Upik Abu Jadi CEO

Upik Abu Jadi CEO
Akhir Dari Dendam


__ADS_3

"Ke lapas?" tanya Raya. Terdengar nada takut dalam tanyanya.


"Iya," jawab Anitha singkat. Jika sifat sudah mendarah daging, merasa suasana sedikit tenang, Anitha ingin mengerjai Raya.


"Ada apa Uni? Apa Uni ke sana ingin bertemu dengan uda?" tanyanya.


"Iya, aku masih ada urusan dengannya," ucap Anitha datar. Memberi perasaan tidak nyaman pada Raya. Tuan Nan dan dua orangnya hanya tersenyum simpul melihat Anitha kumat.


"Apa Uni akan membalas dendam padanya?"


"Jika aku katakan 'iya', apa kau menarik maafmu?"


"Tidak Uni, aku tahu sakit hatimu. Aku hanya kasihan pada uda. Kami sudah lama tidak bisa melihatnya. Sampaikan salam kami ya Uni." Raya ikhlas apapun keputusan Anitha.


"Hahaha, maafi aku ingin menjahilimu sedikit. Kami ke sana mencoba menyelesaikan. Doakan, semoga suamiku bisa mengurus dan bisa membebaskan udamu secepatnya."


"Benarkah? Ya Allah, terima kasih banyak Uni."


Anitha menepuk pipi Raya lembut. "Jaga ibu, kami pergi. Harri akan membantu jika ada apa-apa."


Anitha, tuan Nan dan Jeffy mulai bergerak.


"Maafi aku juga untuk waktu itu. Aku hanya menjalankan tugas untuk orang-orang yang aku sayangi. Walau aku hanya bodyguard mereka, mereka sudah seperti keluargaku sendiri," ujar Harri mencoba meminta maaf.


Raya bukan tak mengingat siapa Harri. Raya justru mengira Harri sudah tidak ingat padanya. Karena Raya hanya sebagian kecil dari babak sandiwara mantan kakak iparnya.


"Aku sudah memaafkanmu juga. Kami yang salah padanya."


"Kalau begitu, boleh kita berkenalan? Kenalkan, namaku Harri. Harri Zulkarnain.


"Raya Malika." Raya menyambut jabat tangan Harri. Terasa hangat dan mendebarkan hati dingin dan kosongnya ketika Harri menggenggam dengan lebih kuat.


"Bu, kami mau memindahkan pasien ke ruangan." Info seorang perawat. Mereka berdua mendekati perawat. Mengikuti arahan perawat.


Raya lagi-lagi terharu, Anitha dan suaminya telah memberikan kamar VIP buat ibunya.


Kini tinggal mereka bertiga di ruang VIP. Harri bertanya, "Aku mau cari makan, kau pesan apa?" tanya Harri datar. Orang tuan Nan memang seperti terlatih untuk berwajah datar demi tugas.


"Terserah, terima kasih."


"Permisi Bu," sapa Harri pada Marleni.


"Bukankah dia yang mengancurkan rumah tanggamu dulu?"


"Iya Bu. Dia juga sudah minta maaf sama seperti uni Anitha."


"Anitha meminta maaf?" tanya Marleni.


"Iya Bu." Raya menceritakan semuanya.


"Jadi dia dan suaminya berusaha membebaskan udamu?"

__ADS_1


"Begitulah."


"Allah memang maha baik ya Nak. Ketika kita putus asa dan hampir menyerah untuk hidup, siapa sangka dia yang kita sakiti malah membuka hati, mengulurkan tangannya."


"Iya Bu. Aku juga tidak menyangka."


Setelah di yakini Harri keluarga ini tidak berbohong pada Anitha, barulah Harri benar melangkahkan kaki meninggalkan ruangan itu. Tanpa mereka tahu Harri berdiri dan memasang telinga memastikan sikap mereka.


***


Anitha dan tuan Nan beserta Jeffy telah sampai di rumah sakit. Mereka menemui Sahrul dengan tangan di borgol ke besi ranjang rumah sakit. Sahrul yang awalnya hanya ditangani oleh klinik di penjara, akhirnya dirujuk ke rumah sakit terdekat.


Jeffy sudah mengatur waktu ini dengan orang lapas dan pihak rumah sakit. Jeffy menunggu di luar kamar inap Sahrul.


"Apa kabar?" tanya tuan dengan gaya bosnya. Pertanyaan itu juga mewakili pertanyaan yang ingin dilontarkan Anitha.


"Beginilah," jawabnya pasrah. Dia melirik Anitha sekilas.


"Betapa jauh dia berubah. Syukurlah jika dia bahagia walau awalnya sebagai alat membebaskan aku."


Tuan Nan melirik Anitha. Anitha yang merasa telah mendapatkan izin dari tuan Nan, membuka suara. "Apa yang terjadi Uda? Sehingga kau bisa terbaring di rumah sakit ini?"


"Jujurlah padaku, jika kau bersedia dibantu oleh tuan Nan," ucap Anitha cepat, melihat Sahrul seperti enggan menjawab.


"Apa kau bahagia bersamanya?" tanya Sahrul menanyakan pertanyaan yang tidak di sangka-sangka. Dia hanya ingin memastikan langsung.


