Upik Abu Jadi CEO

Upik Abu Jadi CEO
Mujur Belum Bisa Diraih


__ADS_3

Hari-hari Anitha kembali berjalan damai. Pasangan ini tak ingin berlarut dalam masalah. Intinya bagi Anitha dan tuan Nan komunikasi adalah obat yang manjur dalam menyelesaikan masalah.


Anitha memang wanita penurut. Namun dalam masalah-masalah tertentu dia sanggup berkeras dan menyampaikan pendapatnya.


"Ibu, seminggu lagi kita berangkat ya."


"Iya Nak, nanti tiga hari lagi ibu ke Jakarta." Dipenghujung telfon ibunya menyahut. Inilah kebahagiaan ibunya, beliau tetap tak bisa tanpa melihat kampung halamannya.


"Oke Ibu. Aku menanti ibu sepenuh hatiku." Anitha mengucapkan dengan nada penuh candaan. Mereka bercengkerama dengan penuh kebahagiaan. Anitha mengucapkan salam dan memutuskan sambungan telfon.


Jam makan siang datang, Ajengpun datang ke ruangan Anitha.


"Sibuk Bu?" goda Ajeng ketika melihat muka ceria Anitha.


"Tidak juga, ada apa Jeng?" Anitha bertanya serius.


"Makan siang di luar yuk. Suamimu tidak di kantorkan?"


"Tidak, boleh juga ayo."


Hari-hari dijalani dengan damai. Baik dengan keluarga maupun sahabat. Hidup Anitha terasa semakin lengkap jika ada anak dimilikinya.


Waktu keberangkatan ke Singapura hanya tinggal empat hari. Malang tak dapat ditolak, mujur belum dapat diraih bagi Anitha. Malam hari saat akan beranjak tidur, ponselnya berdering.


"Siapa sayang?" tanya tuan Nan. Tuan Nan telah berada di ranjang.


"Kakak ayah Kanda. Mak wo." Anitha melihat layar ponselnya di atas meja rias.


"Ohh, angkatlah dulu."


"Hallo An, ini mak wo."


"Iya, aku tahu Mak Wo. Apa kabar?"


"Kabar mak wo baik. Kamu bisa pulang besok pagi An? Ibumu di klinik."


Mendengar itu jantung Anitha langsung berdebar cepat. Badannya langsung terasa lemas. Anitha bersandar di dinding dekat meja riasnya.


"Ibu di klinik mak wo?" tanyanya tak percaya. Suaranya bergetar parau.


"Iya," jawab kakak ayah Anitha.


Tuan Nan mendengarnya. Tuan Nan meloncat bangun dari tempat tidur dan menuju Anitha. Dia membawa Anitha duduk di sofa. Tuan Nan memandang Anitha dan meminta ponsel Anitha dengan menengadahkan telapak tangannya. Anitha memberikan.


"Hallo Mak Wo, ini Nansen. Sakit apa ibu Mak Wo?"


"Tadi sore ibumu mengeluh sakit kepala. Lalu siap magrib tadi ibumu pingsan, mak wo dan tetangga melarikan ke klinik terdekat.

__ADS_1


"Lalu bagaimana keadaan ibu sekarang?"


"Ibu kalian masih belum sadar."


"Mak Wo, apa kami boleh menyusahkan sedikit?"


"Apa itu Nan? Jangan sungkan."


"Apa ibu tidak bisa dirujuk ke rumah sakit di kota?"


"Mak wo akan coba bicara dengan pihak klinik."


"Kabari bagaimananya Mak Wo, kami tunggu. Besok pagi kami akan berangkat ke sana."


Tuan Nan memutus sambungan dan menunggu kabar selanjutnya. Tuan Nan menoleh pada Anitha. Melihat Anitha hanya diam tanpa air mata. Tuan Nan meraih istrinya dan memeluk erat.


"Jeff, tolong urus tiket untuk kita berempat. Ibu Anitha masuk rumah sakit." Tuan Nan meletakan ponsel di nakas.


"Dinda takut Kanda ...."


"Sabar sayang, banyak berdoa. Kita akan terbang keberangkatan pertama besok pagi." Anitha hanya memandang kosong.


"Bagaimana Mak Wo?" tanya tuan Nan ketika ponsel Anitha kembali berdering.


"Kami akan mengurus pemindahan Ibu kalian, malam ini juga."


Tuan Nan lalu mengajak istrinya tidur. Anitha menurut. Lama dia berdoa di dalam hatinya. Dia merasa resah dalam pelukan tuan Nan. Suaminya terus mengusap kepalanya. Anitha merasa sedikit nyaman. Lelah dan sedih bersatu padu. Membawa dia jatuh tertidur.


Anitha tertidur meringkuk membelakangi dan dalam pelukan Tuan Nan. Tuan Nan mengecup bahu Anitha.


Jam 4 dini hari, tuan Nan tersentak. Tuan Nan mendengar ponsel pribadinya bergetar. Anitha masih terlelap. Tuan Nan menjangkau ponselnya di nakas yang tak jauh dari ranjangnya.


Terlihat id pemanggil dari ibu Anitha.


"Ya Bu," sapa tuan Nan begitu mengangkat ponselnya.


