
"Mommy sudah merestuimu Nak," kata ibu tuan Nan.
"Ohh ya? Kapan tepatnya Nyonya merestui?" tanya Anitha tenang. Setenang permukaan laut yang dalam.
Kembali ibu tuan Nan merasa gelagapan. Dia tidak bisa menebak apa maksud Anitha atau kemana arah Anitha inginkan. Dia kembali mengingat kapan tepatnya dia memang merestui Anitha. Apa saat Anitha koma? Apa saat dia melihat anaknya hancur dalam perasaannya.
Ibu tuan Nan, memandang dalam Anitha. Jawaban apa yang harus dia beri. Jawaban apa yang diinginkan wanita yang tenang ini. Ketenangan Anitha justru membuat ibu tuan Nan berpikir keras. Dia tak ingin terbawa hanyut oleh pusaran air yang tak terlihat.
Anitha masih dengan tenang memandang calon ibu mertuanya.Tak ada niat mendesak, tak ada niat membutuhkan jawaban. Anitha hanya diam.
Tuan Nan semakin gelisah. Ayah tuan Nan saja tidak paham apa yang dipikir dan apa yang diinginkan calon menantunya. Adik tuan Nan semakin sangat menyukai Anitha. Baginya Anitha terlihat sangat menarik dengan sikap dan pandangannya yang tenang.
Jeffypun yang berada di ruangan itu karena diminta tuan Nan mengantarkan baju ganti ibu Anitha dan dirinya. Tuan Nan sengaja menahan Jeffy karena dia butuh teman untuk minta pendapat. Teman untuk meluahkan kegelisahannya melihat sikap Anitha yang jauh lebih tenang sejak sadar dari komanya.
"Apa yang ingin Mommy beri jawaban?" Akhirnya tuan Nan memecah keheningan.
Ibunya melihat ke tuan Nan yang masih setia berdiri di tepi ranjang Anitha yang berseberangan dengan ibunya.
"Jawab saja dengan jujur Mom. Biar semua tidak berlarut." Ibunya menangkap nada memaafkan dari anaknya. Itu membuat beliau jauh lebih tenang.
"Iya, melihat kau terbaring koma dan melihat Nansen hancur, membuat Mommy menyadari kesalahan Mommy. Tidak seharusnya Mommy melampiaskan rasa kecewa Mommy pada Nasen melaluimu yang tak tahu apa-apa." Akhirnya walau dengan perlahan dan terbata-bata serta masih menggunakan kata mommy ke badannya. Ibu tuan Nan bisa menyampaikan semuanya.
Namun ... Dhuaaarr .... masing-masing merasa bom meledak di telinga mereka. Ketika mendengar jawaban Anitha.
"Sayangnya saya menolak dikasihani Nyonya," ucap Anitha lembut. Ibu tuan Nan ternganga tak percaya melihat Anitha ternyata wanita yang jauh lebih sulit dari perkiraannya.
"Perlu Nyonya ketahui, saya dari dulu paling tidak bisa menerima untuk dikasihani. Walau nyawa saya taruhannya." Suara Anitha mendingin tanpa ada raut kemarahan dan kebenciannya.
"Nyonya tak perlu terlalu banyak berpikir. Saya tidak sedikitpun membenci Nyonya. Saya tidak menyalahkan atas apa yang telah Nyonya lakukan. Tapi berilah saya sedikit waktu."
"Wa_waktu?" tanya ibu tuan Nan dengan terbata.
"Ya, jangan kasihani saya. Saya akan merasa terhina dan tak bisa mendampingi anak Nyonya, karena saya jadi merasa tak pantas untuknya."
"Baik, Mommy tidak akan melakukan itu." Ibu tuan Nan cepat mengalah, sebelum keadaan makin tidak baik. Anitha bisa melihat penyesalan dan kesedihan bercampur di mata ibu tuan Nan. Namun Anitha tak ingin memaafkan untuk saat ini. Anitha diam-diam tidak terima di tinggal pergi begitu saja tanpa kata oleh ibu tuan Nan.
