Upik Abu Jadi CEO

Upik Abu Jadi CEO
Cemburu Pertama


__ADS_3

Ibu tuan Nan dan ibu Anitha baru bergerak selangkah dari dekat tuan Nan. Mereka menegang dan merasa serba salah ketika tiba-tiba terdengar, "Tiiiiiiit ...." Bunyi panjang monitor disamping Anitha. Dokter dan perawat dengan gesit mengatasi.


Tuan Nan menoleh melihat ke tirai pembatas. Perasaan berdebar tanpa dia paham ada apa. Ibu Anitha sungguh dilema, antara mau melihat anaknya dan memikirkan kesehatan menantunya yang baru terbangun sadar.


"Kenapa Ibu dan Mom hanya berdiam di sana? Siapa di sana?" tanya tuan Nan hanya mengikuti kata hatinya untuk bertanya.


Dokter melakukan kejut jantung dengan alat kejut. Memberi rangsang pada jantung Anitha yang hampir tak berdetak. Dokter lebih memikirkan perasaan ibu pasien yang seperti hilang akal.


Akhirnya mau tidak mau dokter membuka tirai dan memanggil ibu Anitha. Mereka tanpa dikomando bergerak membagi tugas. Ibu Anitha menuju ranjang anaknya, sedangkan ibu tuan Nan menuju ranjang anaknya.


Tuan Nan walau tak mengerti ada apa, dia sudah bisa menduga, Anitha berada dibalik tirai tersebut.


"Bawa aku ke sana Mom," nadanya begitu mendesak.


Satu perawat akhirnya membantu tuan Nan memapah mendudukkan di kursi roda. Mendorong mendekatkan ke ranjang Anitha.


Jika dia perturutkan rasa terkejutnya, tuan Nan merasa darah di tubuhnya tersedot habis. Bagaimana bisa pemandangan ini disaksikan olehnya ketika dia baru sadar dari komanya.


Dia melihat istrinya begitu pucat. Jari-jari tangan besarnya telah menggapai tangan Anitha. Dia menggenggam erat tangan istrinya. Bulir air matanya tak bisa dibendungnya. Sekali lagi pertahanan tuan Nan bobol.


"Bangun sayang." Hanya itu yang bisa tuan Nan katakan dalam hatinya. Tangannya terus menggenggam tangan Anitha. Dokter sudah pasrah tidak bisa lagi menaikan frekuensi alat kejut jantung.


"Bangun Nak, suamimu menunggumu." Hanya itu yang bisa beliau katakan. Air mata juga menemani.


Seakan jiwa Anitha ingin meminta bantuan pada alat detak jantung tersebut, bahwa dirinya terbaring didekat suaminya yang mengatakan begitu rindu padanya.


Bunyi yang terdengar panjang tadi mulai kembali teratur seperti detak jantung Anitha yang teratur. Mereka yang ada di sana, hampir semua mengangkat telapak tangan dan menyapukan ke wajah masing-masing.


"Alhamdulillah ya Allah. Masih ada jodoh diantara kami." Tuan Nan mengusap wajah istrinya.


Dokter meminta tuan Nan untuk kembali ke ranjangnya. Namun tuan Nan menolak.


"Tunggu sebentar lagi Dok. Saya masih ingin didekat istri saya."


Lama tuan Nan memandang sayu wajah istrinya. "Ada apa sampai dinda begini?"


Tuan Nan hanya membatin. Dia bisa bertanya pada ibu mereka. Namun dia tetap langsung ingin bertanya dari hatinya.


Anitha telah selamat dari masa kritis terdalamnya. Percaya tidak percaya, Anitha juga akhirnya membuka mata. Masih dengan tangannya di dalam genggaman tuan Nan.


"Dinda...." sapa tuan Nan penuh sesak dan haru.


Anitha menoleh dengan perlahan. Butir air matanya begitu deras sehingga memburamkan pandangannya.


Tidak hanya satu keluarga ini yang menangis, dokter dan perawatpun tak kuasa menahan haru melihat pasangan suami istri yang bersamaan koma dan bersamaan juga sadar.

__ADS_1


Tuan Nan lebih terharu saat istrinya menarik tangannya dan mencium tangan tuan Nan dengan deraian air mata.


"Kanda, aku sangat takut," kata Anitha begitu ambigu.


Namun dengan bijak suaminya menjawab, "Kita akan baik-baik saja sayang. Kita akan pulang secepatnya dan membangun hidup kita kembali."


"Iya Kanda," jawab istrinya singkat.


"Supaya kalian bisa cepat pulang bagaimana jika sama-sama istirahat." Ibu tuan Nan akhirnya meminta dengan halus. Mereka menurut seperti anak kecil.


***


"Pagi Pak, bagaimana keadaannya?" sapa perawat. Ini hari ke dua setelah mereka sadar.


"Saya rasa jauh lebih baik." Suara tuan Nan terdengar datar.


"Kita pindah ke ruang inap ya Pak...." jawab perawat tetap dengan ramah.