"Ini mak wo Nak." Tuan Nan mendengar suara kakak ayah Anitha bergetar dan serak.


"Ada apa Mak Wo?"


"Ibu kalian telah duluan. Mak Wo minta kau saja Nak yang sampaikan pada Anitha." Tuan Nan terpaku lama. Sesaat pikirannya terasa kosong. Hingga dua suara berbeda terdengar ditempat yang juga berbeda, memanggil kesadarannya.


"Nansen ... kau masih mendengar mak wo?"


"Siapa Kanda?"


Tuan Nan lebih fokus ke suara Anitha, ia menoleh dengan ponsel yang belum diputus dari seberang sana.

__ADS_1


"Mak wo sayang." Tuan Nan benar diambang keraguan. Apakah jujur atau menutupi keadaannya.


"Ibu kenapa?" Anitha seakan mendapatkan firasat tak enak.


"Mak wo, tunggu kami di sana ya. Kami berangkat pagi." Tuan Nan memutuskan menyelesaikan panggilan telfon terlebih dahulu.


Lalu dia duduk di samping Anitha yang menunggu jawabannya di tepi ranjang. Tuan Nan merengkuh erat istrinya. Dia berkata, "Sabar ya sayang. Kita berencana, Allah menentukan."


Anitha sudah paham ke mana maksud pembicaraan suaminya. Anitha merasa dunia yang dipijaknya bergoyang, bahkan langitpun terasa menghimpit dirinya.


Tak ada yang bisa dia katakan, selain air mata yang meluruh deras. Anitha tak percaya dengan semua ini. Baru kemarin dia masih bercanda dan berjanji akan pergi bersama ibunya. Kini suratan berkata lain.


"Ibu ... aku tak percaya, ibu pergi tanpa menungguku." Tangisnya semakin deras. Jika tak ingat kata ayah dan ibunya semasa dulu, ingin Anitha meratap pilu.


***


Anitha telah berada di samping jenazah ibunya. Dia membuka kain penutup kepala ibunya. Terlihat wajah tersenyum ibunya. Namun senyum itu dibalas Anitha dengan isak tangisan.


"Ibu ...." panggilnya dengan rapuhnya. Tangan halusnya membelai wajah ibunya. Anitha hanya bisa menatap samar. Pandangannya buram karena air mata. Walau air matanya tidak jatuh mengena jenazah ibunya. Dia sering mendengar mayat akan berat jika terkena air mata. Entah iya entah tidak Anitha hanya merekam ingatan masa kecilnya tentang hal itu.


Anitha berusaha begitu tegar, namun dia tidak kuat. Anitha jatuh pingsan di samping jenazah ibunya.


Anitha digendong tuan Nan dan dibaringkan di kamar. Kakak ayahnya memberikan minyak angin pada hidung Anitha. Tuan Nan juga membaluri perut dan punggung Anitha dengan minyak angin. Tak lama Anitha membuka matanya.


"Sabar ya sayang. Ibu juga tak akan senang melihat Dinda terlalu larut." Tuan Nan menyabarkan hati istrinya dan menguatkan. Anitha mengangguk.


"Bawa aku kedekat ibu Kanda."


Tuan Nan membantu istrinya kembali ke dekat jenazah ibunya.


Anitha ikut memandikan ibunya. Air matanya tak lagi mengalir. Bukan karena dia kuat. Namun air matanya telah jatuh ke dalam.


Setelah dikafani, Anitha mencium pipi ibunya untuk terakhir kalinya. Dia mencium pipi ibunya lama. Anitha selalu mencium pipi ibunya semasa hidup. Apalagi sejak ayahnya meninggal, ibunya paling bahagia hanya dengan mendapat ciuman dari Anitha, entah sekedar ucapan selamat pagi, atau ketika mereka berjalan bersama.


Sesibuk apapun Anitha, dia dan tuan Nan sering membawa ibunya makan di luar. Anitha dan tuan Nan terkadang bergantian menyuapi ibunya. Walau tak luput dari protesan ibunya mengatakan malu dilihat banyak orang.


Sepasang suami istri itu tidak peduli. Mereka tetap memanjakan ibunya di tengah orang ramai. Tuan Nan dan Anitha hanya berpikiran, ibu Anitha bagaimanapun merasa sepi karena tak ada suami lagi di sisinya.


"Ibu, aku pasti akan sangat merindukanmu. Doakan aku kuat Bu. Tertutup sudah pintu langit untukku Ibu. Tak ada lagi doa darimu Ibu." Anitha masih mencium dalam ibunya. Dia belum puas untuk melepaskan mukanya dari ibunya. Mereka menanti dengan tenang, karena Anitha tak menangis ataupun terdengar bersuara apalagi meratap.


"Sudah Nak?" tanya abang ibunya. Anitha memanggilnya 'mak odang".


"Iya Mak Dang. Baiklah." Anitha tak ingin juga ibunya diperlama urusan di atas dunia yang telah selesai.


Kini tandu di usung. Jenazah ibunya terbujur di dalam keranda. Anitha berjalan mengikuti iringan warga ke area pekuburan persukuan mereka.


***/

__ADS_1


__ADS_2