Upik Abu Jadi CEO

Upik Abu Jadi CEO
Postpartum Depression


__ADS_3

Bi Ratih meninggalkan kamar tuannya ketika Anitha telah berada dalam dekapan tuan Nan. Jeffy kembali keluar dan menjauh dari kamar tuan Nan lalu kembali menelfon dokter keluarga.


"Di mana! Kenapa lama sekali!" Jeffy mulai tidak sabaran.


"Aku digerbang depan."


"Cepatlah."


Ketika dokter telah menyusul Jeffy ke lantai atas, Jeffy kembali mendengar, "Kenapa kau tega pada ibuku. Kenapa wanita itu boleh memegang anakmu, tetapi tidak dengan ibuku. Bukankah ibuku lebih berhak atas anakmu ketimbang wanita itu!" Anitha berkata tajam walau masih penuh air mata.


"Maaf, tak ada niat Kanda seperti itu. Tanyalah ibumu, beliau sedang tidak enak badan. Maka tak ingin menyentuh anak kita, agar tidak terjatuh."


Tuan Nan terpaksa mengikuti jalan pikir Anitha untuk memberikan ketenangan sementara. Anitha benar menolehkan kepala kembali di tempat dia merasa melihat ibunya. Dia kembali tenang ketika merasa ibunya mengangguk.


Dokter pribadi mereka hanya tahu Anitha lagi berhalusinasi. Sejauh mana, apa penyebabnya dan cara pengobatannya, dia belum memahami.


"Kenapa dokter kemari?" tanya Anitha pelan pada tuan Nan. Tuan Nan telah mengendong Anitha dan memindahkan ke ranjang.


Tuan Nan duduk di samping Anitha sambil mengusap wajah Anitha, "Dinda tidak berselera makan. Kanda meminta dokter melihat keadaanmu, vitamin apa yang cocok untukmu dan bayi kita."


"Kenapa tidak berselera makan?" tanya dokter Hari memancing pembicaraan.


"Tidak tahu, hanya tidak berselera," ucap Anitha datar.


Kemudian Anitha hanya diam membisu. Dokter tidak bisa meresepkan obat penenang ketika Jeffy mengatakan selintas keadaan Anitha. Anitha lagi sedang dalam menyusui bayinya. Lagian Anitha telah terlihat tenang.


"Begini saja Nan, coba minum vitamin ini. Aman untuk menyusui." Dokter Heru pamit ditemani Jeffy. Dia tidak perlu memeriksa lebih jauh. Dia sudah cukup mengetahui apa penyebabnya.


"Kanda jemput anak kita di bawah sebentar ya. Dinda tidak apa tinggal sebentar?"


"Tak apa."


Tuan Nan mengecup puncak kepala Anitha. Setelah merapikan rambut Anitha yang berantakan. Hampir lima minggu dia tak ada memberi perhatian pada Anitha.


Tuan Nan lalu turun ke bawah.


"Bayiku di mana?" tanyanya pada Jeffy. Dia meminta Jeffy mengawasi anaknya setelah dokter ikut turun.


"Kamar tamu."


"Ohh ya Jeff, kau tolong pergi ke dokter spesialis kejiwaan. Ceritakan apa yang terjadi. Pokok masalahnya, Anitha berubah setelah melahirkan aku perhatikan.


"Nan, aku rasa tidak perlu. Anitha aku rasa awalnya terkena baby blues. Namun kalian tidak menyadarinya. Anitha mungkin menyadari atau bisa jadi juga tidak."


"Baby blues?"


"Iya, gangguan suasana hati setelah melahirkan. Jadi si ibu yang terkena ini, mudah marah, sedih dan lelah. Bahkan ada yang tidak mau makan." Dokter pribadi keluarga tuan Nan menerangkan.


"Ya, aku ingat-ingat dia begitu. Aku kira karena masih merasa sakit siap melahirkan."

__ADS_1


"Bukan." kata dokter Heru singkat.


"Apa penyebabnya?"


"Belum diketahui secara pasti. Namun pemicunya bisa terjadi karena perubahan kadar hormon yang cukup drastis, menyebabkan ketidakseimbangan zat kimia di otak. Faktor istirahat dan banyak hal."


"Namun apa juga harus berhalusinasi begitu?" tanya tuan Nan kembali.


"Tidak."


"Lalu kenapa istriku mengalami itu?"


"Itu karena istrimu telah jatuh pada Postpartum Depression."


"Postpartum Depression?" ulang tuan Nan dan Jeffy yang merasa awam dengan kata-kata tersebut.


"Depresi pascamelahirkan. Baby blues jika tidak di atasi cepat akan berkembang menjadi depresi. Bisa juga awal melahirkan istrimu telah terkena itu."


"Penyebab?"


"Sama, tidak disebabkan oleh satu faktor saja. Biasanya kombinasi faktor fisik dan emosional. Akan meningkat jika si ibu mengalami stres."


"Apa yang dia streskan?" tanya tuan Nan lebih untuk ke dirinya sendiri.


"Kita tidak tahu. Bisa jadi kehilangan ibunya faktor terbesar. Tetapi istrimu aku dengar terlalu pandai menutupi sesuatu. Kalian mungkin hanya lihat dia bahagia. Kita tidak tahu hatinya." Dokter Heru tetap menjelaskan.


"Apa yang harus kita lakukan?"


"Ajak istrimu bicara. Lakukan konseling dulu ke psikolog." Dokter Heru terlihat kembali memberi saran.


"Kenapa tidak ke psikiater?" sela Jeffy.


