Upik Abu Jadi CEO

Upik Abu Jadi CEO
Terakhir Kalinya


__ADS_3

Jika tuan Nansen di Singapura sibuk dengan urusan pribadinya, Anitha hanya berbaring cantik di sore ini. Sementara satu di sebuah kamar berbaring wanita yang sedang sibuk kembali ke masa lalunya. Berapa sekalipun dia ingin menepiskan bayangan itu tak mau hilang.


"Aku mencintaimu sayang," ucap seorang pria pada wanita setelah sang pria berhasil memperdaya sang wanita.


"Aku bahkan sangat mencintaimu Bang. Abang tak akan meninggalkan aku?" tanya gadis muda itu dengan manja.


"Tidak mungkin sayang, kamu sudah berkorban untukku. Aku yang mereguk madu manismu. Aku akan tanggung jawab."


"Janji?"


"Iya janji, selesaikan dulu kuliahmu." Mulut manis pria itu sungguh kalah dengan manisnya madu. Sehingga gadis polos itu rela melepaskan mahkotanya. Mahkota yang harus dia jaga untuk masa depan.


Gadis yang sudah bertukar gelar menjadi wanita itu adalah, Ajeng Rahayu. Dia melabuhkan cintanya dengan terburu-buru mengikuti hawa nafsunya.


Lalu suatu hari ...." Ajeng, ini kenalkan kekasihku," ucap Anitha dengan ceria. Tanpa dia tahu satu hati telah terluka, hati sahabatnya.


"Ajeng."


"Sahrul."


Mereka saling mengenalkan diri. Tanpa Anitha tahu, bahkan di belakang Anitha mereka jauh saling mengenal. Mereka bersandiwara.


Sore harinya ....


"Aku tunggu di hotel S!" perintah Sahrul dari telepon.


"Tega kamu Bang!" maki Ajeng di kamar hotel.


"Jadi maumu gimana sayang?"


Ajeng merinding dengar kata sayang yang diucapkan kekasihnya sekaligus kekasih kawannya.


"Putuskan dia, kau berjanji akan bertanggung jawab padaku Bang!"


"Putuskan katamu sayang? Bukan kamu yang mengatur hidupku!"


"Lalu bagaimana denganku?" tanya Ajeng penuh penyesalan.


"Aku kini mencintainya, aku tak tahu dia sahabatmu," ucap Sahrul tanpa perasaan.

__ADS_1


"Aku akan katakan sejauh mana hubungan kita!" ancam Ajeng.


"Boleh, lakukanlah! maka foto cantikmu akan menghias mading kampusmu!" Sahrul balik mengancam.


"Apa salah aku padamu Bang?" desak Ajeng.


"Kau tak bersalah apapun sayang," ucap Sahrul masih dengan nada datar.


"Aku tak mungkin berpisah denganmu Bang, bagaimana masa depanku nanti."


"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Selagi kau tidak mengusik hubunganku dengannya. Kau masih tetap menjadi penghangat ranjangku. Apapun mau kau akan aku belikan, aku penuhi sayang, asal kau puaskan aku seperti biasa," ucap Sahrul semakin tidak bermoral.


"Aku tidak tahan kau perlakukan begini Bang. Biar aku mengalah," Ajeng berusaha tabah dan bernegosiasi. Negosiasi noda hitam.


Siapa sangka pria lembut dan berwajah tampan ini mempunyai kelainan jiwa. "Aku belum mau berpisah denganmu sayang."


"Satu lagi pesanku, jangan kau jauhi dia. Aku tidak mau dia berpikiran aneh jika tiba-tiba kau menjauhinya. Selain itu aku ingin berdekatan dengan kalian berdua dalam satu waktu. Kamu paham sayangku? terutama dengan dirimu." Sahrul memeluk Ajeng. Kecewa dan ketidakberdayaan membuat buliran bening keluar menghiasi pipi Ajeng.


"Kamu bisa sayang?" Sahrul mengetatkan pelukannya, memperingatkan Ajeng untuk menerima segala kemauannya.


Kini masih di dalam pelukan Sahrul, Ajeng menyesali semuanya. Kini dirinya tak lebih hanya sebuah media untuk nafsu setan yang berwujud manusia ini.


"Aku akan menikah bulan depan Jeng, kamu mau membantu aku untuk persiapan pestaku?" ucap bahagia Anitha. Namun luka di hati Ajeng. Ajeng menolak dengan alasan sibuk penelitian. Anitha paham dan tak memaksa.


Ajeng masih selalu ditemui oleh Sahrul. Sikap disiplin ayah dan ibu Anitha menjadi peluang bagi Sahrul membagi cintanya. Anitha tidak diperbolehkan keluar malam sekalipun.


