Upik Abu Jadi CEO

Upik Abu Jadi CEO
Beri Satu Kesempatan


__ADS_3

Setengah hari lagi Anitha berada di negara penuh kenangan ini. Dia akan kembali ke dalam pelukan hangat lelaki yang merindukan dirinya. Anitha ke kantor dulu hanya untuk menandatangani beberapa berkas yang menyusul.


"Ini Bu," ucap Direktur utama menyerahkan laporan. Anitha mempersilakan duduk.


Anitha dengan cermat membaca lembar perlembar laporan tersebut. Setelah dipastikan tidak ada kesalahan, dia mulai membubuhkan tanda-tangannya.


"Bereskan?"


"Beres Bu."


"Bisa saya tinggalkan beberapa waktu urusan perusahaan di tangan Bapak?"


"Bisa Bu. Terima kasih."


"Bapak telfon saja saya langsung, jika ada kendala atau yang terkendala."


"Baik Bu."


"Saya langsung kembali ke Indonesia."


"Iya Bu, hati-hati di perjalanan."


Anitha merapikan meja kerjanya dengan gesit, setelah menyerahkan kembali berkas-berkas yang telah di tanda-tangani. Ia lalu berdiri dan merapikan pakaian dan meluruskan sedikit hijabnya yang terasa tidak rapi.


Dengan langkah pasti, dia mulai melangkah dan diiringi oleh direktur utama. Di lobi kantornya, Jeffy dan Harri telah menunggu.


Anitha diantar oleh direktur utama sampai ke pintu mobil perusahaan yang akan mengantar mereka langsung ke bandara.


"Enak ya Jeff, jadi orang penting ini. Dihargai ditunggui malah. Ini yang dirasakan suamiku dari dulu ya." Anitha kumat jahilnya setelah beberapa urusannya selesai. Karena tuan Nan tidak ada, Jeffy yang jadi target bulan-bulanannya.


"Hmmm nyindir, lagian kau saja yang merasa enak. Nansen biasa saja."


"Masa, aku tidak percaya."


"Jeff, kau sudah seperti saudara bagi Nansen. Berarti aku jugakan?" tanya Anitha penuh makna.


Jeffy mulai mengendus ada udang di dalam kantong plastik, jika Anitha sudah berkata penuh makna.


"Apa kau membutuhkan bantuanku?"


"Kau tahu saja Jeff," gelak Anitha. Luntur sudah topeng pimpinan. Kini Anitha hanya jadi adik manja buat Jeffy. Tetapi mereka justru lebih waspada saat Anitha melepas topeng pimpinannya. Segudang kelakuan akan mewarnai hari-hari orang yang dekat dengannya.


"Aku bukan sehari dua hari mengenalmu!" tegas Jeffy mulai pasang mata dan telinga.


"Hahaha, kau takut aku kerjai ya?"


"Bukankah itu memang niatmu?"


"Aku ingin bergosip dengan kalian berdua," ucap Anitha melibatkan Harri.


Harri terbatuk kecil mendengar dia terlibat. Terkadang Harri berharap tuan Nan menarik dirinya kembali menjadi bodyguard tuan lelakinya. Menjadi bodyguard tuan wanitanya sungguh banyak warna dalam hidupnya yang juga kaku.


"Gosip apa?"


"Mantan suamiku dipenjara," kata Anitha serius.


"Lalu?" tanya Jeffy singkat. Dia terkejut. Dia tahu tuan Nan tidak menuntut tentang kerugian di Singapura.


"Lalu masalah apa dia tersandung."


"Aku ingin tahu. Bukan karena aku masih mencintainya. Tetapi karena aku sudah jahat pada keluarganya, dengan menghancurkan adiknya. Dia juga jauh berubah sebelum aku memilih Nansen."


"Kau bisa memyesal juga?" olok Jeffy mengambil kesempatan membalas Anitha.


"Aku juga manusia biasa. Bahkan aku wanita biasa, punya mata punya hati." Nadanya yang penuh ironi membuat Jeffy tersenyum. Harri hanya diam.


"Kau bisa tidak tersenyum sedikit Harr, wajahmu seperti patung lilin saja. Kaku!" sindir Anitha.


Harri ingin merutuk kesal, tetapi dia bukan Jeffy yang bisa menyampaikan isi hati begitu saja.


"Perasaan aku dulu kau juga patung lilin," ujar Jeffy membela Harri yang bersungut karena disenggol Anitha begitu saja.