"Apa ada hubungannya pertanyaan ini dengan bantuan suamiku?" Anitha memakai kata 'suamiku', bukan kata 'tuan Nan' lagi. Dia ingin menunjukkan kepemilikannya.


"Aku sangat bahagia, walau aku awalnya cuma alat bagi kau untuk melepaskan jeratan dirimu Uda. Suamiku sangat mencintaiku. Sampai detik ini belum pernah dia melukai hatiku sedikitpun. Maafkan aku Uda. Aku tahu kau berubah dan sangat mencintaiku. Namun hatiku kini hanya miliknya. Aku tak bisa hidup tanpanya." Anitha menatap manja tuan Nan dan tuan Nan jug menatap mesra dan penuh sanjungan pada Anitha. Sahrul dapat melihat jelas.


"Eheeem. Baiklah aku tenang sekarang. Dia juga sangat mencintaimu."


"Lalu kenapa kau diam setiap orang mengajak bicara dan memancing marah tahanan lain?"


"Itu hakku. Aku mau bicara apa tidak."


"Aku tahu. Aku ingin tahu penyebabnya bukan bicara hak."


"Kenapa kalian tiba-tiba teringat membantuku?"


"Karena aku baru tahu ketika istriku meminta bantuanku." Penjelasan tuan Nan membuat hati Sahrul sedikit melembutkan hati.


Ada setetes embun membasahi hati keringnya ketika mengetahui Anitha masih mau peduli padanya.


"Aku menyesal telah membohongi anda Pak. Aku juga menyesal telah melepaskan begitu saja cintaku. Aku juga menyesal memikirkan perlakuanku terakhir kali sama Ajeng. Begitu banyak penyesalan."


Mendengar kata menyesal pada Ajeng. Memberikan Anitha titik terang untuk memasuki Sahrul tentang rencananya. Anitha tidak menyangka niat baiknya begitu dipermudah Allah.


"Soal kau berbohong padaku, tak usah dibahas. Kau menyesal melepas cintamu itu juga tak bisa dikembalikan. Aku tak akan mengalah."


"Aku tahu."

__ADS_1


"Suamiku benar Uda. Apa yang sudah berlalu tidak bisa diubah lagi karena hatiku telah berubah. Namun ada hati wanita lain yang tidak berubah padamu dan menantikanmu."


"Ajeng?"


"Ya."


"Bukankah kau begitu ingin balas dendam dulu?"


"Ya, dulu. Kini kami sudah berdamai."


"Ohhh."


"Apa kau tidak bisa kembali padanya?" tanya tuan Nan. Ada paksaan di nada suaranya. Tuan Nan sedikit takut jika Sahrul merebut paksa Anitha.


Baik Anitha maupun Sahrul bisa merasakan nada paksaan yang tanpa ditutupi oleh tuan Nan. Membuat Sahrul tersenyum simpul. Senyum pertama sejak dia masuk penjara.


"Aku tidak akan mengambil dia Pak. Kecuali anda tidak menyayanginya. Namun melihat cara kau, aku yakin itu tidak terjadi. Jadi tenang saja."


"Baguslah kalau begitu!" Kembali Sahrul tersenyum mendengar keterusterangan tuan Nan.


"Apa cerita tentang Ajeng?" tanya Sahrul. Anitha menceritakan semuanya. Sahrul tertegun mendengar cerita Anitha.


"Aku tidak menyangka cintanya begitu besar padaku yang bejat ini."


"Makanya, aku ingin Uda berubah. Uda bisa berubah demi aku. Uda juga harus bisa berubah demi dia. Dia ingin ikut ketika tahu Uda di penjara. Kami melarang."


"Apa dia bersedia menunggu? Aku baru setahun di dalam."


"Dia bersedia. Hanya saja dia takut mengharap Uda kembali. Katanya, penolakan Uda yang kedua kali sangat menyakiti hatinya."


"Aku akan setia padanya. Katakan padanya, jika dia memang mau menanti, aku tidak akan mempermainkan perasaannya lagi. Apalagi kini kau telah bahagia. Aku tenang melepasakanmu."


"Aku sangat bahagia Uda. Jangan kau risau lagi. Hanya pria kaku ini yang bisa membahagiakan aku."


"Oke, aku akan mengurus semua. Kau tak perlu menunggu selama itu," kata tuan Nan memberi janjinya.


"Benarkah?"


"Iya, tapi kau harus membuat Ajeng bahagia Uda. Jika kau masih menyakiti hatinya, aku tak ragu untuk meminta suamiku menghabisi kau!" Nada Anitha begitu menggelap dirasa Sahrul. Tak pernah dia tahu Anitha bisa begini serius.


"Aku janji, aku juga sudah memikirkan itu saat aku menyakitinya. Tetapi ketika itu sampai detik tadi aku masih berbagi hati karena memikirkan kau."


"Jangan bagi hatimu Uda. Hatiku hanya untuk Kanda Nansen. Aku minta kau juga serius membangun hidup baru dan menempuh jalan lurus. Kita semakin tua Uda. Apalagi mau dicari di dunia. Hidup cuma sebentar. Entah kapan, nyawa bisa saja berpisah dengan raga. Sementara kita masih berada dalam dosa-dosa."


"Aku akan dengarkan kata kau."


"Aku sudah berbaik dengan Raya adikmu."


"Apa??"


***/

__ADS_1


__ADS_2