Upik Abu Jadi CEO

Upik Abu Jadi CEO
Rencana Akhir Pekan.


__ADS_3

"Ayo Dek, masuk." Ningsih menarik bahagia tangan Anitha.


"Iya Mbak terima kasih."


"Silahkan duduk Pak," kata Ningsih pada tuan Nan dengan formal.


"Tunggu Mbak, ada yang janggal aku rasa," tiba-tiba Anitha mengerutkan keningnya.


"Apa yang janggal?" Bukan Ningsih yang bertanya, tetapi Jeffy menyela lebih cepat.


Anitha mengedarkan pandangannya dengan cepat dan kembali memandang Ningsih. "Ada apa Dek?" tanya Ningsih juga tak kalah penasaran dengan Anitha. Mereka belum jadi duduk, masih berdiri di ruang tamu apartemen Jeffy.


"Panggilan Mbak pada suamiku terdengar janggal."


"Kalian niat sekali mengerjai kami."


"Iya Jeff, kau sakit hati?"


"Percuma aku sakit hati. Kau sehat hanya sebentar!"


"Hahhaa," Anitha hanya tertawa. "Tetapi aku serius, janggal saja jika istrimu memanggil pak pada suamiku. Dia bukan orang luar bagimu bukan Jeff? Dan kau juga bukan orang lain bagi kami."


"Kalau begitu, kau juga janggal memanggilku nama, sementara kau memanggil mbak pada istriku," ucap Jeffy ikut menghempas diri duduk di sofa. Anitha dan tuan Nan telah dipersilahkan Ningsih sekali lagi untuk duduk.


"Kau cuma bodyguard bagiku, jadi biasa majikan memanggil nama," ucap Anitha dengan nada bergurau.


"Terserah kaulah Tha. Payah dari dulu bicara sama kau." Jeffy merentangkan tangannya memanggil Hannan. Dia ingin menggendong Hannan bayi.


Hannan telah mengenali Jeffy, dia menggapai tangan Jeffy. Tuan Nan melepaskan Hannan pada Jeffy.


"Pintar keponakan paman. Namun jangan usil seperti papa dan terutama mamamu ya. Paman bisa cepat tua nanti."


"Heleeeh sudah tuapun," celetuk Anitha. Jeffy tak menggubrisnya. Dia lebih senang menganggu Hannan.


"Besok tiru sikap papamu sebelum ketemu mamamu ya ponakan paman yang comel." Hannan tertawa kecil seakan mengerti. Dia menggapai-gapai pipi Jeffy.


Ningsih kembali dengan membawa minuman dingin dan sekotak kue kering.


"Di minum Dek, Pak."


"Bisa tidak kamu memanggil mas saja seperti memanggil ke Jeffy. Aku merasa seperti pedofilia. Apa aku setua itu bersanding dengan istriku." Tuan protes dengan wajah datarnya. Ningsih memandang Jeffy, dia mendapat anggukan dari suaminya.


Jika Ningsih belum mengenal tuan Nan sama sekali, dia akan merasa tak enak hati dengan tuan Nan.


"Baiklah Mas."


"Besok ya Mbak kita pergi." Anitha memberikan ajakan langsung pada Ningsih.


"Mbak tidak ikut saja Dek. Biar mas Jeffy saja seperti biasanya."


"Tidak, dulu aku tidak tahu si monokotil ini ada istri."

__ADS_1


"Kita hanya acara keluarga bukan kunjungan bisnis. Jadi aku dan kandaku memutuskan Mbak harus ikut jika aku memakai jasa bodyguard tukang ancam ini."


"Memakai jasa ... bahasamu itu walau diperhalus namun tetap terdengar tajam."


"Tidak. Aku begini adanya dan begitu juga kandaku menerimanya."


"Kanda, weeks mual aku dengar."


"Makanya romantis seperti bule kawe ini. Wanita suka pria romantis. Ya kan Mbak?"


"Kau jangan meracuni pikiran polos istriku terlalu berlebihan Tha." Jeffy melayangkan pandangan tajam bercanda."


"Ihh siapa juga punya niat busuk begitu. Kandaku pasti tidak terima jika aku menyesatkan orang." Anitha mengedipkan mata pada Ningsih.


"Sudah Dinda, mau kanda hukum mengatakan bule kawe?" ucap tuan Nan mesra. Mereka sengaja bermesraan memberikan racun dipikiran Ningsih.


"Hukuman apapun akan dinda terima." Anitha berkata sedikit sensual.


Jeffy langsung menutupi telinga Hannan yang berada dalam pangkuannya. "Jangan dengarkan pembicaraan orang besar Nak, apalagi papa-mamamu yang kegenitan." Mereka tertawa bersama.


"Inikah rasanya punya keluarga dan dianggap ada." Ningsih membatin.


