
Anitha yang terlelap sayup-sayup mendengar suara memanggilnya. Anitha membuka mata, dia melihat tuan Nan telah duduk di tepi ranjang dengan melipat satu kaki di atas ranjang, sedang satu kaki di biarkan menapak. Tuan Nan mengelus sayang pipi Anitha.
"Maaf Kanda, aku tidur lama. Sudah sorekah?" tanya Anitha melihat ke luar. Dia melihat hari masih begitu terik, walau kamar terasa adem karena Anitha menyalakan AC.
"Tidak sayang, hari masih siang. Kanda pulang karena tidak ada pekerjaan lebih Helmi bisa diandalkan."
"Ohh, Kanda sudah makan?" tanya Anitha masih dengan posisi malas untuk bangkit.
"Kanda sudah makan di kantor, justru kata Nova Dinda belum makan apapun." Begitu menentramkan mereka saling memberikan perhatian.
"Dinda akan makan sebentar lagi. Kanda mau istirahat atau menemani dinda makan?" tanya Anitha penuh harap. Walau dia tak berniat memaksa suaminya jika ingin istirahat.
Tuan Nan melihat harap istrinya, itu justru membuat dia senang. Kekayaan yang dia punya serasa tidak sebanding, jika istrinya tak mengharapkan dirinya. "Ayo, cuci muka. Kanda ganti baju dan akan menemani makan." Sambil berkata begitu, si tuan romantis tidak lupa mengecup istrinya, entah itu hanya sekedar punggung tangan Anitha.
Anitha bangkit dengan semangat, rasa lelah yang mendera telah berganti. "Makasih Kanda, i love u." Tuan Nan sangat sering mendengar kata cinta dari Anitha. Membuat hidupnya terasa lengkap.
Anitha masuk ke kamar mandinya. Di depan westafel kamar mandinya dia mencuci muka dan tetap menyikat giginya setelah bangun tidur walau tidur siang sekalipun. Dengan fresh dia keluar dan menuju meja riasnya. Dia menaburkan bedak putih ke wajahnya.
Tuan Nan yang telah menanti di pinggir ranjang, bangkit dan menuju ke Anitha. Tangan tuan Nan melingkar lembut di pinggang istrinya. "Ayo sayang kita isi energimu, sebelum kanda menyerapnya kembali." Tuan Nan kembali memberi sinyal.
"Kanda kira dinda semacam zat adiktif?" dia merajuk manja pada suaminya.
"Kanda rasa iya. Dinda membuat kanda seperti orang yang mengkonsumsi zat adiktif." Tuan Nan meluruskan omongnya.
"Hmmm memanglah ya." Mereka melangkah turun dan menuju ruang makan.
"Kalian sudah makan?" tanya Anitha hangat. Membuat dua ART muda, Nova dan Marta masih sering tertegun. Sejak menikah Anitha hampir tak pernah menampilkan wajah dingin. Anitha telah kembali menjadi hangat dan perhatian pada sekelilingnya.
"Di tanya nyonya kenapa malah bengong?" tanya tuan Nan datar.
"Ehh sudah tadi Bu. Tadi kami mau membangunkan Ibu takut mengganggu," kata Marta.
"Kalau belum ayo makan," Anitha walau dulunya dingin, tetap mengajak ART-nya makan satu meja. Anitha tak pernah merendahkan dan membedakan.
Hal itu yang membuat Nova dan Marta sayang dan hormat padanya. Anitha dan tuan Nan juga memenuhi kebutuhan keluarga mereka, sehingga mereka bisa fokus bekerja tanpa memikirkan keluarganya hidup dalam kekurangan.
"Makanlah sayang, setelah itu kita kembali ke kamar ya," bisik tuan Nan ketika Nova dan Marta menghilang dari ruang makan.
Anitha memakan hidangan dengan lahap. Dia tetap menyuap sesekali tuan Nan yang menerima suapan Anitha.
"Kanda, mau dinda buatkan susu hangat? Supaya juga berenergi?" ucap Anitha setelah menyelesaikan makannya. Tuan Nan tersenyum mendengar istrinya sama menginginkan lebih.
