Upik Abu Jadi CEO

Upik Abu Jadi CEO
Anitha Berlapang Hati


__ADS_3

Pagi hari tidak hanya sinar mentari yang cerah menaungi bumi, wajah-wajah terasa begitu cerah menaungi pasangan ini. Anitha dan tuan Nan.


"Ehemm," dehem usil sang daddy mereka. Anitha melirik sekilas pada sang Daddy saat membantu memapah dan mendudukkan tuan Nan di kursi meja makan.


"Kenapa Dad?" tanya tuan Nan berlagak tak paham.


Ibu mereka hanya saling pandang. Wajah anak-menantu mereka begitu semangat. Menenangkan hati seorang ibu.


"Kamu sudah rapi dan cantik Nak, mau ke mana?" tanya ibu Anitha.


"Aku ke kantor Bu, dan sudah minta izin dengan pangeran tampanku." Anitha melirik pada tuan Nan.


"Ohhh begitu."


"Jeff, kau harus benar-benar siap pasang badan." Titah tuan Nan pada Jeffy yang ikut sarapan di rumah mereka.


"Pasti Nan."


Selesai sarapan Anitha pamit dengan menyalim tangan tuan Nan terlebih dahulu.


"Har, kau bantu aku ke atas dan temani aku perusahaan sebentar." Harri juga ada dalam bagian meja makan.


Hari langsung dengan gesit bergerak.


"Tunggu, apa kau sudah bisa ke kantor Nan?" tanya ayahnya.


"Sudah Dad, terima kasih atas bantuan Daddy."


"Ya, tak usah pikirkan."


"Daddy mau ikut atau lelah dan ingin di rumah saja?" tanya tuan Nan penuh makna.


"Oke, Daddy akan ikut."


Tuan Nan hanya berganti pakaian. Dia tidak ingin Anitha tahu jika dia ke kantor. Tuan Nan hanya ada urusan sedikit dan tidak lama. Harri ikut masuk dan mendudukkan tuan Nan di sofa kamar.


Setelah selesai, Harri kembali memapah tuannya. Mereka melesat ke kantor.


"Tap ... tap ... tap ... langkah tenang Anitha terdengar memasuki lobi kantor dengan tetap didampingi Jeffy.


Anitha sedang berniat menuju lif khusus petinggi perusahaan. Namun baru beberapa langkah menapak dari pintu lobi, Anitha berserobok dengan Ajeng yang dari meja resepsionis.


Anitha dengan tenang menanti Ajeng yang berniat menghampiri. Jeffy telah mengkode pasangan mata yang hendak membungkuk pada Anitha dan dirinya. Jeffy menggeleng kecil.


"Wow, jauh berubah sekarang? Apa kau sudah menemukan pria kaya?" sindir Ajeng tanpa tahu etika.


Anitha dengan tenang menjawab, "Kalau iya lalu kau ingin apa teman?"


"Apa salah satu direktur sini telah kau rayu? Seperti dulu kau merayu Sahrul!" ketus Ajeng dengan nada penuh cemburu.


"Aku datang ke kantor ini pasti punya maksud. Apa kau tidak menanyakan dan mengajakku duduk di suatu tempat?" pancing Anitha tak ingin membuat Ajeng lebih malu pada akhirnya.


"Walau penampilanmu sangat kelas atas, aku tak peduli."


"Baik, kalau begitu aku permisi. Aku mau ke ruangan direktur utama."

__ADS_1


"Direktur utama tidak ada, kabarnya dia sakit." Begitu hebat orang-orang tuan Nan meredam berita.


"Ohh baiklah kalau begitu aku ke ruangan komisaris langsung." Anitha berniat memangkas waktunya.


"Kau pikir perusahaan ini punyamu, lalu seenaknya saja kau ingin menjelajah!" bentak Ajeng kesal tak menentu.


"Kalau aku katakan benar, apa tindakanmu?" tanya Anitha santai.


Anitha melangkah dan meninggalkan Ajeng, namun baru satu langkah, Ajeng mencekal lengannya.


"Kau harus melapor terlebih dahulu ke resepsionis!"


"Jika aku tidak bersedia?" tantang Anitha. Dia ingin menghancurkan sikap sombong Ajeng padanya.


"Security ... jangan biarkan dia naik ke lantai atas!" Ajeng benar gelap mata melihat Anitha, sehingga tindakannya mulai tidak rasional. Bagaimana bisa seorang staff HRD, mengatur tamu yang datang.


Security mengenal siapa Anitha, karena dia sering melihat Anitha bersama direktur utama. Dia hanya diam dan tidak menggubris teriakan Ajeng.


"Cukup mempermalukan dirimu Ajeng!" sentak Anitha dengan dingin. Sikap hangatnya telah mencair melihat kelakuan Ajeng.


Ajeng tersentak dengan nada dingin sahabatnya. Seumur hidup ini baru dia tahu Anitha bisa begitu dingin. Namun sakit hati mendarah daging dan telah berkarat di hatinya.


"Siapa kau sebenarnya!"


