
Mereka baru 15 menit menyelesaikan makan malam dengan bercanda saja. Tuan Nan tidak ingin mengganggu Anitha dalam keadaan makan. Anitha tidak berselera makan karena merasa sedikit lelah setelah berkeliling dengan nyonya hanya memilih terserah mau dibelikan apa selain nasi.
Anitha merasa tenggorokannya gatal, Anitha kembali meneguk kembali air mineralnya lebih banyak. Namun bukan berkurang, Anitha mulai merasa kesulitan dalam menarik napas. Tuan Nan yang hampir tidak melepaskan pandangan pada Anitha walau sedang berbicara pada Jeff, melihat wajah Anitha yang tidak seperti biasanya.
Tuan Nan bergeser mendekati Anitha. Dia dengan berani memegang bahu Anitha. "Hei, kau kenapa?" tanyanya dengan nada cemas.
"Tuan, aku merasa kesulitan untuk bernapas," kata Anitha terbata-bata.
"Harri siapkan mobil!" Jeffy menelepon Harri yang sebagai bodyguard dan merangkap supir tuan Nan. Tuan Nan akan selalu membawa dia jika berpergian.
"Baik Tuan." Harry menjawab dan bergerak cepat saat Jeffy sudah memutuskan sambungan telepon.
Tuan Nan hanya bisa memandang Anitha dan tetap memegang bahu Anitha. "Nan angkat Anitha! Dia sepertinya alergi pada makanannya!" Jeffy memberikan instruksi melihat tuan Nan yang panik. Tak seperti sifat biasa tuan Nansen yang tenang.
Tuan Nan mengangkat Anitha dan membawa ke mobil yang sudah di siapkan Harri. Anitha semakin sulit untuk bernapas. Jeffy tak pernah melihat tuan Nansen panik begini. Keringat mulai terbit di dahinya. Anitha yang awalnya bersandar di bahu tuan Nan, kini terkulai ke dada tuan Nan. Menandakan kesadarannya semakin menurun. Tuan Nan dengan gesit menarik Anitha dan merengkuh dalam pelukannya. Tuan Nan tidak melihat tarikan nafas Anitha lagi.
Dengan semakin panik dia menempelkan dua jarinya ke leher Anitha. Tuan Nan bisa merasa sedikit tenang ketika merasa denyut nadi Anitha.
Jeffy memperhatikan dan bertanya, "Bagaimana Nan?" tuan Nan mengangguk.
"Tenang Nan, sebentar lagi kita sampai," ucap Jeffy berusaha memberi tuan Nan ketenangan lebih. Walau di dalam hati Jeffy juga merasa gelisah.
Kini Anitha sudah di atasi tim medis, Anitha mulai terlihat siuman dan terlihat tenang setelah dokter memberi suntikan dan memasangkan infus.
"Dia kenapa Dok?"! tanya tuan Nan dengan menggunakan bahasa inggris yang fasih.
"Dia mengalami anafilaksis atau alergi paling serius. Apa yang terjadi sebelum dia mengalami anafilaksis?" tanya dokter kembali pada tuan Nan.
"Dia hanya makan, Hokkien Prawn Mee."
"Ohhh, dia terkena alergi makanan. Bisa jadi dia alergi pada seafood. Tuan mohon sedikit lebih sabar ya. Kami telah mengambil sampel darah nona Anitha untuk mengukur imunoglobin E. Jika nanti kadar IgE tinggi dalam darah pasien, sudah bisa dipastikan Nona Anitha memiliki alergi pada makanan tersebut," ucap dokter tersebut dengan ramah.
"Begitu. Jadi dia sudah aman Dok?" tuan Nan masih ingin memastikan. keadaan Anitha."
"Sudah tak apa, kami sudah memberikan suntikan Epinephrine untuk mengatasi syok anafilaksis. Jadi sifatnya menyempitkan pembuluh darah dan melebarkan sistem pernapasan. Maka sekarang Nona Anitha sudah lebih baik."
__ADS_1
"Terima kasih Dok."
"Untuk 12 hari ini jangan mengkonsumsi dulu makanan yang memicu alreginya. Penanganan yang tidak tepat pada pasien anafilaksis bisa membahayakan nyawa." Dokter menambah penjelasannya sebelum beranjak meninggalkan pasiennya.
"Ok. Akan saya perhatikan perkataan Dokter."
Setelah hanya ada tuan Nan, dia mendekati Anitha yang masih memejamkan matanya.
"Dasar ceroboh," gumamnya kecil sambil merapikan anak rambut Anitha dengan pelan.
"Saya tidak tahu kalau alergi saya semakin parah di usia saya yang makin matang Tuan," jawab Anitha masih dengan memejamkan mata. Tuan Nan tidak terkejut karena dia tahu Anitha hanya memejamkan mata tanpa tidur.
"Matang dari mananya?" olok tuan Nan.
"Matang dari pemikiran dan perasaan Tuan," jawab Anitha asal bicara saja.
"Apa kau yakin matang dalam perasaan?" sindir tuan Nan
"Auhh ah Tuan, saya ingin pulang ke hotel." Anitha mengalihkan pembicaraan.
"Sama apanya Tuan?" Anitha membuka matanya dan memandang tuan Nan.
