Upik Abu Jadi CEO

Upik Abu Jadi CEO
Membangun Mimpi


__ADS_3

Tuan Nan masih ingat awal hari Anitha koma, dokter menanyakan, "Apa yang sebenarnya terjadi, hingga kepalanya bisa terbentur keras?"


Saat itu tuan Nan hanya bisa menceritakan singkat dan mengatakan, Anitha sempat akan terjatuh turun dari tempat tidur. Namun tuan Nan menyakini bukan mabuk penyebabnya. Anitha terlihat fresh dan tak ada mengeluh pusing.


Prediksi awal dokter mengetahui itu, dokter mengatakan, "Kemungkinan Nona Anitha mengalami gangguan muskoloskeletal."


"Gangguan seperti apa itu?" tanya tuan Nan saat itu.


"Gangguan fungsi, bisa pada sendi, otot atau saraf bahkan bisa juga pada tulang belakang. Kita tidak tahu kecuali bertanya terlebih dahulu pada Nona Anitha," jawab dokter menjelaskan pada tuan Nan.


"Penyebabnya apa?" tuan Nan ingin tahu guna menjaga Anitha kedepannya. Tuan Nan terus berusaha meyakini diri, bahwa Anitha akan sadar dan baik-baik saja.


"Banyak faktor, salah satunya bisa jadi karena tingkat aktivitas yang menggunakan otot terlalu berlebihan. Faktor lain, pekerjaan, menyebabkan sikap tubuh yang buruk. Gaya hidup juga bisa seperti atlet, lebih beresiko." Dokter tersebut menjelaskan dengan detail.


Kini, saat dokter melihat pasien sudah jauh membaik, dokter bertanya langsung pada Anitha dalam bahasa inggris. "Apa yang sebenarnya Nona rasakan sebelum jatuh dan terbentur?"


"Saya merasa tulang kaki kehilangan kekuatan dan otot betis saya rasa ditarik Dok."


Dokter sudah mendapatkan jawabannya. Ternyata Anitha pernah seperti itu. Tepatnya setahun setelah pernikahannya dengan Sahrul. Anitha juga pernah merasakan kelemahan otot kakinya. Dia ada jatuh tertuduk saat hendak bangkit. Hanya saja tidak separah kemarin.


Dokter dan tuan Nan juga tahu, Anitha ternyata pernah cedera di tulang kakinya ketika ikut lomba silat masa SMA-nya.


Seminggu setelah itu, Anitha telah bisa keluar dari rumah sakit. Mereka memutuskan pulang ke Indonesia. Jakarta. Dokter juga menyarankan Anitha sementara menghindari aktifitas yang berlebihan.


Anitha pamit pada keluarga tuan Nan. Terlihat mata ibu tuan Nan berkaca-kaca. Dia merasa Anitha tak bisa diraihnya. Anitha tetap memeluk ibu tuan Nan. Walau terasa jauh oleh ibu tuan Nan.


Tuan Nan juga memeluk ibunya. Tuan Nan berbisik sambil memeluk ibunya, "Tunggulah dia Mom. Jangan banyak pikir, dia tetap mencintai aku."


Kata-kata tuan Nan bisa membuat tenang ibunya. Setidaknya dia tahu, anaknya sudah memaafkannya dan kembali seperti dulu. Bahkan lebih bersemangat dari yang dulu. Hati ibu mana yang tidak merasa bahagia melihat anaknya bahagia. Kekhilafan tetaplah milik manusia. Begitu juga dengan ibu tuan Nan yang pernah salah.


"Daddy menunggumu memberikan cucu," ucap ayah tuan Nan saat Anitha menyalim tangan tua pria bule itu.


"Jika tidak ada halangan lain, tunggu dua tahun lagi Tuan Besar," kata Anitha sambil tertawa kecil.


"Oke, pria tua ini akan sabar menanti. Semoga dua tahun itu terasa cepat." Tak ada nada desakan dari ayah tuan Nan. Hanya nada candaan.


Merekapun akhirnya terbang landas. Hampir 18 jam lebih, mereka mendarat di Jakarta. Mereka telah di jemput oleh orang tuan Nan yang telah kembali jauh hari bersama Helmi.


Anitha di antar ke rumah, dan terlihat dua wanita yang berbeda generasi telah ada di rumahnya. Anitha memandang tuan Nan dengan heran.

__ADS_1


"Iya, kanda meminta Helmi mencari orang untuk membantu ibu dan pekerjaan rumahmu," kata tuan Nan yang mengerti pandangan heran Anitha. Tuan Nan meminta Helmi saat mengetahui Anitha tidak boleh terlalu memaksa tubuhnya.


"Aku tidak mau membayar mereka, kau yang harus bayar Tuan. Kau tidak meminta pendapatku," kata Anitha membuat yang lain tersenyum.


"Dasar pelit kau Tha!" Teriak Jeffy yang berada di belakang tuan Nan. Jeffy tertawa, tepatnya mentertawakan tuan Nan.


"Bukan pelit, tapi aku butuh perhitungan," jawab Anitha mengelak sambil masuk kerumahnya.


"Ya tenang saja, jangankan dua, dua puluh akan kanda bayar untukmu." Tuan Nan mengikuti langkah kaki Anitha.


"Hmmm, sombong," kata Anitha. Rasa gemas menyebar di hati tuan Nan.


"Dari dulu juga sudah sombong," tuan Nan meluruskan kata Anitha.


"Istirahatlah dulu," pinta tuan Nan.


"Ya Tuan. Aku mendengar perintahmu," jawab Anitha tersenyum manis.


