
"Sering dekatkan?" tanya Jeffy masih mengira-ngira bagaimana maksud tuan Nan.
"Iya, aku rasa karena dia tidak mempunyai informasi apapun selain mengurus rumah."
"Iya itu maksud aku. Aku tidak merasa menikah jika tidak sedang melakukan kewajibanku di atas ranjang. Aku hanya merasa punya asisten rumah tangga."
"Makanya, kau dekatkan dengan Anitha. Aku yakin Anitha tidak keberatan. Apalagi dia masih punya waktu dua bulan ini fokus di rumah."
"Tetapi dia tidak akan betah jika berdiam saja. Apa tidak jadi masalah jika dia bergerak ke sana-kemari?"
"Biarkan saja. Kau dan dia bukan orang lain bagiku. Biar dia bantu Anitha bermain dengan bayi kami."
"Baby sitternya mana?"
"Aku pecat!"
"Haa, karena Anitha meminta itu?" Jeffy tak habis pikir Anitha cemburu buta.
"Kau masih saja suka salah tuduh dengan istriku."
"Apa alasan kau?"
"Aku ini lelaki berpengalaman dengan reaksi dan sikap seseorang. Aku tidak bisa membiarkan seseorang yang berniat lain di dalam rumahku. Apalagi ingin di antara aku dan Anitha!" Tuan Nan menyeringai (smirk).
"Dia menginginkan kau? Apa tidak perasaanmu saja!" Jeffy mengernyitkan dahinya. Dia tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Aku bukan remaja labil Jeff, aku juga bukan dewasa lagi puber kembali. Aku yakin Anitha juga peka. Namun dia percaya padaku."
"Aku tahu Anitha jeli dan peka. Tetapi aku selama ini mengira kau pekak. Apa yang kau ketahui tentang baby sitter itu?"
Tuan Nan masih belum memeriksa berkasnya, dia masih terlibat pembicaraan dua arah dengan Jeffy.
"Aku bisa mengetahui dari cara pandang dan tingkahnya. Dia berniat merayuku dalam sikap polosnya. Dia kira siapa aku!"
"Kapan kau mengetahuinya?"
"Saat aku mengambil bayiku ke kamar tamu siang itu. Dia sengaja tidur dengan kancing seragamnya yang terbuka satu."
"Kau tidak bisa ekstrim begitu Nan. Bagaimana kalau kau salah. Kau mempermainkan hidup orang jika begitu."
"Aku tidak pula sepicik itu Jeff. Jika kau tak percaya, kau boleh telusuri siapa dia!"
"Oke, aku akan coba. Aku rasa tidak yakin dengan asumsi singkatmu." Jeffy tetap berkeras tuan Nan salah paham.
"Tetapi tidak sekarang Jeff, tunggu Harri masuk kembali. Kau bisa cari tahu siapa perempuan itu. Tapi hati-hati kau masuk dalam perangkapnya."
"Jangan teruskan, aku takut menambah dosamu!" teriak Jeffy. Tuan Nan hanya menggedikkan bahu malas.
"Jadi, aku akan membawa istriku ke rumah Anitha besok."
"Bawalah. Nanti malam aku akan ceritakan pada Anitha. Sekarang aku mau bekerja, lebih baik kau duduk diam di sofa itu atau kemana kau suka."
"Kau sama dengan Anitha. Dulu aku juga diusir halus saat di kantornya." Jeffy mendengus dan tuan Nan hanya tersenyum. Dia memulai pemeriksaannya.
***
Tuan Nan telah menceritakan pada Anitha, dan pagi ini istri Jeffy membawa serta istrinya.
"Pagi Mbak Ning, apa kabar?" sapa Anitha hangat, sehangat sinar mentari pagi.
"Aku baik Dek."
__ADS_1
"Kami pergi dulu ya. Hello baby, papa pergi kerja dulu ya. Ayo tersenyum manis." Tuan Nan menowel pipi anaknya. Hannan hanya mengerjapkan mata.
"Hati-hati Pa. Rindukan kami di mana Papa berada." Aniitha melambaikan tangan anaknya.
"Aku titip kekasih hatiku Tha, biar dia tidak bosan di rumah." Jeffy telah banyak berbicara dengan istrinya.
"Aku harap kau tidak menyesal Jeff." Anitha memberi seringai lebarnya.
"Asal jangan kau ajarkan dia melawan pada suaminya," ujar Jeffy masih membalas Anitha.
"Sembarangan kau Jeff, kau kira aku istri pembangkang!" Anitha tak terima. Jeffy terkekeh senang bisa membalas Anitha.
Tuan Nan mengecup anaknya dan Anitha. "Sudah tak usah diladeni. Dinda beri saja dia kejutan manis," bisik tuan Nan. Merekapun melangkah.
"Ayo Mbak, kita masuk. Anggap rumah sendiri. Jangan sungkan."
"Boleh saya membantu di dapur kalau begitu?" ucap mbak Ning.
"Benar kata Kanda. Dia seperti asisten rumah tangga bukan asisten suami."
"Mbak, ikut aku deh." Anitha mengajak lembut Dia memberikan Hannan pada mbak Ning.
"Mbak tolong pegang Hannan."
Ningsih mengambil pelan-pelan dan hati-hati bayi Anitha. Mereka berjalan ke ruang keluarga. "Mbak sudah sarapan?"
"Sudah Dek."
Anitha menilik istri Jeffy dengan seksama. Ningsih asyik menowel-nowel pipi Hannan yang telah mereka baringkan di sofa.
"Terlalu Natural. Polos aku dulu, lebih polos wanita ini."
