
"Kau membalas perkataanku waktu itu, Tha Kau pendendam." Jeffy ingin mengajak ribut Anitha. Namun matanya tak bisa lepas dari Ningsih istrinya.
Begitu eksotis kulit yang baru selesai di lulur. Rambut yang di tata dan baju yang lebih modis. Semua ahli di panggil ke rumah oleh Anitha. Perihal fashion dan make-up. Anitha meminta jasa dari butik Melly. Walau yang turun hanya anggota Melly.
"Ternyata benar kata Anitha, penampilan jauh lebih menarik dari pada bakat. Penampilan bisa mengubah siapa saja." Jeffy membatin tanpa melepaskan pandangan pada Ningsih. Membuat Ningsih merasa ada rasa berbeda hadir di hatinya.
"Ini baru sehari istrimu di sini Jef ... apa kau yakin mendekatkan denganku selama dua bulan ini?" goda Anitha. Jeffy tersenyum misterius.
"Okelah, aku mau membawa istriku pulang." Jeffy merangkul senang Ningsih. Ningsih dengan malu-malu tersenyum pada Jeffy. Biasanya wajah Ningsi walau tetap lembut, namun tanpa ekspresi apapun selain hormat seperti tuan dan anak buah.
"Jangan lupa besok tolong mengantar mbak Ningsih ke sini. Masih ada sesi selanjutnya."
"Baik Nyonya." Jeffy membungkuk memberikan hormat pada Anitha.
"Duuhggg." Anitha melayangkan tendangan kecil ke tulang kering kaki Jeffy.
"Adegan barusan bukan untuk ditiru ya Mbak." Anitha menceletuk dan tuan Nan tergelak.
"Kau pulanglah Jeff, aku takut istriku semakin melakukan kekerasan padamu." Kekehan tuan Nan belum lagi hilang.
"Kalian memang sepaket! Ayo kita pulang sayang," ajak Jeffy mesra setelah mengumpat kecil pada Anitha dan tuan Nan.
Tuan Nan dan Anitha memandang Jeffy dengan tatapan mengolok. Jeffy tak peduli. Dia menggenggam tangan Ningsih dan meninggalkan rumah kediaman tuan Nansen.
"Ayo Kanda, dinda siapkan cemilan sore." Tangan indah Anitha melingkar di pinggang tuan Nan.
Mereka beriringan memasuki rumah dan menuju kamar. Melihat si bayi masih tertidur pulas, Anitha kembali menuju dapur sementara tuan Nan mandi.
Di perjalanan ....
"Cantik aku Mas?" tanya Ningsih dengan begetar malu. Jeffy tak percaya jika wanita yang telah dinikahinya bertahun lalu akhirnya bertanya seperti ini.
"Ehemmm, kamu sangat cantik." Setelah berdehem panjang Jeffy memberikan pujian yang tidak pernah dia lontarkan.
"Makasih Mas." Rona merah dimukanya belum hilang. Jeffy bisa melihatnya saat melirik istrinya.
"Sepertinya tidak sia-sia aku meminta saran Nansen dan Anitha."
Tidak sulit mengajar wanita polos. Permintaan kecil Anitha pada Ningsih langsung dipraktekkannya.
***
Waktu terus bergulir, Anitha telah kembali aktif di kantor. Anitha dan Ningsih tetap bertemu di waktu-waktu luang. Kini Ningsih jauh berubah. Jeffy senang dengan semua perubahan ini.
Di hari libur ini Jeffy menghabiskan waktu untuk Ningsih. Begitu pula tuan Nansen, dia memberikan waktu luang untuk istri dan anaknya.
"Aku senang kau tidak lagi seperti budakku sayang," ujar Jeffy suatu sore, dia telah terbiasa memanggil sayang jika berdua.
"Aku masih budak sayang," jawab Ningsih yang membuat Jeffy kembali pada rasa tidak percayanya.
Panggilan sayang oleh Ningsih serasa aliran listrik menyengat tubuhnya. Ningsih tidak pernah bisa mengucapkan kata itu dulunya dan Jeffy juga canggung untuk memanggil karena melihat tingkah laku Ningsih.
__ADS_1
"Wanita menyebalkan itu ternyata bisa juga membuat orang senang."
"Budak bagaimana maksudnya? Apa aku terlalu keras padamu?" Jeffy telah berjanji pada diri sendiri untuk lebih memperhatikan istrinya. Seperti kata tuan Nan padanya.
"Aku budak nafsumu selama ini Mas." Ningsih kembali berani menyuarakan isi hatinya.
"Maafkan aku. Aku janji akan berubah untukmu."
"Aku juga minta maaf Mas. Selama ini aku tak bisa bersikap sebagai seorang istri. Namun percayalah, sejak kau menolongku, aku mulai menyukaimu."
"Benarkah?" tanya Jeffy tidak yakin dengan ungkapan hati Ningsih.
"Benar Mas. Semakin lama, aku malah jatuh hati padamu sepenuh hati. Aku tidak pernah banyak membantah atau protes karena aku takut keluar dari rumah ini dan keluar dari hatimu."
Jeffy memandang Ningsih dalam, mencari tahu apa benar dia wanita yang sama yang dinikahinya dulu.
"Jika Mbak berbicara, maka tatap matanya. Jangan menunduk! Itu hanya wajar untuk ukuran tuan dan budaknya! Terlebih jika dia menatapmu, pandang dia tepat pada bola matanya, agar dia tahu kita ini wanita berharga dalam hidupnya."
