Upik Abu Jadi CEO

Upik Abu Jadi CEO
Kembali Ke Masa Lalu


__ADS_3

Anitha kembali ke hotel. Bagaiamanapun dia ingin menenangkan dirinya sejenak.


"Hahahaha, apakah ini kebetulan atau memang sudah takdirku. Bisa-bisanya aku datang sendiri kehadapannya," Anitha tertawa penuh rasa tak percaya, sambil meragui sendiri kata-katanya saat baru menginjakkan kaki dibandara tadi.


Anitha hanya membuka blazer dan menyisakan baju dalam berupa kemeja putihnya berlengan panjang.


Dia menuju ranjangnya dan duduk di pinggir ranjangnya. Dia yakin Jeffy akan memata-matai langkahnya. Anitha sudah bertekad harus bertemu Sahrul. Dia sudah tak bisa menahan rasa penasarannya dan ada suatu hal yang ingin dia katakan pada Sahrul. Dia tak ingin membahas ini melalui ponsel.


Anitha mencari ide, bagaimana supaya tuan Nan tidak merusak rencananya. Dia tak yakin tuan Nan melepaskan dia begitu saja.


Anitha hanya mengisi perutnya dengan roti dan secangkir susu coklat panas yang dia beli ketika pulang ke hotel.


Anitha tak ingin Sahrul tahu jika dia bertemu dengan tuan Nan. Bagaimanapun dia masih istri sah Sahrul. Dia yakin Sahrul akan maju jika merasa terdesak, dan tuan Nan tidak punya hak atas istri orang. Anitha tak ingin Sahrul kembali menguasai dirinya. Sahrul memang jauh berubah namun Anitha juga telah berubah. Mereka tidak lagi dalam satu tujuan.


Anitha mengirim pesan, "Uda, jam berapa terbang landas dari sana?"


"Uda sudah di bandara Singapura."


"Oke, aku tunggu di bandara ya?"


"Kamu segitu ingin bertemu uda ya?"


"Jadi Uda tidak ya?" Anitha menambah emot nangis di belakang kalimatnya.


"Uda bercanda. Oke susullah uda di bandara."


Anitha kembali mengenakan balzernya. Dia ingin memikat Sahrul dalam tampilan baju kerjanya. Anitha bergegas ke bandara. Anitha sangat yakin jika Jeffy sudah di bandara.


Anitha dengan tenang mulai memperhatikan sekelilingnya. Dia sangat yakin Jeffy tidak akan menyangka dia menyusul dan bisa cepat mengenalinya. Anitha menunggu di terminal kedatangan.


Anitha tidak bisa melihat Jeffy di manapun. Dia yakin di suatu tempat Jeffy mengawasi. Anitha telah meminta Sahrul dengan pakaian yang tidak mencolok. Jeans dan baju kaos polos yang di padu jaket biasa, ditambah topi dan kaca mata bening seperti kaca mata resep melengkapi penampilannya.


Mereka berdua sudah saling mengirimkan foto, jadi tidak sulit bagi mereka untuk langsung saling mengenal. Anitha telah meminta Sahrul berdiri berbaur. Anitha lalu menyelinap dan berbaur. Dia menarik tangan Sahrul dan berjalan santai menyelinap keluar di tengah kerumunan.


Anitha langsung membawa Sahrul ke taksi dan meminta sopir taksi bergegas melajukan kendaraannya. Mereka mencari hotel yang jauh dari jangkauan tuan Nan.


Di taksi Sahrul tak melepaskan tatapannya dari wajah Anitha.


"Kenapa Uda? Heran?"


"Iya, kamu semakin-semakin tambah cantik saja." Anitha hanya tersenyum manis. Tidak ada debar aneh juga tidak ada perasan aneh jika berbicara mesra dengan Sahrul. Sebulan terakhir hati Anitha sudah pulih dari luka dan trauma di hatinya. Anitha tidak lagi tersiksa karena rasa mual.


"Uda juga, tambah cakep seperti bos besar," ucap Anitha manja. Sahrul memeluk Anitha, Anitha juga memeluk Sahrul dengan manja.


"Maafi uda ya sayang, sungguh uda telah keterlaluan dengan sikap uda."


"Jangan bahas di sini," bisik Anitha.


Mereka akhirnya hanya ngobrol soal pekerjaan Sahrul. Anitha sedikit banyak mendapatkan gambaran soal Sahrul dan tuan Nan.

