Upik Abu Jadi CEO

Upik Abu Jadi CEO
Bisa Aku Menjumpaimu


__ADS_3

Tuan Nansen tidak ingin membahas soal luka itu. "Tidak, tuan Sahrul sudah menjelaskan padaku."


"Lalu apa yang ingin Tuan ketahui?"


"Aku ingin tahu siapa yang menelfonmu sehingga harus melepaskan emosimu dengan meremas gelas!"


"Aku capek Tuan. Aku ingin tidur."


"Apa kau mau aku keluar dari kamar ini?"


"Ya, aku ingin sendiri."


"Baiklah," kata tuan Nan mengalah.


Tuan Nan melangkah keluar dan meninggalkan Anitha di balkon sendiri. Anitha merasa angin malam menusuk tulangnya. Dia masuk dan memilih berbaring di sofa.


Anitha masih merasa sangat marah atas apa yang dilakukan Sahrul tadi. Anitha tak berdaya membalas sakit hatinya karena takut emosinya malah berbalik menyusahkan dirinya lagi. Anitha tidak ingin membuat tuan Nan marah jika Sahrul melaporkan tindak kekerasannya.


Semua berubah karena omongan Jeffy. Anitha bangkit dari sofanya dan menjangkau handphone-nya.


"Jeff sudah tidur?" Anitha mengirim pesan singkat.


"Belum, ada apa?" tanya Jeffy langsung menelfonnya.


"Aku ingin minta nomor ponsel pak Sahrul."


"Untuk apa?"


"Ada yang mau aku shareing dengannya masalah proyek pembangunan."


"Perlu kapan? Sekarang juga?" tanya Jeffy enggan.


"Boleh, besok juga tak apa. Tak mendesakpun." Anitha tak memaksa.


Anitha mematikan telfonnya. Senyum licik terbit di bibirnya. Anitha memakai jaketnya. Dia memakai celana jins dan baju casual saja di dalamnya.


Anitha keluar diam-diam dari kamarnya. Dia mencari taksi di depan hotelnya. Lalu dia memasukan nomor kontak Sahrul yang masih sangat dihapalnya ke ponselnya. Setelah dia menyimpan muncul nomor whatsapp Sahrul.


"Hallo Uda, ini Anitha."


Tak butuh waktu lama, dia mendapatkan telfon dari Sahrul. "Di mana? bagaimana lukamu?"


"Lukaku sudah diobati, jangan cemas. Aku di taksi."


"Kau mau ke mana malam-malam begini?"


"Aku tidak tahu, aku jenuh di kamar dan aku melihat kau sempat menyesal melihatku terluka. Apa aku benar?" tanya Anitha tiba-tiba manja.


"Iya, aku menyesal."


"Bisa aku menjumpaimu Uda?"


"Kau mau jumpa malam ini juga?"


"Kirim alamat, aku ke sana ya."


"Ya ke sinilah, aku tunggu." Anitha lalu meminta supir taksi mengantarkan ke alamat yang dikirim Sahrul.


Anitha membayar taksi. Lalu dia menuju lantai hotel Sahrul. Anitha menekan bell kamar Sahrul. Sahrul keluar dan berkata, "Masuklah."


Anitha masuk dan Sahrul menutup pintu. Ada sedikit perasaan heran saat dilihatnya Anitha telah berubah drastis.


"Kenapa? Uda heran dengan sikapku?" kata Anitha tanpa basa-basi.

__ADS_1


"Iya," jawab Sahrul singkat.


"Aku ingin berdamai dengan hati dan masa laluku."


"Maksudnya?" kata Sahrul masih menduga-duga.


"Jujur, kemarin aku sangat shock saat tahu Uda ada di antara orang PT HS. Aku tahu Uda bekerja di cabangnya. Namun aku tak menyangka Uda ikut dalam kerja sama ini. Dibalik itu semua aku sakit hati pada Uda."


"Uda minta maaf," kata Sahrul mulai kembali ber-uda ke badannya setelah sempat ber-aku.


