Upik Abu Jadi CEO

Upik Abu Jadi CEO
Posisi Nyonya CEO


__ADS_3

Tuan Nansen dan Jeffy tak perlu bersusah payah melacak. Ponsel tuan Nan menerima notifikasi pesan masuk.


"Tuan mencariku? Ini nomor ponselku yang baru," Anitha mengirim pesan singkat pada tuan Nan dengan emot menjulurkan lidah.


Tak ada balasan, Anitha hanya tertawa kecil. Dia tidak yakin jika tuan Nan akan mengacuhkan dirinya.


"Perasaan sekali kamu, jika saya mencarimu!" Tuan Nan membalas setelah melihatkan pesan singkat Anitha.


Anitha lalu menelfon tuan Nan, sekali, dua kali tak diangkat. Anitha terus mengganggu tuan Nan.


"Apa Tuan sedang sibuk melacak aku di mana?" tanya Anitha dengan tawa merdunya.


"Tinggi sekali percaya dirimu," jawab tuan Nan.


"Aku menginap di hotel I, kamar 552. Supaya tuan tidak repot mencariku. Namun aku bersama seseorang. Aku harap Tuan tidak mengganggu apa yang sudah aku rencanakan jauh hari."


"Aku hanya ingin membahas sesuatu."


"Aku belum bisa, beri aku waktu."


"Baik jika itu maumu!" Tuan Nan sedikit kesal mendengar Anitha menolak terang-terangan.


"Aku menunggu kabarmu besok untuk urusan perusahaan, Tuan."


"Oke, bawa paspormu. Aku ingin menyelesaikan masalah yang kau buat dengan paspormu."


"Hahaha, baiklah Tuan, kau masih tetap baik hati. Sampai jumpa besok Tuan."


Tuan Nan meminta Jeffy putar arah pulang ke rumahnya. Walau dia yakin wanita yang dicintai sepenuh hati bisa menjaga dirinya. Hati yang penuh cinta tetaplah sebuah hati yang penuh cemburu. Tuan Nan membawa pulang rasa cemburunya.


@@@


"Pagi hari, kau tidak pergi training sayang?" tanya Sahrul lembut.


"Nanti, aku pergi jam satu siang. Aku ingin tiduran dulu. Apa Uda mau pergi?"


"Uda ke kantor pusat dulu, mungkin sampai sore. Setelah itu uda akan coba bertemu Ajeng, tak apakan?"


"Iya."


"Maksud Uda, semakin cepat semakin baik."


"Okelah. Main cantik ya Uda, jangan sampai dia mengendus rencana Uda."


Anitha memilih kembali berbaring. Dia menunggu kabar tuan Nan. Anitha lalu menelfon menanyakan kabar bapak angkatnya. Betapa Anitha terkejut mendapat kabar jika ibu angkatnya sudah meninggal.


Anitha bergegas mandi, dan mencari taksi menuju rumah bapak angkatnya yang telah pindah. Tak butuh waktu lama, Anitha menemukan rumah bapak angkatnya. Anitha menangis ketika berjumpa dengan bapak angkatnya. Anitha baru tahu ternyata ibu angkatnya sebelum meninggal terjatuh di kamar mandi dan kepalanya terbentur dinding kamar mandi.


"Pak, maafkan aku. Aku pergi begitu saja dari sini."


"Bapak ngerti Nak, pasti hari-hari yang kau jalani tidak mudah."


"Terima kasih Pak, terima kasih atas semua kebaikan dan pertolongan Bapak dan mendiang ibu."


Kematian istrinya sempat membuat pak Hasan down, sehingga pak Hasan berhenti membawa taksi dan kini hanya memulung. Hati Anitha teriris melihat keadaan bapak angkatnya. Anitha juga tahu dari cerita pak Hasan hanya Chacha yang mengirim pak Hasan uang belanja.

__ADS_1


Pak Hasan tidak mau di bawa pindah oleh Chaca. Anitha pamit saat tuan Nan memintanya ke kantor. Anitha meninggalkan sejumlah uang pada pak Hasan.


