
Peringatan : Sebaiknya dibaca saat sudah berbuka. Di khawatirkan baper dan merusak amalan bagi yang puasa 😅😅 Apalagi bagi yang imajinasinya bisa tinggi 💃💃💃
Daku hanya bisa jawab tanpa bisa tanggung yaa 😂 🙏
LIKE, KOMEN DAN VOTE DINANTI YA 😍😍
💃💃💃💃💃💃💃💃💃💃💃
Mereka melangkah masuk ke dalam salah satu bar malam yang ternama di negara ini. Dentuman musik yang memekakkan telinga mulai mengisi gendang telinga yang datang. DJ yang begitu piawai menambah semarak suasana bar tersebut.
Tuan Nan melingkarkan tangannya ke bahu Anitha. Anitha dengan dijaga ketat oleh tuan Nan, agar tak membentur tubuh lelaki lain, mulai mencari tempat duduk. Jeffy berjalan di depan tuan Nan dan Harri serta yang lain di belakang tuan Nan. Mereka sangat mengerti tuan Nan tak ingin kekasihnya tersentuh pria lain walau hanya berupa senggolan saja. Anitha memandang sekelilingnya seperti ingin mengetahui seluk beluk dunia malam.
Mereka hanya minum-minum. Namun bukan minum jus. Mereka meminum minuman keras. Namun bukan minum Tequila yang bisa menghilangkan rasa malu karena kandungan molekul organik kompleks yang diproduksi saat alkohol berfermentasi bisa memabukkan.
Mereka juga bukan minum wiski yang notabene khusus untuk peminum yang berkelas karena persentase alkohol lebih besar dari minuman bir lainnya.
Mereka hanya minum rum yang dicampur coca cola untuk mengurangi kadar alkohol yang juga termasuk besar jika tidak dicampur. Sehingga tidak menimbulkan mabuk berat bagi para bodyguard tuan Nan.
Anitha masih menyimak dengan seksama penjelasan Jeffy ketika orang-orangnya tuan Nan mulai minum. Helmi dan tuan Nan sendiri memilih meminum red wine. Minuman yang kerap dikonsumsi oleh sepersekian manusia di muka bumi untuk alasan kesehatan. Namun minuman ini tetap memiliki kandungan gula yang agak tinggi.
Anitha mengambil kesimpulan Wiski mau pun red wine juga baik untuk kesehatan selagi tidak dikonsumsi berlebihan. Namun pemahaman Anitha masih sedikit salah. Baginya satu gelas itu bukan berlebihan. Awalnya dia meneguk minuman red wine itu hanya satu teguk, dia merasakan ada rasa manis-manisnya, Anitha meneguk hingga tuntas satu gelas. Dia merasa rasa panas membakar kerongkongannya. Minuman yang dia sangka manis ternyata ada rasa pahitnya.Tuan Nan sempat lengah karena sedang memperhatikan seseorang yang seperti dia kenal.
Tubuh Anitha yang tidak pernah mengenal alkohol, walau itu cuma berkadar 8% sampai 15% mulai bereaksi. Anitha merasa mual. Dia merapatkan badannya pada tuan Nan.
"Kanda, dinda merasa mual," bisiknya di telinga tuan Nan. Tuan Nan langsung mengalihkan fokus perhatiannya. Kini dia memandang Anitha dengan seksama. Tuan Nan melirik ke meja. Dia melihat gelas minuman red wine dirinya telah kosong. Padahal dia baru minum seteguk.
Tuan Nan mengkode Jeffy dengan menggerakan satu jarinya. Jeffy mendekatkan wajahnya.
"Ada apa?" tanya Jeffy.
"Kita pulang, Anitha pasti terlelap sebentar lagi," ucap tuan Nan. Anitha merasa kepalanya berat.
Tuan Nan menunjukkan gelas yang kosong. Jeffy paham dengan keadaan. Jeffy mengkonfirmasi yang lainnya, jika ingin tinggal di perbolehkan. Dia akan mengantar tuan Nan dan Anitha kembali ke hotel lebih dulu.