__ADS_1


"Walau aku patung lilin, aku bisa mendapatkan dewa Yunani itu," jawab Anitha. "Aku juga tidak lupa kalau aku ingin kau membantuku."


"Kau ingin aku mencari tahu penyebab dia masuk penjara."


"Iya!" jawab Anitha tegas.


"Setelah tahu, kau mau apa?"


"Lihat nanti saja. Tergantung kasus apa dia masuk. Bisa?"


"Bisa. Kau tidak cerita ke Nansen."


"Cerita, Nanti. Aku baru dapat kabar semalam. Aku tak suka dikhianati. Maka aku juga tak mau berkhianat." Jeffy menjadi lega mendengarnya.


***


Tuan Nan sedang sibuk di kantornya. Anitha menyusul ke kantor. Sehari rencana kepulangannya, ia sengaja meminta Jeffy tidak mengatakan. Anitha ingin memberi kejutan untuk suaminya.


Anitha melihat Helmi tidak ada di depan ruangan suaminya. Itu berarti tuan Nan masih di ruang meeting.


"Di mana Kanda?" Anitha mengirim pesan whatshapp.


Tak butuh waktu lama bagi Anitha untuk menunggu balasan. "Meeting sayang. Ada apa?"


"Di kantorkan meetingnya? Dinda berangkat pulang sore ini, tunggu di kantor ya."


"Oke sayang. Siap meeting kanda hubungi."


Kini Anitha sedang duduk manis di sofa di ruangan tuan Nan. Dia membaca majalah bisnis yang ada di atas meja suaminya.


"Dasar pria kaku, tak ada satupun wajahnya di majalah bisnis."


Setengah jam kemudian, terdengar langkah kaki menuju ruangan tuan Nan. Anitha bergegas berjingkat-jingkat kecil menuju pintu. Bukannya membukakan pintu, namun dia berdiri di balik pintu.


Ceklek ... terdengar pintu dibuka. Tuan Nan masuk dan disusul oleh Helmi. Saat inilah Anitha beraksi, Anitha menjangkau tangan suaminya.


Tuan Nan yang lagi serius begitu merasa terkejut. Tuan Nan cepat berbalik. Dia berteriak,"Dindaaa, kanda bisa mati berdiri kalau begini."


"Senam jantung Kanda." Anitha terkikik geli, melihat reaksi terkejut si muka datar suaminya. Anitha sangat puas. Helmi juga sudah ikut paham kelakuan istri bosnya di luar jam kerja.


"Baik Pak." Helmi meletakan berkas dari tempat rapat tadi. Dia keluar dan menutup pintu ruangan bosnya.


Begitu pintu ditutup, tuan Nan meraih istrinya. "Hebat istri kanda mengendalikan orang ya. Sehingga Jeffy yang begitu setia bisa membelot." Tak ada nada marah atau kesal dari tuan Nan.


"Hihiii, siapa dulu suaminya ... Nansen Adreyan."


"Kanda jangan macam-macam dulu, dinda punya masalah lebih besar sekarang," ucapnya dengan mimik wajah begitu serius.


Tuan Nan menurunkan istrinya yang dia apit dua sisi pinggang Anitha.


"Masalah apa?" tanya tuan Nan ikut serius. Mereka telah duduk di sofa.


"Masalah Ajeng."


"Hmmm, kirai apa tadi." Anitha kembali tergelak melihat kekesalan suaminya. Dia hanya menghindari tagihan suaminya.


"Yang benar saja jika dia mau minta di sofa kantor. Aku bukan sekretaris gila dalam dunia novel."


"Aku penasaran Kanda. Jadi dia mencampakkan berkas lamaranku."


"Kanda malah berpikir menyingkirkan dia dari perusahaanmu."


"Tak perlu Kanda. Aku sempat terpikir untuk melanjutkan ide Kanda. Namun aku ingin minta pendapat Kanda dulu."


"Memangnya pendapat kanda akan berlaku? Jika Dinda punya keinginan, akhirnya kanda kalah juga," ucap tuan Nan sambil menjepit lembut hidung Anitha.


Anitha tertawa renyah, hanya sebentar. Tuan Nan sudah membungkam tawa Anitha dalam kerinduannya.


"Mmmm ... Uhhh Kanda, ini kantor. Bagaimana kalau Jeffy masuk tanpa mengetuk pintu. Bisa meronta lagi jiwa melaranya." Anitha cuap-cuap manja.


"Biar saja. Salah dia sendiri." Tuan Nan tak mau tahu. Dia mengulangi perbuatan manisnya. Manis bagi Anitha pahit bagi para jomblo di kantor.

