
Ketika pagi datang, saat burung berkicau menyambut sinar mentari pagi. Bias cahaya menembus tirai-tirai jendela penduduk bumi. Anitha telah duduk termangu di depan jendela kamar.
Tak ada semangat hidup pada dirinya. Pandangannya masih sama, tetap kosong dan hampa. Seperti hatinya yang merasa hampa. Andai dia bisa, ngin menyusul memeluk ibunya.
"Ibu, apa hikmah semua ini. Kenapa harus begini jalan hidup kita Bu. Aku belum puas membahagiakan ibu."
Bola mata itu tetap indah namun penuh kepedihan, pipi putih menjadi lahan tempat air matanya mengalir.
"Ingin aku terus tidur ibu, agar aku mengira ini hanya mimpi belaka."
Tuan Nan berdiri di belakang punggung istrinya. Dia meremas lembut bahu Anitha dengan tangan kirinya, tangan kanannya dia gunakan untuk membelai rambut istrinya.
Anitha menarik tangan tuan Nan, merujuk kehadapannya. Tuan Nan mengikutinya. Dia telah menghalangi bias cahaya pagi. Anitha menyelusup kedua tangannya ke kedua sisi pinggang tuan Nan. Dia memeluk suaminya mencari kehangatan hatinya yang dingin dan kosong.
"Kanda, aku rindu pada ibu. Bagaimana aku bisa menghilangkan rindu ini?" tanyanya dengan derai air mata.
Tuan Nan hanya melingkupi bahu dan kepala Anitha. Dia tahu Anitha hanya ingin melepaskan beban hatinya. Anitha tak butuh jawaban.
Pintu di ketuk, dia yakin itu ibunya yang telah tiba kemarin sore.
"Masuk Mom."
Ceklek, pintupun terbuka. Tuan Nan mengkode dengan pandangan matanya, agar sang ibu mendekati.
"Ada apa Mom?"
"Ada orang mencari Anitha, lebih baik kamu yang menemui. Biar Anitha dengan Mommy."
"Sebentar ya sayang." Tuan Nan mengecup ubun-ubun Anitha. Melepaskan rangkulan Anitha, dan digantikan oleh ibu tuan Nan.
"Sayang, ayo kita sarapan Nak," ajak ibu mertua Anitha dengan lembut.
"Aku tak lapar Mom, aku ingin bertemu ibu," ucap serak Anitha, mengiris hati bagi yang mendengarnya.
Pelukan erat menenangkan jiwa Anitha. Ibu tuan Nan ikut melelehkan air mata. Hilang semua sifat unik menantunya. Kini tinggal kesedihan dan ketegaran yang berusaha dibangun, hancur berulang kali.
Terlihat ayah tuan Nan menyusul, dan mendekati kedua wanita yang disayanginya. Terlihat air Mata istrinya yang hampir tak pernah terlihat di netra teduh istrinya.
Anitha masih memeluk ibu mertuanya yang masih berdiri dihadapan Anitha. Ayah tuan Nan berdiri dibelakang Anitha. Dia mengelus rambut menantunya.
"Banyak doa Nak. Bukan Daddy tak paham apa yang kau rasa ... namun hidup harus tetap berjalan Nak. Ibumu akan sedih melihatmu begini."
Anitha hanya mengangguk dalam pelukan mommynya. Mommynya merasa air mata menantunya semakin deras. Dia merasa resapan air hangat di perut tempat Anitha menenggelamkan wajahnya. Baju mommynya telah basah oleh air mata.
"Ayo kita sarapan Nak, dan kita ke kubur ibumu. Semoga dengan begitu bisa mengobati kerinduanmu Nak." Kini daddynya yang berusaha menepiskan sedih menantunya.
Anitha melepaskan pelukannya. Dia berdiri dan berganti memeluk daddynya. "Daddy, aku rasanya tidak kuat."
"Kau harus kuat Nak. Ada daddy dan mommy, dan paling utama ada Nansen. Walau rindumu tiada bertepi pada ibumu, jadikan itu pengisi hati dan hari-hari nanti." Begitu bijak daddynya menasehati Anitha.
"Iya Dad, tetapi biarkan aku menangis kapanpun aku mau. Hanya itu yang bisa menghilangkan sebak hatiku."
