Upik Abu Jadi CEO

Upik Abu Jadi CEO
Hati Kosong Anitha


__ADS_3

Anitha masih termangu-mangu sambil luluran oleh ahli terapi di spa tersebut. Anitha sudah tak percaya apa itu cinta. Cinta baginya hanya pembodohan untuk akal dan hatinya.


Cinta menyeret dia dalam kemelut hidup. Cinta juga membuat dia hanya bisa menerima caci maki. Cinta membuat dia menjalani hidup di neraka dunia. Cinta juga membuat hatinya mati, dan yang paling dia sesali karena sebuah rasa yang dibilang cinta, membuat dia berpisah dari ibunya.


"Cinta?? Di mana indah cinta Mbak?" tanya Anitha menolehkan sedikit kepala memandang pada nyonya Allea.


"Apa kamu dulu tidak mencintai suamimu?"


Masih memandang pada nyonya Allea, Anitha menjawab dengan miris. "Mencintai, mencintai yang membuat aku menyesal mengenal rasa itu. Apa Mbak tidak tersakiti mencintai tuan Nan?"


"Sakit, sebelum aku menemukan obat dari rasa sakit itu!"


"Apa obatnya dengan mencintai lelaki lain Mbak?"


"Bagiku iya. Mencintai dan dicintai sekaligus."


"Kalau begitu aku kesulitan mencari obatnya Mbak," kata Anitha tersenyum miris.


"Tidak Anitha, tidak sulit. Jika kau bisa melihat betapa Nansen mencintai dirimu!" Nyonya Allea hanya bisa membatin. Dia tidak ingin terlalu ikut campur. Dia tak ingin tuan Nan membatalkan segalanya. Nyonya Allea pergi menemui Anitha sekarangpun, dengan mengantongi izin bergelar suami hitungan hari.


"Aku doakan kau menemukan orang yang mencintaimu setulus hati dan kau juga bisa mencintainya. Ingat jika dia masih membuat kau sakit, bukan cinta namanya tapi hanya hasrat Tha," pesan nyonya Allea dengan nada begitu tulus. Ketulusan yang menggetarkan ruang hati Anitha yang kosong. Gema suara nyonya Allea terdengar memantul-mantul di dinding hati Anitha.


"Berarti Sahrul tak pernah mencintaiku. Tak pernah mencintaiku. Tak pernah! Hanya tiga bulan pertama dia baik padaku!" bisik hati kosong Anitha bergema.


Kini dua wanita cantik yang terlihat beda karakter tersebut tertawa bahagia keluar masuk toko. Mereka melupakan sejenak beban hidup yang sebenarnya tidak berat. Jika pola pikir mereka tidak menganggap beban itu berat. Hingga tak terasa waktu telah berganti dengan kelamnya malam. Berjam-jam dua wanita cantik ini memuaskan hasrat duniawinya.


"Apa kau belum puas di luar sana sayang?" satu pesan WhatsApp masuk ke handphone Anitha.


"Sudah, aku sedang makan bersama istri anda Tuan." Anitha yang tidak tahu apa-apa memancing reaksi tuannya.


"Apa kalian sedang mengatur langkah untuk menguasai hartaku?" balas tuan Nan tak menutupi apapun. Anitha juga tak heran jika tuannya tidak terkejut atau bertanya lebih jauh.


"Iya, Tuan. Ohh ya Tuan, apakah kau bersama Jeffy? Apakah kau bersedia menjemputku sayang?" tulis Anitha memakai kata sayang. Tuan Nan hanya berdecih membacanya.


"Cepat kau suruh Allea minta jemput dengan pacarnya. Aku sudah rindu ingin melihat wajahmu," tulis tuan Nan yang hanya di senyumi Anitha. Anitha yakin jika tuan Nan sudah mengetahui keberadaan Allea.


"Mbak, tuan Nan akan ke sini. Mbak ingin berjumpa atau minta jemput pulang?" tanya Anitha blak-blakan.


"Aku belum cukup gila ya An, untuk jumpa di sini," jawab nyonya Allea hanya sandiwara.


"Sayang, jemput aku ya. Aku sudah siap memeras maduku." Nyonya Allea menelpon Liam. Anitha hanya mendelik kesal nyonya Allea mengatakan dia madunya.