"Aku pemilik perusahaan ini! Kau boleh tanya yang lain!"


Anitha meninggalkan Ajeng yang terdiam. Dia terus melangkah ke liff khusus dan Ajeng melihat security di depan pintu liff menekankan tombol.


"Apa benar yang dia katakan? Apa dia menjual dirinya pada bos besar?"


"Perusahaan ini milik siapa?" tanyanya.


"Maaf Bu, kami juga tidak tahu." Security memang tidak tahu dan banyak karyawan tidak tahu. Mereka tahunya Anitha sebagai komisaris utama dan itu berarti dia ada memegang saham di perusahaan ini. Itu yang mereka tahu.


"Tak pernah berubah ya Tha." Jeffy terlihat kesal.


"Biar sajalah, mungkin dia masih sakit hati padaku." Anitha mulai menyalakan laptop di meja kerjanya.


"Tetapi dia tahu, jika kau tidak tahu apa-apa. Harusnya dia sakit hati pada pria itu!"


"Itu kata kita yang tidak di posisi tersakiti Jeff." Anitha berlapang hati dan membuat Jeffy tak menduga dia telah jauh berubah. Padahal dulu sifat inilah yang ada pada Anitha.


"Ngomong-ngomong tentang pria itu, kau sudah dapat kabar Jeff?"


"Sudah."


"Apa kasusnya?"


"Dia menggelapkan dana perusahaan."


"Perusahaan lama atau baru?"


"Baru. Asal kau tahu, di Singapura anak buahnya melakukan kecurangan di perusahaan yang Nansen bangun untukmu. Awalnya kami mendapatkan bukti dia tidak terlibat, tetapi setelah diusut lebih jauh semuanya atas permintaan dia. Makanya Nansen meminta memilih, melepaskan kau atau Nansen akan menuntut di meja hijau."


"Oww, ternyata pangeran aku pebisnis handal, sehingga membebaskan aku seperti berbisnis." Anitha berkata santai. Namun jantung Jeffy berdegup kencang. Dia merasa seperti salah bicara.

__ADS_1


"Kau marah sama Nansen, Tha?"


"Tidak, untuk apa aku marah." Anitha mulai fokus memasukan pasword dan memperhatikan data-data yang penting.


"Tunggu Tha, nanti kau cek. Aku bertanya serius, kau benar tidak marah?"


"Kenapa Jeff? Aku tidak ada masalah dengan cara suamiku melepaskan aku dari dia. Aku juga akan melakukan yang sama jika di posisinya. Aku cuma butuh hasil akhir. Walau semua butuh proses Jeff. Tapi aku lebih suka hasil akhir saja." Anitha menjelaskan dengan panjang lebar.


"Ohhh syukurlah," ucap Jeffy lega. Anitha tergelak.


"Apa yang kau tertawakan?"


"Kau bisa stroke jika banyak berpikir Jeff. Tentang kami jangan kau risau apapun. Aku tak akan berpaling dari Nansen karena apapun juga kecuali satu hal, jika dia sendiri yang memintanya."


"Woww kau keren ternyata dalam mencintai."


"Iyalah, dan akan lebih keren jika kau tidur di sofa tersebut tanpa mengganggu waktuku. Aku ingin cepat pulang."


Jeffy dengan bersungut pergi ke sofa. Anitha mengusirnya dengan terang-terangan.


"Hallo mr hacker ," sapa Anitha saat telfonnya diangkat.


"Hallo An, ke mana saja tak ada kabar."


"Banyak hal yang terjadi, intinya aku tidak bisa keperusahaan karena terbaring di rumah sakit."


"Ohhh aku memang tak mencari tahu, aku pikir kau sibuk dengan suami tampanmu dan juga perusahaan. Namun keamanan data perusahaanmu, aku pantau terus kok, jangan khawatir. Hanya itu yang bisa aku bantu untuk budi baik dan sikap baikmu dari dulu padaku."


"Terima kasih banyak ya. Bagaimana? Apa usahamu berkembang?"


"Sejauh ini semakin meningkat Tha."


"Okelah, aku mengabarkan karena ingin bertanya tentang itu saja. Aku sedang di kantor dan membuka file perusahaan."


"Aku tahu, ada sinyal masuk tadi. Saat aku cek menggunakan sistem yang terdaftar, aku tahu itu kau."


"Aku tutup telfon ya."


Anitha melanjutkan pekerjaannya. Ketika jam hampir menunjukkan makan siang, Anitha membereskan meja setelah menutup layar komputernya.


"Sudah?" tanya Jeffy.


"Ya. Kau tak bosan Jeff?"


"Sudah biasa menemani suamimu."


"Terlatih donk," ucap Anitha, lalu dia terkekeh menunjukkan barisan giginya yang putih dan rapi.


"Ke mana kita lagi?"


"Pulang. Ini waktu untuk suamiku."


"Oke, ayo."


Jeffy membantu mengunci ruangan Anitha. Mereka berjalan bersama.

__ADS_1


***/


__ADS_2