"Ok Mbak. Kita kembali untuk acara besok. Ikutlah, Mbak bukan orang luar bagi kami."


"Tapi__"


"Jangan takut, ada Jeffy yang membantu dan istriku yang cantik ini dulu juga grogi ke negara asalku."


"Iya Mbak. Kandaku tak berbohong. Satu lagi, kita tidak akan lagi jadi objek keluarga mas Nansen. Ada Hannan akan menyita waktu keluarga besar mas Nansen. Jadi kita bisa belajar banyak bersama-sama. Aku akan ada untuk Mbak." Anitha memberikan keyakinan.


"Iya Ning, aku juga akan ada." Jeffy menambahkan.


"Ning? Aku? Apa itu Jeff?"


"Kau jangan berisik Nan."


"Jika Anitha bisa memberi pengarahan, aku bisa memberikan pengajaran. Bagaimana cara jadi suami yang romantis dan ideal. Bisa menjadi ayah yang baik."


"Diamlah Nan."


"Belajarlah memanggil sayang pada istrimu dan bukan nama. Lalu hilangkan kata aku saat berbicara dengan istrimu." Tuan Nan semakin menjadi-jadi mengganggu Jeffy.


"Hannan sayang, kamu pindah kepelukan bibimu dulu. Paman ingin menghajar ayahmu ini." Jeffy meringis saat memindahkan Hannan kepangkuan Ningsih.


"Paman kenapa? Di cubit anakku ya?" olok tuan Nan.


"Keponakanku ternyata sama mengerikan dengan mamanya."


"Hahaha, baru tahu kaukan. Walau baru berusia 5 bulan, ia mencubit siapa saja yang mengolok aku. Bahkan mamanya sendiri tak luput dari cubitan jika mengolokku.Dia membalas karena aku sering dicubit mamanya."


"Manusia bisa berubah ya Nan?"

__ADS_1


"Bisalah! Kau mau mengatakan aku bisa berbicara banyak?"


"Iya. Tetapi ada satu yang tak berubah darimu.Kau dulu menyebalkan, kini malah semakin menyebalkan." Tuan Nan hanya menggedikkan bahunya.


"Kenapa kita jadi saling tidak akur?" akhirnya tuan Nan menghentikan gurauan konyol mereka. Hannan mulai terlihat resah. Dia mengambil anaknya dan secara suka rela masuk ke dalam pelukkannya.


"Jadi deal ya Mbak, harus ikut. Jika tidak aku akan sedih."


"Iya Dek. Mbak akan ikut kamu."


"Gitu baru Mbakku."


"Makasih ya Dek sudah anggap wanita kampung ini."


"Eit, lupa ya pelajaran ke lima, tidak boleh minder dan angkat kepala buat siapapun. Hanya boleh menunduk pada sang Pencipta. Kita sama di sisinya!"


"Iya ya Dek. Yang ini agak berat mencobanya."


"Bisa, dan harus bisa. Syaratnya kita harus bisa menempati diri."


"Iya Dek, mbak ingat dan akan lakukan."


Jeffy dan tuan Nan saling pandang penuh arti. Ada kebahagian terselubung di hati Jeffy.


"Tidak sia-sia kau mengejarnya dan memperjuangkannya Nan. Dibalik kesulitan hidupnya dulu, dia banyak memberi arti dalam hidup kita sekarang."


"Wanita siapa dulu!"


"Kumat!"


"Ayo papa, kita pulang. Sepertinya Hannan bosan melihat uncle Jeff."


"Menyesal aku memuji kau Tha," rutuk Jeffy.


"Hahaha, Paman kami pulang dulu. Bibi, Hannan pulang. Jangan ada alasan apapun besok pagi Bibi Ning. Hannan mau dipangku Bibi di jet pribadi papa."


"Pintar sekali caramu meminta istriku, agar kau bisa bebas bermesraan dengan Nansen."


"Hahaha uncle tahu saja alasan mama." Anitha meluruskan tudingan Jeffy.


"Mbak, jangan lupa bawa perlengkapan yang kita beli seminggu yang lalu." Anitha mengedipkan matanya.


"Ohhh jadi kalian berdua sudah merencanakan akan berakhir pekan." Jeffy tersadar ketika ingat dia pernah menemukan banyak barang belanjaan ketika menjemput Ningsih di rumah Anitha.


"Tidak Mas. Aku benar tidak tahu." Ningsih terlihat merasa bersalah.


"Dia memang tidak tahu Jeff. Semua murni rencana kami berdua untuk membawa dia serta," ucap tuan Nan.


"Ohhh. Aku tidak marah padamu. Aku tahu kau tidak terlibat.


"Ok kami pulang."

__ADS_1


***/


__ADS_2