"Apa ada yang Mbak perlukan?" kata Anitha dengan gaya sombong tuan Nan.


Nyonya Allea terdengar mendesis, "Nyonya sombong."


Anitha dan Allea tertawa. Handphone Anitha bergetar. Terlihat id 'Tuan Sombong' memanggil.

__ADS_1


"Kau di mana? Aku sudah memasuki parkiran mall. Aku tak bisa menunggumu telalu lama," goda tuan Nan. Anitha hanya berdecak malas meladeni gurauan tuan Nan.


"Aku di toko roti menunggu pesanan untukmu Tuan."


"Ok. Tunggu di sana!" Telepon langsung di putus tuan Nan. Anitha dan Allea sama tidak menyadari jika tuan Nan bisa melihat mereka dengan jelas.


"Mbak, bagaimana ini tuan Nan sudah di memasuki parkiran mall." Anitha sedikit tak enak hati mengusir nyonya Allea.


"Santai saja, kita berpisah di sini. Aku biar menunggu kekasihku di tempat lain."


"Maaf ya Mbak," ucap Anitha masih dengan nada tak enak hati.


"Sudah jangan merasa begitu. Ingat waktumu hampir habis. Jika kamu tidak berhasil, aku akan mencari orang lain," ancam nyonya Allea menekan Anitha. Dia ingin secepatnya menyatukan tuan Nan dan Anitha. Sama seperti tuan Nan yang telah menyatukan dia dengan Liam dan memberi haknya.


Nyonya Allea lalu memeluk Anitha, "Semoga cepat berhasil An." Perkataan nyonya Allea masih sempat membuat Anitha meremang. Begitu mudahnya nyonyanya melepaskan tuannya.


"Anitha bisa melihat tuan Nan berjalan dengan baju kemeja tanpa jasnya. Baju kemeja lengan panjang yang lengannya di lipat sedikit melewati pergelangan tangan. Baju dengan merk ternama tersebut berpadu dengan celana bahan yang juga mahal, membuat empunya yang memang berbodi atletis menambah indahnya pahatan makhluk Tuhan ini.


Anitha bisa melihat empat orang yang juga berbody di belakang tuan Nan. Anitha tahu pasti jika itu orang-orangnya tuan Nan. Anitha cukup salut melihat tuan Nan dengan santai berjalan-jalan di Mall tanpa takut terlihat dengan orang-orang yang mengenalnya. Anitha tidak pernah tahu jika tuan Nan tidak mengizinkan siapapun mengekspos wajahnya di manapun. Baginya tiada ampun jika ada yang ketahuan mengambil gambarnya.


Anitha yang tidak begitu banyak menenteng belanjaannya tetap menyerahkan ketika tuan Nan meminta dua orang bodyguardnya mengambil alih.


"Kau sudah makan sayang?" ucap tuan Nan mesra.


Namun Anitha malah berucap, "Cih sayang-sayang."


"Terserah Tuan sajalah," kata Anitha tidak banyak berdebat. Tuan Nan sudah mendapat cerita dari Jeffy. Emosi tuan Nan bergejolak turun naik ketika mendengar semua cerita Jeffy. Dari kalimat demi kalimat yang di rangkai Jeffy, tuan Nan tertarik dengan kalimat Anitha yang ingin mendampinginya. Tuan Nan akan mencoba mecari tahu apa yang di rencanakan oleh wanita yang di cintanya.


"Apa kita makan malam di sini atau di hotel saja?" tawar tuan Nan.


"Di hotel saja Tuan. Aku lelah."


"Ok aku telepon Jeffy untuk memesan makan malam."


Anitha dan tuan Nan serta orang-orangnya kembali ke hotel.


Tiba di kamar Anitha mengganti baju dan pergi ke kamar tuan Nan seperti yang di janjikannya. Setelah tuan Nan membukakan pintu kamarnya, Anitha masuk dan duduk di sofa.


"Ada apa Tuan? Apa Tuan sudah tidak sabar meminta kartu ini?" Anitha mengunjukkan kartu kredit tuannya. Anitha ingin mengembalikannya.


