
Pagi ini terlihat ramai di rumah tuan Nan yang baru. Beberapa dari mereka mendekor ruangan berbeda.
Anitha sendiri sibuk di dapur dengan beberapa pelayan yang telah dipekerjakan oleh tuan Nan melalui seleksi dari Anitha. Mereka memang lagi berlibur dan mendekor rumah baru yang akan di tempati olah Anitha bersama tuan Nan.
Tuan Nan datang ke dapur, jika dulu di rumah lama, dia hanya bisa memperhatikan sosok Anitha di pintu kitchen. Namun kini, dengan baju santai yang membalut bodi tegapnya, dia melangkah mendekati Anitha dengan langkah senyap.
Anitha yang sedang asyik tidak mengetahui kedatangan tuan Nan. Namun dua ART menyadari. Tuan Nan dengan kode matanya meminta ART menyingkir. Dengan diam-diam dua ART tersebut meninggalkan dapur.
Tuan Nan mendekati Anitha. Tangan kekarnya melingkar, menyusup di kedua sisi pinggang Anitha. Dagunya di tumpuhkan pada bahu Anitha.
"Kanda sangat merindukanmu sayang," ucapnya penuh ke romantisan di telinga Anitha.
"Aku juga sayang, awas kalau sudah menikah tidak bisa mengatakan kata ini. Aku tak segan akan mengirim Kanda di pengadilan agama." Anitha memang berkata dengan lembut, namun kalimat ancaman terdengar mengerikan. Tanpa dia peduli ART-nya bisa mendengar. Anitha memang tak menyadari jika mereka hanya tinggal berdua.
"Dinda sungguh istri yang menyeramkan."
"Itu karena aku tak ingin Kanda hanya bisa romantis sebelum mendapatkan apa yang Kanda mau."
"Tidak sayang. Jika sudah menikah, kanda akan jauh lebih romantis padamu." Tuan Nan melepaskan pelukannya. Dia duduk di meja kitchen, menghadap Anitha yang tetap menekuni memotong kue yang beberapa saat lalu dikeluarkan dari oven.
Tuan Nan sangat mengagumi wanita cantik ini. Begitu banyak keahlian yang dia bisa. Tuan Nan tahu semua butuh kerja keras dan kegigihan hati Anitha. Hanya satu yang sangat sulit untuk dipelajari dan dilakukan oleh Anitha. Keromantisan. Tuan Nan masih merasa kekakuan pada Anitha. Walau Anitha bersikap manja. Tuan Nan masih butuh waktu untuk mengajarkan Anitha bersikap romantis.
"Ada yang bisa kanda bantu?"
Anitha menoleh sejenak. Dia menghentikan kegiatannya dan menilik sekelilingnya. Wanita itu baru menyadari jika dua ART telah tidak berada di sana.
"Kanda meminta mereka mengerjakan yang lain. Kanda hanya ingin berdua denganmu." Tuan Nan paham arti pandangan Anitha.
"Kalau begitu, Kanda yang bantu menata kue ini. Kanda juga harus membuat minuman untuk orang yang bekerja di rumah kita." Anitha menghunuskan pandangan tajam.
"Apapun yang Dinda katakan," katanya turun dari meja kitchen dan sempatnya dia mengecup dahi Anitha.
Anitha mengacungkan pisau kue. Tuan Nan terkekeh. Dia beranjak mengambil piring kue. Tuan Nan juga sudah terbiasa di dapur, sejak bersama Allea pun, tuan Nan paham dengan posisi dapur.
Tuan Nan bertanya sedikit pada Anitha, "Begini cara menatanya?" Anitha mengangguk.
Anitha mengambil bahan untuk membuat minuman segar. Dia tak sampai hati sepenuhnya menyuruh tuan Nan. Dia hanya ingin mengusili kekasihnya.
__ADS_1
Tuan Nan asyik menata kue-kue yang telah dibuat Anitha dan telah dipotong rapi oleh tangan halus Anitha. Tuan Nan terlihat begitu serius. Membuat Anitha tersenyum. Hatinya seperti ada taman bunga yang sedang mekar.