__ADS_1


"Jadi benar dia mendatangi Uda?"


"Iya."


Anitha semakin yakin, jika tuan Nan sudah mengetahui siapa Sahrul sebenarnya saat memulai kerja samanya. Satu yang tidak dan mungkin belum dia ketahui, bahwa tuan Nan sendiri yang menghadirkan Sahrul dalam hidupnya kembali.


"Masih mencarimu dia?" tanya Sahrul kembali.


"Tak tahulah, ibu tak ada cerita apapun. Berarti mereka tidak mencari langsung ke ibu, entah kalau dari jauh. Biar sajalah Uda. Aku juga tidak ada pulang ke kampung."


"Banyak yang uda ingin katakan padamu, hingga uda sampai bingung dari mana dulu mau uda katakan." Mereka masih berada di taksi.


"Katakan apa Uda punya pacar lagi? Atau Uda masih menghianatiku dengan teman kantor Uda yang modis itu?" Anitha mengalihkan topik yang hanya ingin dia bahas di hotel.


Sahrul memandang Anitha dengan lembut, lalu dia berkata, "Jangan menyindir, hampir tiap malam kita video call. Kapan uda punya kesempatan untuk itu semua."


"Uhhhi, Uda jadi terkekang ceritanya?" gurau Anitha.


"Tidak."


Mereka hanya bercanda hingga kini mereka telah di kamar hotel. Anitha membuka blazernya. Anitha membuatkan segelas kopi yang di sediakan di kamar oleh pihak hotel.Mereka hanya membeli cemilan.


"Ceritalah Uda, aku sungguh bisa mati penasaran kalau lebih lama lagi."


"Apa kamu tidak ingin dulu melepas rindu pada uda?" tanya Sahrul. Sahrul mendekati Anitha yang duduk di sofa. Dia melingkarkan tangannya di pinggang Anitha. Anitha paham kemana mau Sahrul.


"Nantilah Uda, cerita dulu padaku. Bukannya Uda janji tidak akan egois seperti dulu?" Anitha mematahkan semangat Sahrul yang lagi menggebu.


"Baiklah sayang, apa yang ingin kau tahu?"


"Apa penyebab Uda berubah!" tegas Anitha.


Merekapun kembali ke masa lalu.


Tiga bulan masa bahagia mereka, suatu hari datang sms dari Ajeng.


"Abang yakin, wanita yang abang cintai wanita yang setia seperti aku?"


"Apa maksudmu!"


"Wanita yang Abang bangga-banggakan, susah abang dapati selain dengan menikahinya. Kini wanita itu sedang berkencan di kafe tanpa abang tahu."


"Di kafe?" Sahrul langsung menelfon Ajeng karena tidak sabar mengetik dan menunggu pesan balasan.


"Iya di kafe. Kini dia di kafe dengan pria lain. Pria yang tidak setampan dirimu. Apa begitu niat dia menghinamu dengan mencari pria jelek sebagai sainganmu?" jawab Ajeng saat itu.


Sahrul bukan tidak tahu istrinya ke kafe. Anitha saat itu pamit karena adik dan ibunya ngajak bertemu.


"Dia memang ke kafe, istriku bukan wanita yang liar. Dia pamit padaku!"

__ADS_1


"Hahahha, istrimu sok lugu di balik wajah manjanya. Dia mungkin pamit padamu tapi dia tidak katakan kalau dia bukan bertemu ibu dan adikmu. Apa perlu aku fotokan?"


"Foto dan kirimkan jika ceritamu hanya untuk mengadu dombaku karena aku tak memilih kau sebagai istriku."


Saat itu, tak lama Sahrul menerima foto istrinya dan lelaki lain. Walau tak ada kemesraan di gambar itu hati Sahrul merasa terlanjur merasa ditipu oleh istrinya.


Tak ada permintaan penjelasan yang ada hanya pendiaman tanpa penjelasan dan kejelasan. Sahrul mulai memperlakukan Anitha sesuka hati. Bahkan ibu dan adiknya terus merecoki dengan cerita yang membuat sakit hati. Dia mengatakan Anitha tak ingin hamil sampai saat Sahrul memberikannya izin bekerja.


Sahrul juga menerima pil kb yang dikatakan ibunya didapati dari laci meja rias istrinya. Emosi yang mengunung tidak sempat membuat dia pikir panjang, kenapa ibunya bisa mengacak laci meja rias istrinya.


