Upik Abu Jadi CEO

Upik Abu Jadi CEO
Saling Berdamai Dari Masa Lalu


__ADS_3

"Benarkah?"


"Iya," jawab Anitha.


"Sudah berapa lama?"


"Sudah tiga bulan lebih. Nantilah cerita itu. Ada yang lebih penting aku kabari. Aku takut kau salah paham."


"Tentang Sahrul?" tebak Ajeng.


"Begitulah. Tujuan aku pertama, memang ingin membawa kau bicara dari hati ke hati. Memperbaiki hubungan kita yang banyak salah paham di dalamnya."


"Sekarang sudah berhasil. Lalu?"


"Awalnya tujuan aku kedua ini tidak ada sangkut pautnya denganmu. Tetapi karena kau katakan masih mencintai dia, ada baiknya kau tahu agar kelak kita tidak salah paham lagi."


"Ada apa dengannya?"


"Kau tidak tahu dia masuk penjara?"


"Apa, masuk penjara?" Ajeng membekap mulutnya tanda terkejut.


"Iya," ucap Anitha. Lalu Anitha mulai menceritakan.


"Jadi dia menjual kau sama suamimu yang sekarang?" Ajeng benar menyesali sikap Sahrul yang masih pengecut.


"Sebenarnya tidak begitu, aku telah duluan kenal dengan suamiku ini. Aku tak tahu cara menghindarinya. Akhirnya aku mengadu pada dia yang saat itu hanya aku anggap sebagai orang yang menyelamatkan hidupku saat kau mau menjualku."


"Maaf."


"Sudah, jangan jadikan beban. Sudah jalannya begitu. Jika tidak aku mungkin tidak bertemu dengan orang yang benar mencintaiku tanpa pamrih."


"Lalu apa rencanamu?"


"Aku tidak bisa berdiam diri. Aku hanya mau tanya padamu. Apa kau benar tidak ingin mendapatkan dia?"


"Jujur aku masih ingin. Namun aku tidak bisa memaksa dia."


"Jika kami bisa memaksa, apa kau mau menerima dia?"


"Kami?"


"Ya, aku dan suamiku."


"Aku mau."


"Apa tidak bisa kau buka hatimu untuk lelaki lain?" tanya Anitha heran sendiri.


"Tidak. Aku kotor dan tak pantas juga untuk lelaki lain. Dia kotor sama Kotornya dengan diriku. Hanya dia yang aku inginkan." Anitha berpura tidak tahu. Baginya menjaga perasaan Ajeng lebih baik.


"Tetapi kita manusia memang penuh salah. Namun kita bisa memperbaikinya."


"Iya. Namun jika kau memang tak dengan dia dan tak ada lagi perasaan apapun. Aku ingin kembali mendapatkan dirinya."


"Tidak, aku tak akan berpaling dari suamiku. Bagi aku dia tali nyawaku. Hanya dia yang aku cinta, begitu sebaliknya."


"Di mana dia di penjara?"


"Di kota asal kampus kita."


"Ohhh."


"Oke, nantilah kita lanjutkan. Aku ke kantor pamit hanya sebentar dengan suamiku. Suamiku lagi sakit. Aku akan ke kantor besok pagi."


"Kalau begitu, aku bisa kembali bekerja Bu?" gurau Ajeng mencairkan hatinya.

__ADS_1


"Silahkan, tetapi besok pagi anda harus menemani aku makan siang."


"Siap Bu. Terima kasih."


"Ohh ya Jeng, soal aku tahu Sahrul di penjara. Jangan katakan padanya jika kau berkontak. Aku belum cerita dan merencanakan jauh dengan suamiku untuk menolongnya. Aku harus minta izin dulu, agar tidak salah paham."


"Oke, kau benar. Aku pamit duluan ya."


***


"Lama menunggu Kanda?" sapa Anitha di dalam kamar.


"Tidak selama saat Dinda kabur dari kanda," gurau tuan Nan. Dia mendapatkan cubitan halus di pinggangnya.


"Sakit sayang."


"Rasain, siapa suruh nyindir istrinya." Senyum hadir di bibir Anitha. Lebih lebar dari biasanya.


"Sepertinya Dinda senang sekali."


"Tentunya begitu. Kanda pasti tahu apa penyebabnya?" sindir Anitha halus.


"Uhukk ...." tuan Nan terbatuk kecil.


Anitha dengan senyum sumringah memberikan tuan Nan segelas air putih.


"Ngejek ya," kata tuan Nan ketika Anitha menyodorkan segelas air putih. Tak urung tuan Nan tetap meneguknya.


"Itu tahu jika diejek. Kanda kira dinda tidak tahu."


"Tahu apa?" tuan Nan masih berlagak pilon.


"Mau dinda cubit lagi?"


"Jangan kura-kura dalam perahu ya tuan Nansen Adreyan. Aku mau marah ini," kata Anitha berlagak pasang wajah marah. Tuan Nan tahu Anitha bercanda.


"Habis Dinda main rahasia," kata tuan Nan seperti orang kesal.


Anitha lagi-lagi dengan manja merangsek masuk dalam pelukan suaminya. "Maaf sayang, dinda hanya tak ingin menambah beban Kanda saja."


"Tak apa, kanda tak marah. Selain kanda percaya dan mendukung apapun keputusanmu. Ada orang yang tetap bisa menjagamu ketika Dinda sendiri tanpa kanda di sisimu."


"Aku sangat senang, satu keinginanku berjalan mulus. Kanda sudah dengar rekamannya bukan?" tanya Anitha masih berada dalam pelukan suaminya.