Jika tadi tuan Nan yang diam-diam menyelusup, kini tangan kecil dan jari lentik Anitha yang menyusup masuk di kedua sisi pinggang tuan Nan.
Walau Anitha termasuk tinggi untuk ukuran wanita pribumi. Namun dengan tuan Nan dia masih kalah jauh. Badan rampingnya menempel di punggung tuan Nan.
"Kanda terlihat sangat menawan jika sedang serius. Aku rasa ingin memangsa Kanda di dapur ini," ucapnya dibalik punggung tuan Nan.
Anitha memancing-mancing tuan Nan. Tuan Nan jelas gemas mendengar. Dia tak merespon ucapan Anitha. Sudah tidak satu dua kali, tuan Nan hanya masuk perangkap Anitha. Tuan Nan tetap melanjutkan menata kue.
Anitha yang merasa tidak di respon terus mencari cara mengerjai kekasihnya. Anitha mengangkat sedikit baju kaos yang dipakai tuan Nan. Kini baju kaos itu sudah tersingkap hampir ke dada. Mau tidak mau tuan Nan menegang karena sentuhan jari tangan lembut Anitha.
Anitha tersenyum penuh kesenangan merasakan tubuh tuan Nan menegang. Namun tuan Nan tetap mengabaikan Anitha. Dia sudah sangat yakin hanya dijadikan bulan-bulanan kekasih jahilnya.
"Kandaa ...." suara manja Anitha terdengar. Tuan Nan tetap diam.
Dia hanya menjawab, "Hmmm."
Anitha sedikit merubah posisi, dia menempelkan bibirnya dikulit pinggang tuan Nan. Tuan Nan menahan gejolak yang tiba-tiba hadir merasa bibir Anitha di pinggangnya. Anitha semakin kesenangan di dalam hati. Dia memberi kecupan pelan.
"Hmmm," satu deheman lolos dari tuan Nan. Namun deheman itu tidak berubah jadi desahan. Akan tetapi berubah jadi pekikan, "Ahhhhh ... sakit sayang."
Namun tuan Nan tak mau mengalah begitu saja, dia berniat membalas Anitha. Walau tidak berupa gigitan. Tuan Nan berencana memerangkap Anitha dan mengecup bibirnya. Tuan Nan cukup gesit membalikkan badan, dan menangkap Anitha yang berniat melarikan diri. Kini tubuh Anitha telah berada dalam dekapan tuan Nan dengan posisi punggung Anitha yang menempel di dada tuan Nan.
Tuan Nan baru hendak membalikkan Anitha menghadap kepadanya. "AWWW, TOLOOONG!!" teriakan suara Anitha yang terkenal nyaring ditambah perabotan yang belum banyak, melengking memenuhi ruangan dapur bahkan menembuas ruang tamu.
Harri dan Jeffy yang telah terlatih, langsung melesat ke arah suara pekikan Anitha. Tuan Nan yang terkejut mendengar pekikan tanpa sebab Anitha, hanya bisa tertegun masih dengan posisi menahan Anitha yang memunggunginya.
Harri dan Jeffy telah sampai di depan pintu kitchen, bukan keadaan yang berbahaya, mereka malah di suguhkan pemandangan romantis. Jika Jeffy sudah terbiasa, tidak dengan Harri. Harri berniat membuang pandangan, namun tidak jadi saat melihat senyum jahil Anitha dengan tangan yang berbentuk V.
Jeffy tak bisa menahan tawa, melihat raut wajah tuan Nan yang berganti-ganti. Wajah yang biasanya sering datar itu kini banyak emosi tergambar. Jeffy tertawa terbahak-bahak.
Bukan hanya Jeffy, kini dibelakang Jeffy dan Harri telah ramai mata memandang. Termasuk ibunya yang mendengar teriakan.