"Tidak, peganglah dulu. Kau bisa mengembalikannya nanti ketika Allea memberikan asetnya. Itu berarti kau harus berhasil dengan misinya. Jika tidak, aku juga sudah punya solusi lain untuk kau bisa menggantinya." Tuan Nan mulai menebar umpannya.


"Apa solusinya Tuan?"


"Nantilah kita bahas itu. Ada yang lebih penting untuk dibahas."


"Soal apa Tuan?" tanya Anitha melihat mimik serius tuan Nan.

__ADS_1


"Soal makan malam untuk besok malam."


"Makan malam? Dengan siapa?" tanya Anitha mulai merasa tidak enak.


"Pak Sahrul tadi menemuiku di kantor. Bos besar dan sekretarisnya sudah pulang karena istri bosnya sakit. Dia mengajak kita besok untuk makan malam, atas permintaan bosnya membalas service-an kita kemarin," ucap tuan Nan sambil melihat perubahan wajah dan bahasa tubuh Anitha.


Tak bisa dielakkan dari pandangan tuan Nan. Anitha menegang, tapi dia terlatih untuk menguasai diri.


"Apa aku juga harus ikut Tuan?" Anitha mencoba mengelak.


Tuan Nan sengaja memandang dalam Anitha. Dia bertanya pada Anitha, "Apakah kau menolak? Why?


Anitha sebentar merasa dilema. Anitha tak ingin tuan Nan tahu siapa Sahrul. Anitha tak mengira tuan Nan akan mencari tahu siapa mantan suaminya.


"Aku tak nyaman didekatnya Tuan," Anitha memberi alasan jujur.


"Kenapa? Bukankah dia tampan? Kabarnya dia juga seorang duda." Tuan Nan sengaja membocorkan sedikit sejauh mana dia tahu soal mantan suami Anitha.


"Oh," ucap Anitha.


"Apa kau tidak tertarik dengan ketampanannya?"


"Jauh tampan kau Tuan," kata Anitha menutupi perasaan yang bergejolak di hatinya.


"Apa kini kau mengakuiku Anitha?"


"Dari dulu aku juga mengakui ketampanan Tuan," balas Anitha.


"Untuk apa makan malam Tuan? Bukankah Tuan tidak suka acara malam kata nyonya Allea. Di Indonesia Tuan hampir tak pernah mengikuti acara makan malam," ujar Anitha masih mencari alasan agar makan malam itu batal. Namun bagaimana bisa batal jika makan malam itu skenario tuan Nan dengan memanfaatkan kepulangan pak Rudi.


"Ini Singapura Nona, bukan Indonesia," alasan yang lebih bisa diterima oleh akal.


Sedang asyik membahas pintu kamar tuan Nan diketuk. Tuan Nan membuka, karena dia yakin Jeffy yang datang.


"Ini pesananmu Nan," ujar Jeffy memberikan pesananan tuan Nan. Tuan Nan memesan Hokkien Prawn Mee. Makanan khas Tionghoa yaitu mie kuning dan bihun yang dicelupkan ke dalam kaldu direbus dengan seafoods. Lalu digoreng sedikit kering dan sedikit kuah.


"Makan di sini saja Jeff," ajak tuan Nan.


"Apa aku tidak mengganggu kalian?" Jeffy tersenyum melihat Anitha memutar bola matanya dengan malas.


"Tidak Jeff, aku ingin kau ikut menanyakan kenapa wanita keras kepala ini tidak nyaman dengan orang kontruksi PT HS," ucap tuan Nan membuat Jeffy terkejut. Jeffy mulai merasa dia terlibat permainan dengan tuan Nan.


Jeffy merutuki sifat gegabah tuan Nan. Jeffy takut akan lebih fatal jika Anitha tahu semua rekayasa tuan Nan. Jeffy lebih memilih makan di kamarnya jika tahu ada udang di dalam makanan yang mereka pesan. Jeffy masih berdiri, menimbang apakah ikut bergabung apa tidak.


"Kenapa belum duduk Jeff, apakah juga tidak nyaman membahas orang HS?" sindir tuan Nan.


"Awas kau Nan. Kau sengaja menciptakan neraka buat wanita yang kau cintai. Semoga hasilnya baik dan kau tidak menyesal!" teriak batin Jeffy.

__ADS_1


***


__ADS_2