Namun loyalitas mereka begitu tinggi pada tuan Nan. Mereka tidak ingin melanjutkan. Mereka ikut kembali.
__ADS_1
Jika Anitha merasa badannya semakin ringan. Tuan Nan merasa Anitha makin sempoyongan dalam duduknya. Matanya mengantuk. Tuan Nan tahu, Anitha tak lama lagi akan jatuh dalam tidurnya. Dia melingkarkan Tangannya ke sisi badan Anitha, dan merebahkan kepala Anitha pada bahunya.
Setiba di hotel, tuan Nan menggendong Anitha dan membawa ke kamarnya. Mereka memang mengambil satu kamar. Tuan Nan membaringkan Anitha dan membuka jaketnya. Tak ada pergerakan sedikitpun selain akibat helaan gerakan tuan Nan sendiri yang berusaha membuka jaket kekasihnya.
Jeffy kembali ke kamar. Jeffy memilih baring di sofa. Jeffy menelfon seseorang dan menanyakan kabar. Jeffy hanyut dalam obrolannya, entah dengan siapa.
Tuan Nan sendiri asyik memperhatikan wajah terlelap Anitha. Dia merapikan anak rambut dan menyusuri dari dahi sampai ke bibir ranum Anitha yang tipis. Tuan Nan tersenyum mengingat bagaimana dengan beraninya bibir ini mengecup bibirnya. Dia mencuri mengecup sekilas bibir Anitha.
Bibir tipis ini juga yang penuh warna, mulai dari merajuk, tertawa bahagia dan terkadang menyindir tajam siapa saja yang diinginkannya. Tuan Nan tak sabar ingin menikah dengannya.
"Selamat tidur sayang, aku sangat mencintai dirimu," tuan Nan pun mengecup dahi Anitha. Diapun menarik selimut ranjang hotel tersebut dan menyelimuti Anitha. Tuan Nan berbaring di sofa seperti dulu, saat Anitha masih hanya dia sukai.
***
Jam sudah menunjukan pukul 9 pagi. Anitha masih dengan memejamkan matanya. Dia menggeliat, meregangkan otot-otot seluruh tubuhnya. Tuan Nan sengaja tidak membuka tirai jendela. Dia tak ingin sinar matahari mengganggu tidur kekasihnya.
Anitha sekali lagi menggeliat, badannya terasa segar. Ini pertama kali dia merasa sangat segar saat bangun tidur.
"Segar sayang?" Nada sensual merasuk di telinga Anitha. Anitha tersenyum. Matanya mengerjap beberapa kali menyesuaikan dengan cahaya lampu yang menyala. Dengan malas-malasan dia bangkit. menyingkapkan selimut. Dia memilih duduk dengan menyandarkan punggungnya kesandaran kepala ranjangnya.
"Iya, Dinda mabuk." Tak ada nada marah ataupun kesal. Hanya alunan nada lembut yang didengar Anitha dari kekasihnya.
"Tapi, bukannya orang mabuk biasanya muntah-muntah? Aku hanya merasa mual sesaat."
"Itu namanya mabuk tanggung sayang. Mabuk sejati ya seperti Dinda ini. Lelap seperti orang pingsan."
"Hahaha, Kanda bisa saja. Masa iya ada mabuk sejati. Asli mabuk yang tepatnya gak Kanda?"
"Mana enak Dindalah, penting ini pertama dan terakhir ya, kanda tidak mau Dinda seperti ini lagi. Jika tidak dengan Kanda atau Jeffy bagaimana jadinya nanti?" tuan Nan memberi tahu pada Anitha dengan hati-hati.
"Ya kalau bukan sama Kanda mana mau aku mabuk sayang. Mending aku mabuk cinta bersamamu di ranjang ini," ucap Anitha yang terdengar memancing-mancing.
"Sayang mau mabuk cinta pagi ini? Kalau iya kanda sedikitpun tidak menolak," tuan Nan mulai terpancing oleh Anitha.
"Wah ...sepertinya jika kita sudah menikah, aku harus mempunyai stamina yang bagus ya." Tuan Nan hanya bisa pasrah dipancing kosong saja.