"Begitu yang uda dapat ceritanya," kata Sahrul mengakhiri ceritanya. Anitha ternganga tidak percaya jika tiga orang yang disayang dan dia percayai sanggup menghianati dan menghancurkan hidupnya hanya dalam sehari.


Walau hati Anitha telah tawar pada Sahrul, tapi rasa tidak percaya membuat hatinya berdenyut nyeri. Anitha menangis untuk rasa kecewanya pada mertua, adik ipar dan sahabat yang pernah dia percayai. Tangis itu lebih pecah akan rasa kecewanya pada lelaki yang pernah dia cinta dan kini malah berbalik mengharap dirinya.


"Jadi itu yang terjdi Uda? Aku sangat kecewa Uda, hatiku kembali sakit mengetahui ini semua. Namun yang paling membuat aku sakit kenapa Uda percaya begitu saja dan bahkan tidak bertanya padaku selama tiga tahun."


"Apa Uda tahu yang paling sakit dari semua itu?" tanya Anitha masih dengan rongga hati yang sesak dan air mata pelepasan beban hati. Anitha ingin menuntaskan semuanya.


"Apa?" tanya Sahrul yang juga dengan mata berkaca-kaca. Dulu hatinya membatu, setiap melihat tangisan Anitha hanya ada kebencian di hatinya.


"Aku merasa terhina dan tersiksa ketika aku memenuhi tanggung-jawabku melayanimu di ranjang. Kau selalu menganggap aku seperti wanita yang menjajahkan diri kepada hidung belang. Berulang kali aku ingin menolak, namun aku takut berdosa. Ketika aku menjerit kesakitanpun Uda tak peduli, Uda terus memenuhi dan mencari kepuasan sendiri tanpa memikirkan harga diriku yang hancur dan rasa sakit di sekujur tubuhku." Anitha tergugu dalam tangisnya. Sahrulpun tak bisa menahan air matanya. Betapa dia sudah melukai perasaan wanita yang memang dia cintai.


"Maafkan uda, maaf." Sahrul meraih Anitha, dia mendekap Anitha yang masih membuang semua air mata kepedihannya. Sahrul juga menangis mengingat betapa kejam dirinya atas nama cinta.


"Lalu apa karena pertemuan yang tidak sengaja di Singapore itu yang membuat uda ingin kembali padaku?"


"Iya."


"Tanpa Uda selasaikan dulu akar masalah yang membuat aku Uda siksa lahir batin?"


"Uda memutuskan itu hanya masa lalu. Uda tidak akan mengungkit lagi." Anitha merasa justru kecewa pada Sahrul. Dia tidak juga berpikir jauh dan matang. Sahrul berani membangun kembali rumah tangganya ditengah pondasi yang tidak kokoh.


Setelah air matanya tidak lagi sederas tadi, Anitha menarik dirinya dalam dekapan suaminya. Suami yang akan kehilangan hak atas dirinya.


"Uda harus cerita sebenarnya. Tahu apa yang dilakukan ibu Uda padaku dulu?"


"Apa yang dilakukan ibu?"


"Soal pil kb itu, ibu yang memberinya padaku, beliau katakan aku tak layak punya anak darimu. Aku hanya anak pegawai rendah. Aku tak punya uang."


"Apaa??" tanya Sahrul terkejut.


"Iya ibu yang memaksa."


"Lalu kenapa kau turuti?"


"Aku tidak turuti, aku hanya mengambil satu tablet tiap malam dan membuangnya ke closet. Ketika mulai berkurang itu mungkin ibu memberikan padamu. Aku mengira kau yang membuangnya, ketika tidak lagi menemui di laci mejaku."


"Lalu siapa pria itu?" Akhirnya Sahrul bertanya juga. Sahrul tidak bisa melihat wajahnya. Ajeng sengaja mengambil foto dengan posisi wajah Anitha saja yang jelas.

__ADS_1


"Ibu yang meminta aku ke kafe. Ibu dan adikmu ingin mengenalkan kekasih adikmu. Aku yang tidak pikir panjang jika semua itu jebakan semata. Karena yang datang duluan pria itu yang mengenalkan diri sebagai kekasih adikmu. Namun karena Uda cerita Ajeng yang mengirimkan pada Uda, ADA HUBUNGAN APA UDA DENGAN AJENG??!"


@@@


__ADS_2