Ibunya melihat tuan Nan lalu berganti ke Anitha. Tuan Nan sudah melepaskan Anitha. Anitha masih dengan membentuk huruf V yang di gerakan naik turun. Senyum jahilnya tak hilang.
"Ada apa?" tanya ibu Anitha yang tidak menemukan apapun selain wajah tuan Nan yang gemas dan wajah Anitha yang jahil.
__ADS_1
"Biasa Bu, dia mengerjai Nansen." Jeffy menerangkan menggantikan tuan Nan. Ibunya menggeleng lalu meninggalkan mereka.
Harri sudah meminta yang lain kembali ke tugas masing-masing. Kecuali ART yang di minta pergi oleh tuan Nan tadi. Tuan Nan melambaikan tangan memanggil mereka.
"Bantu nyonyamu mengerjakan ini," tunjuknya pada minuman yang belum jadi dibuat Anitha. Suara tuan Nan tak terdengar kesal atau dingin.
"Baik Tuan," jawab Nova dan Marta serentak.
Jeffy masih belum beranjak. Dia menatap penasaran pada tuan Nan. Sebelum berlalu meninggalkan Anitha, tuan Nan tanpa sungkan pada para ART mengecup pipi Anitha dan berkata, "Kanda akan menghukum kau begitu kita menikah," ucapnya lembut. Anitha hanya menjulurkan lidah.
Anitha kembali meneruskan kerjanya, ART yang belum terbiasa melihat kejahilan Anitha hanya bisa kaku memperhatikan interaksi tuan dan nyonya mereka.
Marta dan Nova hanya mengingat wajah dingin Anitha saat menerima mereka.
kilas balik ....
"Kalian benar ingin bekerja di sini?" tanya Anitha datar.
"Iya Nyonya," jawab mereka bersamaan.
"Kalian tahu pekerjaan ART tidak ringan. Bentuknya saja yang tak berat." Anitha sudah pernah merasakan, walau tidak penuh menjadi ART.
"Saya tahu Nyonya ... saya juga paham Nyonya ," jawab mereka kembali.
"Asal kalian tahu, saya untuk sampai sejauh ini tidak melalui dengan mudah! Banyak hal pahit yang saya lalui! Saya tidak bisa menerima penghianatan dalam bentuk apapun. Jika itu terjadi saya yang sekarang tidak segan menghancurkan kalian sampai ke keluarga kalian, walau penjara tempat terakhir!!" kalimat demi kalimat nyonyanya begitu terasa dingin oleh Marta dan Nova.
"Iya Nyonya , kami berjanji."
"Saya dan tuan akan menggaji kalian sesuai dengan keringat yang kalian keluarkan. Saya tidak akan memakan keringat kalian. Tetapi sekali lagi, saya hanya butuh kesetiaan. Jika kalian tidak menghianati saya, saya bisa jauh lebih baik dari orang baik yang pernah kalian kenal."
"Terima kasih Nyonya . Saya akan mengabdikan diri saya demi ibu saya yang janda dan adik saya yang ingin kuliah demi merubah nasibnya," jawab Marta.
"Saya juga Nyonya , ibu saya juga hanya janda yang memungut cucian dari rumah ke rumah, demi menghidupi adik-adik saya yang masih butuh pendidikan." Nova juga menyampaikan alasannya.
"Baik, kalau begitu kalian saya terima. Hari ini kalian boleh bekerja di sini, atau jika ada urusan lain besok juga boleh. Tepatnya besok saya dan tuan libur. Saya ingin mendekor rumah ini sebelum kami menikah."
"Baik Nyonya, kami akan kesini pagi-pagi sekali. Kami akan mengemasi baju hari ini."
__ADS_1
Anitha sudah tahu latar belakang mereka. Anitha telah meminta Jeffy mencari tahu. Anitha memang masih sangat takut berurusan dengan wanita. Baginya penghianatan Ajeng sangat membekas di jalan hidupnya. Atas dasar latar belakang ibu seorang janda, Anitha memerimanya. Dia bisa merasakan hidup sebagai mereka, walau ibunya tak sesusah ibu mereka.
***/