Upik Abu Jadi CEO

Upik Abu Jadi CEO
Ditawarkan Jadi CEO


__ADS_3

Anitha mengambil kotak P3K, dengan perlahan diambilnya kapas dan alkohol pembersih luka. Tuan Nan duduk di kursi sofa biasa, dengan sedikit mendongak dia menatap Anitha yang membungkuk dihadapan tuan Nan. Postur tuan Nan yang tinggi lebih sulit di jangkau Anitha jika Anitha duduk sejajar. Dia mengusap pelan sudut bibir tuan Nan. Tangannya terhenti lama diluka tuan Nan dan menatapnya.


Deg ... Deg ...


Jantung Anitha tiba-tiba merasa berdebar. Anitha mengerjapkan matanya dalam hitungan detik. Padahal dia pernah di posisi sedekat ini dengan tuan Nan, saat itu dia menggigit lengan tuannya. Bahkan saat itu tuan Nan tidak berbaju lengkap.


Tuan Nan juga menghujamkan padangan tajam ke bola mata Anitha. Hatinya juga tak kalah berdebar.


"Eheemm ... jika hanya untuk menyaksikan kemesraan kalian, lebih baik aku pergi!" Sentak Jeffy setelah berdehem panjang, yang membuat Anitha terkejut. Tanpa sengaja dia menekan sedikit lebih kuat luka di bibir tuan Nan.


"Aww," ujar tuan Nan dan dia meringis.


"Maaf." Anitha melanjutkan mengobati luka tuan Nan.


Walau masih merasa marah pada tuan Nan, Jeffy senang melihat cara Anitha memandang tuan Nan mulai berubah. Jika tak menunggu penjelasan tuan Nan, ingin dia meninggalkan mereka berdua. Jeffy menunggu Anitha siap mengobati tuan Nan.


Dia melangkah ke dapur membuat kopi untuknya dan Harri. Dia mengantar secangkir kopi panas ke Harri yang berjaga di luar. Matanya boleh terpejam, tapi telinga Harri mendengar langkah mendekati mobilnya dengan kaca jendela yang di turunkan. Harri melihat ke kaca spion dan melihat Jeffy mengantarkan secangkir kopi. Harri keluar dan menuju bangku taman di halaman rumah kontrakan Anitha.


"Minum dulu, Nansen sedang diobati oleh calon istrinya," ucap Jeffy memberikan gelas tersebut pada Harri. Mereka meminum kopinya di bangku taman, memberikan waktu untuk Anitha dan tuan Nan.


Anitha kini sedang mengambil cotton bud. Dia meneteskan obat luka ke cotton bud, lalu dengan pelan membubuhkan ke luka tuan Nan. Terlihat tuan Nan menahan nyeri. Tuan Nan sering tersentak dan tak sadar memundurkan kepalanya ke belakang saat Anitha membubuhkan obat luka.


Anitha akhirnya menahan kepala tuan Nan, Jari lentiknya menelusup ke dalam rambut hitam lebat tuan Nan dan mencengkeram lembut. Ada gelenyar aneh di hati Anitha saat memegang rambut tuannya. Ternyata tidak hanya Anitha yang merasakannya. Tuan Nan merasa ada sengatan listrik yang membangkitkan naluri lelakinya. Dia memandang bibir tipis Anitha yang terlihat menggoda.


"Jangan berpikir yang aneh-aneh Tuan," kata Anitha menyadarkan tuan Nan dari imajinasi liarnya.


Tuan Nan tersenyum namun Anitha masih menyindir tuannya, "Masih bisa tersenyum dengan office girl di kantormu Tuan.


Jeffy masuk tepat Anitha sudah menyelesaikan tugasnya. Jeffy duduk di hadapan tuan Nan dan Anitha.


"Katakan Nan, apa maksud kau memberi posisi itu!" Jeffy masih tidak bisa memasang wajah ramah dan hangatnya pada tuan Nan.


"Maafkan saya Anitha, apa yang kau dapat dua minggu di posisi itu," tanya tuan Nan. Jeffy dengan tangan yang menempel di kepala sofa mendengarkan serius.