"Mbak, maaf kalau aku lancang. Tetapi aku tidak menganggap Jeffy orang lain. Berarti aku juga mengganggap Mbak bukan orang lain."
"Aku ingin tanya sesuatu Mbak."
"Tanyalah Dek."
"Apa Mbak bahagia hidup dengan Jeffy?" Anitha main tembak tepat sasaran saja.
"Saya bahagia Dek. Entah kalau mas Jeffy." Ucap Ning terus-terang. Anitha melihat wajah bahagia dan sedih dalam satu waktu.
"Hmmm ternyata dia tidak pandai menutupi raut wajahnya."
"Ada apa Mbak? Kalau tak keberatan, ceritalah. Di sini hanya kita berdua. Mereka semua lagi sibuk dengan pekerjaannya.
Ningsih mendapat angin segar. Sejak dia lari dari rumah, hanya Jeffy yang menjadi teman bicaranya. Dia tidak berani banyak cerita pada Jeffy walau sudah dinikahi Jeffy.
"Memang aku boleh cerita?"
"Duhhh mbak, polos sekali. Coba Jeffy jujur dari dulu."
"Mbak boleh cerita apa saja. Aku tidak akan cerita kemana-mana. Kita sama sebatang kara di kota besar ini. Hanya suami yang kita punya." Anitha mulai memasuki anti virus di otak dan jiwa polos Ningsih. Seperti permintaan tuan Nan.
Pembawaan yang polos dan sifat lugunya, tidak kesulitan untuk Anitha memancing cerita keluar dari mulut Ningsih.
"Mas Jeffy baik, perhatian dan bertanggung jawab. Tetapi aku tidak tahu perasaan dia padaku Dek. Mas Jeffy tak pernah mengatakan cinta seperti film sinetron anak remaja yang aku tonton. Apalagi terakhir ini, dia suka marah dan diam saja."
"Duhhh mbak Niiiing. Kalau nontonnya film itu, kapan mau dapat ilmu untuk berumah tangga." Anitha menggemas dua kali lipat.
"Lalu kalau dia diam, Mbak balas diam?"
__ADS_1
"Iya."
"Kenapa tidak Mbak tanya?"
"Aku takut dia makin marah dan mengusir aku Dek. Aku tidak tahu mau kemana."
Seerrr ... darah Anitha mengalir dua kali lebih cepat di pembuluh darahnya. Anitha bisa memahami perasaan Ningsih.
"Mbak istri apa pembantunya?" tanya Anitha pelan namun tajam. Mbak Ning terperangah dan memandang gugup Anitha.
Anitha bukan tidak beralasan mengatakan ini. Dia ingin memancing ego Ningsih. Anitha yakin sebagaimana polos jiwa seseorang, akan ada ego di dalam dirinya. Anitha ingin mengusik ego yang tertidur di dalam hati Ningsih. Lagian tidak sifat Anitha berlama-lama dalam proses. Anitha tetap suka hasil akhir saja.
"Maaf. Kenapa diam Mbak? Istri atau pembantu?" ulang Anitha semakin mendesak.
"Ii__ is__istri," ucapnya terputus-putus.
"Lalu, apa sikap Mbak sudah mencerminkan sebagai istri? Atau hanya sebagai pembantu?" Ningsih semakin terperangah dengan kata-kata Anitha.
"Hmmm ... hanya sebagai pembantu bukan?" tebak Anitha kejam. Ningsih mengangguk.
"Jangan salah paham Mbak. Aku berkata begini bukan menghina Mbak. Tetapi mengingatkan Mbak. Berperanlah sebagai istri jika tidak ingin kehilangan suamimu!"
"Mas Jeffy cerita akan meninggalkan aku?"
"Tidak! Jeffy tidak ada cerita apapun. Aku saja baru tahu dari Mbak." Anitha sedikit berkilah.
"Lelaki akan bosan jika kita hanya berperan sebagai asisten rumah tangga." Anitha meneruskan.
"Aku mesti apa?" tanya polos dan tak berdaya.
""BERUBAH! Mbak mau?"
"Mau."
"Tegaslah kalau mau."
"MAU!"
"Nurut ya sama aku. Aku ajari cara mempertahankan suami." Anitha sambil bercanda.
"IYA!"
Anitha menyeringai puas ketika Ningsih menekan kata iya dengan mantap.
Seharian banyak hal yang dilakukan oleh dua wanita menunggu kepulangan suami mereka. Ketika hari hampir menjelang senja, tuan Nan dan Jeffy tiba di rumah.
"Ayo Mbak, kita menyambut suami." Mereka memang telah menunggu di ruang tamu, setelah seharian berpindah-pindah dari ruangan keluarga ke kamar bayi. Kamar bayi ke ruang makan, dari kamar tamu ke ruang tamu.
Ketika Jeffy menuju ruang tamu ... "Ningsih?" kata Jeffy terperangah tak percaya.
Ningsih dengan malu-malu menunduk. Jeffy melihat Ningsih dalam balutan santai namun tambahan cardigan putih bermotif hitam di ujung lengannya. Cardigan dengan lengan sampai siku dengan beberapa variasi berupa kancing hitam, membuat penampilan Ningsih berubah. Make-up tipis natural membubuhi wajah kulit eksotisnya. Benar-benar membuat dia jauh berubah.
"Cantik itu ada harganya Jef!" teriak Anitha puas.
"Tunggu saja Jeff ... akan aku buat kau berlutut meminta ampun atas kejahilan istrimu! "
***/
Rindukan saya dan mama.
Ayo Nak bilang terima kasih pada seseorang yang membantu mama kasih ide begini ... 😍😍 E 🙏
__ADS_1
by pinterest.