Dalam diamnya, dalam senyumnya dan dalam cerianya, tanpa ada yang tahu, harga dirinya merasa dihancurkan menjadi puing-puing tak berharga malam itu.
Ibu tuan Nan pada malam itu begitu memperlakukan dia tidak adil. Meninggalkan dia tanpa kata pamit. Kerja kerasnya dan perjalanan panjangnya dihancurkan begitu saja, dengan kata tidak 'sepemahaman' hanya karena dia dari kalangan biasa. Kini Anitha memberi hukuman untuk nyonya bangsawan tersebut.
Keluarga tuan Nan akhirnya pamit setelah ibu tuan Nan memberi kecupan di dahi Anitha. Anitha tak menolak.
Kini tinggallah mereka berempat. Tuan Nan tak mengizinkan Jeffy kembali ke hotel. Dia meminta Jeffy menjaga di kamar inap ini.
Saat tuan Nan dan Jeffy berada di meja makan, ibu Anitha datang mendekati anaknya.
"Kamu baik-baik sajakan sayang?" tanya ibunya dengan cemas.
__ADS_1
"Aku baik Bu." Anitha menjawab dengan tenang.
"Tak ada yang sakit Nak?" ibunya memandang ke kepala Anitha.
"Tubuhku tidak ada yang sakit Bu. Namun hatiku tak sebaik dulu." Kembali Anitha menjawab jujur pertanyaan ibunya.
"Kamu tidak boleh pendendam Nak, tidak baik," nasehat ibunya.
"Maaf Ibu, aku tidak bisa. Aku tidak mau lagi ditindas oleh siapapun. Aku tak ingin direndahkan oleh siapapun. Akan aku buktikan pada orang banyak, walau aku anak ayah yang cuma pegawai rendah dan anak ibu dari janda pensiunan, namun aku diberi otak yang bisa memutar balikkan keadaan.
Ibunya tak ingin mendebat atau mendesak anaknya. Dia tahu anaknya tidak akan berhenti sampai dia mendapatkan apa yang dia mau. Selagi cara mendapatkannya benar, ibunya tetap mendukung anaknya.
"Ya sudah, asal tidak dengan menyakiti orang lain," pesan ibunya sambil membelai sayang rambut anaknya.
"Maafkan aku ibu, aku bahkan telah menyakiti mertua, mantan adik iparku, mantan suamiku dan sahabat terbaikku. Bahkan aku telah menghancurkan mereka semua." Anitha berkata dalam hati. Pandangannya kosong.
Di meja makan ... tuan Nan dan Jeffy berkata pelan dan hampir berbisik.
"Aku tak menyangkanya, dia sanggup menolak ibumu yang tidak pernah bisa menerima penolakan."
"Ya, itulah sifat buruknya. Keras hati, namun karena itu aku sangat mencintainya. Sifat itu juga yang membuat dia menjadi wanita setia."
"Setia?"
"Ya setia. Tiga tahun dalam penderitaan, dia dulu tetap berusaha menjadi istri yang baik. Allea saja selingkuh ketika aku hanya tak memberinya cinta bukan derita lain."
"Temani ibunya makan, aku ingin berbicara pada Anitha," kata tuan Nan berdiri dan berlalu dari meja makan.
"Ibu silahkan makan dulu dengan Jeffy, biar aku jaga Anitha," kata tuan Nan.
"Baiklah."
Tuan Nan menggantikan posisi ibu Anitha. Dia duduk dan memegang tangan Anitha yang tak berselang infus.
"Apa benar tidak ada yang sakit sayang?" tanya tuan Nan masih terlihat khawatir.
"Tak ada," katanya pelan. Tuan Nan gelisah melihat sikap Anitha yang dirasanya sedikit berbeda.
"Kenapa nadanya jadi dingin Dinda?" tuan Nan tidak tahan memendamnya.
Anitha menoleh pada tuan Nan. Pandangannya tajam. Anitha berkata, "Apa Kanda tidak marah padaku?"
"Marah untuk apa?"
"Untuk penolakanku atas restu mommymu," jelasnya masih tetap memandang tajam tuan Nan.