"Iya, tak ada yang melarang. Ayo putri cantik Daddy makan dulu. Nanti kalau kamu tidak makan, bukan kamu saja kehilangan berat badan, akan tetapi Nansen juga. Kalau Daddy senang saja, bisa badan gembul daddy berkurang."
Anitha tersenyum kecil dalam tangisnya. Ayah tuan Nan tidak pula segembul yang dikatakannya.
Mereka menuju meja makan, bertepatan dengan tuan Nan akan menyusul ke kamar.
***
Pagi ini Anitha dan keluarga besar suaminya, pamit pada keluarga Anitha. Terlihat juga ibu Marleni dan Raya melepaskan Anitha. Peluk tangis menemani langkah Anitha dan keluarga suaminya.
"Uni, yang kuat ya. Aku yakin Uni sanggup dan bisa melewati ini semua," ucap Raya dengan sendu sambil memeluk erat Anitha. Raya melihat Anitha begitu tenggelam dalam kesedihan.
"Iya." Hanya itu jawaban Anitha.
"Banyak istighfar dan doa jika kau rindu ya Nak. Ibu harap kau juga bisa tegar kali ini." Peluk kasih dan nasehat dari ibu Marleni juga terdengar. Air mata kembali jatuh berderai di pipi Anitha dan ibu Marleni. Anitha tak menjawab dan hanya membalas erat pelukan ibu Marleni.
Mereka telah kembali ke Jakarta. Ayah tuan Nan dan orang-orangnya akan kembali ke Swedia. Namun ibunya masih tetap tinggal menemani Anitha. Anitha belum bisa kembali ke kantor.
Sebulan telah berlalu, Anitha masih banyak berdiam diri. Tak ada semangat hidupnya. Ketika tuan Nan telah pergi ke kantor, hanya bisa meraung di kamarnya. Bukan karena tidak ikhlas akan takdir Allah. Anitha hanya begitu merindui ibunya. Anitha masih belum stabil, mommynya memutuskan masih menemani menantunya.
Lalu pada suatu pagi, Anitha telah berdandan rapi dan cantik. Ini kali pertama Anitha turun bergabung untuk sarapan, sejak mereka kembali menginjakkan kaki setelah musibah itu.
"Kamu mau ke kantor Nak?" tanya ibu mertuanya.
"Kamu yakin sudah kuat sayang?" tanya tuan Nan menimpali.
"Sudah Kanda."
"Okelah, kanda antar ya," ucap tuan Nan sambil menyodorkan segelas susu hangat dan sepotong roti.
"Iya Kanda, tetapi aku tidak mau makan roti."
"Jadi mau makan apalah?"
"Tak ada, minum susu hangat saja."
"Baiklah," ucap tuan Nan mengikuti mau Anitha.
"Mom, aku berangkat ya. Mommy tidak apa aku tinggal?" tanya Anitha.
"Tak apa, pergilah. Jangan lupa isi perut ya sayang. Nanti kamu sakit." Ibu mertuanya mengingatkan. Anitha mencium pipi mommy-nya.
Anitha memasuki mobil berdampingan dengan tuan Nan. Tuan Nan berencana akan meninggalkan Anitha di kantor. Namun dia mengurungkan niatnya. Tuan Nan ikut turun saat tiba di perusahaan Anitha.
"Loh tak ke perusahaan Kanda?"
"Iya nanti. Ini hari pertama Dinda ke kantor lagi. Kanda ingin temani. Lagian Dinda belum sarapan, kanda khawatir Dinda pingsan." Anitha hanya tersenyum.
__ADS_1
Anitha menuju ruangannya dan tuan Nan mengikuti. Anitha sempat protes, namun tuan Nan berkeras.
"Hallo Pak Nansen ... apa anda begitu punya banyak waktu luang pagi ini?" canda Anitha. Canda pertamanya kembali. Walau masih terasa penuh paksaan.
"Iya Bu, saya takut pemilik saham ini pingsan dan tidak ada yang tahu."
"Tenang saja Pak, istri direktur utama perusahaan ini cukup kuat." Tuan Nan hanya mengusap pelan hidung mancungnya.
Anitha mulai memeriksa laporan walau tidak begitu menumpuk. Tuan Nan selalu menyempatkan memeriksa selama Anitha vakum.