"Bapak tidak bisa menerimanya Nak, jumlahnya terlalu besar. Uang sebanyak itu bisa untuk biaya hidupmu," tolak beliau pada Anitha. Anitha memberikan separuh dari pinjamannya pada tuan Nan.


"Pak, Aku sudah bekerja di perusahaan yang lumayan besar. Gajiku, Alhamdulillah sangat memuaskan. Jangan tolak jika Bapak masih menganggapku anak." Rasa haru menyeruak di hati pak Hasan. Beliau menerimanya.


"Terima kasih Nak," ucapnya.


"Jangan berterima kasih padaku Pak. Aku memberi bukan untuk balas budi. Aku memberi karena aku juga sayang pada Bapak, sama seperti rasa sayangku buat Ayah." Air mata haru juga mengalir dari pelupuk mata Anitha.


"Bapak, baik-baik ya. Aku akan telfon Bapak lagi nanti. Aku minta jika ada apapun yang terjadi dan Bapak butuhkan, katakan. Jangan anggap aku orang lain. Aku pasti akan sedih jika itu terjadi.


"Iya Nak, iya."


Anitha memeluk pria yang mulai terlihat uzur begitu ditinggal mati istrinya. Anitha pamit dan menuju ke kantor tuan Nan.


@@@


"Bagaimana Pak?" tanya Anitha yang kini duduk berhadapan dengan tuan Nan.


"Oke, permintaanmu saya penuhi."


"Bukan permintaanku, tapi permintaan perusahaan Pak." Kata-kata Anitha membuat tuan Nan tersenyum simpul.


"Baiklah, tunggu sehari lagi. Kami akan menyiapkan draf kontraknya. Mintalah besok bos anda yang ke mari. Saya tak ingin berurusan dengan anak buahnya yang bisa saja kabur kapan saja," sindir tuan Nan. Anitha hanya memberi senyumnya.


"Ok, terima kasih Pak. Jika tidak ada yang diperbincangkan saya mohon undur diri," ucap Anitha dengan nada yang memancing tuan Nan.


"Siapa bilang saya tidak ingin berbincang dengan anda Nona Anitha," nada cemoohnya terdengar menutupi rasa rindu yang ada.


"Apa kita bicara sambil makan siang?"


"Hemm boleh juga. Sudah lama saya tidak makan dari uang Tuan." Anitha tertawa.


"Apa tidak sebaiknya sekali-sekali saya yang merasakan uang hasil keringat ART saya yang kabur tanpa saya ganggu?" Tuan Nan kembali menyindir Anitha.


"Baiklah Tuan, jom kita makan."


Mereka pergi berdua dan berjalan beriringan melalui lif khusus dan langsung ke basement tempat mobil tuan Nan di parkir. Harri sudah menanti di sana.


Tuan Nan membukakan pintu untuk Anitha, membuat Anitha merasa sedikit canggung. "Silahkan sayang," godanya. Anitha mendelik karena suaranya disengaja keras agar Harri mendengar.


Mobil melaju dengan perlahan, tuan Nan sudah memberi arahan agar Harri memperlambat laju mobilnya.


"Jadi mana paspormu?" Tuan Nan membentang telapak tangannya. Anitha tanpa banyak bicara membuka tasnya dan mengambil dokumen yang dibawanya berjaga-jaga jika diperlukan. Terbukti feeling-nya tepat.


"Ini Tuan." Anitha memberikan tanpa merasa bersalah.


"Kemana saja kamu?"


"Mencari hidup untuk bertahan hidup."


"Sampai kurus begini?"


Anitha tak percaya tuan Nan begitu perhatian. Sahrul saja tidak pernah sadar jika berat badannya susut. Anitha melirik tuan Nan, di tengah pikirannya yang mulai normal dan hati yang kosong, dia ingin mencari tahu apa benar tuannya mencintai seperti kata ibunya.

__ADS_1


Tuan Nan pura-pura tidak tahu arti lirikan Anitha. "Ada apa? Apa saya terlihat semakin rupawan?"


"Hmmm, masih suka Narsis."


"Kamu tidak ada menghubungi Allea?"


