Upik Abu Jadi CEO

Upik Abu Jadi CEO
Kesedihan Dalam Diam


__ADS_3

Jenazah telah diturunkan ke liang lahat, tali kain kafan telah dibuka. Papan-papan liang lahat mulai disusun dan mereka mulai menimbun jenazah ibu Anitha. Lalu memasang nisan.


Setelah doa selesai dibaca, mulai satu persatu meninggalkan kuburan. Sedikit demi sedikit dan seiring waktu mereka akan melupakan saudari mereka yang terkubur.


Anitha dan beberapa keluarga dekat, masih terlihat bersimpuh di sisi kuburan yang masih sangat merah tanahnya. Tidak hanya Anitha yang begitu dalam dirundung kesedihan. Jeffy juga terlihat dalam menahan kesedihan.


Ingatannya kembali berputar sejak mengenal ibu Anitha dan sering bersama. Ditambah ingatan tentang ibunya yang juga telah pergi.


"Ayo Nak, kita pulang," ajak mak wo Anitha ketika dirasa telah cukup lama di sana.


Anitha hanya diam. Namun dia tetap bergerak ketika ditarik lembut tuan Nan. Anitha dipapah dalam berjalan. Pikirannya kosong. Dia larut dalam kesedihan walau hanya diam.


Tuan Nan merasa gelisah. Andai bisa memilih, dia lebih tenang jika melihat Anitha menangis dari pada diam dengan pandangan kosong.


Tiba di rumah. Anitha hanya duduk termenung di kamar ibunya. Dia memeluk selimut ibunya. Anitha meringkuk tanpa bisa bersuara. Baginya semua seperti mimpi baginya. Tanpa ada terbayang oleh Anitha ibunya akan pergi begitu saja.


Tuan Nan memberi ruang sedikit bagi Anitha. Dia membiarkan Anitha berdiam diri di kamar ibunya. Pintu kamar dibiarkan terbuka oleh tuan Nan. Dia hanya memantau.


Para pelayat masih berdatangan. Tuan Nan bersama keluarga Anitha yang menyambut, menggantikan Anitha.


"Apa kabar Kak?" tanya Raya pada Harri.


"Baik, kamu apa kabar?" Harri balik bertanya.


Raya dan ibunya langsung datang begitu mendengar kabar musibah ini. Raya bahkan mengabarkan pada Ajeng. Anitha tidak peduli lagi dengan ponselnya begitu mendapat kabar terakhir tentang ibunya. Ajeng dan Sahrul sampai esok harinya.


***


"Pak, turut berduka ya," sapa Ajeng dan Sahrul siang ini pada tuan Nan.


"Terima kasih ya."


"Maaf, Anitha masih di kamar ibu, Pak?" tanya Ajeng. Ajeng sudah mendapat kabar dari Raya, jika Anitha hanya diam. Bahkan makanpun disuap oleh tuan Nan.


"Iya, coba kamu sapa Jeng. Kalian sangat akrab. Mana tahu dia lebih bisa meluahkan hatinya padamu." Tuan Nan meminta dengan nada pelan. Tuan Nan juga terpukul melihat istrinya seperti patung hidup.


"Baik Pak, terima kasih."


Ajeng pamit pada Sahrul. Ajeng sengaja meninggalkan anak mereka pada ibu Sahrul.

__ADS_1


Ajeng masuk ke dalam kamar. Dia melihat Anitha berbaring memeluk selimut ibunya. Dengan pelan Ajeng mendekati ranjang dan duduk ditepinya.


Anitha tak terganggu dengan ranjang yang bergoyang saat Ajeng menduduki dengan pelan. Ajeng mengelus rambut Anitha.


"An ...." panggil Ajeng lembut. Tak ada respon dari Anitha.


"An, aku paham kesedihanmu. Tetapi, cobalah jangan larut. Apa ibumu akan senang jika melihat anak kesayangannya seperti ini?" Ajeng tetap meneruskan dengan pelan. Tangannya tetap mengelus rambut Anitha.


Ajeng kembali melanjutkan omongannya, terlepas Anitha mendengar atau tidak. "Tidakpun kau pikirkan tentang pak Nansen yang pasti sedih melihatmu begini. Coba kau pikirkan ibumu, andai beliau melihat kau seperti mayat hidup."


Pikiran Anitha yang kosong, sayup-sayup dia mendengar nama Nansen dan kata tentang ibunya. Omongan Ajeng, menembus ambang sadarnya.


Anitha membuka matanya dan menatap dalam penuh kesedihan pada Ajeng.


"Ajeng?" hanya satu kata itu yang sanggup dia ucapkan. Ajeng berusaha untuk tegar malah luruh melihat keadaan Anitha yang jauh berbeda.


Ajeng malah menangis terisak dan memeluk Anitha yang masih meringkuk di atas ranjang. Tangisan Ajeng dan air mata Ajeng yang membasahi pipinya dan mengalir ke leher Anitha, membuat Anitha merasa punya teman untuk menangis.