Merasa Anitha baik-baik saja, tuan Nan menuju ruangannya. Dia meminta Helmi menghandle jadwal hari ini. Untungnya aktivitas hari ini tidak begitu padat.
Ketika jam makan siang, karena Anitha menolak, tuan Nan memaksa Anitha untuk makan. Namun tidak dengan cara berkeras.
"Makan di mana Kanda? Dinda malas kalau jauh dari kantor. Masih ada kerjaan."
"Ya sudah, kita pesan saja ya. Kita makan di sini. Mau kanda ajak Ajeng sekalian?"
"Ajak Jeffy sama Harri juga."
Tuan Nan menuruti kemauan Anitha. Manusia yang bersungut-sungut sudah jelas Jeffy.
"Bisa tidak jangan pakai menyusahkan aku hanya untuk makan siang saja?" tanya Jeffy ketika sampai di ruangan Anitha. Ajeng dan Harri sudah berada di sana.
"Lalu kau dibayar tuan Nan untuk apa?" sindir Anitha.
Jeffy mendelik sewot. Tetapi dia tidak lupa membalas. "Untuk menjaga istri manjanya."
"Aku tak ada manja ya Jeff, yang ada kau manja!"
Perang pertamapun dimulai. Tuan Nan membiarkan agar Anitha bisa sedikit melupakan kesedihannya.
"Kau bilang aku wanita!"
"Siapa yang bilang kau wanita, memangnya mata aku uzur!"
"Lantas kenapa kau bilang aku manja!"
"Maksud aku manja itu, mandi jarang!" Anitha tersenyum merasa puas melihat Jeffy meradang.
"Enak saja, kau kira aku jorok?"
"Kalau tidak jorok kenapa kau tidak punya pasangan? Kenapa belum menikah!" Anitha selalu berhasil membuat Jeffy kesal kalau sudah bicara pasangan.
"Siapa bilang aku belum punya pasangan!" Akhirnya Jeffy kelepasan bicara karena mendongkol. Itu sukses membuat tuan Nan menaikkan alisnya dan Harri yang terheran.
"Apa aku tak salah dengar?" Tuan Nan yang berkomentar pertama kali.
***/
Ketika pagi datang, saat burung berkicau menyambut sinar mentari pagi. Bias cahaya menembus tirai-tirai jendela penduduk bumi. Anitha telah duduk termangu di depan jendela kamar.
Tak ada semangat hidup pada dirinya. Pandangannya masih sama, tetap kosong dan hampa. Seperti hatinya yang merasa hampa. Andai dia bisa, ngin menyusul memeluk ibunya.
"Ibu, apa hikmah semua ini. Kenapa harus begini jalan hidup kita Bu. Aku belum puas membahagiakan ibu."
Bola mata itu tetap indah namun penuh kepedihan, pipi putih menjadi lahan tempat air matanya mengalir.
"Ingin aku terus tidur ibu, agar aku mengira ini hanya mimpi belaka."
Tuan Nan berdiri di belakang punggung istrinya. Dia meremas lembut bahu Anitha dengan tangan kirinya, tangan kanannya dia gunakan untuk membelai rambut istrinya.
Anitha menarik tangan tuan Nan, merujuk kehadapannya. Tuan Nan mengikutinya. Dia telah menghalangi bias cahaya pagi. Anitha menyelusup kedua tangannya ke kedua sisi pinggang tuan Nan. Dia memeluk suaminya mencari kehangatan hatinya yang dingin dan kosong.
"Kanda, aku rindu pada ibu. Bagaimana aku bisa menghilangkan rindu ini?" tanyanya dengan derai air mata.
Tuan Nan hanya melingkupi bahu dan kepala Anitha. Dia tahu Anitha hanya ingin melepaskan beban hatinya. Anitha tak butuh jawaban.
Pintu di ketuk, dia yakin itu ibunya yang telah tiba kemarin sore.
"Masuk Mom."
Ceklek, pintupun terbuka. Tuan Nan mengkode dengan pandangan matanya, agar sang ibu mendekati.
"Ada apa Mom?"
"Ada orang mencari Anitha, lebih baik kamu yang menemui. Biar Anitha dengan Mommy."
"Sebentar ya sayang." Tuan Nan mengecup ubun-ubun Anitha. Melepaskan rangkulan Anitha, dan digantikan oleh ibu tuan Nan.