"Sudah, tetapi Dinda memang wanita yang jeli ya. Dari mana Dinda tahu jika kanda meminta Jeffy merekam pembicaraan kalian berdua?"


"Awalnya Dinda tidak ada curiga. Namun saat sudah di lobi kantor, Jeffy mengatakan dia minta waktu untuk mengambil handphonenya. Kata dia ketinggalan."


"Terus Dinda susul diam-diam?" tuan Nan penasaran, bagaimana Jeffy tidak mendengar langkah mengikutinya.


"Tidak."


"Lalu? Dari mana Dinda tahu?"


"Feeling ... dan dinda hanya menjebak Kanda barusan dengan mengatakan rekaman. Padahal cuma tebak-tebak doank." Tanpa dosa tanpa bersalah istri tuan Nan berkata. Alhasil membuat tuan Nan geregetan, bisa-bisanya dijebak wanita yang jauh lebih muda darinya.


Tuan Nan menguatkan pelukannya. Anitha diam saja. Dia sadar suaminya gemas oleh kelakuannya.


"Mau sampai kapan bertahan hmm, kanda peluk erat," ujar tuan Nan.


"Sampai aku lemas, tak akan aku mengalah pada Tuan yang rupawan ini," jawab Anitha santai. Walau dia sedikit merasa sesak. Dia yakin tuan Nan akan mengalah sebentar lagi.


"Dasar keras kepala. Sudah sesakpun mau tidak menyerah." Tuan Nan sudah melepaskan pelukan eratnya, berganti dengan pelukan lembut.


"Karena aku percaya, Tuanku tidak akan benar-benar membunuh istrinya dengan cara halus sekalipun."

__ADS_1


"Jadi bagaimana rencana Dinda tentang Sahrul?" tuan Nan telah menarik istrinya dan membaringkan di sisinya.


"Kanda juga pasti sudah tahu dari Jeffy?"


"Sudah."


"Kanda tidak marah?"


"Tidak."


"Cemburu?"


"Tidak, karena tahu Dinda menunggu izin kanda."


"Iya, Dinda tidak mau salah langkah dan di marahi. Nanti hatiku sakit kalau di maki-maki." Tuan Nan tertawa. Dia mengecup pipi istrinya.


"Oke, kanda dan Jeffy punya ide. Sabtu kita berangkat ke kampung Sahrul."


"Tetapi Kanda masih sakit. Bagaimana bisa kita weekend sejauh itu?"


"Bisa diatur. Tetapi maafi kanda untuk satu hal. Mau?"


Anitha langsung mau bangkit dari pembaringannya. Tuan Nan menahan istrinya.


"Apa itu?"


"Apa menurut Dinda, soal selingkuh?" tuan Nan menatap lembut dengan mata tajamnya.


"Hahaha, Kanda pikir dinda percaya soal itu. Kanda saja dingin dan datar pada orang. Bagaimana bisa secepat itu berpaling dariku."


"Tuhan, semoga dia selalu percaya begini padaku dan setia. Semoga aku juga bisa menjadi suami yang baik baginya."


Tatapan tuan Nan kian melembut melihat Anitha menanti jawabannya. "Maafi kanda berbohong padamu soal kaki kanda."


"Maksudnya? Kanda sudah bisa berjalan? Kapan?" kata Anitha bersemangat. Dia tidak menggubris kalimat berbohong.


"Iya bisa. Tepatnya malam sehari mau keluar dari rumah sakit, kanda tidak merasa kebas lagi pada kaki kanda. Perlahan kanda gerakan ternyata memang bisa."


"Uhhh, lalu kenapa berpura? Mau menguji hati ini?" tunjuk Anitha pada dadanya. Tak ada nada marah. Dia paham dia juga suka mengerjai suaminya. Walau ini terlalu besar keisengan suaminya. Dia hanya ingin tahu apa alasan suaminya.


"Tidak sayang, apalagi mau diuji, jika koma dan sadar kita bersamaan."


"Lalu?"


"Malam itu kanda tiba-tiba rindu ingin menyentuhmu. Teringat hari-hari kita memadu kasih, tetapi selama itu juga kanda yang menguasai Dinda. Kanda iseng ingin dinda yang menguasai. Itulah idenya muncul begitu saja." Tuan Nan memberi cengiran menggodanya.


"Dasar suami genit, sudah tua dan sedang sakitpun sempatnya memikirkan itu."


"Ehh jangan bilang tua ya sayang. Tenaga masih full ini, tua dari mananya," sewotnya mendengar dikatai tua.


"Lalu kenapa cepat mengaku?"


"Selain Dinda sudah pintar, ada hal penting. Benar kata Jeffy, kanda tak ingin ada penyesalan bagi Dinda, perihal keluarga Sahrul."


"Terima kasih sayang, aku rasanya ingin terbang melayang-layang karena tak ada masalah yang menjadi duri dalam daging sejak aku mengenal Kanda. Love love aku sangat love love sama Kanda."


Anitha begitu senangnya. Kecupan hampir didaratkannya di seluruh wajah tuan Nan. Dia memeluk tuan Nan.


"Tetapi sayang harus tanggung jawab sebentar ya sebelum kita mandi sore."


"Mmm siapa takut, tetapi hari ini aku cukup menerima ya, aku lelah." Mimik jahilnya muncul dengan sikap pasrahnya.


"Banyak alasan," kata tuan Nan tetap melanjutkan misi serangan sorenya. Anitha tersenyum bahagia dalam rengkuhan suaminya.


***/

__ADS_1


__ADS_2