"Di sini ataupun di hotel, kamu pasti minta temani dengan calon suamimu ini," ucap tuan dengan nada bergurau. Namun pernyataannya serius.
"Tuan belum tahu siapa aku. Perjalanan apa yang aku lalui. Hatiku yang seperti apa kini aku rasa. Apa yang ingin aku lakukan." Anitha berkata tanpa membuang pandangannya dari hadapan tuan Nan. Anitha ingin sedikit memberi gambaran pada tuan Nan.
"Saya akan cari tahu semuanya. Saat saya mengetahui semuanya apakah kau bersedia menyerahkan hatimu padaku?" tanya tuan Nan merasa mendapatkan angin segar.
"Bagaimana jika aku hanya bisa menjanjikan memberi diriku saja padamu Tuan, bukan hatiku?"
Tuan Nan lagi-lagi merasa ada bom yang meledak didekat telinganya. "Kau__"
"Apa kau juga akan menyingkirkan aku Tuan seperti ART yang lain?" tanya Anitha dengan nada penuh kegetiran.
Cinta yang dirasa tuan Nan tak bisa menolak nada Anitha yang penuh kegetiran. Tuan Nan merasa hatinya pedih dan ngilu. Ibarat kulit ari yang tipis disayat lalu di taburi garam halus Tuan Nan tak habis pikir luka apa yang dialami Anitha selama berumah tangga tiga tahun itu. Jika hanya soal cekcok dalam rumah tangga kenapa hati Anitha seakan membatu. Beku dan dingin seperti es batu yang dibiarkan lama di dalam freezer.
__ADS_1
Tuan Nan tersentak ketika mendengar suara Anitha kembali bertanya, "Bagaimana Tuan?"
"Apa yang bagaimana?" tanya tuan Nan seperti orang yang baru sadar dari tidurnya. Tak pernah tuan Nan linglung. Dia tak menyangka wanita yang dulunya dianggap tidak bisa apa-apa sanggup mengeluarkan kata-kata yang tak Allea selalu bertutur kata teratur, bersikap teratur.
"Bagaimana kalau saya cuma bisa memberikan diri saya?" desak Anitha lagi.
Tuan Nan tidak menyangka, Anitha akan bertanya seperti ini. Tuan Nan belum mempersiapkan jawaban seperti ini. Walau dia pernah ingin merebut paksa Anitha, dan rela jika Anitha tidak pernah bisa mencintainya. Namun tuan Nan tidak percaya kalau kalimat itu justru dikeluarkan oleh Anitha.
"Tidak usah dibahas, kau sedang sakit. Mungkin jalan pikiranmu itu juga sakit," kata tuan Nan menutupi dengan nada yang kesal.
"Ya sudahlah, aku tetap ingin pulang ke hotel." Anitha memaksa kehendaknya.
"Iya, aku kabari Jeffy dulu."
Tuan Nan merogoh handphone yang sempat dia tinggalkan di atas meja kamar hotel. Jeffy yang menyelamatkan dan memberikan padanya setelah Anitha di tangani tenaga medis.
"Jeff, tolong tanyakan pada Dokter, bisakah setelah infus ini habis Anitha keluar dari IGD dan pulang. Wanita yang aku sangka boneka ini sungguh keras hati Jeff," sindir tuan Nan.
"Apa kau alergi dari kecil dengan seafood?" tanya tuan Nan ingin tahu.
"Saya tidak tahu juga Tuan, saya hanya sekali makan udang saat SMP dan saya hanya merasa gatal pada lidah. Saya tak tahu akan separah ini."
"Apakah kau juga alergi pada daging sapi?" tanya tuan Nan ingat perkataan Anitha saat baru dua hari di rumahnya.
Anitha tidak ingin berbohong lebih jauh. Bagaimanapun sikap baik tuan Nan mampu membuat pikirannya terbuka masih ada yang tulus padanya ketimbang suaminya sendiri. "Tidak Tuan, saya hanya membalas anda saja saat itu," aku Anitha jujur membuat tuan Nan tersenyum penuh niat membalas Anitha.
"Kau tidak akan tega menjahati aku Tuan," ucap Anitha ketika melihat aura jahat tuannya.
Tuan Nan mendekatkan bibirnya ke telinga Anitha. Tuan Nan berbisik, "Siapa bilang aku tidak tega menjahati wanita yang terlalu berani di dalam rumahku. Padahal itu baru hari kedua dia menginjakkan kakinya di rumahku."
"Apa kau tidak malu melakukan tindakan amoral di ruang ini Tuan?" bisik Anitha tanpa menggeser atau menolehkan kepalanya. Anitha tidak mempunyai debar aneh di hati.
Tuan Nan melirik sepintas ruangan tersebut. Walau sedang tidak ramai namun ada satu-dua orang yang sepertinya masih dalam penanganan medis. Tuan Nan tidak mau memancing keributan. Terkadang jalan pikiran Anitha susah ditebak. Belum lagi keberaniannya
"Fine honey, tonight you are the winner," ucap tuan Nan penuh senyuman. Anitha hanya diam saja. Bukan karena tak paham. Dia capek meladeni tuan Nan yang banyak waktu luang untuk terus mengganggunya.
__ADS_1
***