bahagia.
Mereka melaksanakan akad nikah di rumah. Resepsi telah di atur oleh wedding organizer yang diorganisir oleh Melly di sebuah gedung serbaguna.
Mereka akan melakukan resepsi dari jam 11 sampai jam 9 malam. Tuan Nan dan Anitha sepakat sekalian capek. Mereka tidak berniat untuk melakukan berhari bermalam. Setelah makan, iring-iringan pengantin berangkat ke gedung serbaguna di sebuah hotel mewah.
Sang raja dan ratu sehari telah duduk di singgasana kebesarannya. Didampingi kedua orang tua mereka.
Acara resepsi tidak terbilang mewah. Bagi pasangan kaya ini, resepsi pernikahan mereka bukan untuk ajang adu gengsi. Mereka hanya berniat mengadakan walimah untuk menunjukkan rasa syukur dan memberi tahu sedikit banyak pada khalayak ramai bahwa sudah terjadi akad nikah dan bahwa mereka telah sah sebagai suami istri.
Betapa mulia niat mereka dengan mendahulukan mengundang anak yatim dan panti asuhan di jam makan siang. Baru di jam dua ke atas untuk relasi bisnis yang tidak terlalu ramai mereka undang.
Tuan Nan tidak terlalu malang melintang dan berselancar ria di dunia maya. Tuan Nan terkesan tertutup dengan kehidupan pribadi.
Acara malam hanya untuk sahabat dan keluarga serta bagi siapa yang tidak sempat datang di sore hari. Boleh di katakan hanya acara bebas. Di mana pengantin tidak duduk lagi di kursi kebesaran.
Baju yang mereka gunakan hanya baju kemeja bagi tuan Nan dan gaun biasa saja bagi Anitha. Relasi bisnis ayah tuan Nan, justru banyak datang di malam hari. Mereka hanya para sahabat dekat ayah tuan Nan yang memang terkenal ramah. Berbeda dengan anaknya yang terkenal tidak terlalu suka bersosialisasi selain urusan bisnis.
Ketika jam 8 lewat tuan Nan dan Anitha pamit duluan ke kamar hotel yang telah di siapkan. Atas permintaan Anitha melalui Melly. Tuan Nan tak sampai hati melihat Anitha yang terlihat lelah, walau tak ada keluhan dari Anitha.
"Ehem ...." kata ayah tuan Nan, ketika mempelai pamit untuk istirahat.
***/
Satu sentuhan, satu pegangan untuk selamanya ...
I Love U Kanda Nansen Adreyan 😍
__ADS_1
Meleleh Dinda lihat Jamnya 😂😂