"Ide bagus."
__ADS_1
"Oke kalau begitu, Kanda duluan ke kamar ya. Biar dinda buat." Anitha sebisa mungkin membuatkan makan dan minum dari tangannya sendiri. Dia berpikir itu bisa menaklukkan hati seseorang dan mempunyai kedekatan tersendiri.
Anitha membawa segelas susu hangat ke kamar. Saat dia membuka pintu kamarnya, dia hanya bisa tersenyum samar. Bagaimana tidak, dia melihat suaminya sudah pasang badan dan telah bersembunyi di balik selimut hingga di pinggang. Anitha sudah terbayang apa kelakuan suaminya. Suami tercintanya baring dengan bersandar ke bantal yang di tumpuknya.
"Sini sayang, kita akan mencoba menghadirkan Nansen junior secepatnya."
"Ohhh jadi Anitha junior tidak di harap?" tanya Anitha dengan cemburunya.
"Kita buat Nansen junior dulu sayang, biar ada yang jaga adeknya. Seperti kanda yang jaga Narllye."
"Dinda saja tidak ada yang jaga, bisa juga hidup sebesar dan secantik ini," rengut Anitha.
"Okelah, apapun itu mari kita bertempur sayang. Apapun hasilnya akan kita sayangi sepenuh jiwa sepenuh raga." Tuan Nan mengalah dari pada jatah siangnya melayang karena induk berasnya merajuk.
"Baru suami sayang dinda kalau begitu, ayo minum dulu biar hangat," kedip mata Anitha menghadirkan gairah lebih pada tuan Nan.
Anitha menyodorkan segelas susu hangat di siang yang panas. Menyegarkan badan tuan Nan yang juga sedikit lelah. Namun obat lelahnya sangat mudah di dapat, cukup dia mereguk manis asmaranya bersama Anitha. Olahraga bersama istrinya adalah obat penawar penatnya. Ahhh tuan Nan, kau memang suami idaman banyak wanita di muka bumi.
***
Hari-hari Anitha memerankan istri yang baik. Tuan Nan sangat puas akan service-an istrinya. Baik di kasur dan di dapur. Namun di sumur Anitha tak pernah menyentuhnya. Boleh dibilang ART yang mengurus rumah. Anitha hanya fokus di kasur sedangkan dapur hanya saat-saat tertentu.
Setelah hampir sebulan berumah tangga, Anitha sudah terbiasa dengan rutinitas hubungan suami-istri. Sehingga tubuhnya tidak selemah awal-awal berumah tangga.
"Ajeng Rahayu ...." tertera satu nama di dalam data karyawan barunya bagian staff HRD.
"Hmmm, apa benar itu dia?" batin Anitha sambil menilik Laporan-laporan lain.
Anitha memang belum terlalu banyak dikenal oleh para karyawan. Anitha jarang ke kantor, selain jabatannya sebagai komisaris utama, dia juga pemilik perusahaan. Suaminya yang banyak berkontak dengan relasi dan karyawan.
Anitha memanggil sekretaris perusahaan. Seorang lelaki yang berusia 35 tahun bernama Farrendra.
Setelah Farrendra mengetuk pintu dan dipersilahkan masuk oleh Anitha. Farrendra bertanya dengan hormat. "Ada yang bisa saya kerjakan Bu?"
"Duduklah dulu." Anitha kembali jadi pribadi yang hangat. Tak ada lagi sikap dingin dan arogan.
Farrendra menarik kursi dihadapan Anitha dan mendaratkan bokongnya. Anitha bertanya, "Bisa saya minta data lengkap tentang staff HRD kita yang bernama 'Ajeng Rahayu'. Tanpa diketahui dia ataupun staff lain."
"Baik Bu, saya akan kembali dalam 15 menit." Farrendra pamit setelah Anitha mengangguk.
"Apa aku harus memaafkan dia?" gumam Anitha. Setelah mengancurkan karier Ajeng, tak ada niat Anitha memupuk dendamnya.
