
Semua yang di ruangan Anitha memandang Jeffy. Mata-mata lapar penuh keingintahuan memangsa wajah Jeffy, membuat Jeffy meringis.
"Wow, ternyata Jeffy punya rahasia," Anitha memulai menyerang Jeffy. Semangat hidupnya tiba-tiba hadir dan melupakan sejenak kesedihan dan air mata yang banyak tercurah sebulan lebih ini.
"Aku rela jadi bulan-bulanan kamu Tha. Jika itu bisa melupakan sejenak kesedihanmu."
"Tak ada yang aku rahasiakan. Kalian tidak pernah bertanya padaku!"
"Iya benar, tetapi aku kenapa bisa kelolosan untuk manusia satu ini?" tanya Anitha lebih berupa untuk diri sendiri.
"Maksud Dinda ... ada manusia lain yang tidak selamat dari pantauan Dinda?" tanya Tuan Nan menanggapi.
Anitha menatap jahil ke arah Harri. Harri mulai salah tingkah, apalagi ketika semua pasang mata mengarah ke Harri dan melupakan Jeffy sesaat.
"Kenapa pada melihat aku?" tanya Harri buka suara. Hampir tak pernah Harri berbicara non formal seperti sekarang.
"Hmmm, sepertinya semakin menarik nih," Ajeng ikut mewarnai pembicaraan siang ini.
"Kenapa kalian berdua pakai rahasia-rahasia?" tanya tuan Nan.
"Iya benar, kita merasa seperti dikhianati ya Kanda. Kita saja hampir tak ada rahasia diantara mereka." Anitha penuh kesenangan menyudutkan dua orang kepercayaan tuan Nan yang sangat mereka sayangi.
"Kau jangan memprovokasi Nansen ya Tha," ucap Jeffy tak ada nada kesal atau marah. Hanya memancing Anitha terus kembali ke sifat aslinya.
"Siapa bilang aku memprovokasi tuan Nansen. Jadi siapa istrimu Jeff?" tembak Anitha penasaran.
"Istriku wanita. Mana mungkin aku menikahi lelaki." Jeffy santai mengakui statusnya.
"Aku curiga kau menikahi lelaki feminim Jeff, maka kau menyembunyikan dari kami." Anitha juga dengan santai menikmati mengganggu Jeffy.
"Aku normal ya Tha." Anitha tergelak puas. Mereka juga tertawa mendengar jawaban Jeffy. Namun tawa bahagia mereka lebih tertuju melihat senda gurau Anitha yang hampir hilang sejak kepergian ibunya.
"Kau harus kenalkan pada kita, Jeff," desak tuan Nan.
"Iya Kanda benar."
"Kau juga Har, harus kenalkan pada kita. Kalian bukan orang lain bagiku." Tuan Nan juga mendesak Harri.
"Kalau Harri kita sudah kenal, Kanda," ujar Anitha sambil mengedipkan matanya.
"SIAPA?" mereka bertiga kompak bertanya, begitu juga Jeffy sendiri yang masih harus ditanya banyak oleh Anitha dan tuan Nan.
Harri terlihat hanya mengusap tengkuknya dengan gaya maskulinnya.
"Ayolah Har, agar bisa secepatnya kita selenggarakan."
"Nyonya ternyata memang bermata jeli ya," terdengar pernyataan Harri yang bersungut-sungut.
__ADS_1
"Hahaha, rasai kau Har. Selama ini kau selalu diposisi aman jika diusili nyonya manja ini!" Jeffy begitu senang melihat ada manusia lain yang jadi target keusilan Anitha.
"Tunggu, kenapa jadi kita seperti sedang rapat internal." Ajeng akhirnya menyela.
"Benar, bukankah tadi kalian mengajak makan siang." Jeffy mendukung Ajeng.
"Dinda, jangan membuat kanda penasaran. Tahukan hukuman apa yang kanda kasih nanti padamu?" Anitha tersenyum senang mendengar ancaman suaminya.
"Harri, maafi aku ya terpaksa jujur. Aku takut dihukum tuan Nan. Hukumannya cukup tidak bisa membuat aku tak tidur nyenyak."
"Nyonya memang pandai jago berkelit. Padahal itu tujuan Nyonya dari tadi." Harri pasrah sudah. Dia juga tak ingin menyembunyikan selamanya.
"Kalau begitu coba katakan sendiri." Anitha menantang Harri.
"Baik Nyonya, aku jujur pada semua di sini. Aku mencintai adik ipar bu Ajeng. Aku mencintai Raya! Puas Nyonya?" tanya Harri masih dengan hormat.
"Hahah puas. Tapi aku puas bukan pada pengakuanmu Har. Aku puas lihat wajah bodoh mereka bertiga." Anitha menunjuk dengan jari tangan lentiknya kearah tuan Nan, Jeffy dan Ajeng bergantian. Harri mau tidak mau tertawa mendengar perkataan Anitha.
"Sejak kapan?" tanya Ajeng merespon lebih dulu.