"Tapi aku belum bisa memaafkan Uda. Apa yang uda lakukan tiga tahun dan malam terakhir itu sangat menyakitkan bagiku."


"Uda tahu. Uda akui itu semua."


"Boleh aku tahu apa penyebabnya Uda berubah? Uda hanya baik padaku hanya tiga bulan. Hatiku begitu sakit kalau Uda mau tahu. 3 tahun aku berjuang mencari cinta Uda kembali. Namun hanya luka batin dan luka fisik yang aku dapat," kata Anitha menangis. Tangis air mata buaya.


"Uda akan ceritakan, asal kau berjanji mau kembali pada Uda."


"Cerita tanpa kebohongan?" Anitha menuntut jawaban pasti.


"Iya."


"Tapi tidak malam ini. Aku tak bisa meninggalkan hotel terlalu lama. Aku takut jika orang-orang bosku menyadari aku meninggalkan hotel diam-diam. Uda mau mencarikan waktu untuk kita meluruskan masalah kita? Itupun jika Uda benar ingin kembali padaku."


"Iya, akan uda cari, uda berjanji padamu. Uda serius ingin kembali padamu."


"Oke, aku tunggu janji Uda."


Sahrul sangat ingin bertanya apa hubungannya Anitha dengan tuan Nan. Namun dia harus bersabar. Dengan Anitha menghubunginya sudah membuat dia mendapatkan angin segar.


"Aku kembali ke hotel ya," pamit Anitha. Tak bisa dipungkiri, kehadiran tiba-tiba Anitha yang bersahabat membuat Sahrul menjadi sedikit canggung. Anitha menyadari dan pura-pura tak tahu. Tak ada kontak fisik walau hanya berjabat tangan. Anitha keluar dari kamar hotelnya.


Anitha menunggu taksi di pelataran parkir luar. "Dari mana?" kata satu suara dari balik punggung Anitha.


"Hahahha aku sudah yakin, jika kau mengikutiku." Tanpa menoleh Anitha menjawab santai. Tak ada nada terkejut dari Anitha. Melihat itu Jeffy menyadari jika dia sudah diperalat Anitha dengan berpura menanyakan nomor ponsel. Jeffy tidak mengirim karena dia memang belum punya nomor Sahrul. Dia tak berencana mengganggu tuan Nan malam-malam.


"Kau memperalatku Anitha?" tanya Jeffy sedikit kesal merasa dibodohi Anitha.


"Bukankah, Kau berjanji akan membantuku asal tidak menghianati perusahaan?" tanya Anitha dengan nada penuh rencana.


"Apa rencanamu? Apa kau menemui orang yang kau minta nomor padaku?"


"Ya. Aku ingin kau membantuku."


"Apa melenyapkannya?"


"Haa maksud kau siapa?"


"Mantan suamimu itu!"


"Kapan kau mengetahuinya Jeff?"


"Tadi ketika kau meminta nomor telfonnya dan menghubungi cerita kau sebelum Nansen datang ke kamar." Jeffy jelas berbohong. Dia tak ingin Anitha membenci tuan Nan.


"Aku yakin kau berbohong padaku. Tapi ya sudahlah."


Jeffy belum mengajak Anitha kembali ke mobilnya. Jeffy dan Anitha masih setia berdiri dipinggir jalan. Semua masih berupa potongan puzzle bagi Jeffy tentang Anitha yang tiba-tiba berani menjumpai Sahrul. Walau tak tahu apa yang dibicarakan oleh mereka di dalam kamar.


"Banyak hal yang ingin aku tanya. Namun aku takut Nansen mencarimu ke kamar.


"Iya, ayo kembali."


Merekapun kembali ke mobil yang dibawa Jeffy.

__ADS_1


"Apa yang harus aku bantu?" tanya Jeffy di dalam mobil.


"Bantu jaga aku diam-diam, baik dari dia maupun tuan Nan, Jeff. Bisa?"


"Bisa! Tapi jaga dari apa?"