"Aku hanya rindu pada ibuku, rinduuu sekali," ucap Anitha bergetar dan pilu. Tangisnya mulai pecah.


"Jika rindu kirimlah doa, bacalah Al-fatihah."


Ajeng mengangkat tubuhnya dari Anitha. Dia membantu Anitha duduk. Dia kembali memeluk Anitha.


"Aku tahu, tetapi menangislah sekuatnya. Jangan ditahan begini. Ibu tak akan senang melihatnya." Ajeng kembali mendoktrin Anitha dengan kata 'ibu'.


Anitha akhirnya meraung penuh kepedihan. Ajeng hanya mengelus punggung dan rambut Anitha. Dia tak melarang dan tak mengajak berbicara lagi. Ajeng menguatkan Anitha melalui pelukan saja. Biarlah rasa sedih Anitha berteman dengan air matanya.


Tuan Nan ada di depan pintu kamar yang terbuka kecil. Dia bisa mendengar omongan Ajeng. Tuan Nan mulai bisa menerima dan mengerti persahabatan mereka.


Walau Anitha dan Ajeng telah kembali dekat dan bersahabat, tuan Nan tidak terlalu setuju di dalam hatinya. Dia selalu memantau Ajeng demi menjaga istrinya.


Kini tuan Nan paham. Ajeng dan Anitha memang dua sahabat sejati. Ada hal yang tidak bisa dilakukan tuan Nan tetapi bisa dilakukan Ajeng sebagai sesama wanita. Menemani dan menyelami hati sahabatnya, hati Anitha.


Tuan Nan kembali ke ruang tamu dan bergabung dengan Sahrul, Jeffy dan Harri. Tuan Nan tenang meninggalkan Anitha bersama Ajeng. Biarlah Ajeng menjadi teman berbaginya.


"Bagaimana Nan?" tanya Jeffy. Tuan Nan baru saja menghempas duduk disamping Jeffy.


"Mereka berdua saling tangis." Tuan Nan mengembuskan pelan napasnya. Melepaskan gundah hatinya dari kemarin melihat keadaan Anitha.

__ADS_1


"Baguslah, setidaknya sudah ada respon. Dari pada seperti patung hidup." Lanjut Jeffy.


Sahrul hanya menyimak tentang keadaan Anitha yang sudah dia tahu dari Ajeng ketika Raya memberikan kabar duka. Jauh di dasar hatinya, dia ingin menghibur Anitha. Namun dia tahu, itu semua sudah tak mungkin.


Ponsel di saku tuan Nan bergetar. Dia melihat panggilan dari ibunya.


"Sudah di Jakarta Mom?"


"Sudah Nan."


"Jika Mom lelah, istirahatlah di rumah dulu. Besok saja berangkat."


"Tidak, mom mau langsung ke sana. Bagaimana Anitha?"


"Di sedang bersama sahabat karibnya Bu. Dia kini menangis dipelukan sahabatnya," ujar tuan Nan.


"Baiklah, tunggu saja. Mom akan tetap ke sana hari ini."


"Aku tunggu Mom, hati__."


"Pak, Anitha pingsan." Terdengar teriakan panik Ajeng dari ruang tengah. Tuan Nan tak sempat meneruskan ataupun mematikan ponselnya. Dia dan yang lain bergegas ke kamar. Walau mereka hanya melihat sampai di pintu kamar saja.


"Ambil minyak angin di meja rias Jeng." Titah tuan Nan tenang. Ajeng bergegas mengambil dan bergegas juga memberikan pada tuan Nan.


Mereka menunggu. Tak sampai lima menit, Anitha membuka matanya. Bola mata sedihnya menangkap bayangan sosok suaminya. Jeffy dan Sahrul menarik napas lega tanpa sadar.


"Kanda, aku sangat merindukan ibu." Kembali tangisnya hadir, walau tidak sekuat bersama Ajeng.


"Iya," hanya itu yang bisa diucapkan tuan Nan. Ajeng dengan diam-diam meninggalkan mereka. Kembali ke ruang tamu dengan Sahrul dan lainnya.


"Bawa istirahat. Kanda akan menemani Dinda." Tuan Nan memberi air putih. Anitha meneguk.


Tuan Nan mendorong pelan Anitha dan membaringkan. "Tidurlah sebentar," ucap tuan Nan. Anitha menurut dan tak lama jatuh tertidur.


"Maafkan kanda sayang. Kanda terpaksa memberimu obat tidur ." Tuan Nan terus membelai rambut Anitha.


Lama tuan Nan menatap istrinya. Dia tak menyangka jalan hidup istrinya begitu penuh liku dan perjuangan.


Tuan Nan merasa sesak yang sama, dia tak menyangka ibu mertuanya pergi begitu saja. Ibu yang juga sangat dia sayangi. Air matanya hadir menemani mata tajamnya.

__ADS_1


Tuan Nan mengecup dahi Anitha. "Semoga engkau kuat sayang. Aku juga merasakan apa yang kau rasa. Ibumu wanita yang begitu baik dan lembut. Aku akan selalu ada untukmu. Walau apapun yang terjadi."


***/


__ADS_2