"Ohhh, tidak sayang. Kanda tahu siapa dirimu dan sangat paham sikapmu. Percayalah, sifatmu ini yang membuat kanda sangat mencintaimu," ujar tuan Nan sambil memberikan Anitha senyum hangat.
__ADS_1
"Aku ingin menghukum mommymu, bukan untuk menyakiti hatinya, akan tetapi untuk menyadarkan mommymu. Tidak semua orang rela ditindas, walau orang itu sangat mencintai putranya." Anitha berkata jujur. Tuan Nan tidak terkejut.
"Bagi Kanda, cukup kini engkau bisa mencintai diri kanda yang sudah tua ini. Walau harta banyak usia tua ini butuh dicintai," kata tuan Nan dengan mimik lucu.
Mau tidak mau Anitha tak bisa menahan tawanya. Tawa yang baru hadir setelah dia sadar dari komanya.
"Aku tidak amnesia Kanda, aku sudah berjanji untuk memperjuangkan cinta kita. Aku juga sudah berjanji dalam hatiku untuk mencintaimu sepenuh hati, ketika malam penolakan di rumah mommymu."
"Kau tak bohongkan Dinda?"
"Aku tak bohong Kanda, jadi jangan coba berpaling dariku."
"Tak akan ada yang lain. Percayalah!"
"Aku percaya sama Kanda. Kanda juga harus percaya, Anitha yang kini tak takut apapun,bahkan untuk membunuh seseorang demi mendapatkan yang dia mau," ucap Anitha dengan bercanda. Namun tuan Nan merasa dibalik candaanya Anitha bisa serius pada ucapannya.
"Kamu makin hari makin menakutkan sayang," ucap tuan Nan melabuhkan kecupannya di bibir Anitha. Dia bahagia dan tak tahan menanggung rindu, ingin memeluk kekasihnya.
"Kamu membalasku Kanda. Aku ingin cepat keluar dari sini, agar bisa menguasaimu." Tuan Nan tergelak mendengar rayuan Anitha.
"Jika tak ada ibu di sini, inginku membuat kau menjerit minta ampun Wanita Boneka," tuan rindu memanggil Anitha saat dia masih sering menyindir Anitha tak bisa apa-apa.
"Ampuuun Tuan ... tetapi, hanya mimpi di siang bolong kau bisa mendengar itu," kata Anitha membalas tuan Nan.
"Kau semakin percaya diri sayang," ucap tuan Nan.
"Kau yang tidak mengenal aku sayang. Aku ini gadis ranah minang. Kami terkenal suka merantau sayang. Jadi, aku diikutkan silat oleh ayahku dari aku SD. Tuan boleh coba ketika aku sudah sembuh benar, atau tuh tanya sama ibu."
Tuan Nan terkejut mendapat fakta baru dari Anitha.
"Jadi itu makanya kau tidak takut kabur?"
"Hahahaha, Tuan benar. Untuk satu dua orang seperti bodyguard Tuan sayang, aku masih sanggup.
"Enak sekali tertawamu Tha," kata Jeffy mengganggu pasangan yang lagi di mabuk asmara ini. Ibu Anitha dan Jeffy memang telah mendekati mereka.
"Dia ingin menantang dua bodyguard kita Jeff," kata tuan Nan membuat Jeffy tak paham.
"Dia ternyata pandai silat Jeff, aku jadi takut membayangkan hidup berumah tangga dengannya," kata tuan Nan bergurau.
"Kau serius Tha?"
"Anitha kecil sangat nakal Nan, Jeff, dia suka mengajak orang kelahi. Ayahnya takut jika sampai besar dia suka berkelahi. Makanya ayahnya menyuruhnya untuk ikut silat guna menjaga diri." Ibunya yang menjelaskan siapa putri kecilnya.
"Jadi benar dia pandai Bu?" tanya tuan Nan tak percaya.
"Kita bisa coba, tunggu aku sembuh Tuan." Perkataan Anitha membuat ibunya tersenyum sementara tuan Nan dan Jeffy sendiri terlihat kagum.
__ADS_1
***/