__ADS_1


"Kanda kembali pada Ajeng dulu. Nanti kita lanjutkan di rumah urusan kita yang ini.


"Apa rencana Dinda."


"Izinkan dinda memberi dia kesempatan satu kali Kanda."


"Maksud Dinda bagaimana? Kanda tak paham."


"Kita hanya manusia biasa Kanda. Punya salah punya khilaf. Begitu juga Dinda dan dia. Dia mungkin mendendam karena cintanya pada Sahrul. Dinda dendam karena hendak dijualnya, tetapi kini sudah kelar membalas padanya__"


"Tunggu, apa maksudnya dengan Sahrul?"


Anitha menjelaskan singkat. Tuan Nan jadi paham. "Jadi Dinda ingin meluruskan jalannya?"


"Iya, Jeffy sudah cerita jika dia masih berprofesi ganda. Kita belum tahu apa penyebab dia begitu. Apa butuh uang, atau pelampias sakit hatinya."


"Iya, masuk akal."


"Apalagi, bagaimanapun dia satu-satunya kawan dekat Dinda. Dia pasti tersiksa batin setiap kami dulu bersama."


"Okelah Kanda paham. Lalu?"


"Dinda akan coba membaur sebagai rekan kantor. Bukan bos dan bawahan."


"Bagus juga. Pakai target, jika dalam target yang ditentukan tidak ada kemajuan. Tekan saja dia tanpa ampun. Apalagi kalau dia macam-macam."


"Iya. Bagaimana juga mau macam-macam. Kanda dan orang-orang Kanda saja sudah membuat dia hanya punya satu pilihan."


"Benar."


"Makanya, apa guna kekayaan kita jika tidak bermanfaat untuk hal baikkan Kanda?"


"Iya, kalau untuk kepuasan diri. Kita berdua mungkin sudah puas karena telah mencapai eksistensi diri masing-masing."


"Itu maksud dinda. Kita juga harus peduli pada sekeliling kita. Dinda tak bisa tutup mata begitu saja."


"Dulu kenapa Dinda begitu mendendam?"


"Dulu dinda merasa begitu merana karena perbuatannya. Dinda lagi kesusahan hati, kesusahan finansial. Dia datang menerima keluhan dinda. Dinda mengira akan ada tempat betenggang. Namun salah."


"Lalu apa Dinda juga kesusahan hati saat masuk ke rumah Kanda pertama kali?"


"Tidak. Dinda malah punya semangat lebih banyak. Semangat untuk menaklukkan tantangan mbak Allea dan tantangan Kanda. Belum lagi ada keasyikan sendiri mengusik Kanda," Anitha tertawa berderai mengingat itu.


"Dinda benar tidak tahu, jika kanda sudah takluk saat pertama melihat Dinda?"


"Tidak, wajah Kanda kaku. Hanya saja dinda bisa lihat ucapan dan wajah Kanda sering tak singkron. Jika dinda tahu lebih awal, malas dinda kabur."


"Hahaha, tetapi ada bagusnya juga Dinda kabur. Kanda semakin menyadari dan yakin cinta padamu. Hidup kanda terasa sepi, padahal dulu sama Allea kanda juga sudah sering sendiri."


"Iya semua ada hikmahnya."


"Jadi yakin mau mendekati Ajeng?"


"Yakin, kalau Kanda izinkan. Karena itu tadi, dia juga tertutup dan tak banyak teman Kanda."


"Cobalah. Kita tidak tahu jika tidak mencoba. Seperti Kanda, tidak tahu manisnya dirimu jika tidak mencoba."


"Ohhh, jadi dinda hanya untuk coba-coba?" Tuan Nan telah salah kata. Siap-siap kena muntahan gunung berapi.


"Bukan begitu maksud kanda sayang __"


"Bukan begitu bagaimana?" tangan Anitha sudah menyelusup ke dalam jas tuan Nan. Membuka satu kancing kemeja di dekat pusat. Tetapi bukan untuk menggoda. Anitha mendaratkan cubitan kecil di perut suaminya walau terhalang baju dalam.


"Sakit sayang," ucap tuan Nan manja.


"Biarin. Sudah tua tak juga pandai berbahasa."


"Iya, kanda ngaku salah dalam kalimat godaan tadi."


Anitha memeluk suaminya. "Pulang yok sayang."

__ADS_1


"Ayok," jawab tuan Nan bersemangat.


***/


__ADS_2