"Lalu istri saya?" Tuan Nan bisa melihat aura istrinya yang tidak senang melihat perawat hanya sibuk beramah-tamah dengan dirinya. Dia tersenyum pada Anitha. Tuan Nan sangat senang melihat aura istrinya yang cemburu. Ini pertama kali dia merasakan kecemburuan sang istri.


"Iya Pak, kita juga pindahkan." Tuan Nan bisa merasakan ada nada iri di hati para perawat.


Tuan Nan dan Anitha jelas di satu kamar. Perawat telah memindahkan sepasang suami istri yang lagi jadi topik utama rumah sakit.


"Beruntung sekali wanita itu mendapatkan pria tampan begitu." Perawat terdengar kasak-kusuk setelah meninggalkan kamar vvip.


"Iya juga sih."


"Makanya jangan berharap aneh-aneh kamu. Kau dengarkan buletin terhangat. Wanita itu ikut koma saat suaminya diruang operasi. Sepertinya dia tak sanggup menerima kenyataan buruk."


"Lemah sih!" seperti masih menyimpan rasa cemburu satu perawat wanita yang tadi ikut memindahkan tuan Nan dan Anitha.


"Itu pikiran kita yang tidak menjalani. Dia juga hampir lewat saat suaminya sadar dan dalam genggaman tangan suaminya dia kembali membuka mata. Betapa sehati mereka."


"Huuuh," dengus temannya.


Di kamar inap ....


Tuan Nan belum mendapatkan cerita apa yang terjadi. Karena di ruang ICU mereka diminta istirahat total.


Kini ibu tuan Nan menceritakan apa yang dia tahu. Anitha juga mendengar dengan seksama. Anitha hanya ingat terakhir kepalanya begitu sakit dan mulai berputar.


Begitu uniknya pasangan ini, mereka tidak membicarakan apapun selain hubungan pribadi merkea. Mereka berdua fokus tentang kesehatan.


Ibu-ibu mereka begitu telaten membantu merawat mereka berdua. Semua ada hikmah atas apa yang terjadi. Mereka bermanja pada kedua ibu mereka.

__ADS_1


"Mom ...." panggil Anitha.


"Iya ada apa sayang?"


"Apa Mom tidak menyesal menerima aku jadi menantu Mom?" tanya Anitha begitu merasa bersalah.


"Ada apa sayang?"


"Aku merasa bersalah Mom. Anak Mommy tidak pernah terkena musibah seperti ini sebelumnya." Anitha merasa sedih merasa dia menjadi penyebab kecelakaan suaminya.


"Kamu terlalu berpikir jauh sayang. Mom dan Daddy tak pernah berpikir begitu. Ini jalan cerita rumah tangga kalian dan ujian cinta kalian."


"Benarkah Mom? Terima kasih kalau begitu."


Tuan Nan merasa istrinya sedikit berubah. Begitu juga dengan ibu Anitha. Anitha menjadi lebih sensitif.


"Kalau begitu bolehkah kanda bertanya?"


Mereka telah seperti berkumpul di ruang tamu rumahnya. Anitha duduk bersandar dengan kepala ranjang yang di tinggikan.


"Tentang apa?" tanya Anitha memandang lekat suaminya yang duduk juga bersandar di kepala ranjangnya.


"Dokter mengatakan, akibat tembakan kemarin ada syaraf kanda yang kena dan kanda belum bisa berdiri. Apa Dinda tidak malu punya suami cacat?" tuan Nan menelisik ingin tahu dengan rasa takut-takut.


"Tidak Kanda. Apapun keadaanmu, kau teman sejatiku," ucap anitha yakin.


"Kau yakin Dinda?"


"Aku sangat yakin. Aku akan mengisi kekuranganmu. Jangan berubah padaku. Aku akan mati menderita Kanda, apalagi kalau lama-lama di rumah sakit ini!" tiba-tiba ekspresinya menjadi jutek.


"Ada apa dengan rumah sakit ini?" tanya ibu tuan Nan penasaran.


"Mommy lihat, bagaimana perawat satu tadi memuja suamiku. Aku cemburu dan sakit hati."


"Tetapi, kau jauh cantik sayang. Bahkan karier kau jauh baik."


"Bagiku karier dia juga baik, Mom. Dia punya banyak kesempatan untuk menikah dengan dokter-dokter tampan dan kaya di rumah sakit ini__"


"Jadi, Dinda ingin menikah dengan dokter?" potong tuan Nan dengan nada yang cemburu.


Kedua ibu mereka hanya bisa geleng kepala. Terlihat kembali anaknya seperti bocah kecil yang ribut karena sebuah mainan.


"Ihhh siapa yang cemburu sekarang? Maksud dinda, kenapa dia mesti suka sama suami aku. Bukan sama dokter sini," jelas Anitha dengan cemberut. Tuan Nan merasa senang mendengarnya.


"Kira mau sama dokter," ucap tuan Nan mendapat cibiran Anitha. "Lagian masa iya dia mau sama kanda yang sudah tua dan punya istri cantik."

__ADS_1


"Hmmm entahlah!"


***/


__ADS_2