"Sejak ibu mertuamu masuk rumah sakit dan kami mengurus suamimu yang masih berstatus calon suami saat itu. Benar bukan Harri Zulkarnain?"
"Benar Nyonya."
"Hahaha sampai kapan kau mau memanggilku nyonya. Bukankah itu panggilan jika kau sedang kesal padaku?"
"Terima kasih, berapa semuanya?" tanya tuan Nan pada pengantar makanan tersebut.
"Totalnya 480 ribu Pak."
Tuan Nan memberikan sejuta rupiah pada pengantar makanan tersebut. "Ini diterima ya."
"Tetapi ini banyak sekali lebihnya Pak."
"Tak apa, anggap saya mengajak kau berpesta diruangan ini, karena begitu banyak kebahagiaan siang ini."
"Ohh, kalau begitu aku terima Pak. Terima kasih. Semoga Bapak selalu sukses dan tercapai apa yang Bapak inginkan."
Anitha mendengar nada bergetar yang diucapkan oleh pengantar makanan. Anitha bangkit dari duduknya dan berdiri didekat pengantar makanan.
"Maaf apa anda ada masalah? Aku mendengar nada bergetar ketika kau mengucapkan terima kasih pada suamiku." Anitha berkata langsung.
"Iya Bu, saya berterima kasih sekali sama Bapak. Saya memang membutuhkan duit untuk menebus obat ibu yang sedang sakit. Saya sudah mencari pinjaman, namun tak dapat. Siapa sangka reski saya melalui tangan Bapak ini yang ternyata suami Ibu." Pengantar makanan itu semakin terharu dengan kepedulian orang-orang atas ini.
Anitha memandang penuh izin pada suaminya. Tuan Nan mengerti, dia mengangguk memberi izin. Anitha bergerak cepat mengambil uang dua juta rupiah di tasnya.
"Saya permisi Pak, sekali lagi terima kasih banyak Pak." Pamit pengantar makanan pada tuan Nan.
__ADS_1
"Tunggu sebentar," tahan tuan Nan.
Pengantar makanan tersebut tidak meneruskan langkahnya. "Ada apa Pak?"
Namun tuan Nan tidak menjawab. Anitha telah kembali didekat pengantar makanan dan tuan Nan.
"Maaf, saya minta terimalah ini untuk biaya obat ibumu. Aku memberikan atas nama ibuku. Beliau baru berpulang 48 hari lalu. Jangan ditolak." Pinta Anitha dengan tulus.
"Ya Allah, terima kasih Bu. Baik aku terima, semoga kubur orang tua ibu dilapangkan dan arwahnya ditempatkan di Sisi Nya." Dia semakin terharu.
Semua mengaminkan dan pengantar makanan tersebut kembali.
"Ayo kita makan dulu," ajak Jeffy cepat memecahkan suasana melihat raut wajah Anitha.
"Supaya kau selamat dari cecaran pertanyaan kami?" tanya Anitha. Dia sudah bisa menetralkan suasana hatinya.
"Kalau tahu, ayo kita makan. Aku takut kau pingsan. Kau pasien rumah sakit teladan." Jeffy tetap ingin mengganggu Anitha.
"Aku berusaha jadi teladan dalam bidang apapun. Tanya Ajeng kalau tidak percaya." Anitha meluruskan saja sindiran Jeffy.
Ajeng membuka dan menghidangkan. "Iya, dia benar. Namun, ayo makan dulu. Aku takut omongan Jeffy ada benarnya An."
"Dasar kau, bisa-bisanya membela makhluk monokotil yang berubah jadi dikotil."
"Sudah sayang, nanti takutnya Jeffy melenyapkanmu."
"Kau satu Nan sama saja, aku kira kau serius membela aku, tapi malah menyindir aku."
Mereka kembali tertawa. Mereka akhirnya makan siang biasa diruangan Anitha, makan makanan khas Indonesia. Anitha memesan makanan sedikit lebih pedas. Tuan Nan tidak terlalu menyukai makanan bercita rasa pedas.
Anitha baru menyuap satu suapan nasi berlaukkan bebek sambal hijau pedas. Dia merasa lidahnya terbakar panas. Anitha menghentikan dan langsung meminum air mineralnya. Merasa pedas dan panas lidahnya tidak hilang, Anitha meminum smoothie buah beri.
"Kenapa sayang?" tanya tuan Nan melihat Anitha kepedasan.
"Lidahku terasa terbakar Kanda. Rasanya pedas sekali."
"Huh dasar istri manja." Jeffy kembali mengganggu Anitha.
"Cobalah Kanda, aku benar gak tahan. Pedas sekali."
Tuan Nan mencoba sedikit sambal lado hijau Anitha. Dia merasa biasa saja.
"Mungkin Dinda lagi sariawan. Bagaimana kalau makan nasi putih dengan rawon ini saja?"
"Lalu Kanda makan apa?"
"Biar kanda yang makan nasimu." Mereka bertukar menu. Anitha menikmati makan siangnya.
__ADS_1
***/