"Jaga aku dari ancaman bahaya. Aku ingin membalas semua perlakuannya padaku. Aku tahu balas dendam tidak baik. Namun dia datang dan ingin meminta hatiku lagi. Dia bahkan menggangguku sejak kami bertemu Jeff. Aku muak dengan semua kelakuannya. Akan aku buktikan wanita yang katanya tidak berguna dan tidak berdaya ini akan membuat dia membayar mahal atas kata-katanya. Aku ingin mempermainkan hatinya." Tak ada nada dingin seperti biasa. Hanya nada penuh kesenangan yang didengar Jeffy.


"Hati-hati, kau bisa terperangkap sendiri dalam permainanmu," Jeffy mengingatkan.


"Baik, akan ku ingat kata-katamu."


"Kenapa kau tidak meminta bantuan Nansen?"


"Bantuan apa?"


"Membalaskan sakit hatimu."


"Tidak bisa Jeff. Kepuasannya akan berbeda."


"Apa yang membuat kau berubah?"


"Kata-katamu yang akan ada untukku."


"Hanya itu?"


"Ya, hanya itu."


"Kau yakin tak ingin dibantu Nansen?"


"Tak Jeff. Aku tak ingin tuan ilfeel padaku. Aku masih membutuhkan janji tuan."


"Janji apa?"


"Baik aku akan jujur. Jika kau menghianati aku, sekali ini aku tak akan tinggal diam Jeff. Walau aku harus memendam di penjara mana saja, aku akan membalasmu!" Ancam Anitha tidak main-main.


Jeffy tergelak. Dia berkata, "Jangan takut Tha, aku tak akan menghianatimu."


"Tuan Nan berjanji akan memberikanku satu miliar, jika aku bisa menaklukkan hatinya. Anitha masih menutupi janji nyonya Allea. Padahal Jeffy tahu persis apa yang dijanjikan pasangan suami-istri tersebut.


"Lalu?"


"Aku tak ingin itu batal, karena aku bermain-main dengan mantanku," kata Anitha ringan. Jeffy merasa Anitha jauh berbeda dengan drastis. Aku akan meminta tuan Nan secepatnya menceraikan nyonya Allea dan menikahiku.


"Ufff pasang yang sama tak sehat," rutuk Jeffy.


"Terserah kaulah. Aku akan memantaumu diam-diam."


"Nah itu sudah buat aku sangaaat semangat dalam hidup," ujar Anitha dengan riang. Anitha seperti anak kecil yang dapat mainan.


Jeffy tak ingin banyak bertanya. Jeffy hanya mengikuti apa permainan Anitha dan apa pula permainan tuan Nan. Bagi Jeffy pasangan ini sangat serasi karena sama tidak di mengerti dengan apa yang dilakukannya.


"Masuklah duluan. Semoga Nansen tidak mencari kau atau aku," ucap Jeffy.


"Tenang saja, aku tidak akan libatkan dirimu. Cari alasanmu sendiri Jeffy sayang. Bye ... bye ...." kata Anitha sambil melambaikan tangannya dengan begitu ceria.


"Dasar wanita! Baru tadi menangis seakan ingin mati saja, kini sudah ceria tanpa beban!" gumam Jeffy. Dia juga mulai keluar dan kembali ke kamarnya.


Di kamarnya Anitha belum bisa tidur, banyak hal yang dibayangkannya membuat dia meliuk-liuk indah seperti orang berdansa. Anitha sangat tidak sabar menanti hari esok.


Jika Anitha belum tidur. Begitu juga dengan tuan Nan. Tuan Nan mereka ulang semua yang terjadi. Dia terngiang kata Jeffy. Bagaimana jika benar yang dikatakan Jeffy. Anitha bisa saja mengalami kejadian yang lebih dari pada luka tangannya.


"Aaahhhrgg kenapa mengurus satu wanita lebih sulit dari mengurus perusahaan besar!!" Tuan Nan mengerang frustasi.

__ADS_1


"Apa aku paksa saja!" gumamnya.


@@@


__ADS_2