Namun sikap seriusnya buyar mendengar jawaban Anitha, "AKU DAPAT CAPEK. BAHKAN LEBIH CAPEK SAAT JADI ART ANDA TUAN!"


Tuan Nan hanya tersenyum sekilas. Dia bisa merasakan wanita yang usianya terpaut jauh di bawahnya itu sedang kesal.


"Selain capek?"


"Aku dapat kesal dan marah yang ku pendam dua minggu ini."

__ADS_1


"Selain itu?" tuan Nan terus bertanya dan Anitha tak bosan menjawab apa yang dia rasa.


"Aku dapat penyakit liver jika menahan lebih lama," jawabnya serius. Namun Jeffy dan tuan Nan malah menahan tawa.


"Apa coba hubungannya?" sela Jeffy.


"Ada, menahan lebih lama bisa membuat hati rusak. Sementara hatiku sudah rusak juga," sindir Anitha sembarangan.


"Selain itu?"


"Macam ujian saja Tuan." Anitha tak mau lagi menjawab.


"Jangan banyak cerita Nan, katakan saja apa tujuanmu?" Jeffy semakin tidak sabar.


"Apa kau tidak menilai sifat dan sikap mereka?" Tuan Nan berkata lugas. Tuan Nan tak memperdulikan ketidaksabaran Jeffy.


Anitha berpikir keras, kepingan memorinya menyatu seakan di tarik oleh medan magnet. Anitha tak butuh waktu lama untuk mencerna setelah tuan Nan memberikan clue.


Dia menjawab, "Ohhh saya pastinya menilai Tuan. Saya sudah biasa mengerjakan pekerjaan siluman," Anitha masih semangat menikam tuan Nan dengan kata sindiran.


"Bawahanmu yang perempuan kebanyakan bergosip. Posisi belum berkuku saja sudah sombong. Mereka hampir tak ada yang menganggap aku sebagai temannya, tetapi mereka tidak tahu aku juga tidak butuh teman apalagi wanita. Cukup bagiku ada Jeffy yang tulus kini."


"Dengan aku berkata begitu apa Tuan iri hati?"


"Pastinya IYA!"


"Hahaha itu jugalah yang banyak terjdi dengan bawahan Tuan." Anitha tertawa renyah setelah mencontohkan langsung rasa iri hati.


"Kau bisa tidak mengatakan langsung?" tanya tuan Nan sedikit mendongkol.


"Begitu juga dengan Tuan, bisa tidak mengatakan mengatakan langsung. Jangan membuat aku shock di hari pertama dengan posisi yang tak pernah aku sangka. Tuan pikir panjang tidak, jika aku kabur lagi, bisa-bisa nyawaku melayang di tangan bodyguard tuan, mengira aku ingkar janji. Jika bukan karena bersirobok dengan Jeffy, aku masih di sana hari ini. Aku masih mau marah dengan Tuan tapi karena Jeffy sudah mewakili, jangan marah padanya. Jika Tuan marah karena sudah menghajar Tuan, Tuan akan lihat bagaimana aku marah!" Anitha berceloteh panjang dengan serius. Jeffy dan tuan Nan hanya mendengarkan seperti anak murid yang patuh pada gurunya.


Tuan Nan tak ada niat membalas memukul Jeffy. Namun cara Anitha yang membatasi gerak tuan Nan agar tak membalas, membuat tuan Nan dan Jeffy takjub juga. Anitha mengambil kesempatan dalam kesalahan tuan Nan.


"Sudah?" tanya tuan Nan lembut.


"Belum aku masih mau ngomong!" ucap Anitha membuat dua pria tampan itu memandang saling senyum.


"Bicaralah," ucap Tuan Nan dengan menahan nyeri. Senyum manisnya tak pudar dari wajah tampannya.