"Anitha menyusui. Tidak baik menggunakan obat-obatan. Jika ke psikiater lebih dominan memakai obat. Baiknya ke psikolog saja. Bisa melalui psikoterapi terlebih dahulu. Jadi bisa ditanyakan ke Anitha langsung apa masalahnya dan akan di carikan solusi tanpa obat-obatan."


"Ohhh, baiklah. Kau rekom psikolog-nya. Besok aku coba ke sana. Semoga Anitha mau diajak kerja sama." Tuan Nan mengungkapkan harapannya.


"Oke, nanti aku kabari ke Jeffy saja. Kau harus lebih banyak meluangkan waktu untuknya dan bayi kalian. Aku permisi." Tuan Nan mengangkat satu tangannya. Jeffy mengantarkan ke beranda.


Tuan Nan menjemput bayinya di kamar tamu. Seperti mengerti keadaan mamanya. Sang bayi tidur dengan pulasnya. Terlihat sedikit geliat dari Hannan, ketika tuan Nan mengangkatnya.


Tuan Nan berselisih dengan Jeffy. "Aku coba cari tahu psikolognya dulu ya Nan. Kau tak apakan?"


"Ya, thanks Jeff."


"Telfon aku jika ada apa-apa."


"Ya." Tuan Nan berlalu dan menuju kamarnya. Namun langkahnya tertahan sejenak ketika mendengar Nova menyapa.


"Maaf Pak, ibu belum makan apapun. Tadi saya terkejut dan melepaskan nampan begitu saja." Nova menunduk penuh rasa bersalah dan takut tuannya marah.

__ADS_1


"Ohh, kamu antar saja lagi makanan baru ke atas ya," ucap tuan Nan datar.


"Baik Pak." Nova masih tetap menunduk. Bukan lagi karena takut tetapi karena hormat.


"Sayang, maaf lama."


"Iya, pasti bicara dulu dengan dokterkan." Nada Anitha terdengar sudah biasa saja.


"Iya, nanti saja kita bahas itu ya. Sekarang apa Dinda tidak ingin mengganggu si kecil ini." Tuan Nan mencoba bergurau. Gurau yang hampir dia lupakan karena kesibukan bekerja dan rasa bahagianya ketika melihat buah hatinya.


"Kenapa harus diganggu. Kasihan dia tidur dengan nyenyak." Anitha membela si bayi.


"Karena si bayi ini, kanda hampir melupakan mama si bayi."


"Jangan salahkan dia Kanda. Kanda yang salah terlalu sibuk bekerja akhir-akhir ini dan aku yang lebih salah, tidak mau mengerti akhir-akhir ini."


"Itu kata dokter Heru, kanda terlalu sibuk dan mengabaikan Dinda yang sedang butuh suami untuk memperhatikan." Tuan Nan mempunyai kesempatan untuk memasukan bumbu penyedap agar Anitha menyukai kata-kata dokter Heru lebih lanjut. Terlihat Anitha tersenyum senang.


Pintu di ketuk pelan dan Nova masuk setelah tuan Nan memintanya masuk.


"Taruh di meja depan sofa itu saja," kata tuan Nan datar. Bukan karena marah atau tidak suka dengan Art-nya. Orang kata, sudah bawaan oroknya memang demikian.


"Nah berhubung si bayi mungil kita tidur ... kanda suapi Dinda makan ya. Kata Nova tadi belum jadi makan."


"Tapi dinda tidak lapar Kanda."


"Hmm, apa Dinda tak sayang pada buah hati kita?"


"Sayang, kalau tak sayang ... tak mungkin dinda kasih ASI."


"Lalu apa sayang namanya, kalau ASI Dinda tak cukup nutrisi?" tuan Nan menatap lembut. Tak ada desakan atau perintah di sana.


"Iyalah, dinda makan." Anitha turun pelan-pelan dari ranjangnya menuju sofa. Tuan Nan mengikuti.


Baju kemeja berwarna navy, dengan dua kancing atas terbuka dan lengan yang digulung di bawah siku, menambah kemaskulinan lelaki blasteran ini. Dia menjadi lebih maskulin di mata istrinya ketika menanggalkan seluruh kancing kemejanya.


"Jangan aneh-aneh, Dinda belum bisa kanda ganggu," ujar tuan Nan pura-pura marah, ketika melihat pandangan berkilat Anitha melihat dirinya. Anitha meringis malu.


"Sudah anak satu, masih saja menggemaskan." Tuan Nan kembali menggoda istrinya. Dia mendekati istrinya hanya dengan memakai celana panjangnya. Baju kemejanya telah dilemparkan ke keranjang cucian.


"Kanda seksi ...." Senyum Anitha. Senyum yang hampir tak ada diperhatikan tuan Nan lima minggu ini.


"Dinda kurus, tak seksi lagi."


Anitha mengangkat tangannya, lalu memperhatikan. Dia juga melirik ke bodynya. Tuan Nan cepat menjawab sebelum Anitha salah paham. "Makanya makan, biar montok lagi seperti Hannan. Tetapi Percayalah, apapun itu, kanda tetap mencintai Dinda."


Tuan Nan mengecup bibir dan hidung Istrinya. Dia kemudian memberikan suap demi suap ke dalam mulut Anitha. Anitha yang memang belum normal, kembali melelehkan air matanya. Namun kini dia tahu alasannya menangis. Dia terharu dengan perhatian suaminya yang sempat hilang lima minggu ini. Senyum tipispun hadir di bibir Anitha.


***/

__ADS_1


__ADS_2