"Sayang, ayo kita sarapan Nak," ajak ibu mertua Anitha dengan lembut.
"Aku tak lapar Mom, aku ingin bertemu ibu," ucap serak Anitha, mengiris hati bagi yang mendengarnya.
Pelukan erat menenangkan jiwa Anitha. Ibu tuan Nan ikut melelehkan air mata. Hilang semua sifat unik menantunya. Kini tinggal kesedihan dan ketegaran yang berusaha dibangun, hancur berulang kali.
Terlihat ayah tuan Nan menyusul, dan mendekati kedua wanita yang disayanginya. Terlihat air Mata istrinya yang hampir tak pernah terlihat di netra teduh istrinya.
Anitha masih memeluk ibu mertuanya yang masih berdiri dihadapan Anitha. Ayah tuan Nan berdiri dibelakang Anitha. Dia mengelus rambut menantunya.
"Banyak doa Nak. Bukan Daddy tak paham apa yang kau rasa ... namun hidup harus tetap berjalan Nak. Ibumu akan sedih melihatmu begini."
Anitha hanya mengangguk dalam pelukan mommynya. Mommynya merasa air mata menantunya semakin deras. Dia merasa resapan air hangat di perut tempat Anitha menenggelamkan wajahnya. Baju mommynya telah basah oleh air mata.
"Ayo kita sarapan Nak, dan kita ke kubur ibumu. Semoga dengan begitu bisa mengobati kerinduanmu Nak." Kini daddynya yang berusaha menepiskan sedih menantunya.
Anitha melepaskan pelukannya. Dia berdiri dan berganti memeluk daddynya. "Daddy, aku rasanya tidak kuat."
"Kau harus kuat Nak. Ada daddy dan mommy, dan paling utama ada Nansen. Walau rindumu tiada bertepi pada ibumu, jadikan itu pengisi hati dan hari-hari nanti." Begitu bijak daddynya menasehati Anitha.
__ADS_1
"Iya Dad, tetapi biarkan aku menangis kapanpun aku mau. Hanya itu yang bisa menghilangkan sebak hatiku."
"Iya, tak ada yang melarang. Ayo putri cantik Daddy makan dulu. Nanti kalau kamu tidak makan, bukan kamu saja kehilangan berat badan, akan tetapi Nansen juga. Kalau Daddy senang saja, bisa badan gembul daddy berkurang."
Anitha tersenyum kecil dalam tangisnya. Ayah tuan Nan tidak pula segembul yang dikatakannya.
Mereka menuju meja makan, bertepatan dengan tuan Nan akan menyusul ke kamar.
***
Pagi ini Anitha dan keluarga besar suaminya, pamit pada keluarga Anitha. Terlihat juga ibu Marleni dan Raya melepaskan Anitha. Peluk tangis menemani langkah Anitha dan keluarga suaminya.
"Uni, yang kuat ya. Aku yakin Uni sanggup dan bisa melewati ini semua," ucap Raya dengan sendu sambil memeluk erat Anitha. Raya melihat Anitha begitu tenggelam dalam kesedihan.
"Iya." Hanya itu jawaban Anitha.
"Banyak istighfar dan doa jika kau rindu ya Nak. Ibu harap kau juga bisa tegar kali ini." Peluk kasih dan nasehat dari ibu Marleni juga terdengar. Air mata kembali jatuh berderai di pipi Anitha dan ibu Marleni. Anitha tak menjawab dan hanya membalas erat pelukan ibu Marleni.
Mereka telah kembali ke Jakarta. Ayah tuan Nan dan orang-orangnya akan kembali ke Swedia. Namun ibunya masih tetap tinggal menemani Anitha. Anitha belum bisa kembali ke kantor.
Sebulan telah berlalu, Anitha masih banyak berdiam diri. Tak ada semangat hidupnya. Ketika tuan Nan telah pergi ke kantor, hanya bisa meraung di kamarnya. Bukan karena tidak ikhlas akan takdir Allah. Anitha hanya begitu merindui ibunya. Anitha masih belum stabil, mommynya memutuskan masih menemani menantunya.
Lalu pada suatu pagi, Anitha telah berdandan rapi dan cantik. Ini kali pertama Anitha turun bergabung untuk sarapan, sejak mereka kembali menginjakkan kaki setelah musibah itu.