***


Dua hari setelah itu, Anitha mulai sibuk dengan Aktivitasnya. Anitha benar menelfon Allea dan meminta sesuai perjanjian. Allea yang telah mengetahui dari tuan Nan, berniat mengerjai Anitha. Allea menolak dan Anitha mengancam membuat hidup Allea tak tenang. Allea yang telah menganggap Anitha seperti adiknya, dia tertawa mendengar ancaman Anitha. Dia akan memberikan apa yang Anitha inginkan.


"Mbak Allea telah setuju Kanda. Aku menagih janji lelakimu," ucap Anitha.


"Oke, kapan kita menikahnya?" ujar tuan Nan.Wajahnya bersinar cerah. Dia ingin membuat Anitha mengerucutkan bibirnya karena merasa dikerjai.


"Bukan janji menikah, jangan pura amnesia deh Kanda!" Anitha benar mengerucutkan bibirnya karena kesal. Dia bertanya serius tetapi kekasihnya selalu bergurau.


"Janji lelakiku, adalah menikah denganmu dan mengajakmu berpesiar dengan kapal yang mewah." Tuan Nan menjadi serius. Dia masih sangat ingat menjanjikan itu saat Anitha koma.


"Biar aku membangun mimpiku dulu. Baru kita menikah," ujar Anitha memelas.


"Sampai kapan sayang? Jangan bilang sampai kau bisa membuktikan pada Mommy. Aku bisa gila tiap malam berpisah darimu." Kini tuan Nan yang terlihat memelas.


"Ayolah sayang, sekali ini saja. Hilangkan sifat keras hatimu. Apalagi yang mau kau buktikan. Bagiku tak ada yang bisa menyaingi Anitha Putri. Wanita yang selalu membuat aku penuh kejutan. Wanita yang membuat aku penuh penyesalan." Tuan Nan terus meyakinkan kekasih keras kepalanya.


Anitha mulai menimbang-nimbang ucapan tuan Nan. Bukan karena kata-kata meyakinkan tuan Nan. Jika tuan Nan menyalahkan ibunya atas insiden yang terjadi kemarin, Anitha justru menyalahkan dirinya. Baginya mungkin itu peringatan atas kesalahannya. Belum menikah sudah satu kamar.


Secara halus ibunya juga sudah menegur dan memberi nasehat saat mereka hanya berdua.

__ADS_1


"Kenapa diam? Apa permintaan ini sulit?" tuan Nan memutus lamunan Anitha.


"Tapi aku sudah terlanjur sombong di depan mommymu. Aku rasa tak ingin jadi yang kalah." Anitha masih keras hati dan berkata penuh tekad.


"Untuk apa diperturut ego sayang, itu semua hanya ego Dinda semata. Kanda tahu, Dinda ingin membuktikan siapa diri Dinda. Bukannya kanda mau sok bijak, tetapi kanda sangat paham apa yang Dinda rasa dan lalui di masa lalu. Namun, tidak juga harus menghukum diri sedemikian berat." Tuan Nan semakin melembutkan suaranya. Walau Anitha tetap beraku-aku tanpa ada kelembutan.


"Hemmm," ucap Anitha hanya setengah bergumam. Dia hanya mengerakkan bibirnya ke kiri-ke kanan, tanpa ada niat melanjutkan kata-katanya.


"Kanda janji akan tetap mendukung niatmu untuk mendirikan sendiri perusahaanmu, jika itu menurutmu bisa membuktikan siapa dirimu. Kanda tak akan mematahkan sayapmu karena sebuah pernikahan. Jika badan Dinda sanggup berkarier tanpa mengabaikan kanda sepenuhnya."


"Dulu Sahrul juga pernah berjanji mengizinkan aku bekerja, nyatanya apa!" Anitha tak bisa menahan keraguannya.


Ingin rasanya tuan Nan marah, dipersamakan dengan Sahrul. Namun dia mengerti ketakutan Anitha. Memang hidup Anitha tidak mudah untuk dilalui.


"Jangan samakan kanda dengan dia sayang. Kanda bukan pria picik." Tuan Nan tetap berkata lembut.


Anitha sadar kata-katanya mungkin melukai hati tuan Nan.


"Maafkan aku. Kanda benar, tak sepantasnya kanda disamakan dengan dia yang egois."


"Kita tak usah bahas dia. Kita bahas masa depan kita saja, Bagaimana?"


"Beri aku waktu satu malam ini, bisa?" Anitha akhirnya mulai mau untuk menurunkan egonya.


"Bisa, apa yang tidak bisa buat Wanita Boneka kanda," ucap tuan Nan sambil mengusap bibir Anitha dengan ibu jarinya. Anitha merasa ada sengatan listrik pada tubuhnya.


"Hmmm ...." gumamnya.


Tuan Nan tahu apa yang dirasa Anitha, muka Anitha terlihat memerah. Tuan Nan juga merasa ada aliran listrik yang menyengat sarafnya.


"Ini satu alasan kanda ingin membangun rumah tangga bersamamu secepatnya. Kanda takut khilaf terlalu lama berdekatan denganmu. Untuk jauh darimu, kanda sudah tak punya langkah mundur. Namun jangan Dinda bilang hanya berniat memuaskan nafsu kanda saja. Sepertinya kita sama berniat," ucap tuan Nan bercanda dalam seriusnya.


"Iya Dinda pikirkan malam ini. Tepatnya bukan pikirkan, dinda coba bahas pada ibu." Anitha tiba-tiba menjadi tidak kaku dan manja pada tuan Nan.


"Makasih sayang. Boleh kanda mencicip sedikit bibir manismu ini," kata tuan Nan dengan suara parau. Tuan Nan yang niatnya memancing Anitha, malah terpancing sendiri.


***/


Jadi tidaknya tuan Nan mencicipi teruskan sendiri dalam pikiran masing-masing yaaah... 😂😂😍

__ADS_1


__ADS_2