"Aku sebentar lagi akan menikah dengannya, kamu senang sayang?" ucap Sahrul dengan muka tanpa dosa.


"Untuk alasan apa aku harus senang?" tanya Ajeng yang selalu dalam pelukan.


"Untuk kebebasan pastinya. Besok ada Anitha yang melayani kebutuhan biologisku."


"Kau menganggap aku cuma wanita pemuas hasratmu!" Ajeng berkata dengan marah.


"Jadi kamu mau aku anggap apa sayang? Istri? Aku tak mau punya istri yang tak punya martabat, belum aku nikahi tapi sudah aku tiduri," kata-kata kejamnya tidak bisa ditolerir oleh Ajeng.


"Cukup! jangan kau hina aku terus. Aku melakukan demi cintaku padamu, tetapi ini yang kau balas padaku. Aku mau pergi dari sini dan dari hidupmu!" Dia bangkit dari tempat tidur, namun Sahrul menahannya dan menarik kembali kepelukannya.


"Setelah aku menikah kau boleh menjauh dariku, tapi aku juga tidak melarang kau untuk tetap mendekat," tawarnya pada Ajeng.

__ADS_1


Ajeng pasrah atas perlakuan Sahrul, sama terpaksanya saat Sahrul memuaskan nafsu setannya. "Aku akan mengubur masa lalu kelamku di kota ini," batin Ajeng merintih pedih dalam pelukan pria yang dia cintai.


Lalu Anitha menikah dan Ajeng hanya datang sebagai tamu undangan. Anitha tak sempat banyak berpikir karena dia sedang bahagia.


Hari ketika ijazah sudah di tangan Ajeng, dia menelepon Sahrul dan mengajak bertemu di suatu kafe untuk terakhir kalinya.


"Aku sudah tamat Bang, aku akan ke Jakarta dan tak akan kembali, aku ingin tanya satu hal."


"Tanyalah!"


"Apa Abang tidak pernah mencintaiku walau hanya sedikit?"


"Apa penting bagimu?"


"Ya aku ingin tahu dan tidak larut dalam penasaran menata hidupku kelak."


"Aku pernah mencintaimu, sebelum aku mendapatkan dirimu seutuhnya. Saat kau sudah menyerahkan segalanya, hatiku menjadi tawar, namun tidak nafsuku."


Hati Ajeng rasa remuk namun dia tetap bertanya, "Lalu apa kau mencintai Anitha?" Walau dia tahu, jawaban yang akan diterima akan menyakiti hati.


"Aku mencintainya, dulu dan sekarang. Dia penuh dengan kejutan dan selalu menyenangkan hatiku. Namun dibalik semua itu dia begitu sulit digapai. Jadi terasa perjuanganku untuk mendapatkannya," menyakitkan sekali kata-katanya.


"Aku doakan kau tidak punya anak. Agar anak kau tidak akan menerima karma dari perbuatan bapaknya!" Tanpa ragu Ajeng melangkah pergi. Dia tidak lagi menoleh kebelakang dan tak pernah tahu raut tertegun dan tidak terbaca seorang Sahrul yang begitu tanpa perasaan mempermainkan cintanya.


Cintanya tak pernah salah, porsi dan cara dia menempatkan yang membuat menjadi salah. Baik di mata Sahrul maupun di mata dunia yang mengetahuinya.


"Huh, begitu sulit rasanya berdamai dengan masa lalu," gumam Ajeng.


Ajeng lalu bangkit dari tempat tidurnya. Ajeng membawa dirinya dan berendam dalam bathub yang telah disediakan oleh asisten rumah tangganya.


Ajeng keluar setelah dirasa badannya mulai segar. Dia memoles pipi dengan pelembab, lalu dia memakai tipis-tipis alas bedak dan melapis dengan bedak padat mahalnya. Dia juga memakai pensil alis, dia mengukir indah alisnya yang memang sudah cantik. Melanjutkan dengan memberi maskara waterproof.


Tak sampai di situ, Ajeng melanjutkan dengan memberi eye shadow dan eyeliner. Kini wajah cantiknya semakin terlihat sempurna dengan kosmetik bermerek. Tak bisa di pungkiri cantik itu butuh biaya, tidak cukup hanya dengan mengandalkan inner beauty.


Senja telah hilang dan berganti dengan gemerlapnya lampu-lampu jalanan maupun lampu rumah. Bintang yang berkedip menambah cantik kelamnya malam.


Jika di sudut kota seorang wanita cantik mengerjakan pekerjaan gandanya, maka di suatu kamar seorang wanita lagi berbaring ditemankan video call dari ibunya. Anitha minta ditemani tidur melalui panggilan video call. Karena tuannya belum kembali. Dia merasa takut sendirian di rumah besar itu.


***

__ADS_1


__ADS_2