"Tidak, apa Tuan sudah mengabari jika aku kabur?"


"Sudah. Menyesal?"


"Sedikit, hilang sudah kesempatan untuk punya uang banyak, dan jadi nyonya CEO." Anitha berucap dengan canda.


Senyum tipis diberikan oleh tuan Nan. Dia berkata, "Posisi nyonya CEO masih terbuka lebar. Kini saya duda dan tanpa pacar."


"Tuan serius menceraikan nyonya?"


"Bukankah itu yang kalian berdua inginkan. Mau mengisi posisi nyonya CEO?"


"Tidak, saya lebih senang dan bahagia berjuang dengan tangan dan kakiku sendiri Tuan. Kepuasan yang saya dapat sangat berbeda."


Tuan Nan sekali lagi tak bisa memungkiri, Anitha begitu gigih dalam hidupnya. Tuan Nan berjanji akan ada untuk Anitha walau hanya dibalik layar saja. Tuan Nan tidak lagi mendesak Anitha. Dia memutuskan biar takdir yang menyatukan mereka jika mereka memang harus bersatu.


Sudah cukup baginya melihat wajah bahagia Anitha. Tuan Nan tak ingin memberikan luka jika dia keras hati dan memaksa kehendaknya.


"Kamu bahagia di sana?" Anitha menoleh mendengar pertanyaan tuan Nan yang setengah melamun.


"Aku bahagia Tuan, walau hidupku tidak seenak di dekat Tuan." Tuan Nan tidak tahan untuk tidak mengacak rambut Anitha mendengar jawaban Anitha yang penuh sindiran. Anitha merasa hatinya tiba-tiba berdebar.


Kini mereka duduk di sebuah resto.


"Perhatikan makananmu. Jangan sampai berakhir di rumah sakit, ketika suamimu ada di sini." Perhatian tuan Nan juga penuh sindiran.


Anitha hanya bisa meremas ujung bajunya. Walau dia yakin tuan Nan tahu, ada rasa tak nyaman saat tuan Nan mengatakan langsung. Tuan Nan tahu Anitha tak nyaman, dia menyesal menyudutkan Anitha.


"Maaf, sudahlah saya hanya bercanda."


"Jika kamu jujur saja, tak perlu kamu kabur dan membuat banyak orang menderita karenamu," ujar Tuan Nan mengalihkan perhatian Anitha.


"Aku belum mengenal Tuan, aku pikir tuan arrogant. Aku tiba-tiba tidak ingin terkurung dan menjadi tidak berarti apa-apa."


"Apa hanya itu alasanmu?" Tuan Nan menyelidiki.


"Aku yakin bukan hanya itu?" Tuan Nan kembali menyampaikan asumsinya ketika melihat keraguan di wajah Anitha.


Anitha masih diam. Tuan Nan terpaksa kembali buka suara. "Saya tidak akan ikut campur urusanmu. Saya hanya penasaran ketika tanpa angin kau kabur. Hanya itu saja!" Tuan Nan berkata datar.


Anitha menimbang, dia tahu rasanya penasaran. "Baiklah aku cerita. Saat ketemu dia di Singapura, mengingatkan aku pada semua lukaku. Aku tiba-tiba merasa tidak bisa terima perlakuan mereka denganku. Aku ingin balas dendam. Aku kembali penasaran apa yang membuat dia berubah drastis padaku. Jika aku tetap di sisi Tuan aku tidak bisa tahu dan tak berujung dalam penasaran. Aku berpikir cara terbaik adalah mendekatkan diri padanya, dan aku tak bisa apa-apa jika terkurung dalam rumah Tuan."


Tuan Nan tak percaya rencananya malah meleset jauh dari yang dia rencanakan. Kini tak ada jalan lain, selain mengikuti langkah Anitha.


"Ohhh begitu. Baiklah. Ayo kita makan.


Saat akan berpisah tuan Nan berkata, "Hubungi Allea jika ada waktu. Allea sangat sayang padamu. Dia selalu menanyakan keberadaanmu.


@@@

__ADS_1


__ADS_2