"Bagaimanapun kayanya kau Tuan, dan perusahaanmu berkembang. Namun jika di dalam saling iri, saling sikut dan kebanyakan waktu luang untuk bergosip, hanya mengurangi totalitasnya pada perkembangan perusahaan. Seharusnya perusahaan bisa bertambah pesat dalam setahun, baru bisa setelah dua atau tiga tahun." Anitha menjabarkan langsung ke tujuan dari di dirikan perusahaan, yaitu kemajuan perusahaan.

__ADS_1


Jeffy semakin senang melihat pemikiran Anitha. Dia mulai mengerti apa tujuan dari tuan Nan. Jeffy memang tidak begitu mengerti jika berurusan dengan kemajuan perusahaan. Tujuan hidupnya menjaga tuan Nan baik sebagai tuannya juga sebagai saudaranya. Selagi dia bisa. Cuma dia tetap tidak sependapat dengan cara tuan Nan yang tidak mengatakan pada Anitha. Benar kata Anitha, jika dia kabur, Jeffy akan salah paham.


"Lalu kau ada solusi?" tanya tuan Nan menguji Anitha.


"Kau ingin mengujiku Tuan Nansen Adreyan?" Anitha langsung menohok tuan Nan. Anitha tak yakin jika tuan Nan tak punya solusi.


"Ada, pecat yang tidak menguntungkan perusahaan dan ganti dengan tenaga baru." Tuan Nan menyampaikan solusinya.


"Jika aku jadi CEO, aku akan mengintimidasi kepala-kepala bagian setiap divisi. Jika terdapat ketidak sesuai dari visi dan misi perusahaan, maka pecat terlebih dahulu kepala bagian dan juga yang bersangkutan! Menurutku dia tidak layak jika hanya duduk manis dan menerima gaji yang fantastis sementara kerja bawahannya miris!"


Kata-kata Anitha yang tegas-tegas membuat bibir seksi Jeffy terbuka kecil. Jeffy ternganga tak percaya jika Anitha sungguh arrogant. Berbeda dengan tuan Nan yang memang pria pebisnis. Dia sudah tahu dari dulu kemampuan Anitha. Namun dia juga tak menyangka, Anitha bahkan bisa lebih jauh berpikir darinya. Tak pernah dia memikirkan cara ini untuk menekan orang-orangnya. Dulu dia berniat mematahkan sayap Anitha agar bisa menguasai demi cintanya.


"Ohhhh, apa kau ingin jadi CEO?"


"Ya aku memang ingin setelah melihat pundi-pundimu begitu banyak Tuan," Tuan Nan dan Jeffy tidak bisa menahan tawa mereka. Anitha hampir selalu membuat dua suasana dalam satu waktu, serius dan menyindir, atau menyindir sambil bercanda.


"Aku serius sayang, apa kau ingin menjadi CEO?" tanya tuan Nan.


"Ya, jika kau mau mengajarkan aku jadi CEO sejati, walau aku perempuan dan tentunya kau mengalirkan aku pinjaman lunak dalam jumlah besar. Aku tak punya modal karena aku menyerah dengan ide gila Tuan dan nyonya."


"Baiklah, aku akan mewujudkan dan membimbingmu sebelum terjun."


"Tuan serius??" Anitha tahu tuannya akan sangat marah dengan pertanyaan itu.


"Aku hanya bercanda!" kesalnya.


"Hahaha, kau masih saja pemarah Tuan."


"Sudah clearkan? Aku pamit," ucap Jeffy memutuskan gurauan Anitha.


"Bagaimana kalau kita merayakan kedatangan calon sang CEO Jeff?" ajak tuan Nan. Mata cantik Anitha berbinar indah. Jeffy bisa melihat apalagi tuan Nan. Jeffy tak ingin membuat tatapan berbinar itu menjadi tatapan tajam menghunus.


"Baik, kemana kita merayakannya? tanya Jeffy.


"Bolehkah aku yang memberi idenya?" Anitha juga bertanya setelah Jeffy.


"Boleh!" jawab tuan Nan cepat.


"Aku ingin ke pantai atau ke gunung. Aku tidak lagi mendapatkan kepuasan di kafe atau mall."


@@@

__ADS_1


__ADS_2