Upik Abu Jadi CEO

Upik Abu Jadi CEO
Ingin Memiliki Tanpa Cinta


__ADS_3

"Hmmm ada apa Anitha?" tanya Jeffy mengangkat telfonnya.


"Kau sibuk Jeff?" Anitha balik bertanya.


"Kau kebiasaan, ditanya malah balik tanya," rutuk Jeffy tak bisa menahan kesalnya.


"Hahahah kau sama pemarah dengan Nansen Adreyan," Anitha seakan bahagia mengatai Jeffy.


Jeffy hanya mendengus. "Ada apa?" tanyanya lagi.


"Temani aku ke suatu tempat Jeff, apa kau bisa?"


"Kalau aku tidak bisa, bagaimana? Apakah kau akan mengadu pada Nansen?" tantang Jeffy hanya ingin membalas Anitha.


"Kau mau menyamakan aku seperti anak kecil Jeff? Aku tak perlu mengadu."


"Lalu kau akan pergi sendiri?"


"Pilihan cuma dua Jeff. Aku pergi sendiri atau aku akan menggeret paksa kau, dan aku lebih suka melakukan pilihan kedua Jeff!" kata Anitha serius.


"Kau memang mengerikan!!"


"Tapi dia lebih mengerikan bagiku Jeff," jawab Anitha langsung melamun mengingat Sahrul.


Jeffy yang mendengar Anitha diam, jadi bisa menebak siapa yang dimaksud Anitha. Jeffy merasa kasihan pada Anitha. "Siapa yang kau maksud? Nansen?" tanya Jeffy seakan ingin tahu.


"Adalah ..., bukan kau atau Nansen Adreyan yang tampan itu!"


"Cepatlah, kau mau ke mana? Aku di kamarku. Kita bisa pergi sekarang jika kau mau!" kata Jeffy.


"Oke, beri aku waktu 15 menit untuk bersiap!"


Tak lama ... tok ... tok ... tok ....


"Ayo Jeff, aku ingin menikmati sejenak hidupku dengan kartu kredit tuanku," ujar Anitha dengan bahagia. Mereka berjalan beriringan.


"Nan memberikan kau black card kepunyaannya?"


"Begitulah Jeff ketika aku meminta gajiku dibayar dimuka, hahahaa." Anitha yang penuh tawa cukup membuat hati Jeffy menjadi lebih ringan. Jeffy kini berpihak pada Anitha.


"Kau tak heran dengan sikap Nan yang memberikan kesenangan padamu Tha?"


"Tidak, emang kenapa?" Anitha tak sempat banyak berpikir karena memikirkan Sahrul kini berada didekatnya.


"Allea saja tidak pernah dia beri kartu hitam dan putihnya," kata Jeffy.


"Itu karena aku bukan wanita royal seperti nyonya Allea. Dia percaya aku tak akan banyak menghabiskan duitnya," jawab Anitha asal, dia lalu terkekeh.


"Kau berani mengatakan nyonya?"


"Kenapa aku harus takut Jeff, kenyataannya memang begitu. Aku bahkan berani mengatakan langsung pada nyonya Allea."


"Kau serius berani?" tanya Jeffy tak yakin.


"Kau ingin mengujiku?" tantang Anitha.


"Karena banyak orang yang hanya berani berkata-kata!" kata Jeffy sedikit keras menyindir Anitha.


Anitha lalu mengambil ponselnya, saat ini mereka telah berada di dalam taksi.


"Hello Nyonyaa, aku lagi bersama orang tuan Nan." Anitha membatasi pembicaraan lebih dulu. Dia tidak mengetahui kalau Nan dan Jeffy sudah tahu keberadaan nyonya Allea.


"Lalu kamu mau apa An?" terdengar suara nyonya Allea yang diloudspekerkan Anitha.


"Aku ingin membawa Nyonya shoping dengan black card pemberian tuan Nan, Nyonya," kata Anitha membuat Jeffy angkat tangan lihat keberanian Anitha.

__ADS_1


"Nan memberikan padamu?" tanya nyonya Allea heran.


"Iya, apa Nyonya cemburu dan menyesali sesuatu?" tanya Anitha tersenyum penuh kesenangan.


"Oke nyonya, jawaban selanjutnya nanti kita bahas ya, ada mata-mata tuan Nan!" sindir Anitha membuat Jeffy tersenyum kecut.


"Ok!" jawab nyonya Allea dan langsung mematikan telepon.