"Kenapa Mas melihat begitu?" tanya Ningsih berani menatap mata Jeffy.
"Kau jauh berubah, hanya dalam beberapa bulan!"
"Mas tidak suka?" tanya Nangsih lembut. Ningsih lalu dengan berani membekap mulut Jeffy yang terbuka kecil. Jeffy selalu diberi kejutan akhir-akhir ini.
Jeffy menepiskan lembut tangan Ningsih yang membekap mulutnya. Dia menggenggam dan berkata, "Bagaimana aku tak suka. Kau tidak pernah menyentuhku duluan seperti ini."
"Hehehe ...." Ningsih tertawa kecil.
"Jangan katakan dek Anitha menyebalkan Mas. Dia wanita yang sangat aku sayangi. Tak ada yang menganggap aku manusia di kampung dulu, bahkan ayah-ibuku."
"Apa yang terjadi?" Jeffy memang tidak pernah bertanya banyak tentang masa lalu Ningsih.
"Banyak yang terjadi Mas. Dek Anitha tidak hanya mengganggapku manusia tetapi juga saudara yang tidak pernah aku rasakan." Tragisnya hidup Ningsih.
"Ceritalah."
"Lain waktu saja Mas. Mari kita nikmati hari libur ini.
(Besoklah di lapak baru kita cerita Mas. Ini cerita Anitha dan tuan Nan. Tidak enak jika kita mendominasinya, Mas. Itupun jika penulisnya tetap semangat dan ingat kita.)
"Baiklah kalau begitu, yang penting kau sudah jauh berubah. Mari kita hidup bersama dalam suka dan duka, kita akan saling terbuka."
"Iya, terima kasih sudah hadir dalam hidupku Mas."
"Wow wow, aku tak percaya ini adalah kamu Ning."
"Nyatanya, ini Ningsih Mas."
"Iya, terima kasih juga kau selalu ada untuk aku Ning. Namun jangan kau tiru perangai jahil Anitha. Aku bisa pusing nantinya. Cukuplah Nansen yang ditularinya."
"Stttt emangnya dek Anitha virus menular." Ningsih terkekeh lepas. Kekehan yang juga tidak ada dalam hari-harinya, baik dulu maupun setelah menikah. Mau tidak mau Jeffy juga tertawa melihat tawa lepas istrinya.
__ADS_1
Sedang asyik mereka bercanda, telfon Jeffy berdering. Jeffy melihat id panggilan dari tuan Nan.
"Ada apa Nan?"
"Jeff, gawat Jeff gawat!" terdengar nada panik tuan Nan.
"Apa yang gawat!" Jeffy meminta penjelasan dengan tenang dan tegas.
"Itu Jeff ... ii__tu ...." tuan Nan terdengar makin panik.
"Ada apa NAN! Kau coba tenang dan tarik napas."
"Hufff ... hufff ...." terdengar tuan Nan membuang napas dengan kuat.
"Ada apa!" Jeffy mendesak tuan Nan.
"Mommy Jeff mommy ...." kembali nada panik tuan Nan terdengar.
"Ada apa dengan mommy!" Jeffy sungguh frustasi dengan kepanikan tuan Nan. Tak pernah dia melihat sepanik ini bahkan ketika tragedi Anitha melarikan diri.
"Mommy meminta kita besok pagi terbang ke Swedia, dia rindu pada Hannan." Nada tuan Nan terdengar geli. Dia berhasil mempermainkan Jeffy seperti keinginan Anitha.
"NANSEEEN, AWAS KAU YA!!" Jeffy terdengar sangat geram.
"Jangan kau kesal padaku. Kau kesal saja pada wanita yang kau anggap adik kesayangan ini." Tuan Nan tergelak puas.
"Seharusnya tidak usah kau dengarkan. Kau ketularan virusnya, sebentar lagi istriku akan satu kubu dan satu perangai dengan kalian!" Jeffy mematikan ponselnya. Dia sangat kesal.
Kembali telfon berdering, Jeffy tetap mengangkat. "Ada apa lagi? Iya besok pagi kita berangkat. Apa yang tidak bisa oleh orang kaya seperti kalian!" umpat Jeffy tajam.
"Hahhaa kau benar kesal."
"Pikir sendiri."
"Oke-oke aku pikir. Tetapi bisakah kau buka pintu apartemenmu? Kami sudah di lantai bawah.
"Hahhaa kau jangan bercanda Nan. Seumur hidup kau, kau tidak pernah mampir ke apartemenku!" Jeffy masih tak percaya. Dia merasa akan dikerjai oleh tuan Nansen.
"Aku mungkin tidak mau, karena aku menyangka apartemen jomblo dulunya. Aku takut ada kuman di dalamnya." Sambungan terputus.
Ting Nong ... Ting Nong ....
Ningsih bergerak cepat membuka pintu. Dia memang cepat. Terlihat Anitha dengan senyum khasnya. Hannan dalam gendongan tuan Nan.
"Apa kedatangan kami mendadak, mengganggu kalian Mbak?" tanya Anitha ceria.
"Jangan banyak cerita Tha, kalau merasa mengganggu kenapa kau datang!" Jeffy masih terlihat kesal dengan pasangan suami istri ini. Anitha dan tuan Nan tertawa ketika melihat Ningsih berani mendelik pada Jeffy.
"Masuklah Pak," ajak Ningsih.
***/
__ADS_1