"Kamu mau ke kantor Nak?" tanya ibu mertuanya.
"Kamu yakin sudah kuat sayang?" tanya tuan Nan menimpali.
"Sudah Kanda."
"Okelah, kanda antar ya," ucap tuan Nan sambil menyodorkan segelas susu hangat dan sepotong roti.
"Iya Kanda, tetapi aku tidak mau makan roti."
"Jadi mau makan apalah?"
"Tak ada, minum susu hangat saja."
"Baiklah," ucap tuan Nan mengikuti mau Anitha.
"Mom, aku berangkat ya. Mommy tidak apa aku tinggal?" tanya Anitha.
"Tak apa, pergilah. Jangan lupa isi perut ya sayang. Nanti kamu sakit." Ibu mertuanya mengingatkan. Anitha mencium pipi mommy-nya.
Anitha memasuki mobil berdampingan dengan tuan Nan. Tuan Nan berencana akan meninggalkan Anitha di kantor. Namun dia mengurungkan niatnya. Tuan Nan ikut turun saat tiba di perusahaan Anitha.
"Loh tak ke perusahaan Kanda?"
"Iya nanti. Ini hari pertama Dinda ke kantor lagi. Kanda ingin temani. Lagian Dinda belum sarapan, kanda khawatir Dinda pingsan." Anitha hanya tersenyum.
Anitha menuju ruangannya dan tuan Nan mengikuti. Anitha sempat protes, namun tuan Nan berkeras.
"Hallo Pak Nansen ... apa anda begitu punya banyak waktu luang pagi ini?" canda Anitha. Canda pertamanya kembali. Walau masih terasa penuh paksaan.
"Iya Bu, saya takut pemilik saham ini pingsan dan tidak ada yang tahu."
"Tenang saja Pak, istri direktur utama perusahaan ini cukup kuat." Tuan Nan hanya mengusap pelan hidung mancungnya.
Anitha mulai memeriksa laporan walau tidak begitu menumpuk. Tuan Nan selalu menyempatkan memeriksa selama Anitha vakum.
Merasa Anitha baik-baik saja, tuan Nan menuju ruangannya. Dia meminta Helmi menghandle jadwal hari ini. Untungnya aktivitas hari ini tidak begitu padat.
Ketika jam makan siang, karena Anitha menolak, tuan Nan memaksa Anitha untuk makan. Namun tidak dengan cara berkeras.
"Makan di mana Kanda? Dinda malas kalau jauh dari kantor. Masih ada kerjaan."
"Ya sudah, kita pesan saja ya. Kita makan di sini. Mau kanda ajak Ajeng sekalian?"
"Ajak Jeffy sama Harri juga."
Tuan Nan menuruti kemauan Anitha. Manusia yang bersungut-sungut sudah jelas Jeffy.
"Bisa tidak jangan pakai menyusahkan aku hanya untuk makan siang saja?" tanya Jeffy ketika sampai di ruangan Anitha. Ajeng dan Harri sudah berada di sana.
"Lalu kau dibayar tuan Nan untuk apa?" sindir Anitha.
Jeffy mendelik sewot. Tetapi dia tidak lupa membalas. "Untuk menjaga istri manjanya."
"Aku tak ada manja ya Jeff, yang ada kau manja!"
Perang pertamapun dimulai. Tuan Nan membiarkan agar Anitha bisa sedikit melupakan kesedihannya.
"Kau bilang aku wanita!"
"Siapa yang bilang kau wanita, memangnya mata aku uzur!"
"Lantas kenapa kau bilang aku manja!"
"Maksud aku manja itu, mandi jarang!" Anitha tersenyum merasa puas melihat Jeffy meradang.
"Enak saja, kau kira aku jorok?"
"Kalau tidak jorok kenapa kau tidak punya pasangan? Kenapa belum menikah!" Anitha selalu berhasil membuat Jeffy kesal kalau sudah bicara pasangan.
"Siapa bilang aku belum punya pasangan!" Akhirnya Jeffy kelepasan bicara karena mendongkol. Itu sukses membuat tuan Nan menaikkan alisnya dan Harri yang terheran.
"Apa aku tak salah dengar?" Tuan Nan yang berkomentar pertama kali.
***/
__ADS_1