"Bagaimana Jeff? Apa kini kau percaya padaku? Tak ada yang aku takutkan jika aku dipancing," ucap Anitha sedikit kesal pada Jeffy.


"Ya aku sudah tahu kini. Lalu apa kau tidak takut pada orang yang kau katakan mengerikan tadi?" Jeffy ingin tahu.


"Aku tidak takut Jeff, hanya ada satu sisi hatiku kadang yang lemah jika dihadapannya. Kau tapi tak usah cemas. Aku selalu berjuang jika sisi hatiku itu lemah. Jika aku tidak berhasil bagaimana aku bisa mendampingi tuan Nan suatu hari nanti," ucap Anitha serius.


Jeffy jadi mengetahui apa yang dijalani Anitha. Namun dia tak paham kalimat terakhir Anitha. "Maksud kalimat terakhirmu bagaimana?"


"Aku tahu kau orang kepercayaan tuan Nan. Aku juga tahu bisa saja kau melaporkan padanya. Tapi, bukankah kau berjanji akan membantuku secara pribadi?"


"Ya aku ingat, lalu?"


"Apakah aku bisa dan boleh memiliki tuan Nansen tanpa cinta Jeff??" kata Anitha serius.


Jeffy tak bisa menahan rasa terkejutnya dengan kata-kata Anitha yang lebih terdengar gila dari tuan Nan. Jika yang satu dulunya akan merebut paksa, yang satu ingin memiliki tanpa cinta.


"GILA!" teriak Jeffy.


"Siapa? Kau yang jadi gila?" kata Anitha mencemoohkan Jeffy.


"Iya aku yang jadi gila karena idemu!" Jeffy menutupi satu fakta bahwa kata gila bukan hanya untuk Anitha.


"Kau tidak mendukung jika aku memilih memiliki Nansen tampan itu?" tanya Anitha lucu.


"Aku bukan tak dukung, tapi kata tanpa cintamu itu yang buat aku dilema."


"Kenapa harus dilema? Bukankah aku dengan tuan Nan yang jalani?" tanya Anitha tersenyum simpul.


"Ya pasti melibatkan kaulah Jeff. Siapa lagi yang mau aku susahi!" kata Anitha tanpa dosa.


"Apa kau wanita yang tak berperasaan Anitha?"


"Perasaan aku sudah MATI Jeff. Mati saat aku menyerahkan hidupku dan terusir dari rumah orang yang aku cintai!" Anitha tak sengaja terucap sedikit rahasia hati yang ditutupinya susah payah.


Jeffy bisa merasakan kesakitan dan rasa dendam dari nada Anitha. Jeffy merasakan ada sedikit info yang bisa di serahkan pada tuan Nansen. Jika dulu mereka hanya bisa menduga masa lalu Anitha yang membuat dirinya seperti manusia tanpa hati. Kini sudah jelas apa yang menjadi penyebabnya.


"Kau pandai memancingku Jeff. Apakah tuanmu meminta laporan padamu?" tanya Anitha penuh gurauan, namun telak.


JIka Anitha hanya niat bergurau, Jeffy cukup terperangah mendengar tuduhan Anitha yang dilontarkannya dalam gurauan. Jeffy hanya bisa memutar balikan kata Anitha tadi. "Kau tidak takut aku laporkan, jadi apa salahnya aku laporkan!"


"Hahaha, laporkan saja Jeff. Aku ingin lihat reaksi tuan Nan ketika mengetahui sedikit masa laluku." Anitha malah mendukung Jeffy.


Jeffy yang duduk sama di bangku belakang penumpang menoleh pada Anitha. Dia memandang Anitha lekat.


"Kenapa?"


"Kamu masih waraskan Tha?"


Anitha terkikik geli. Dia membekap mulutnya agar tak menyemburkan tertawanya. Andai tidak di mobil dia sudah ingin tertawa terpingkal-pingkal dan memukul bahu Jeffy dengan keras. Supir yang mendengar entah mengerti entah tidak bahasa nasional Jeffy dan Anitha.


"Aku masih normal, I'm not crazy Jeff," Anitha masih terkikik. Anitha sengaja sedikit berbahasa internasional agar supir taxi tidak merasa dia yang ditertawakan.


"Tidak ada yang mau memiliki tanpa cinta di dalamnya Tha." Jeffy masih dilanda rasa tak percaya dengan semua pembicaraan Anitha di taxi ini.


"Ada Jeff, hanya saja kita tidak tahu."


"Kini aku tahu. Kamu orangnya!" kata Jeffy mendengus kesal.