Seperti yang dijanjikan Farrendra, 15 menit kemudian dia kembali. Tak disangka-sangka, ternyata memang Ajeng sahabatnya.
__ADS_1
"Ok, terima kasih. Anda boleh kembali bekerja." Anitha mempersilakan sekretaris perusahaan kembali.
Anitha lalu menelfon suaminya dari jalur pribadi.
"Hallo Kanda, sibuk?" tanya Anitha lembut.
"Kenapa sayang? Apakah laporan ada yang janggal atau Dinda merindukan kanda?" tanya tuan Nan bercanda. Istrinya menelfon dari ponsel pribadi, berarti bukan sepenuhnya urusan perusahaan.
"Kalau dikatakan rindu, dinda selalu merindukan Kanda. Tetapi jika Kanda tidak sibuk, bisakah Kanda ke perusahaan ini dan ke ruangan dinda? Ada yang ingin dinda bahas dengan Kanda."
"Oke sayang, beri kanda waktu satu jam ya. Kanda akan ke sana," kata tuan Nan. Tuan Nan memang lagi di perusahaan multinasional-nya. Ada rapat dengan pemegang saham tadi pagi. Kini dia hanya memeriksa Laporan-laporan yang diajukan staf direksinya.
Itulah kesibukan tuan Nan sehari-hari. Di sini dia memeriksa laporan, di sana dia memberikan laporan. Tuan Nan yang memang pebisnis besar, tidak merasa kesulitan dengan urusan yang terbagi.
Sejam lebih sedikit, tuan Nan telah sampai di ruangan Anitha.
Ritual peluk dan kecupan tidak hilang, ketika mereka hanya berdua.
"Ada apa sayang?" tanya tuan Nan duduk di sofa. Anitha juga ikut di samping suaminya. Tangannya memegang berkas dan data Ajeng.
"Apa itu sayang?" tanya tuan Nan.
Anitha menyodorkan dan berkata, "Kanda tidak tahu jika ada nama Ajeng Rahayu?"
"Tahu, ada apa dengan nama itu?"
"Kanda lupa apa memang tidak pernah tahu dengan nama itu?" tanya Anitha pelan.
"Tidak tahu, tetapi tepatnya lupa mungkin. Ada apa sayang?"
"Dia wanita yang telah hendak menjualku dulu Kanda." Anitha menyampaikan dengan tenang. Seperti tidak pernah terjadi saja.
Tuan Nan menegang. Bagaimana bisa dia lupa dengan nama itu. Walau bukan dia yang merekrut karyawan baru saat itu. Namun dia yang memilih kandidat ketika perusahaan ini di dirikan.
Anitha bisa merasakan ketenangan tuan Nan yang telah berubah menjadi ketegangan. Anitha tak ingin suaminya merasa bersalah. Dia hanya ingin minta pendapat pada suaminya. Anitha hanya tak ingin salah melangkah. Seperti kata suaminya, dia selalu cepat menyimpulkan sesuatu dan memutuskan, tanpa pikir panjang, hanya sekedar mengikuti intuisinya. Kini intuisinya buntu.
"Kanda, dinda tak ada menyalahkan Kanda. Dinda paham dengan segala kesibukan Kanda. Dinda hanya ingin minta pendapat Kanda sebagai suami, bukan bos perusahaan. Awalnya dinda mau bahas di rumah, namun sedikit banyak menyangkut perusahaan juga. Maka dinda putuskan meminta Kanda ke sini. Apa yang sebaiknya dinda lakukan?" tanya Anitha serius.
Tuan Nan terlihat menimbang baik-buruknya. Anitha membiarkan suaminya berpikir baik-baik. Anitha juga tidak punya keputusan apapun. Dendamnya seakan menguap sejak dia mencintai tuan Nan. Hanya dia sedikit takut akankah Ajeng membuat kerusuhan di perusahaan.
"Apa kita pecat saja?" terdengar suara tuan Nan memecah lamunan Anitha.
***/
__ADS_1