__ADS_1
Tuan Nan mendekat pada Anitha, "Stop, Kanda mau apa!" Anitha membuat jurus seperti menahan angin dengan sepuluh jarinya.
"Dinda pikir kanda mau nelan bulat-bulat pagi ini? Mana sudi Kanda memangsa pemabuk," olok tuan Nan.
"Siapa yang pemabuk! Kalau pemabuk itu, tiap hari." Anitha memberengut manja.
Tuan Nan mengacak rambut Anitha, "Mandi sana, atau Kanda yang mandikan?"
"Enak saja, dikira aku mayat apa," rutuk Anitha bergerak hendak bangkit. Namun tubuhnya oleng dan cepat di sambut oleh tuan Nan. Tangan kekar tuan Nan menahan pinggang ramping Anitha. Tuan seperti mengapit Anitha di sisi pinggangnya. Persis anak kecil yang sedang mengapit bonekanya. Anitha persis seperti boneka yang hendak ditenteng. Mereka kembali sama berdebar.
"Kanda ... hatiku berdebar," kata Anitha dengan suara serak mengutarakan isi hatinya.
"Eheem," tuan Nan mendehem menetralkan hatinya. Dia tak menyangka Anitha sepolos itu menyampaikan isi hatinya. Dia membantu Anitha berdiri kokoh.
"Apa perlu diantar ke kamar mandi sayang?" bisik tuan Nan mencoba menenangkan debar hatinya.
"Besok saja kalau kita sudah menikah, dinda takut kita khilaf," kata Anitha kembali dengan nada lucu. Anitha selalu tak butuh waktu lama untuk menguasai keadaan. Anitha berlalu tanpa melihat tuan Nan.
"Anitha ... Anitha, aku memang tak akan melepaskan kau apapun yang terjadi." Tuan Nan berkata dalam hati dengan penuh tekad.
Anitha telah selesai membilas tubuhnya dengan air suam-suam kuku di kamar mandi. Terasa lebih rileks. Namun entah kenapa tiba-tiba, tubuhnya kembali terasa oleng dan dia limbung saat hendak menjangkau handuknya. Tangannya tak bisa menopang kepinggir dinding untuk mencari pegangan.
"Aaaakhhh," teriaknya saat sisi kiri kepalanya terbentur pada sisi westafel kamar mandi yang dilapisi dari keramik. Lalu terdengar bunyi orang berdebum.
Tuan Nan cukup mendengar jeritan Anitha dan bunyi jatuh yang berdebum. Tanpa pikir panjang dia menerjang pintu kamar mandi. Tiga kali terjang dengan badan tegapnya dan tenaga kuatnya, akhirnya pintu kamar mandi bisa didobraknya. Tuan Nan ingin berteriak histeris melihat darah segar telah banyak di sisi kepala Anitha yang tergeletak di kamar mandi.
Dengan sigap tuan Nan mengangkat Anitha mengeluarkan dari kamar mandi dan menyentak selimut di ranjang. Dia membalut tubuh Anitha yang tak berbusana. Tuan Nan tak punya banyak waktu untuk menelfon Jeffy. Dia langsung membawa Anitha keluar dan menendang kuat pintu kamar Jeffy yang bersebelahan dengan kamar tuan Nan. Jeffy yang terlatih untuk tangkas, langsung membukakan pintu.
Jeffy juga shock melihat Anitha berlumur darah. Jeffy bergegas mengambil ponselnya, sambil menyusuri lorong hotel dia menelfon Harri.
Harri telah stanbay, Anitha dibawa ke rumah sakit terdekat untuk penanganan utama. Tuan Nan menahan darah yang keluar dari kepala Anitha yang robek akibat tersayat sisi dinding yang tajam. Tuan Nan tak bisa menahan takutnya. Rasa takut yang berlebih membuatnya menangis sambil mendekap Anitha. "Aarrrghhh," Tuan Nan tergugu dalam tangisnya, dia tak lagi peduli pada sekelilingnya.
Jeffy hanya bisa diam, seumur hidup dia mengenal tuan Nan, ini keadaan terburuk yang dia lihat dari tuan Nan.
***/
__ADS_1