__ADS_1


"Ayolah Jeff, jangan kesal begitu.


Mereka telah memasuki kawasan mall The Shoppes At Marine Bay Sands. Itu rekomendasi dari supir taxi.


"Woweyy fantastis," ujar Anitha penuh kesenangan.


"Aku tahu kau dari kampung, namun jangan macam orang tak pernah lihat kemewahan. Hidupmu kini mulai berputar arah Anitha," ucap Jeffy mengingatkan.


"Aku tahu dari kampung. Namun roda bisa berputar Jeff. Dan aku akan belajar perlahan supaya bisa berdiri sejajar mendampingi tuan Nansen." Anitha kembali mengulang kalimat itu.


"Kau serius Tha?"


"Tidak aku jelas bercanda," jawab Anitha dengan nada bergurau. Anitha belum memahami jiwa Jeff. Dia tak ingin Jeffy mengacaukan apa yang telah direncanakan.


Jeffy memang tidak bisa menebak apa Anitha serius atau tidak. Anitha pada dasarnya sukar ditebak.


"Jeff, bagaimana kalau aku berjalan sendiri, nanti aku kabari kau jika aku selesai berbelanja. Aku ingin mencari perlengkapanku," pinta Anitha.


"Kau memang tidak berperasaan, jadi kau memanfaatkan aku hanya untuk di dalam taxi?" Tak ada nada kesal dalam ucapan Jeffy.


Anitha mengedipkan matanya dan memberi senyum termanisnya, "Betul. Maafkan aku Kak Jeffy sayang. Kak Jeffy tidak akan bangkrut jika aku minta membayar pulang-pergi taksi ini sendiri," kata Anitha memanggil kakak pada Jeffy. Jelas hanya gombal Anitha semata.


"Oke telepon aku atau Nansen jika ingin pulang. Walau kau tak ada rasa takut tapi aku justru takut melepas kau yang terlalu berani!" tegas Jeffy.


"Ok, aku akan telepon. Aku mau ke dalam dulu ya, bye ... bye Kak Jeff sayang," ucap Anitha dengan manja yang hanya dia buat-buat. Jeffy dengan melambaikan tangannya mengusir Anitha untuk ke dalam.


"Di mana Bu?"


"Susul aku di salon 360`"


"Arahkan Bu, aku mana tahu di mall sebesar ini mau mencarinya. Masa iya aku tanya-tanya." Anitha menutup pesan chatting dengan emoji cemberut.


Akhirnya Anitha berjumpa dengan nyonya Allea. Anitha memang telah sepakat dari awal untuk berjumpa dengan nyonya Allea. Anitha telah mengirim pesan chat begitu supir taxi mengatakan mall yang dituju.


"Aku ingin Ibu membuat penampilanku berubah. Setidaknya sedikit elegan di bawah Ibu." Kata-kata Anitha membuat nyonya Allea tersenyum.


"Kamu begitu berniat merebut cinta tuan Nan?"


"Bukan cinta Bu, tapi uang dan kekuasaannya," kata Anitha yang membuat nyonya Allea terperangah dengan keterusterangan Anitha.


"Ibu terkejut?"


"Iya," aku nyonya Allea jujur.


Mereka sudah mulai melakukan ritual di salon. Namun pembicaraan mereka tak berhenti.


"Apa Ibu tidak mendukungku?"


"Tunggu dulu, bagaimana kalau panggilan ibu itu kamu ganti dengan mbak? Aku merasa sangat tua jadinya," pinta nyonya Allea.


"Berarti Mbak siap menjadikan aku madumu," gurau Anitha. Dia dengan mudahnya berganti memanggil Mbak pada nyonya Allea.


"Tidak usah, kamu jadi istri sahnya saja jika kamu berhasil memisahkan kami," ucap nyonya Allea mulai pandai bergurau dengan Anitha. Nyonya Allea merasa sangat cocok berbicara dengan Anitha. Dia merasa dirinya apa adanya, sama seperti saat dia bersama Liam.


"Hahha boleh juga ide Mbak."


"Kamu sudah memegang satu kartunya, aku saja hanya diberi kartu kredit biasa."


"Jadi Mbak sakit hati sama aku ceritanya?"


"Tidak, karena sekarang aku memang sudah tak cinta padanya."


"Apa cinta sebegitu penting untuk usia kita Mbak?"


"Aku penting, kalau bagimu entahalah." Nyonya Allea melihat Anitha termangu di ranjang spa.

__ADS_1


***


__ADS_2